Rehat Sejenak Di Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi

masjid agung baiturrahman banyuwangi
Berjalan kaki menelusuri jalan utama Kota Banyuwangi memang menyenangkan karena kendaraan yang lewat tidak begitu ramai, malah cenderung sepi layaknya di kota kecil. Perjalanan saya keliling kota harus terhenti karena kaki sudah terasa pegal-pegal. Tidak terasa beberapa kilometer sudah saya lalui. Perjalanan saya terhenti ketika saya melewati Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi. Akan lebih baik kalau saya istirahat dan shalat ashar terlebih dahulu sebelum lanjut ke Pelabuhan Ketapang yang jaraknya masih cukup jauh.

Ada yang sudah pernah mampir ke Masjid Agung Baiturrahman? Konon masjid ini merupakan salah satu ikon Kota Banyuwangi yang cukup kuat karena masjid ini telah berusia cukup tua. Masjid Agung Baiturrahman yang semula merupakan masjid yang sederhana dibangun pada tahun 1774 dengan nama Masjid Jami’ Banyuwangi. Bisa dibilang masjid ini merupakan masjid tertua yang ada di Banyuwangi karena memang ini adalah masjid pertama yang didirikan disana. Masjid Agung Baiturrahman sekaligus menjadi awal mula penyebaran agama islam di Banyuwangi. Seiring berjalannya waktu, masjid mengalami renovasi beberapa kali dan sekarang ini menjadi sebuah masjid besar dan megah yang menjadi kebanggaan masyarakat.

Bangunan Masjid Agung Baiturrahman didominasi warna hijau. Hampir di setiap bagian terdapat warna hijau. Sementara itu bagian atap terdapat tiga kubah yang berwarna agak kebiruan. Pada bagian depan masjid terdapat sebuah menara yang cukup tinggi dan cantik menghiasi pelataran masjid. Saat saya datang, beberapa tempat terutama bagian halaman masjid sedang direnovasi. Sepertinya pembangunan masjid ini akan terus berlanjut menjadikannya semakin indah dan semakin banyak orang yang datang untuk beribadah. Jika Anda ingin mampir ke Masjid Baiturrahman, Anda tidak akan sulit menemukannya. Karena masjid ini berada di jantung kota Banyuwangi, tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman 137 di depan Taman Sritanjung. Setelah cukup menunaikan shalat dan meluruskan kaki, baru deh saya lanjut ke Pelabuhan Ketapang. Nah enaknya jalan kaki atau naik angkot ya? :S

Beginilah Suasana Kota Banyuwangi

kota banyuwangi
Kalau boleh jujur, menurut saya tidak ada objek wisata yang cukup menarik di Kota Banyuwangi. Ingat.. Di Kota Banyuwangi loh ya, bukan Kabupaten Banyuwangi. Sampai di Banyuwangi saya menelusuri jalanan utama kota tersebut dengan berjalan kaki sepanjang kurang lebih 5-6 km melintasi tengah kota. Mulai dari Jalan Adi Sucipto menuju ke Jalan Ahmad Yani, terus hingga Jalan Jenderal Basuki Rahmat dan Jalan Yos Sudarso. Sayangnya saya tidak menemukan objek yang benar-benar menjadi ciri khas Banyuwangi. Bukan hal yang aneh sih karena Kota Banyuwangi hanyalah sebagai pusat pemerintahan saja dan tidak dikembangkan sebagai kota wisata. Tempat-tempat wisata terutama wisata alam kebanyakan berada di luar kota. Seingat saya, saya hanya melihat Museum Blambangan yang terletak di Jalan Ahmad Yani yang terlihat sangat sepi dan tidak ada orang yang berjaga dengan pintu gerbang yang hanya terbuka sedikit saja. Melihat kondisi seperti ini saja jadi ragu untuk masuk. Atau memang karena sudah mulai sore jadi museum sudah tutup yah?

