27 Juli 2010

Malioboro, Surganya Cendera Mata

Malioboro

Malioboro, sebuah tempat yang sangat identik dengan Jogja. Malioboro menjadi tempat tujuan utama para wisatawan yang datang ke Jogja. Baik mall, toko-toko, maupun pedagang kaki lima jadi satu disini. Hayo siapa yang kalau ke Jogja nggak kepikiran untuk ke Malioboro? Rasanya ini hampir sama dengan keterkaitan antara Bali dengan Pantai Kuta. Istilahnya nggak ke Jogja kalau nggak ke Malioboro. Hehe..

Hampir setiap hari jalanan Maliboro penuh sesak. Banyak kendaraan bermotor, andong, maupun becak yang berlalu lalang di Jalan Malioboro ini. Meskipun jalannya sudah tertata dengan rapi dan diberi jalur sendiri-sendiri antara kendaraan bermotor dengan becak dan andong tapi tetap saja Jalan Malioboro terlihat penuh.

Rata-rata yang datang ke Malioboro adalah untuk berbelanja. Memang cendera mata yang bisa dibeli di Maliboro sangat beragam, mulai dari batik, kerajinan-kerajinan khas Jogja, sampai dengan aneka kaos ataupun tas yang unik-unik ada disini. Untuk harga barangnya cukup murah kalau pinter nawar (khusus untuk di pedagang kaki lima).

Ditengah-tengah kerumunan para pedagang kaki lima dan pengunjung malioboro kita bisa menjumpai seniman jalanan di kota ini, baik yang berombongan menjual suara dan keterampilan memainkan alat musik, melukiskan tatto temporary pada badan, ataupun melukiskan foto kita pada sebuah kertas.

Kalau sudah waktu sudah lebih dari jam 10 malam, toko-toko sudah tutup dan para pedagang kaki lima sudah mengemasi barang dagangannya, Maliboro masih tetap hidup. Para pedagang kaki lima yang menjual cendera mata tersebut diganti dengan pedagang yang menjual makanan. Makanan yang dijual hampir sama antar pedagang yaitu Gudeg Jogja.

Saya mampir ke Malioboro hanya untuk membeli batik pesanan teman saya. Setelah itu saya pulang ke rumah kakak saya yang berada di daerah Banguntapan-Bantul sebelah timur Kota Gede, lumayan buat nebeng tidur. Dari Maliboro ke Kota Gede saya naik Trans Jogja lalu dijemput oleh kakak saya di halte. Hari itu adalah hari yang cukup melelahkan. Jalan-jalan di Kota Lama Semarang, perjalanan menuju Jogja dari Semarang, lalu yang terakhir sedikit menikmati suasana sore di Jogja dalam waktu sehari. Meskipun lelah tapi menyenangkan..


6 komentar:

  1. Saya ke malioboro juga beli batik, capek nawar kesana-kemari...qiqiiqq :-)

    BalasHapus
  2. masuk ke toko aja mbak kalo males nawar.. hahaha..
    kalo saya mending beli di toko.. :D

    BalasHapus
  3. Malioboro itu sangat khas Yogyakarta! Suasana serupa nggak akan pernah bisa didapatkan di tempat lain. Biar sudah malam, saya masih senang berkeliaran di tempat ini. hehehehe.

    Justru kalau ke bagian lain Yogyakarta, pada malam hari, baru dech nggak kerasa 'Yogyakarta'nya. kenapa yach? :D

    BalasHapus
  4. memang sih terasa jogja banget kalo malam, mulai dari jalan malioboro depan hotel ina garuda sampai dengan kantor pos besar, tukang becak, pedagang makanan lesehan, pengamen, duh terasa banget suasana jogjanya.

    BalasHapus
  5. yup. malam-malam saya jalan kaki dari Mangkubumi sampai Malioboro. Masih rame, bia rsudah jam 23 malam. hehehe. Segerombolan anak muda masih aja narsis foto-foto di Monumen Tugu. hehehe.

    kalau di bagian Yogya lain sich nggak kerasa yach :D

    BalasHapus
  6. kalo di tugu jogja sih sampe jam 3 malem juga masih ada yang narsis-narsis. hahaha

    kalo di bagian lain juga rame kok terutama di jalan magelang dan jalan laksda adisucipto, rame pada berangkat dugem. xixixixiixi :D

    BalasHapus