8 Juli 2009

Lion Air McDonnell Douglas MD-82 CGK-JOG

Lion Air

Tidak terasa sudah selama hampir 3 minggu saya berada di Tangerang, kali ini akan pulang ke Jogja dalam rangka Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009. Kebetulan banget karena masuk dalam DPT. Sebenernya tadinya nggak ada rencana buat pulang ke Jogja hari ini, tapi sekalian mau jenguk kakak juga jadi saya memutuskan untuk pulang saja meskipun nanti cuma sebentar di Jogja. Agak mendadak memang, karena baru kemaren saya membeli tiket buat ke Jogja ini.

Setelah browsing-browsing harga tiket ternyata harganya udah mahal-mahal, rata-rata sudah ada di harga 400.000-500.000. Syukurnya masih ada tiket Lion Air yang promo dengan harga 269.000. Inilah enaknya beli tiket Lion mendadak, meskipun sudah dekat dengan hari keberangkatan masih ada saja harga yang murah. Ya sudah langsung ke travel agent terdekat dan membeli tiket Lion Air tersebut untuk jadwal jam 07.35 yang dijadwalkan akan menggunakan pesawat Boeing 737-400.

Walaupun sudah sering naik pesawat tapi saya cukup jarang bisa menaiki pesawat Boeing 737-400. Untuk pesawat Boeing 737 saya lebih sering saya dapet Boeing 737-300. Dari segi fisik tidak ada perbedaan yang signifikan antara Boeing 737-300 dan 737-400. Hanya saja 737-400 sedikit lebih panjang dan memiliki dua pasang emergency exit yang berada di atas sayap pesawat. Otomatis daya tampung penumpangnya juga lebih besar daripada 737-300.

Flight Detail:
Date: July 08, 2009
Airlines: Lion Air
Flight No: JT-552
Route: Jakarta (CGK)-Yogyakarta (JOG)
Departure Time: 07.35 (scheduled), 07.45 (actual)
Arrival Time: 08.35 (sceduled), 08.40 (actual)
Aircraft: McDonnell Douglas MD-82
Registration: PK-WIH
Class: Economy
Seat: 11A
Site: http://www.lionair.co.id/

Untuk penerbangan jam 07.35 sepertinya buat saya masih cukup kepagian, mungkin karena sudah terbiasa bangun siang. Hehe.. Pukul 05.45 berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta menggunakan taksi, ternyata tepat pukul 06.00 udah nyampe di depan Terminal 1A. Jalanan pagi hari masih sepi karena banyak pekerja yang libur ataupun kalo nggak libur ya masuknya siang sehingga cukup cepat sampai bandara.

Sampai di Bandara Soekarno-Hatta tepatnya terminal 1A kondisinya sangat ramai. Terminal ini benar-benar sangat padat pada pagi itu. Untuk masuk ke ruang check in saja antriannya berjalan sangat lambat. Jangan coba-coba deh dateng mendadak kalo nggak mau ketinggalan pesawat.

Lion Air

Lion Air

Setelah antri cukup lama saya akhirnya bisa masuk juga ke ruang check in. Kondisi di ruang check in tidak jauh berbeda dengan di luar tadi. Semua antrian mengular berantakan, tidak rapi sama sekali. Bahkan beberapa orang berusaha menyerobot antrian karena sudah mendekati jadwal keberangkatannya. Ada sesuatu yang baru yang saya lihat di check in counter terminal 1A ini. Ternyata sekarang Lion Air sudah mulai menggunakan E-Tiket. Tapi belum semuanya menggunakan E-Tiket tersebut, mungkin baru uji coba terlebih dahulu. Anehnya check in counter buat yang menggunakan E-Tiket dan tiket manual dibedakan. Kebetulan saya masih menggunakan manual tiket yang antriannya gila panjangnya..

Setelah check in dan mendapatkan seat nomer 11A, saya langsung menuju ruang tunggu. Kali ini ruang tunggunya di gate A7. Tapi sebelumnya membayar tax bandara terlebih dahulu. Ruang tunggu masih cukup sepi. Di depan gate A7 samar-samar terlihat Boeing 737-400. Mungkinkah pesawat itu yang akan membawa saya ke Jogja? Tidak lama kemudian ruang tunggu sudah mulai dipadati oleh penumpang yang akan berangkat ke Jogja.

Lion Air

Lion Air

Lion Air

Lion Air

Setelah menunggu selama 1 jam dan juga sudah waktunya untuk boarding, karena waktu sudah menunjukkan pukul 07.20 tiba-tiba ada announcement. Kira-kira seperti ini, "Mohon perhatian kepada penumpang Lion Air dengan nomor penerbangan JT-552 tujuan Yogyakarta, saat ini pesawat yang akan membawa anda ke Jogja sudah siap, tapi karena alasan operasional boarding gate anda dipindahkan ke boarding gate A4".