Berjalan kaki di Kota Banyuwangi sebenarnya cukup nyaman. Kotanya bisa dibilang tidak terlalu luas namun sangat sangat bersih. Hanya dalam waktu hitungan jam Anda sudah bisa mengelilingi kota. Trotoar di tengah kota digunakan sebagaimana mestinya. Pepohonan juga sangat rimbun berada di tepian mapun median jalan. Lebih nyaman lagi karena lalu lintas di kota ini bisa dibilang cukup sepi. Tidak banyak kendaraan yang lewat baik itu mobil maupun motor. Yang jelas tidak sepadat kota-kota besar. Angkutan umum di kota ini didominasi oleh angkot yang cukup sering hilir-mudik mengantarkan penumpang. Taksi? Meskipun ada, namun alat transportasi yang satu ini memang cukup jarang ditemui di Banyuwangi. Mungkin karena jumlahnya tidak terlalu banyak.
kota banyuwangi
kota banyuwangi
kota banyuwangi
Sepanjang jalan utama di tengah kota kebanyakan dihuni oleh gedung-gedung perkantoran baik milik pemerintah maupun swasta. Tidak ketinggalan juga rumah dan toko-toko yang berderet di sepanjang jalan. Di kota yang satu ini Anda jangan berharap bertemu banyak mall layaknya di kota besar. Kalau saya tidak salah hanya ada beberapa, itupun tidak terlalu besar. Yang paling terkenal tentunya adalah Roxy yang terletak di Jalan Ahmad Yani. Selebihnya hanyalah pusat perbelanjaan seperti Giant, Ramayana, dan sejenisnya. Bagi yang tidak suka dengan riuhnya kota besar, Kota Banyuwangi merupakan kota yang cukup nyaman untuk ditinggali mengingat suasananya yang tidak terlalu crowded bahkan cenderung sepi. Tidak seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, maupun Makassar yang selalu saja macet setiap hari. Karena tidak menemukan sesuatu yang menarik, sepertinya akan lebih seru kalau nyore di Pelabuhan Ketapang. Yuuukk..

Taman Tirta Wangi Di Persimpangan Karangente Banyuwangi

taman tirta wangi banyuwangi
Dalam perjalanan ke Banyuwangi ini benar-benar tidak ada persiapan yang cukup, tidak ada perencanaan sama sekali. Apalagi dengan waktu yang sangat singkat, hanya satu hari saja tentu tidak akan bisa melihat tempat-tempat menarik di Banyuwangi yang rata-rata berada di luar kota. Pengennya sih ke Kawah Ijen atau ke pantai-pantai eksotis di Banyuwangi, tapi mana sempat terlebih saya baru landing di Banyuwangi saat hari sudah mau sore. Keesokan harinya pun saya sudah harus berangkat lagi ke Surabaya. Di saat waktu yang sangat mepet seperti ini city tour merupakan pilihan terbaik.

Hal pertama yang saya jumpai saat memasuki Kota Banyuwangi adalah Taman Tirta Wangi. Taman ini terletak di pinggiran kota dekat dengan Terminal Bus Karangente. Saat masuk Kota Banyuwangi dari arah Jember bisa dipastikan Anda akan melewati Taman Tirta Wangi karena lokasinya berada tepat di persimpangan Jalan Adi Sucipto yang merupakan jalan masuk menuju pusat kota. Bisa dikatakan Taman Tirta Wangi merupakan kebanggaan warga Banyuwangi. Pohon-pohon rimbun menjuntai mengelilingi taman, sementara tanaman-tanaman kecil seperti bunga menghiasi bagian dalam taman. Yang paling menarik tentunya adalah adanya monument Tirta Wangi yang disimbolkan oleh patung kuda (Kereta Kencana Srikandi). Hal ini mengingatkan saya pada patung sejenis yang terdapat dekat dengan Bandara Ngurah Rai di Bali.

Meskipun namanya mengandung kata “tirta” namun saya tidak melihat sedikitpun adanya air disini. Di samping patung kereta kencana memang dibuat seperti kolam yang mengelilingi patung. Tapi saat itu kondisi air sedang kering kerontang tidak ada isinya. Mungkinkah karena sedang musim kemarau? Sayangnya saat saya datang taman ini sedang mengalami renovasi. Beberapa bagian masih terlihat berantakan, paving block juga berserakan. Sayangnya lagi, tempat-tempat duduk yang ada kurang memadai. Padahal taman bisa digunakan untuk bersantai sembari menikmati sejuknya rerimbunan pepohonan yang ada. Mungkin Pemkab Banyuwangi bisa mencontoh taman-taman yang ada di Surabaya yang sudah sukses menjadi layaknya taman yang benar-benar bermanfaat untuk warganya untuk belajar, menyalurkan hobi, bersantai, dan nongkrong bareng teman maupun keluarga.
taman tirta wangi banyuwangi

