27 Agustus 2010

Selamat Datang Di Bandara Radin Intan II-Bandar Lampung!!

Bandara Radin Intan II-Bandar Lampung

Setelah 30 menit terbang dari Jakarta, sampailah saya di Bandara Radin Intan II Bandar Lampung. Ini adalah satu-satunya bandara yang terdapat di Lampung. Jangan membayangkan Bandara Radin Intan II di Lampung ini seperti Bandara Juanda di Surabaya ataupun Bandara Sultan Hasanudin di Makassar, karena Bandara Radin Intan II adalah bandara yang kecil dan sangat sederhana.

Bandara Radin Intan II tidak terlalu ramai, cukup sepi malahan menurut saya. Hanya ada 8 sampai 9 penerbangan setiap hari yang dilayani oleh 3 maskapai. Sriwijaya Air memiliki penerbangan paling banyak yaitu 4 kali sehari menuju Jakarta, Garuda Indonesia memiliki 3 penerbangan sehari ke Jakarta, sedangkan Batavia Air hanya memiliki 1 penerbangan perhari juga dengan tujuan Jakarta. Kalau saya tidak salah selain menuju Jakarta, Batavia juga membuka penerbangan dari Lampung ke Batam 3 kali seminggu.

Bandara Radin Intan II-Bandar Lampung

Apron untuk menampung pesawat disini juga cukup sempit. Apron hanya dapat menampung maksimal 3 pesawat Boeing 737. Disini tidak ada push back car sehingga kalau mau berangkat, pesawat langsung maju dan belok kanan menuju ke runway. Bandara Radin Intan II juga tidak menyediakan pengisian bahan bakar untuk pesawat, jadi pengisian bahan bakar sudah dilakukan saat di Jakarta ataupun kota asal pesawat yang akan ke Lampung. Sudah dapat dipastikan, garbarata juga tidak tersedia disini.

Begitu masuk ke terminal kedatangan, kita tidak perlu berputar-putar dan berjalan jauh seperti di bandara-bandara besar untuk menuju tempat pengambilan bagasi karena saat kita masuk ke terminal kedatangan, disitulah tempat pengambilan bagasi berada. Di ruangan yang cukup sempit tersebut para penumpang menunggu bagasinya. Saya jamin kalau ada dua penerbangan yang landing dengan waktu yang hampir bersamaan pasti ruangan ini menjadi sangat penuh dan sesak. Di ruangan ini pula tempat pemesanan taksi untuk menuju ke kota. Yang cukup unik adalah pada tiang-tiang bangunan yang ada memiliki ukiran-ukiran khas Lampung.

Bandara Radin Intan II-Bandar Lampung

Di bagian luar bandara juga cukup sepi, hanya ada beberapa sales counter beberapa maskapai saja. Kios-kios makanan tidak akan ditemukan disini, hanya ada kios yang berjualan minuman saja. Di bagian atas terminal keberangkatan juga terdapat waving gallery. Karena jemputan saya belum datang jadi saya naik dulu ke waving gallery. Tidak seperti waving gallery di Bandara Soekarno-Hatta yang dihalangi oleh kawat-kawat, atau waving gallery di Bandara Adisucipto yang dihalangi oleh kaca, disini tidak ada penghalang apapun. Kita berada sangat dekat dengan pesawat. Bahkan Saat pesawat Sriwijaya yang baru saja saya naiki akan kembali ke Jakarta, jet blast-nya sangat terasa dari tempat ini.

Bandara Radin Intan II-Bandar Lampung

Bandara Radin Intan II-Bandar Lampung

Setelah pesawat Sriwijaya yang baru mengantar saya ke Lampung tersebut kembali ke Jakarta, jemputan saya sudah sampai di depan. Saya masih harus menempuh perjalanan darat 2-3 jam untuk sampai di rumah.


35 komentar:

  1. Rumahnya Mas Tri neng ngendi sich Mas?

    Ada kekurangan dan ada kelebihannya yah bandara kecil seperti ini. walaupun kecil, tapi apik bandaranya. apalagi ada ukir-ukiran khas Lampuang yang memenuhi sudut bandara. Hmm...bentuk Sigar koq tidak ditemukan disini yach?

    Masih banyak bandara-bandara kecil di Indonesia yang ruang kedatangannya menjadi satu dengan ruang pengambilan bagasi. begitu keluar dari gedung utama (dan gedung satu-satunya), langsung ke halaman bandara, ditawari jasa taksi, ojek atau apapun lainnya. hehehe. beberapa diantaranya adalah Achmad Yani Semarang dan El Tari Kupang. Adi Sumarmo Solo juga seperti itu dech kalau saya nggak salah ingat. hehehe.

    menurut Mas Tri, bahaya nggak sih area waving gallery yang terbuka bebas seperti itu? memang sih, pada satu sisi, Waving Gallery yang terbuka lebar akan memungkinkan kita melihat sangat dekat dengan pesawat (syukur syukur bisa melihat penumpang yg sedang naik...hehehe). Tapi jet blastnya...apakah itu aman?

