25 Agustus 2009

Garuda Indonesia Boeing 737-800 Yogyakarta-Jakarta

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Memasuki awal bulan puasa ada libur beberapa hari. Pada sisa libur tersebut saya manfaatkan untuk ke Jakarta daripada bengong aja di Jogja. Lumayan masih ada sisa 6 hari. Mulailah hunting tiket pesawat untuk ke Jakarta. Pilihan seperti biasa ada Lion, Mandala, Batavia, dan Garuda. Namun dengan berbagai pertimbangan, pilihan saya kali ini jatuh kepada Garuda Indonesia.

Siapa sih yang nggak kenal sama Garuda Indonesia, maskapai yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia sejak dulu kala. Maskapai yang dulunya cukup disegani di dunia. Maskapai yang dulu banyak mengoperasikan pesawat-pesawat jumbo seperti Airbus A300, DC-10, B747, maupun MD-11. Maskapai yang dulunya melanglang buana terbang ke berbagai kota seperti Abu Dhabi, Riyadh, Jeddah, Cairo, Tokyo, Amsterdam, Frankfurt, Paris, Roma, London, Athena, Brussels, Melbourne, Sydney, Brisbane, Perth, Auckland, bahkan sampai Los Angeles. Itu hanya sebagian kecil rute-rute Garuda saat masa-masa kejayaannya.

Mulai akhir tahun '90-an keadaan berubah total. Berawal dari krisis keuangan yang melanda Asia, mewabahnya virus SARS, peristiwa 11 September 2001, bom Bali, tsunami di Aceh, sampai kepada buruknya tingkat keselamatan maskapai-maskapai di Indonesia yang membuat semua maskapai Indonesia pada tahun 2007 mendapat larangan terbang ke Eropa tidak terkecuali Garuda. Tentu saja banyak sekali rute-rute internasional yang ditutup dan pesawat-pesawat yang dimiliki banyak yang dijual. Garuda kemudian hanya menjadi maskapai kecil jika dibandingkan dengan maskapai-maskapai tentangga seperti Malaysia Airlines maupun Singapore Airlines. Orangpun akan berpikir dua kali untuk naik Garuda Indonesia terutama setelah peristiwa kecelakaan GA-200 di Jogja pada tahun 2007.

Garuda tidak menyerah, mereka terus berkembang sampai pada tahun 2009 Garuda mengumumkan "Quantum Leap". Sebuah perubahan besar untuk mengembalikan kejayaan Garuda dan menggunakan tagline Garuda Indonesia Experience untuk menikmati Indonesia sesungguhnya pada penerbangan Garuda. Tahun 2009 ini cukup banyak pesawat Boeing 737-800 berdatangan untuk memperkuat maskapai ini. Bukan pesawat baru memang, tapi masih berusia cukup muda. Pesawat-pesawat second hand ini mungkin untuk menjembatani sebelum 50 pesawat baru Boeing 737-800 yang dipesan langsung ke Boeing berdatangan.

Selain armada yang diperbarui, logo, livery dan seragam pramugari juga akan diganti. Livery yang baru ini disebut Nature Wings Livery, livery yang sangat cantik menurut saya walaupun sudah tidak ada lagi logo Garuda di ekor. Baru beberapa pesawat saja yang sudah menggunakan Nature Wings Livery diantaranya adalah satu pesawat Boeing 737-800 dengan registrasi PK-GMA yang fresh (baru) dikirim dari pabrik Boeing di Seattle serta tiga pesawat Airbus A330-200 yang juga baru dikirim dari pabrik Airbus di Toulouse. Tiga pesawat A330-200 ini beregistrasi PK-GPJ, PK-GPH, dan PK-GPK. Selain livery yang baru, pesawat-pesawat yang baru berdatangan ini juga dilengkapi dengan interior baru seperti warna kursi pesawat yang baru, kursi kelas bisnis yang bisa direbahkan 180 derajat, serta IFE AVOD (Audio Video on Demand) di semua kursi baik di kelas bisnis maupun ekonomi. Perubahan yang radikal ini memulai era baru Garuda Indonesia.


Perubahan seperti apapun itu, Garuda tetaplah Garuda. Maskapai kebanggaan yang sulit dijangkau oleh masyarakat kebanyakan termasuk saya. Maskapai dengan layanan terbaik di Indonesia namun harganya juga menjadi yang terbaik (baca: mahal). Bagaimana tidak, untuk rute yang biasa saya gunakan yaitu Jogja-Jakarta harga terendahnya ada pada 600rb-an. Bandingkan jika membeli tiket Lion atau Batavia, harga segitu udah dapet tiket pergi-pulang. Lumayan kan perbedaannya? Apalagi untuk seorang mahasiswa seperti saya yang hampir selalu mencari tiket promo termurah jika akan berpergian menggunakan pesawat. Ahahaha.. *mahasiswa kere*