Cara Keluar Dari Bandara Blimbingsari Ke Kota Banyuwangi

transportasi bandara blimbingsari
Seperti yang sudah saya katakana sebelumnya, Bandara Blimbingsari merupakan bandara yang jaraknya cukup jauh dari Kota Banyuwangi. Berada di Desa Blimbingsari dengan kondisi di kepung area persawahan membuat transportasi dari bandara maupun menuju bandara cukup sulit. Jangankan angkutan umum seperti angkutan pedesaan, ojek saja tidak ada yang mangkal di bandara ini kok. Satu-satunya transportasi yang ada di Bandara Blimbingsari adalah taksi. Anda bisa memesannya di konter taksi yang ada di gedung terminal kedatangan. Konon tarifnya menggunakan argo. Tapi ya nggak tau juga argonya normal atau argo kuda. Bagi yang punya duit, taksi merupakan alternative yang paling praktis. Lalu bagaimana dengan saya? Naik taksi merupakan hal yang paling dihindari kecuali kalau kepepet sekali. Setelah bertanya kesana-kesini dengan avsec yang bertugas di Bandara Blimbingsari saya pun mendapatkan pencerahan. Bapak avsec akan memanggilkan temannya untuk mengantarkan saya ke Rogojampi yang merupakan kota kecamatan. Paling tidak dari Rogojampi saya akan lebih mudah mendapatkan transportasi ke Kota Banyuwangi. Teman bapak avsec ini rupanya juga bekerja di bandara. Saya kurang paham kerja di bagian apa. Ketika saya tanya, bapak ini hanya mengatakan bekerja di dinas perhubungan. Untuk sampai ke Rogojampi saya itungannya ngojek dengan bapak ini dengan ongkos 10.000. Bapak ini memang bukan tukang ojek, kemungkinan karena kasihan juga jadi beliau bersedia mengantar saya. Hehe..
transportasi bandara blimbingsari
Jarak dari Blimbingsari ke Rogojampi berkisar antara 5-6 km. Dengan menggunakan sepeda motor bisa ditempuh dalam waktu 10-15 menit saja. Cukup cepat bukan? Area Blimbingsari ini memang benar-benar sepi. Jangankan angkutan umum, pengendara roda dua saja hanya 1-2 saja yang lewat. Kemungkinan juga merupakan warga sekitar maupun orang-orang yang akan ke Pantai Blimbingsari. Kalau Anda mendarat di Bandara Blimbingsari bisa saja dicoba cara saya ini. Bertanya kepada petugas-petugas yang ada disana apakah bersedia mengantar sampai Rogojampi. Kalau ada yang bersedia berarti Anda sedang beruntung. Kalau nggak ada yang mau ya dengan terpaksa memesan taksi saja. Tidak perlu sampai Banyuwangi kalau tidak mau tagihan argonya melejit, cukup sampai Rogojampi saja. Rogojampi merupakan kota kecamatan yang sudah cukup ramai. Sepanjang jalan utama berderet gedung-gedung perkantoran maupun pertokoan. Di Rogojampi saya diturunkan di depan Kantor Pos Rogojampi. Disana saya sudah bisa menunggu bus yang akan ke Banyuwangi. Biasanya bus yang lewat depan kantor pos tersebut adalah Bus Akas Asri yang memiliki trayek Surabaya-Banyuwangi via Jember. Beruntung saya tidak perlu menunggu terlalu lama di Rogojampi. Hanya 30 menit menunggu, Bus Akas dari arah Jember sudah melintas. Langsung deh naik.. Selain Bus Akas Asri anda bisa juga naik angkutan umum seperti angkot kalau nggak salah ingat warna merah dari Rogojampi. Namun menurut saya yang paling nyaman ya naik bus saja sih. Lagipula ongkos naik bus juga cukup murah kok. Dari Rogojampi hingga Terminal Karangente di Banyuwangi saya cukup membayar 4.000 saja. Lama perjalanan kurang lebih setengah jam. Yup bus mentok sampai Terminal Karangente saja. Untuk menuju tengah kota Anda bisa melanjutkan perjalanan dengan angkot, becak, atau ojek yang banyak berkeliaran di sekitar terminal.