    BalasHapus
  2. bentuk siger banyak kok terdapat di gedung-gedung itu, coba saja lihat dibagian atap foto 1 dan 2. kalau untuk simbol soger yang seperti patung itu bentuknya kecil, dibawahnya terdapat tulisan selamat datang (ada di foto 1).

    untuk disini sih waving gallery yang terbuka masih tergolong aman karena lokasinya ada di atas jadi jet blast-nya hanya terasa hangat aja, tidak sampai panas ataupun mendorong orang yang ada di waving gallery itu..

    BalasHapus
  3. Wah...jadi ingat Bandara Adisoemarmo Solo jaman dulu...

    BalasHapus
  4. sayangnya saya belum pernah ke bandara adi sumarmo baik dulu maupun sekarang..

    BalasHapus
  5. kemarin saya ke lampung naik b 737-800 garuda tp kok ngga ada monitor di belakang seatnya ya ? hanya ada beberapa tv monitor di dekat panel ac/lampu. sedangkan waktu ke semarang kok ada monitornya di tiap seat, apa yg 737-800NG ya mas tri ?

    BalasHapus
  6. itu berarti anda naik Boeing 737-800 Garuda yang second hand alias pesawat bekas maskapai lain. memang garuda mengoperasikan belasan Boeing 737-800 yang tidak ada TV di setiap seatnya. jadi hanya berupa drop down LCD saja ditonton rame-rame. pesawat-pesawat ini menggunakan registrasi dengan awalan PK-GE*.

    kalo anda kebetulan naik yang sudah ada TV di setiap kursi, berarti anda sedang naik pesawat Boeing 737-800 yang dipesan oleh garuda langsung dari pabriknya. bener2 baruuu.. yang baru ini registrasinya PK-GM* dan PK-GF*

    BalasHapus
  7. ooo...begitu... dan pswt 738 yg ke lpg tsb terasa agak kurang nyaman menurut beberapa penumpang, selain karena reclining seatnya tdk berfungsi jg agak bising. memang sih pitch-nya lbh nyaman dibanding airline2 lcc. crew cabin pun ramah & helpful.

    utk registrasinya sy kurang perhatikan kmrn krn konsentrasi membawa org sakit. landingnya pun agak kurang mulus - terlalu menghentak, entah karena cuaca atau apa. ya mgkn kebetulan sj. beda sekali dibanding kl pas saya naik sriwijaya yg lebih smooth.
    nah, kl sorenya sy lsg pulang ke jkt pakai sriwijaya pk-cjf, yg sering sekali mengantar sy utk rute cgk-tkg pp. cuaca mmg agak kurang bersahabat jd sering tjd guncangan walau tak sampai membuat panik pnpg. tp apapun halnya, saya menikmati kedua penerbangan tsb.

    BalasHapus
  8. kalo masalah bising sih tergantung tempat duduk pak.. kalo duduk di depan pasti lebih senyap. karena mesinnya sama kok antara Boeing 737-800 yang bekas ataupun yang baru.. untuk landing yang kurang mulus sih bisa karena runway di radin intan yang nggak rata. apalagi kan Boeing 737-800 lebih besar dibandingkan dengan Boeing 737-200 milik sriwijaya jadi ngeremnya agak "sedikit" memaksa..

    BalasHapus
  9. ya, kbtln saya memang duduk di 12f.
    oya, kalo a 319-nya batavia berapa sih seat pitch-nya ? kl gak salah 30" ya? sama kali ya dgn 732nya sriwijaya. lebih nyaman mana dibanding citilink ? seperti reportase mas Tri utk rute SUB-CGK : Aircraft: Boeing 737-400
    Registration: PK-GZQ. Kan nampak longgar pitch-nya spt 738/PK-GE*. tks.

    BalasHapus
  10. oya, mas, tau ngga kalo CGK-MES, Batavia pakai pesawat jenis yg mana ya ? saya lihat di jadwal penerbangannya tidak ada ket jenis pesawatnya.
    tks.

    BalasHapus
  11. A319 Batavia saya kurang tau pak, belum pernah naik. pernah naiknya cuma 737-300 saja. kalo saya pikir sih bakal sama seat pitch-nya dengan 737-300/400-nya.. kalo naik Citilink pas dapet B737-400 PK-GZQ sih enak seat pitch-nya, cuma kalo dapet yang B737-300 katanya sempittt bangett.. waktu saya naik PK-GZQ sih pesawat ini baru saja bergabung dengan Citilink (bekas punya Garuda). dan sepertinya seatnya masih menggunakan standarnya GA. nggak tau sekarang udah dirubah sesuai konfigurasi citilink atau belum..

