20 Mei 2009

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Hari Senin 18 Mei 2009 kemaren saya baru saja melakukan perjalanan ke Surabaya karena ada suatu keperluan. Di Surabaya saya cuma sehari aja, berangkat pagi dan pulang pada malam harinya karena urusan tersebut hanya sebentar saja. Agar saya bisa pulang-pergi dalam waktu sehari otomatis pilihan saya jatuh pada Lion Air. Memang benar bahwa penerbangan Jogja-Surabaya dilayani oleh dua maskapai yaitu Batavia dan Lion, namun jadwal Lion lebih cocok buat saya karena penerbangan Jogja-Surabaya berangkat pagi-pagi sedangkan untuk rute pulangnya Surabaya-Jogja berangkat malam hari. Dengan memilih Lion saya tidak perlu menginap di Surabaya.

Flight Detail:
Date: May 18, 2009
Airlines: Lion Air (Operated by Wings Air)
Flight No: JT-560
Route: Yogyakarta (JOG)-Surabaya (SUB)
Departure Time: 06.00 (scheduled), 06.10 (actual)
Arrival Time: 06.50 (scheduled), 07.00 (actual)
Aircraft: McDonnell Douglas MD-82
Registration: PK-LMY
Class: Economy
Seat: 18F
Site: http://www.lionair.co.id/

Penerbangan Lion Air ke Surabaya diberangkatkan pada pukul 06.00. Saya berangkat ke airport naik motor dan sampai di airport masih jam 05.00. Jarak dari kost ke airport memang tidak terlalu jauh. Dengan menggunakan motor hanya membutuhkan waktu 10-15 menit saja apalagi kalau masih subuh seperti ini.

Sampai di Bandara Adi Sucipto sudah cukup ramai. Bandara ini memang cukup sibuk untuk first flight yang berangkat sekitar jam 06.00 terutama untuk tujuan Jakarta. Cukup banyak penerbangan ke Jakarta pada pagi hari baik dari Garuda, Mandala, Lion, dan Batavia. Selain itu ada juga penerbangan Merpati tujuan Makassar.

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Walaupun ramai proses check in berjalan sangat lancar, tidak ada tumpukan antrian untuk tujuan Surabaya. Berikutnya saya menuju ke ruang tunggu setelah sebelumnya membayar airport tax sebesar 25.000. Ruang tunggu yang ramai masih bisa menampung semua penumpang yang akan berangkat pada pagi itu.

Jam 05.50 baru terdengar panggilan boarding untuk penerbangan saya ke Surabaya. Dengan cepat terbentuk antrian yang tidak rapi sama sekali. Nggak tau kenapa orang-orang Indonesia sulit sekali untuk antri, semua maunya didahulukan. Terlihat pada penerbangan ini tidak saja diisi oleh penumpang lokal, tetapi ada juga bule-bule dari Eropa yang akan menuju Surabaya dengan penerbangan Lion Air ini.

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Saat menuju ke pesawat dari jauh terlihat bahwa pesawat yang akan digunakan ke Surabaya adalah pesawat buatan McDonnell Douglas dengan seri MD-80. Pesawat MD-80 ini memiliki registrasi PK-LMY. Pesawat yang sudah cukup tua, bahkan jauh lebih tua dari saya karena pesawat ini buatan tahun 1985.

Awalnya MD-80 dengan registrasi PK-LMY ini dikirim oleh McDonnell Douglas kepada Continental Airlines pada tanggal 4 April 1985. Continental mengoperasikan pesawat ini sampai dengan tahun 2001. Dari 2001 hingga 2004 pesawat yang masih masuk keluarga DC-9 ini tidak dioperasikan dan disimpan oleh Continental di Mojave. Baru pada tahun 2004 tepatnya tanggal 1 April 2004 PK-LMY dioperasikan oleh Lion Air. Tidak sampai disitu saja, PK-LMY hanya beroperasi selama dua bulan untuk Lion karena kemudian pesawat ini disewa oleh Myanmar Wirways Int dari Lion sampai dengan akhir tahun 2007. Dari tahun 2007 sampai dengan sekarang PK-LMY masih aktif menerbangi rute-rute domestik Lion Air, salah satunya ya rute Jogja-Surabaya ini.