Bandara Blimbingsari, Bandara Kebanggaan Banyuwangi

badara blimbingsari banyuwangi
Perjalanan dari Surabaya hingga mendarat di Banyuwangi bisa dibilang cukup menyenangkan. Cuaca sangat cerah sepanjang penerbangan, pemandangan yang ada di bawah juga bagus. Mendarat di Bandara Blimbingsari ini layaknya mendarat di bandara perintis. Bandara Blimbingsari memang bukanlah bandara besar, melainkan hanyalah bandara kecil yang memang bisa dibilang sekelas dengan bandara-bandara perintis. Tidak banyak penerbangan dari Bandara Blimbingsari. Dalam seminggu hanya ada 4 kali penerbangan ke Surabaya oleh Merpati dengan pesawat MA60. Dulu ada Sky Aviation ke Surabaya dan Denpasar. Namun sepertinya maskapai tersebut sudah tidak menerbanginya lagi. Bandara ini lebih banyak disibukkan oleh latihan terbang para siswa Bali International Flight Academy (BIFA) dengan pesawat Cessna-nya. Jadi kalau sudah tidak ada penerbangan dari Merpati, bandara ini dijamin sepi karena tidak ada penerbangan komersil lainnya.

Menurut informasi dari situs Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Bandara Blimbing sari terletak di Desa Blimbingsari, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi. Dengan panjang landasan 1.400 meter dan lebar 30 meter, bandara ini sudah cukup didarati pesawat sekelas Fokker 50, Xian MA60, maupun ATR 42. Sayangnya apron yang ada cukup kecil, hanya bisa menampung satu unit pesawat dengan tipe yang saya sebutkan tadi. Disini juga belum tersedia instrument navigasi yang cukup memadai seperti halnya di bandara-bandara besar. Jadi untuk melakukan pendaratan harus dilakukan secara visual. Fasilitas lainnya hanya berupa mobil ambulance saja yang standby saat pesawat akan mendarat. Saya nggak melihat adanya mobil pemadam kebakaran di area ini. Ntahlah, saya yang nggak teliti atau memang tidak ada. Uniknya lagi, meskipun sudah memiliki penerbangan komersil namun Bandara Blimbingsari belum memiliki ICAO code (four letter code) maupun IATA code (three letter code). Tapi lucunya di tiket saya tertulis IATA code (3-letter code) BWW. Saya kurang tau berdasarkan apa Merpati menggunakan BWW ini. Padahal di situs Dirjen Hubud tidak tertera.
badara blimbingsari banyuwangi
Bangunan Bandara Blimbingsari bisa dibilang sangat kecil yang terdiri dari dua buah bangunan. Satu bangunan dicat warna kuning dengan sebelahnya masih dilakukan penambahan ruangan, sementara bangunan satunya lagi berwarna biru muda. Bangunan yang berwarna kuning merupakan gedung terminal yang digunakan baik untuk terminal kedatangan maupun keberangkatan. Tentu saja ruangannya sangat sempit. Bahkan saya cukup kebingungan saat akan keluar dari bandara ini karena para petugas darat sudah membagikan barang bagasi para penumpang saat masih berada di luar pintu terminal kedatangan. Owh rupanya terminal kedatangannya sangat sempit yang hanya diisi oleh konter pemesanan taksi. Sementara itu untuk area keberangkatan masih lebih luas. Namun untuk menampung sebuah penerbangan dengan pesawat sekelas MA60 atau Fokker 50 saja sudah terlihat sangat sumpek. Untuk bangunan berwarna biru yang terpisah dari bangunan berwarna kuning itu merupakan terminal untuk VIP. Jadi bapak-bapak pejabat yang terhormat tidak perlu mengantri berjubel saat datang maupun berangkat dari bandara ini karena sudah ada ruangan khusus untuk para raja-raja kecil yang terhormat ini.
badara blimbingsari banyuwangi
Nah kalau Anda ingin ke pantai, dari Bandara Blimbingsari ini jaraknya cukup dekat dengan Pantai Blimbingsari. Kalau saya nggak salah jaraknya hanya sekitar 1,5-2 km saja. Sayangnya nggak ada angkutan umum yang masuk kesana. Lalu untuk ke kota? Perlu saya ingatkan, Bandara Blimbingsari ini terletak di tengah-tengah sawah yang cukup jauh dari kota. Bahkan untuk ke kota Kecamatan Rogojampi juga cukup jauh sekitar 5-6 km. Disana tidak ada angkutan umum sama sekali. Sementara itu untuk sampai ke Banyuwangi paling tidak harus menempuh perjalanan 18 km lagi. Satu-satunya alternative yang paling mudah adalah naik taksi. Ada satu perusahaan taksi yang membuka pemesanan di Bandara Blimbingsari. Jumlahnya pun tak banyak. Kebanyakan dari penumpang yang bareng saya pada penerbangan tadi kalau tidak dijemput ya pesan taksi. Kalau naik taksi pastilah tarifnya lebih mahal. Terus, bagaimana caranya keluar dari Blimbingsari dengan ongkos yang murah? Ikuti terus yak! :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme