30 Agustus 2010

Ke Pelosok Metro Kibang

Ke Pelosok Metro Kibang

Baru semalam saya berada di rumah, keesokan harinya saya diajak om saya ke Metro Kibang untuk menghadiri undangan launching produk traktor terbaru dari sebuah distributor. Nggak pake mikir lama, saya terima ajakan tersebut. Walaupun bukan ke tempat wisata tapi paling nggak saya nggak akan merasa bosan di rumah. Nah meskipun Metro Kibang adalah termasuk daerah Metro tapi bukan Metro kota melainkan berada di pelosok yang bisa dikatakan lebih pelosok dari kampung saya. Dari rumah kami menuju ke arah Sukadana dengan jalanan yang relatif bagus, setelah itu menuju arah Metro, dan sebelum sampai di Metro kami belok kiri menuju daerah tersebut dengan jalanan yang sangat parah seperti layaknya off road. Saya baru sekali ini ke daerah ini dan sepertinya kalau saya sendiri kesini bakal nggak bisa keluar karena nyasar. Hehe..

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam dengan tanya sana-sini, kami tiba di lokasi. Ternyata lokasi launching produknya adalah di sebuah ladang milik warga, padahal tadinya yang ada dibayangan saya adalah di sebuah gedung ataupun hotel berbintang seperti undangan salah satu produk lain yang menjadi saingan dari produk yang di-launching ini. Ternyata saat launching ini sekalian bisa ngetest, pantes aja di ladang.

Ke Pelosok Metro Kibang

Ke Pelosok Metro Kibang

Yah di Lampung ini memang lahan pertanian masih begitu luas, jadi prospek untuk bisnis alat-alat pertanian masih cukup cerah. Tidak hanya petani-petani saja yang menyewa alat-alat seperti ini, karena banyak perusahaan-perusahaan yang ada seperti PT Perkebunan Nusantara juga lebih memilih untuk menyewa daripada membeli sendiri.

Setelah selesai mendengarkan penjelasan-penjelasan dari pihak distributor yang sangat membosankan dan tidak mendapatkan tawaran harga yang bagus untuk produk ini, kami akhirnya pulang. Produk dan sistem pembayaran yang ditawarkan sangat mahal, bisa 2-3 kali lipat dari harga kompetitor yang sudah keluarga saya miliki. Jadi nggak pakai berpikir lama lebih baik mengambil lagi produk dari kompetitor.

Saat menuju mobil baru saya amati ternyata pemandangan di ladang ini lumayan bagus juga. Terhampar luas kebun singkong yang belum terlalu tinggi dengan langit yang membiru meksipun cuaca saat itu cukup panas. Saat pulang kami masih melalui jalan sama dengan saat berangkat tadi, melewati sawah-sawah dengan tanaman padi yang menghijau yang banyak terdapat di daerah Metro.

Ke Pelosok Metro Kibang

Ke Pelosok Metro Kibang

Sesampainya di daerah Labuhan Ratu atau mungkin lebih dikenal sebagai tempat masuk untuk menuju Taman Nasional Way Kambas, kami mampir dulu untuk menengok salah satu traktor yang kerja di sekitar area Taman Nasional Way Kambas. Tapi kali ini saya nggak akan menuju TNWK meskipun jarak untuk menuju TNWK sudah sangat dekat karena sudah terlalu sore. Menurut sopir traktor, mereka sering kali didatangi beberapa ekor gajah liar saat sedang membajak lahan milik warga. Mungkin gajah-gajah tersebut merasa terganggu atau tertarik (?) dengan adanya alat berat tersebut.

Begitu urusan selesai kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumah, tapi sebelumnya mampir dulu ke rumah makan yang ada di daerah Curug-Sribhawono. Di depan rumah makan saya melihat sebuah mobil yang unik yaitu sebuah truck yang mengangkut beton jembatan, dan uniknya beton jembatan yang dibawa tersebut lebih mirip seperti badan mobil daripada sebuah muatan.

Ke Pelosok Metro Kibang


7 komentar:

  1. Apakah Mas Tri sempat mencoba menaiki traktor tersebut? mencoba fungsi-fungsinya? hehehe...saya belum pernah mencoba naik traktor sich :D

    Saya penasaran, Lampung itu panas atau sejuk sich?

    "Setelah selesai mendengarkan penjelasan-penjelasan dari pihak distributor yang sangat membosankan dan tidak mendapatkan tawaran harga yang bagus untuk produk ini, kami akhirnya pulang. Produk dan sistem pembayaran yang ditawarkan sangat mahal, bisa 2-3 kali lipat dari harga kompetitor yang sudah keluarga saya miliki. Jadi nggak pakai berpikir lama lebih baik mengambil lagi produk dari kompetitor." hahahahaha...ntar diserang balik sama produsennya loch. Hahahaha.

    BalasHapus
  2. Yang nyobain biar operator alias sopirnya aja mas, kalau saya yang nyobain nggak tau bagus atau jeleknya..
    *ngeles.. padahal emang nggak bisa*

    BalasHapus
  3. oh ya, di lampung itu panassss.. nggak ada sejuk-sejuknya..

    BalasHapus
  4. iya betul,lampung itu panas dan lembab, dan menghitamkan kulit. jadi jangan (sengaja) jemuran di lampung :D

    BalasHapus
  5. waduh.. kalo berjemur ya jangan deh, bisa kebakar kulitnya.. mungkin panasnya mirip-mirip dengan di bali..

    BalasHapus
  6. iya betul,lampung itu panas dan lembab, dan menghitamkan kulit. jadi jangan (sengaja) jemuran di lampung :D

    BalasHapus
  7. Yang nyobain biar operator alias sopirnya aja mas, kalau saya yang nyobain nggak tau bagus atau jeleknya..
    *ngeles.. padahal emang nggak bisa*

    BalasHapus