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Pesawat MD-80 atau MD-90 memiliki ciri khas yang cukup unik karena pesawatnya pendek dan kurus dengan badan yang panjang, serta hidung pesawat yang agak meruncing. Kemudian dua mesin pesawat terletak di belakang atau lebih tepatnya di bawah ekor. Tidak seperti mesin-mesin pesawat modern saat ini yang kebanyakan mesinnya terletak di bawah sayap. Keunikan lainnya adalah satu pintu yang terletak di belakang tepat di bawah ekor pesawat. Satu hal lagi yang bikin heboh adalah pesawat MD-80 menggunakan mesin PW JT8D-217C. Mesin yang sama dengan mesin pesawat Boeing 737-200 yang terkenal suaranya menggelegar bikin kuping budeg.

Saya sengaja boarding lewat pintu belakang untuk menikmati lewat bokong pesawat yang seperti lorong. Memang benar berada di dalam pesawat ini seperti berada dalam lorong yang panjang. Hmmm.. Ada sedikit keanehan disini, pramugarinya kok bukan pramugari Lion? Biasanya kan pramugari Lion menggunakan baju batik dengan belahan paha yang ukup tinggi. Sekarang ini pramugarinya menggunakan seragam merah baik atasan maupun bawahan dengan logo Wings Air. Setelah penumpang masuk semua mbak mugari memberikan pengumuman kalau penerbangan ini dioperasikan oleh Wings Air. Terjawab sudah rasa penasaran saya. Beli tiket Lion, dapet pesawat Lion tapi rasa Wings Air.

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Memang Wings Air merupakan anak perusahaan dari Lion Air. Cuma yang bikin saya bingung itu apa bedanya Lion sama Wings. Sama-sama mengoperasikan pesawat jet juga. Mungkin akan lebih baik jika nantinya Lion yang mengoperasikan pesawat jet sedangkan Wings menjadi feeder buat Lion dengan mengoperasikan pesawat baling-baling. Untuk saat ini antara Lion dan Wings masih sama saja.

Masuk ke kabin pesawat Lion Air MD-80 ini terasa sumpek. Walaupun masih pagi tapi kabin kerasa panas. Untuk tempat duduknya sih lumayan dari segi seat pitch. Sarung tempat duduknya khas pesawat MD seperti halnya pesawat MD-80 milik American Airlines, Continental, ataupun Delta. Sarung kursinya sih udah pada banyak yang jebol. Saya kurang tau apakah sarung kursinya udah pernah diganti atau belum. Hehe..

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Setelah pintu pesawat ditutup seperti biasa dong mbak mugarinya melakukan safet demo untuk para penumpang. Kemudian pesawat bergerak ke runway 27 yang berada di sisi timur. Berarti nanti pesawat akan terbang ke arah barat, sesaat setelah lepas landas pesawat akan belok kanan ke arah timur. Hmm.. Benar dugaan saya.. Mesin pesawat MD-80 bekerja dengan sangat powerful saat take off. Sensasinya beda sekali dibandingkan naik pesawat Boeing ataupun Airbus. Saat take off naik MD, hidung pesawat terasa sangat mendongak ke atas. Sensasinya luar biasa!!

Pada penerbangan ini saya duduk di kursi bagian tengah, suara mesinnya cukup sunyi juga. Tapi beda cerita kalo duduk di belakang, apalagi di sebelah mesin dijamin budeg. Hehe.. Nggak ada yang bisa dilakukan selama penerbangan. Nggak ada hiburan apa-apa di pesawat. Mau liat pemandangan di luar cuacanya juga masih kayak gitu, cukup berkabut jadi kurang menarik. Mending tidur dulu aja, masih lumayan ngantuk.

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Baru sebentar tidur saya udah kebangun karena pramugari sudah mengumumkan kalau pesawat sesaat lagi akan mendarat di Bandara Juanda. Tidak lama kemudian pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Juanda Surabaya. Pesawat parkir berjejer dengan MD-80 milik Lion/Wings Air lainnya. Ada juga pesawat baru Lion Air Boieng 737-900ER. Yah ini adalah pertama kalinya saya melihat langsung pesawat Boeing 737-900ER. Ternyata memang cakep banget.. Mudah-mudahan bisa naik pesawat ini dalam waktu dekat.

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Lion Tapi Wings, Wings Tapi Lion

Keluar dari pesawat saya segera keluar dari terminal. Kemudian saya memesan taksi bandara. DI Bandara Juanda taksinya dimonopoli oleh koperasi TNI-AL. Hal ini membuat konsumen nggak punya pilihan lain. Apalagi harganya lumayan mahal. 75.000 untuk sampai di tempat tujuan saya di Jalan Kedung Baruk Surabaya. Oke.. Segini dulu, ketemu lagi dengan postingan berikutnya untuk penerbangan pulang saya ke Jogja.


0 komentar:

Posting Komentar