Bebek Sinjay, Nasi Bebek Paling Enak di Madura

Paduan bebek goreng yang gurih dan empuk, serta sambal mangga yang khas membuat siapapun ketagihan Nasi Bebek Sinjay di Bangkalan.

Serabi Notosuman Nyonya Handayani Solo

Jalan-jalan ke Kota Solo rugi banget kalau nggak mencicipi Serabi Notosuman yang bertekstur lembut dan manis. Enak sekali!!

Lontong Balap Garuda Pak Gendut

Makanan khas Surabaya yang masih mudah ditemui adalah lontong balap. Salah satu yang direkomendasikan adalah warung Pak Gendut.

Gudeg Mbarek Bu Hj. Amad Jogja

Jogja adalah kota gudeg dimana di setiap penjuru kota kita dapat menemukan gudeg dengan mudah, salah satunya gudeg Bu Hj. Amad.

Nasi Bakar Rendang Sapi Gotri Resto

Gotri, resto di Surabaya menawarkan berbagai menu yang enak dengan harga terjangkau. Menu andalannya nasi bakar rendang sapi.

Pecel Nyamleng Gayeng Mayjen Sungkono

Nasi pecel adalah makanan khas Jawa Timur yang banyak tersebar di Surabaya umumnya dimakan saat sarapan atau makan siang.

Lezatnya Sop Ayam Pak Min Khas Klaten

Pak Min sepertinya cukup sukses membuka banyak cabang warung sop ayam di Klaten, Solo, dan Jogja. Rasa sop ayamnya memang nikmat.

3 Mei 2016

Kebun Teh Wonosari, Tempat Liburan Asyik Dekat dengan Surabaya



Kali ini saya bakal menceritakan mengenai jalan-jalan yang sebenarnya sudah cukup lama, tepatnya Desember 2015. Mungkin sudah agak basi, tapi nggak apa-apalah daripada foto-fotonya cuma mengendap di hard disk. Iya kan? 

Tujuan sebenarnya jalan-jalan kali ini sih sebenarnya cuma mau mengisi waktu luang aja. Kebetulan libur, sekaligus mau ngetes motor aja. Jadi destinasi yang dipilih nggak terlalu jauh dari Surabaya, yaitu Kebun Teh Wonosari yang berada di Lawang, Kabupaten Malang. Berangkat di pagi hari, saya langsung menggeber motor ke arah luar kota Surabaya menuju ke arah Malang. Karena mesin motor cukup besar, nggak heran kalau kami sudah sampai di Lawang dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Apalagi di pagi hari jalanan juga relatif sepi... 

Di Pasar Lawang kami berhenti sejenak untuk mengisi perut dengan nasi rawon. Setelah itu kami baru naik ke arah Kebun Teh Wonosari. Jalanan dari Pasar Lawang ke arah Kebun Teh Wonosari tergolong bagus meskipun sempit. Semakin mendekat kebun teh, kondisi jalan semakin menanjak berliku, namun nggak sulit... Kalau nggak salah jarak dari Surabaya hingga Kebun Teh Wonosari hanya sekitar 80 km saja... 





Untuk masuk ke kawasan kebun teh, pengunjung harus membayar tiket masuk. Saya lupa berapa harga tiketnya, yang jelas nggak mahal kok. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya ke Kebun Teh Wonosari. Malah sudah berkali-kali... Tapi rasanya nggak pernah bosan main-main ke sini. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Kebun Teh Wonosari, seperti jalan-jalan menghirup udara segar di area kebun teh yang hijau, main ATV, main flying fox, berkuda, berenang, dan masih banyak lagi fasilitas lain yang disediakan. 

Nah... Ke Kebun Teh Wonosari nggak lengkap rasanya kalau nggak mencicipi minuman teh. Banyak juga varian minuman teh yang ada di sana, bisa dinikmati di Rollaas Cafe. Konsep cafe-nya sendiri cukup menarik dengan menonjolkan point of view alam. Enak banget deh icip-icip teh di Rollaas Cafe. Santai sembari menikmati udara khas perkebunan teh yang sejuk. Selain itu, di Rollaas Cafe tersedia aneka makanan yang bisa disantap untuk mengisi perut yang sudah keroncongan... Oh ya, kalau mau bermalam pun di Kebun Teh Wonosari tersedia villa dan hotel lho... Saya pernah bermalam waktu gathering, tapi udah lama banget... Cukup recommended juga!


28 April 2016

Ikutan Kopdar Food Blogger di Rumah Makan Lombok Idjo Kediri... Rame Bangeettt!!


Hari Sabtu lalu (23/04/2016), saya mendapatkan undangan Kopdar Food Blogger di Rumah Makan Lombok Idjo Kediri. Waktu mendapatkan undangan sih agak mengernyitkan dahi. Soalnya kan undangan untuk food blogger... Sedangkan saya apakah masuk ke dalam kategori food blogger? Tapi karena hari Sabtu nggak ada kesibukan yang berarti, nggak ada salahnya ngacir ke Kediri. Apalagi udah lama juga nggak riding dengan motor dalam jarak yang cukup jauh, ditambah dengan beberapa member Jatimotoblog, salah satu komunitas yang saya ikuti, juga mendapatkan undangan serupa. 

Saya sampai di Rumah Makan Lombok Idjo yang berada di Jalan Patiunus No. 16, Kediri, sekitar pukul 14.10, padahal undangannya pukul 14.00. Agak telat dikit nih... Begitu sampai langsung ngisi absensi dan ngambil undian. Maksudnya undian makanan dan minuman... Jadi seluruh tamu undangan mendapatkan menu makanan dan minuman berdasarkan undian. Harapannya biar masing-masing peserta Kopdar Food Blogger mendapatkan menu yang berbeda... Dalam undian menu makanan dan minuman ini saya mendapatkan ikan nila goreng dan es kelon alias es kelapa muda sirup melon. Setelah itu saya digiring ke meja sesuai dengan nomor urut pendaftaran deh kayaknya ya... 




Kebetulan banget siang itu di Rumah Makan Lombok Idjo yang berbentuk joglo sudah ramai banget oleh peserta yang jumlahnya mencapai 50 orang (sesuai undangan). Nggak banyak peserta kopdar yang saya kenal. Kalau yang dari komunitas Jatimotoblog jelas kenal semua. Selain itu paling kenal sama travel blogger ngehits asal Jombang, Mas Alid Abdul, dan food blogger tulen asal Surabaya, Bu Vika. Itupun hanya tau di dunia maya karena dulu sering baca-baca blog mereka... 

Pada dasarnya acara Kopdar Food Blogger yang diselenggarakan oleh Lombok Idjo ini cukup menarik... Lombok Idjo berupaya memperkenalkan brand mereka, beserta menu-menu makanan mereka di kalangan para blogger. Tentu saja harapannya Lombok Idjo bisa memiliki footprint di dunia maya. Kenapa mesti dunia maya? Sekarang ini mencari apa-apa serba pakai internet, termasuk mencari tempat makan. Saya pun demikian, mau jajan atau makan di sebuah kota ya googling dulu... Berbagai informasi mengenai tempat makan, menu makanan, sampai harga makanan bisa saya akses dengan mudah melalui internet. Jadi bukan rahasia lagi kalau internet, khususnya blog, bisa menjadi media marketing yang sangat ampuh. 



Acaranya sendiri dikemas secara santai, tapi tetap seru. Teman-teman yang ikut dalam Kopdar Food Blogger terlihat sumringah mengikuti dari awal acara sampai akhir. Dalam acara tersebut ada sambutan dari Mas Ulil dari Lombok Idjo Kediri yang selalu berbicara menggunakan bahasa kromo. Kemudian ada juga sambutan dari Mbak Septi Sutrisna selaku bagian marketing dari Lombok Idjo Group. Ada pula product knowledge dari Biznet yang merupakan provider internet berkecepatan tinggi, menjamin nonton video berkualitas HD tanpa buffering. Sayangnya jaringan Biznet masih cukup terbatas, namun ke depan sudah memiliki rencana ekspansi untuk memperluas jaringan... 

Terus gimana dengan icip-icip menu makanan di Lombok Idjo? Saya mendapatkan menu berupa ikan nila goreng dan es kelon seperti yang sudah saya sebutkan di atas... Kira-kira gimana rasanya ya? Enak nggak? Langsung cek di foodspotting.wijanarko.net.