    CGK-MES Batavia kebanyakan pake A320 tapi ya mungkin juga pake B737-300/400. terkadang kalo lagi rame juga pake A330-200

    BalasHapus
  12. A319 Batavia saya kurang tau pak, belum pernah naik. pernah naiknya cuma 737-300 saja. kalo saya pikir sih bakal sama seat pitch-nya dengan 737-300/400-nya.. kalo naik Citilink pas dapet B737-400 PK-GZQ sih enak seat pitch-nya, cuma kalo dapet yang B737-300 katanya sempittt bangett.. waktu saya naik PK-GZQ sih pesawat ini baru saja bergabung dengan Citilink (bekas punya Garuda). dan sepertinya seatnya masih menggunakan standarnya GA. nggak tau sekarang udah dirubah sesuai konfigurasi citilink atau belum..

    CGK-MES Batavia kebanyakan pake A320 tapi ya mungkin juga pake B737-300/400. terkadang kalo lagi rame juga pake A330-200

    BalasHapus
  13. selamat malam saya mu tanya apakah bandara radin intan menyatyu dengan bandara TNI-AU penting

    BalasHapus
  14. tidak... radin intan hanya melayani penerbangan sipil.. lagipula radin intan juga bukan merupakan basis TNI-AU..

    BalasHapus
  15. bandara ini dekat tidak dengan tulang bawang? kira2 berapa jam?

    BalasHapus
  16. jauh mbak/mas.. masih lebih dari 3 jam kalo ndak salah..

    BalasHapus
  17. Selamat Hari Rara Iedul Fitri 1432 H mas... mohon maaf lahir batin ya.. taqobalallahu minna wa minkum wa ja'alanallahu minal a'idziin wal faidin..shiyamana wa shiyamaku. Amien.

    BalasHapus
  18. pulang ke lampung kah ? saya besok baru pulang dr lampung. tp naik garuda krn kbtln anak sy habis jatuh n kata dokter ngga boleh via jalan darat. jd lebaran kmrn bukan d rmh neneknya tp di rs abdul moeloek. doakan putriku cepet sembuh ya mas...thx

    BalasHapus
  19. salah satu sisi baiknya, airport tax bandara ini hanya 15rebu... hehehe...

    BalasHapus
  20. LampungKu Rent Car, We Cant Drop You, Call 0721 7502464 / 0721 9013085 

    BalasHapus
  21. dari airport ini ke tulang bawang ada gk direct bus dari aiport ? kalo  naik taxi kena berapa ?

    BalasHapus
  22. Mbak / Mas, ada gk direct car ke tulang bawang? kena berapaan ya ?

    BalasHapus
  23. bus? saya kurang tau, kemungkinan ada tapi dari terminal rajabasa.. dari depan airport naik angkot dulu ke terminal.. kalo naik taksi pasti kena banyak, jaraknya cukup jauh.. mungkin hitungannya charter..

    BalasHapus
  24. lebih baik charter aja mas kalau nggak mau ribet.. langsung call itu nomer aja.. 

    BalasHapus
  25. Salam.... Maaf. Artikel diatas kondisi tahun berapa ya Pak Tri... karena setahu saya saat ini ada Lion Air dan Merpati.. thanks....

    BalasHapus
  26. saya tertarik,, tapi maksudny "we cant drop you" itu.. hanya sewa mobilnya saja ya?? atau bagaimana?? thanks.. mgkn ada websiteny..

    BalasHapus
  27. langsung telepon saja mbak/mas.. namun segala macam resiko transaksi bukan menjadi tanggung jawab pemilik blog ini..

    salam...

    BalasHapus
  28. baru tahu euy kalo ke Lampung bisa pake pesawat... kalo dari jakarta menuju lampung menggunakan pesawat, dari bandara apa ya?

    BalasHapus
  29. Selamat malam Pak Tri, saya mau tanya. kalo dari Bandara Udara Radin Inten ke Daerah Jalan Cut Meutia kira2 berapa lama perjalanan? Trus alat transportasi apa yang kira2 bisa dimanfaatkan untuk menuju kesana (yang aman dan nyaman), karena baru pertama kali ini saya berencana akan berkunjung ke Lampung. Mohon informasinya, terima kasih.

    BalasHapus
  30. Mending naik taksi bandara aja mbak arima. ada konter taksi di terminal kedatangan. mbak bisa pesen langsung aja. perjalanan kurang lebih 45 menit bahkan bisa 1 jam karena bandara jaraknya lumayan jauh dari kota.

    BalasHapus
  31. ass, kalau kendaraan menuju tulang bawanga ada gak ya jika malam hari, mohon info nya donk,

    BalasHapus
  32. Pak tri ma'f sya mau tanya co'z lbran idul adha nanti sya mau pulng k lampung naik pesawat pak,tp sya bingung dri bandara ny ad kendaraan gx mau k daerah simpang pematang ny pak?
    Sya tnggu jwban ny y pak

    BalasHapus