Wow!! Ternyata boarding gatenya pindah, berarti nggak akan mungkin menggunakan pesawat Boeing 737-400 yang ada di depan gate A7 seperti yang dijadwalkan semula. Waduh, bakal pakai pesawat apa ya? Boeing 737-900ER kah *berharap*? Apa memang Lion Air sering merubah gate seperti ini?

Para penumpang tujuan Jogja berduyun-duyun menuju gate A4 dan langsung boarding ke dalam pesawat. Saya yang dapet nomer agak depan tentunya lewat garbarata saja, sedangkan penumpang lain yang duduk di belakang harus turun tangga dan masuk pesawat melalui pintu belakang. Saat berada di monitor operator garbarata saya meilhat moncong pesawatnya lancip, kurus, dan rodanya pendek. Wah dapet pesawat MD nih pikir saya. Ternyata benar, pesawat yang akan membawa saya ke Jogja diganti dengan pesawat Wings Air MD-82.

Lion Air

Lion Air

Yo wes lah nggak apa-apa, diterima saja. Toh saya juga cukup menikmati terbang dengan pesawat jadul ini. Kenapa saya bilang jadul? Ya karena pesawat ini sudah cukup tua. Pesawat MD-82 dengan registrasi PK-WIH yang akan saya naiki ini buatan tahun 1987. Berarti umurnya dua tahun lebih tua daripada saya. Bukan masalah sih naik pesawat tua asalkan maintenance-nya bagus. Tapi saya sendiri nggak yakin apakah maintenance Lion terhadap pesawat ini bagus atau tidak. :green:

Awalnya PK-WIH dioperasikan oleh maskapai asal Amrik, Continental Airlines dengan registrasi N57837. Pada bulan Mei tahun 1990 pesawat ini disewa oleh ALM selama empat bulan saja. Kemudian pesawat ini kembali digunakan oleh Continental sampai dengan tahun 2005. Pada tahun 2005 ini Lion Air membelinya untuk memperkuat armadanya. Sekarang pesawat ini dalam balutan livery Wings Air yang merupakan anak perusahaan Lion Air dan menggunakan registrasi PK-WIH.

Nggak lama setelah saya duduk ternyata ada keributan kecil-kecilan, ada beberapa orang yang mempunyai nomer seat ganda. Saya misalkan, Bapak A bersama anak dan istrinya mempunyai tiket dengan nomor 11 D, E, dan F sudah menempati tempat duduknya. Bapak B dengan temannya sudah menempati tempat duduknya nomer 10D dan 10E. Lalu datang Bapak C bersama dengan 5 orang anggota keluarganya yang mempunyai nomor kursi 10D-F dan 11D-F. Nah lhoo, akhirnya Bapak A diminta pindah oleh pramugari di kuris nomer 5D-F kalo nggak salah, dan Bapak B bersama temannya diminta pindah di kursi nomer 6D dan 6E. Dateng lagi 3 orang yang mempunya kursi row 6, Bapak B pindah lagi ke depan. Eh ternyata masih ada lagi yang dateng 3 orang dengan seat row 5, dan Bapak A diminta pindah ke belakang nggak tau nomer berapa.

Saya cukup yakin kekacauan ini karena pergantian pesawat yang semula Boeing 737-400 diganti menjadi MD-82. Dari segi kapasitas sih nggak ada beda antara kedua pesawat tersebut. Bedanya terletak pada tempat duduknya. Pada Boeing 737-400 dalam satu baris terdapat 6 kursi (A-B-C-D-E-F), sedangkan pada pesawat MD baik MD-80's ataupun MD-90's dalam satu baris hanya terdapat 5 kursi (A-C-D-E-F). Tapi kok banyak yang double seat ya? Berarti selain ganti pesawat, sistemnya Lion juga busuk ini.

Saya heran kenapa mereka yang udah duduk duluan mesti disuruh pindah-pindah, toh mereka punya nomer seat yang sama. Kenapa nggak yang dateng terakhir disuruh ngisi seat yang kosong aja, kasian bapak-bapak itu sama keluarganya kalo berkali-kali disuruh pindah. Untung saja bapak itu tipe orang yang nerimo, nurut aja dipindahin walaupun pas dipindah yang terakhir dia agak ngedumel juga. Hmmm... Bener-bener airlines yang kacau balau nih, setelah pengalaman ini mungkin agak ilfil naik Lion Air lagi karena sebelumnya saya belum pernah mengalami ataupun melihat sendiri kejadian seperti ini..

