13 Februari 2010

Coban Rondo Waterfall

Coban Rondo
Kemaren saya dan nyonya baru saja berkunjung ke Air terjun Coban Rondo yang berada di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Kota Batu, hanya berjarak sekitar 18 Km ke arah Kediri ataupun Jombang. Jalanan dari Kota Batu menuju Coban Rondo berkelok-kelok khas pegunungan dengan udara yang sangat segar. Dari jalan raya masuk ke lokasi air terjun berjarak sekitar 4 Km dengan jalanan yang sudah beraspal meskipun tidak halus. Sepanjang perjalanan menuju air terjun, kami disuguhi pemandangan hutan pinus yang cukup lebat.

Hanya beberapa menit berjalan menuju air terjun, kami sudah mencapai pos penjagaan. Untuk masuk ke lokasi air terjun kami membayar sebesar 18.000 rupiah dengan rincian 8.000 untuk tiket masuk wisatawan domestik per orang dan 2.000 untuk kendaraan roda dua. Setelah membayar tiket masuk kami kembali melanjutkan perjalanan menuju lokasi air terjun, ternyata lokasinya masih cukup jauh dari pos penjagaan tadi dengan kondisi jalanan yang masih sama, beraspal meskipun cukup sempit. Jalanan pun terasa cukup sepi saat kami melintas, kami tidak bertemu atau berpapasan dengan siapun sepanjang perjalanan.

Coban Rondo

Beberapa menit kemudian kami sudah sampai di lokasi air terjun, menuju tempat parkir kendaraan roda dua dengan membayar 2.000 rupiah lalu segera berjalan masuk ke area air terjun karena sudah tidak sabar. Tempatnya cukup nyaman dan bersih dengan udara yang segar meskipun tidak terlalu dingin.

Coban Rondo

Air terjunnya tidak jauh dari tempat parkir, hanya berjalan sebentar saja kita sudah sampai. Kami pun disuguhi pemandangan yang luar biasa. Beruntung pengunjung pada Hari Jum'at kemaren cukup sepi sehingga kami bisa leluasa menikmati indahnya air terjun ini.

Coban Rondo

Coban Rondo

Informasi-informasi tentang Coban Rondo juga disebutkan dengan jelas di beberapa tempat di kawasan air terjun.

Coban Rondo

Dari informasi yang saya dapatkan, air terjun memiliki ketinggian 84 meter dan ketinggian di atas permukaan laut 1.135 meter dengan suhu udara rata-rata 22 derajat celcius. Curah hujan rata-rata pertahun adalah 1721 mm. Air terjun ini berasal dari sumber mata air Cemoro Dudo dengan debit air terjun 150 liter/detik pada musim hujan dan 90 liter/detik pada musim kemarau. Coban Rondo pertama kali digunakan untuk objek wisata pada tahun 1980.

Asal usul Coban Rondo sendiri berasal dari sepasang pegantin baru yang baru saja melangsungkan pernikahan. Mempelai wanita bernama Dewi Anjarwati yang berasal dari Gunung Kawi menikah dengan Raden Baron Kusuma dari Gunung Anjasmoro. Setelah usia pernikahan mencapai 36 hari (selapan) Dewi Anjarwati mengajak suaminya berkunjung ke Gunung Anjasmoro. Namun orang tua Dewi Anjarwati melarang kedua mempelai pergi karena baru selapan. Namun keduanya bersikeras pergi dengan segala resiko apapun yang terjadi di perjalanan.

Ketika di perjalanan keduanya dikejutkan oleh Joko Lelono yang tak jelas asal usulnya. Tampaknya Joko Lelono terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati dan berusaha merebutnya. Perkelahian tidak dapat dihindarkan, kepada punokawan yang menyertainya Raden Baron berpesan agar Dewi Anjarwati disembunyikan di suatu tempat yang ada Cobannya (air terjun). Perkelahian berlangsung seru dan akhirnya sama-sama gugur, dengan demikian Dewi Anjarwati menjadi janda (dalam bahasa jawa Rondo). Sejak saat itulah Coban tempat tinggal Dewi Anjarwati menanti suaminya dikenal dengan Coban Rondo. Konon batu besar dibawah air terjun merupakan tempat duduk sang putri.

Oh ya, mungkin sekitar satu jam kami disana lalu hujan turun dengan derasnya. Beruntung disana terdapat tempat untuk berteduh yang cukup nyaman. Selama hujan turun para monyet-monyet hutan turun dan mendekat ke kami untuk meminta makanan. Mereka tidak takut kepada pengunjung yang datang, mungkin memang sudah terbiasa.

Saat hujan telah reda kami keluar lokasi air terjun menuju tempat parkir. Di dekat tempat parkr terdapat warung-warung yang menjajakan makanan. Kami pun mampir sebentar untuk menikmati jagung bakar di tengah dinginnya udara Coban Rondo yang baru saja diguyur hujan. Setelah itu kami keluar menuju Kota Batu untuk membeli Apel lalu pulang ke Surabaya dengan kehujanan sepanjang perjalanan dari Kota Batu di Malang hingga Sidoarjo.


7 komentar:

  1. wah... jadi kepingin ke coban rondo.... mudah-mudahan cuti ntar, bisa kesana...

    BalasHapus
  2. Hm,
    Apakah anda sudah melihat candi di Sidoarjo ? Ada juga Candi di belakang Airport Juanda [belakang tempat penelitian ikan ato apa] namanya Candi Tawangalun, Lalu ada Candi Dermo di Wonosoyo, Candi Medalem di Medalem dan juga yang terkenal, Candi Pari dan Candi Sumur [berdekatan tempatnya] dan juga Candi Pamotan [bilang ke warga Candi Wungkul, mereka lebih familiar dengan nama tersebut] letak ketiga Candi ini diseberng Kolam Lumpur Lapindo [Tugu Kuning tepatnya], jangan lupa mampir ke Pandaan ke Candi Jawi dan terus ke Air Terjun Kakek Bodo [searah].......

    BalasHapus
  3. terimakasih buat infonya broo, ntar coba tak cariin ya.. coz belum terlalu familiar dengan daerah sidoarjo.. hehe

    BalasHapus
  4. Yo, aq wingi nggolek Coban Rondo gak ketemu, mana pas hujan deras. Ancer2nya dunks... :-p

    BalasHapus
  5. dari batu nyari jalan yang ke arah jombang/kediri aja ndan, jalannya cuma satu doang kok nggak ada yang lain. itupun nggak jauh dari batu nanti pas habis perbatasan, pintu masuk coban rondo ada di sebelah kiri.. petunjuk jalannya lengkap kok ndan..

    BalasHapus
  6. wah, postingannya bagus banget, ngiri, saya ndak bisa nulis sebagus ini, xixi....

    BalasHapus
  7. aduch aqu  blm pernah kesana tapi  apik buanget  kyag nya

    BalasHapus