26 April 2016

Bermalam di Same Hotel Malang, Murah dan Nyaman


Sekitar tiga minggu yang lalu, tepatnya (9/4/2016), saya memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan di Malang. Alasannya sih simple... Malang lokasinya lumayan deket dari Surabaya dan selama ini saya nggak pernah liburan di Kota Malang. Lebih seringnya langsung ke Batu, bukan ke Malang. Sebelum pergi liburan, tentu saya cari hotel melalui Traveloka mobile apps. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya memilih Same Hotel Malang sebagai tempat menginap. Gimana impresi menginap di Same Hotel Malang? Yuk simak!

Pertimbangan pertama saya memilih Same Hotel Malang karena harganya cukup terjangkau untuk standar hotel bintang tiga. Cuma Rp 300.000 saja. Menariknya lagi, lokasi Same Hotel Malang sangat strategis berada di pusat kota, tepatnya di Jalan Pattimura No. 19, Malang. Mau cari tempat makan malam ataupun hanya sekedar nongkrong di cafe, banyak banget tersedia di seputaran hotel. Enak banget deh pokoknya. Mau ke alun-alun balaikota pun nggak terlalu jauh... 



Bangunan Same Hotel Malang ini tergolong baru, jadi nggak heran kalau eksterior maupun interior bangunan masih kinclong. Saat check-in saya dilayani oleh staf resepsionis yang ramah. Walaupun saya beli voucher hotel secara online via Traveloka, tapi Same Hotel Malang nggak meminta dana deposit yang cukup besar. Dana deposit yang diserahkan hanya Rp 50.000 saja. Itu untuk deposit kunci. Dana deposit bakal dikembalikan saat check-out. 

Lalu, gimana kondisi di dalam kamar Same Hotel Malang? Kamar yang ada bisa dibilang nggak terlalu luas, tapi bersih dan rapi. Fasilitas di dalam kamar nggak terlalu banyak. Sesuai dengan standar hotel bintang tiga yang mendekati budget hotel. Ada LCD TV, AC cukup dingin, dan toiletries pun ada meskipun nggak lengkap. Ruangannya menurut saya nyaman lah. Kalaupun ada kekurangan itu karena ruangan kurang kedap suara, sehingga suara dari luar masih bocor ke dalam. 




Oh ya, harga yang saya bayarkan itu sudah termasuk breakfast ya. Sayangnya, walaupun dikatakan memiliki standar bintang tiga, namun menu sarapan di Same Hotel Malang masih kurang bervariasi. Pagi itu menu sarapan yang bisa dipilih antara lain nasi putih atau nasi goreng yang dinikmati dengan ayam dan sayur buncis, ada juga soto ayam, bubur kacang hijau, jajanan pasar, buah, serta kopi, teh, dan orange juice untuk minuman. Kurang lebih variasi makanan kayak budget hotel lah. Nggak ada pastry ataupun omelet. Kekurangan lainnya, pelayanan di restoran tergolong lelet, kurang sigap. Saat minuman atau makanan habis nggak segera diisi ulang. Begitu juga ketika di meja banyak piring dan gelas kotor menumpuk, nggak lekas dibereskan. 



Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, Same Hotel Malang cukup recomended sebagai tempat bermalam di Malang, baik untuk acara liburan maupun business trip. Fasilitas yang disediakan saya rasa cukup sesuai dengan harganya. Satu lagi yang mungkin bisa jadi pertimbangan, Same Hotel Malang nggak memiliki area parkir kendaraan yang cukup luas. 

4 April 2016

Mencicipi Sate Klathak Pak Pong yang Super Ramai...


Pergi ke Jogja rasanya nggak lengkap kalau nggak disertai dengan mencicipi aneka kuliner. Beberapa hari yang lalu saya ke Jogja dalam waktu yang cukup singkat untuk beberapa keperluan. Di sela-sela waktu yang mepet itu saya menyempatkan diri makan di Warung Sate Klathak Pak Pong yang terletak di Jalan Stadion Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta. 