Nah mungkin kali ini saya lagi beruntung, saat iseng-iseng buka web Garuda saya dibuat kaget karena harga tiket untuk Jogja-Jakarta pp untuk tanggal keberangkatan saya tersebut hanyalah 310.000 sekali jalan. Harga yang sangat murah untuk tiket Garuda. Nggak pake mikir lama-lama, datang ke travel agent terdekat buat beli tiket Jogja-Jakarta pp. Yang lebih seru lagi saya memilih terbang dengan nomor penerbangan GA-213 untuk berangkat dan GA-214 untuk pulangnya karena untuk penerbangan tersebut dijadwalkan menggunakan Boeing 737-800, salah satu jenis pesawat Boeing 737 yang belum pernah saya naiki. Biasanya Garuda ke Jogja banyak menggunakan Boeing 737-300 dan 737-400 yang cukup sering saya naiki.

Flight Detail:
Date: August 24, 2009
Airlines: Garuda Indonesia
Flight No: GA-213
Route: Yogyakarta (JOG)-Jakarta (CGK)
Departure Time: 16.10 (scheduled), 16.25 (actual)
Arrival Time: 17.10 (scheduled), 17.15 (actual)
Aircraft: Boeing 737-800 (737-86J)
Registration: PK-GEK
Class: Economy
Seat: 19F
Site: http://www.garuda-indonesia.com/

Jadwal keberangkatan GA-213 pukul 16.10. Agak santai datang ke airpot, sampai di airport juga tidak terlalu ramai. Di check in counter saya dilayani petugas Garuda dengan ramah. Saya pun meminta tempat duduk di 19F. Windows seat adalah tempat duduk favorit saya karena dengan duduk di samping jendela tersebut saya bisa melihat pemandangan dengan bebas.

Setelah mendapatkan boarding pass saya segera ke ruang tunggu. Sampai di ruang tunggu sudah disambut landingnya Boeing 737-900ER milik Lion Air. Terlihat juga beberapa pesawat KT-1 Woong Bee yang dikemudikan siswa penerbang Akademi Angkatan Udara sedang latihan terbang di Lanud Adi Sucipto. Boeing 737-900ER Lion tadi kurang lebih satu jam berada di Jogja dan segera kembali ke Jakarta. Tumben ini pesawat dateng on time. :D

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Setelah Lion take off, tidak lama kemudian ada lagi yang landing di Bandara Adi Sucipto yaitu Mandala A320. Kalo Mandala ini lebih cepet ground time-nya, cuma 30 menit udah siap terbang lagi menuju Balikpapan. Sebelum Mandala berangkat, ada Garuda Indonesia Boeing 737-800 yang landing. Yippiiee, ini dia yang sesaat lagi akan mengantar saya ke Jogja. Datangnya tepat waktu, mudah-mudahan berangkatnya juga tepat waktu.

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Semua penumpang Garuda sudah turun, tapi tidak lama kemudian ada ambulance yang datang mendekati pesawat. Hmm.. Ternyata pesawat ini membawa penumpang sakit sehingga langsung dimasukkan ke dalam ambulance. Ground Time jadi lebih lama dan kemungkinan besar keberangkatan saya akan sedikit tertunda. Tidak menjadi masalah delay hanya sebentar saja, apalagi pesawat sudah ada di apron dari tadi.

Pukul 16.05 sudah ada panggilan boarding untuk penumpang GA-213 tujuan Jakarta. Para penumpang antri dengan rapi. Berbeda dengan maskapai lainnya, untuk penerbangan Garuda dilakukan dua kali pengecekan identitas. Pengecekan pertama adalah saat check in dan yang kedua saat boarding ini. Standar yang sangat baik dan saya rasa perlu ditiro oleh maskapai lainnya.

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Pesawat yang akan membawa saya ke Jakarta ini adalah Boeing 737-800 dengan registrasi PK-GEK. Bukan pesawat yang baru, tapi juga nggak tua-tua amat. Pesawat ini buatan tahun 2001 yang awalnya dioperasikan oleh maskapai asal Perancis Euralair Horizons yang kemudian berganti nama menjadi Air Horizons. Setelah Air Horizons bangkrut, pesawat ini dioperasikan oleh Futura International sebelum akhirnya digunakan oleh Garuda pada tahun 2009.

Sebenernya nggak ada yang istimewa dengan Boeing 737-800 ini, livery-nya juga masih menggunakan livery yang lama. Logo burung Garuda terdapat di ekor, sementara ini logo Garuda dan diikuti tulisan Garuda Indonesia terletak di badan pesawat. Selain itu ada juga logo burung Garuda yang tercetak di winglet pesawat.