Pengalaman sebelummya dengan Lion juga waktu itu pesawat yang dijadwalkan adalah Boeing 737-400. Namun karena suatu hal, mungkin rusak pesawat tersebut diganti dengan MD-90. Karena perubahan ini pasti akan menimbulkan kekacauan masalah tempat duduk, pramugari mengumumkan bahwa penumpang bebas menentukan tempat duduknya dan tidak usah terpaku pada nomor kursi yang sudah diberikan pada boarding pass. Saya rasa solusi ini cukup tepat untuk mengatasi apabila dilakukan pergantian pesawat tapi pesawatnya beda konfigurasi seperti ini. Nah kenapa pada penerbangan ini tidak seperti itu?

Setelah cukup lama mbak mugari dan bagian pasasi mengurusi keributan ini sampai penerbangan sedikit tertunda, akhirnya pintu pesawat ditutup juga. Semua penumpang kebagian tempat duduk. Lagipula pada penerbangan itu pesawat tidak penuh. Sebenernya yang bikin ribet itu ya petugasnya itu sendiri. Ada solusi yang gampang tapi dibuat sulit. Dengan sedikit terlambat pesawat menuju runway dan bersiap take off ke Jogja. Dua mesin PW-JT8D menggelegar memuntahkan tenaganya untuk mendorong pesawat terbang meninggalkan Jakarta. Seperti biasa kalau naik MD take off-nya agak sadis. Mungkin karena mesinnya ada di belakang jadi moncong pesawat mendongak sangat tajam. Ini sensasi luar biasa kalau naik pesawat MD baik MD-80's maupun MD-90's.

Lion Air

Lion Air

Lion Air

Saran saya kalau naik pesawat MD-80/90 lebih baik memilih tempat duduk yang agak di depan. Kalau dapet tempat duduk di belakang apalagi di samping engine, waduh bisa budeg telinga dengerin suara mesinnya. Walaupun naik pesawat tua tapi penerbangan ini cukup smooth. Kursinya jadulnya yang kebanyakanya sudah sobek ini juga cukup nyaman jika dibandingkan dengan kursi kulit Boeing 737-900ER-nya.

Tidak seperti biasanya, pada penerbangan ini nggak diadakan penjualan produk/makanan. Sepertinya akibat pergantian pesawat tadi sehingga produk-produk yang akan dijual juga belum disiapkan dalam pesawat ini. Di pesawat juga nggak ada inflight magazine, yang ada cuma safety card sama buku doa. Yang terakhir ini yang bikin saya salut kepada Lion, pada setiap pesawatnya terdapat buku doa untuk lima agama yang ada di Indonesia.

Lion Air

Lion Air

Lion Air

Lion Air

Lion Air

Cuaca pagi itu cukup baik meskipun agak berkabut. Pemandangan di bawah juga hanya terlihat samar-samar. Padahal kalau cuaca sangat cerah bagus banget pemdangannya terutama gunung-gunung yang ada di daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Gunung-gunung itu tampak indah diselimuti awan-awan tipis. Seandainya cuaca cerah dan kaca jendela pesawatnya nggak burem pasti bisa dapet foto pemandangan yang bagus..

Lion Air

Lion Air

Lion Air

Tidak terasa pesawat sudah mendekati Jogja. Pesawat kemudian mengurangi ketinggian jelajahnya. Terlihat pesawat menuruni awan tipis sedangkan di ujung sana dengan gagah berdiri Gunung Merapi dan Merbabu. Benar-benar pemandangan yang menakjubkan. Sesaat sebelum mendarat yaitu saat final approach terasa pesawat goyang kesana-kesini. Kurang stabilkah approachnya? Tidak lama kemudian roda belakang pesawat menyentuh landasan Bandara Adi Sucipto dengan cukup mulus. Alhamdulillah mendarat dengan selamat di Jogja. Selanjutnya pesawat parkir menuju ke apron, sementara di sebelah terdapat Boeing 737-300 milik Batavia yang akan segera berangkat nggak tau kemana. Hmmmm... Welcome back to Jogja!!

Lion Air

Lion Air

Lion Air

Conclusion untuk penerbangan kali ini:
  • Sistem check in yang acak-acakan
  • Banyak yang double seat
  • Pergantian gate yang membuat penumpang nggak nyaman terutama untuk para lansia
  • Servis yang dibawah standar
  • Tapi harganya murah. Kalo orang Jawa bilang "ono rego ono rupo".


4 komentar:

  1. nice brow
    hahaha...

    BalasHapus
  2. fiuhhh...seumur-umur, saya belum pernah sih sampai dipindah gate begitu. Menurut saya, ini mah udah parah banged. Bener Mas, kasihan yang udah sepuh, harus pindah-pindah gate begitu....

    BalasHapus
  3. Ya selamat datang di Lion Air.. hahaha..

    BalasHapus