Memang warung Pak Pong ini bukan satu-satunya warung sate klathak yang berada di Jalan Imogiri Timur dan sekitarnya. Banyak banget warung sate klathak di sini. Warung yang menjadi langganan saya sih biasanya di Warung Sate Klathak Pak Bari yang berada di dalam area Pasar Jejeran. Tapi nggak ada salahnya kalau sesekali mencoba Sate Klathak Pak Pong. Alasannya simple... Warung Sate Klathak Pak Pong ini gede banget dan pengunjungnya nggak pernah sepi. Itu yang membuat saya sangat penasaran mencicipi gimana enaknya sate klathak versi warung Pak Pong... 

Saya ke Warung Sate Klathak Pak Pong ini nggak sendiri... Melainkan bersama kakak perempuan saya bersama suaminya dan dua keponakan saya yang lucu-lucu. Ke sana malam hari setelah isya', kondisi warung seperti biasanya ramai banget... Menariknya Warung Sate Klathak Pak Pong ini luas, jadi bisa menampung banyaknya pengunjung. Ada tempat dengan kursi dan meja. Ada pula versi lesehan. Tinggal pilih saja sesuai selera.


Malam itu kami memesan empat porsi sate klathak, satu porsi tengkleng, satu porsi tongseng, empat nasi putih, dan empat minuman. Walaupun kondisi warung dalam keadaan ramai, tapi pelayanan dilakukan dengan cepat. Tidak perlu menunggu terlalu lama, menu-menu yang dipesan tadi sudah berada di atas meja dan siap disantap. Bagaimana rasanya? 

Saya highlight untuk sate klathaknya dulu deh... Menurut saya sih nggak mengherankan kalau Warung Sate Klathak Pak Pong selalu ramai. Lha wong porsi satenya amat sangat besar! Dalam satu porsi sate klathak itu sudah umum terdiri dari dua tusuk sate. Namun, di Warung Sate Klathak Pak Pong, irisan daging kambing di satenya itu besar-besar banget. Belum lagi daging yang disajikan dalam satu tusuk sate juga banyaaak!! Kayaknya saya belum nemu warung sate klathak lain yang porsinya sebesar ini. 

Soal rasa, sebenarnya nggak ada yang beda antara Sate Klathak Pak Pong dengan sate klathak lainnya. Rasanya gurih karena daging kambing dalam sate tidak diberi apa-apa. Daging kambing muda di dalam sajian sate inipun empuk, nggak alot. Hanya ada cita rasa asin yang membuat rasa sate begitu alami. Untuk makan sate klathak selalu disajikan dengan kuah gulai. Sayang rasa kuah gulai di Warung Sate Klathak Pak Pong agak hambar. Tapi menariknya, selain kuah gulai, di sini juga diberi sambel kecap sebagai teman untuk menikmati sate. 


Terus gimana dengan rasa tongseng dan tengklengnya? Mungkin lidah saya kurang berselera dengan tongseng buatan Jogja. Di manapun saya mencicipi tongseng di Jogja, rasa manisnya begitu kuat walaupun sudah pesen tongseng yang pedes. Termasuk di Warung Sate Klathak Pak Pong ini, rasa manis di tongseng lumayan mendominasi. Sedangkan untuk tengkleng saya nggak ikut mencicipi karena selain kurang suka dengan tulang belulang, juga perut sudah amat sangat kenyang... Memang yang istimewa rasa dan porsi sate klathaknya itu tadi... 

Yang membuat saya agak kaget ketika makan di Warung Sate Klathak Pak Pong adalah harganya... Bukan karena harganya yang mahal, tapi malah menurut saya tergolong murah untuk porsi makanan yang jumbo seperti itu. Saya sih nggak begitu hafal rinciannya... Kalau nggak salah seporsi sate klathak hanya dihargai Rp 19.000 saja, belum termasuk nasi lho ya... Nah, total pesananan empat porsi sate klathak, satu porsi tongseng, satu porsi tengkleng, empat nasi putih, dan empat minuman (es teh/es jeruk) cuma perlu dibayar dengan duit Rp 143.000 saja. Asyiknya di Warung Sate Klathak Pak Pong tersedia pembayaran melalui debit card, jadi nggak perlu khawatir kalau nggak bawa uang cash yang cukup...