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Masuk ke dalam pesawat melewati pintu belakang dan disambut mbak pramugari yang ramah dan kemudian menawarkan koran yang bisa dibaca selama penerbangan. Untuk interior pesawat sih biasa aja, warna biru mendominasi kursi dan karpet pesawat. Legroom cukup longgar sekitar 31-32 inch. Nggak mentok di dengkul meskipun tinggi saya 177 cm.

Wah saya baru tau kenapa kemaren bisa dapet harga promo yang sangat murah, pada penerbangan ini cukup banyak bangku yang kosong. Ternyata load factor di awal puasa kurang bagus sehingga memaksa Garuda membanting harga untuk mengisi pesawat. Boarding dilakukan cukup cepat, kemudian pintu pesawat ditutup dan pesawat mulai didorong mundur. Sebelumnya para pramugari memberikan salam Garuda Indonesia yang juga menjadi salah satu ciri Garuda Indonesia Experience. Safety demo pada penerbangan Garuda tidak dilakukan manual, melainkan ditampilkan pada LCD yang ada dalam pesawat. LCD-nya bukan yang ada di setiap kursi loh, tapi LCD yang drop down gitu ditonton rame-rame.

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Pukul 16.25 pesawat akhirnya take off menuju Jakarta. Hanya telat 15 menit dari jadwal. Kalau menurut IATA, telat 15 menit juga nggak dihitung sebagai delay. Bukan masalah yang berarti lah ya. Setelah seat belt sign OFF mbak mugari dan mas mugara mulai berkeliling membagikan makanan dan minuman. Dua orang FA ini menawarkan dengan ramah. Tapi karena saya berpuasa, saya tidak mengambil minuman yang ditawarkan. Mbak mugari pun memberikan plastik untuk membungkus snack box saya dan penumpang-penumpang yang sedang berpuasa.

Cuaca bagus membuat penerbangan yang sudah nyaman ini menjadi lebih nyaman lagi. Selama penerbangan diputar acara yang biasa diputar di penerbangan Garuda, apalagi kalau bukan Just for Laugh. Meskipun nggak ada suaranya tapi sudah cukup membuat penumpang yang menontonnya tertawa. Tapi kalau yang sudah sering terbang dengan Garuda pasti bosen liat ini karena yang diputar cuma itu-itu saja.

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Tidak terasa pesawat sudah mengurangi ketinggian jelajahnya. Tepat pukul 17.15 pesawat mendarat dengan sempurna di Bandara Soekarno-Hatta. Mulus banget pendaratannya, bener-bener melengkapi penerbangan yang nyaman dengan Garuda kali ini. Pesawat kemudian parkir di remote apron terminal 2F. Saya sengaja turun belakangan karena tadinya mau meminta ijin cockpit visit. Tapi pada saat saya sudah berada di depan cockpit kaptennya udah keluar cockpit dan turun dari pesawat. Kapten yang udah pengen cepet-cepet pulang, nggak mau nunggu mobil jemputan crew dan memilih naik bus bersama saya dan beberapa penumpang lainnya. Beberapa hari setelah penerbangan itu kapten penerbangan pada saat itu yaitu Capt. Kentot Susilo menyapa saya di blog saya yang satunya. Beliau mempersilahkan saya untuk cockpit visit jika nanti bareng terbang sama beliau lagi. Saya juga beberapa kali ngobrol dengan kapten yang pernah menjadi pilot Boeing 747 ini melalui chat di FB. Terimakasih kapten mudah-mudahan kita bisa bertemu pada penerbangan Garuda Indonesia berikutnya. Penerbangan yang cukup mengesankan meskipun saya belum benar-benar menikmati pelayanan a la Garuda Indonesia Experience yang sesungguhnya.

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Garuda Indonesia Boeing 737-800

Garuda Indonesia Boeing 737-800


2 komentar:

  1. memang betul masih garuda yg terbaik, hanya sj menurut sy blm bs masuk kategori 5 stars airlines, krn masih ada bbrp kekurangan spt : delay (kadang tnp alasan spt yg sy alami di semarang-737-800),crew cabin yg kurang, bahkan pilot pun msh kurang.
    tp lepas dari itu, sy tetap bangga dgn garuda indonesia.

    BalasHapus
  2. kalo kekurangan crew itu sebenarnya lebih masalah teknis ya mas, dan itu tidak termasuk penilaian untuk menjadi maskapai bintang 5.. untuk menjadi maskapai bintang 5 itu syaratnya ya pelayanan, pelayanan, dan pelayanan.. mulai dari on time performance, pelayanan saat check in, kondisi bandara yang menjadi base, kemudahan pembelian tiket, kemudahan check in, lounge, pelayanan saat di kabin, kecanggihan IFE, dan lain-lain..

    yang jelas yang saya tau untuk masalah kekurangan crew ataupun masalah maintenance tidak termasuk penilaian untuk menjadi maskapai bintang 5. tapi sangat mungkin untuk mempengaruhi performa layanan..

    BalasHapus