26 Agustus 2010

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Karena waktu sudah mendekati jadwal penerbangan saya ke Lampung, saya memutuskan untuk masuk ruang check in. Ruang check cukup ramai penumpang tapi kebanyakan penumpang-penumpang tersebut adalah penumpang Batavia Air, sedangkan penumpang Sriwijaya tidak terlalu banyak sehingga antriannya tidak sampai mengular.

Meskipun saat itu di LCD yang ada di depan check in counter belum ada tujuan ke Lampung, yang artinya check in untuk tujuan ke Lampung belum dibuka tapi seorang security Sriwijaya Air memberi info bahwa saya bisa check in di counter mana saja. Check in berjalan dengan lancar karena tidak ada antrian yang berarti. Saat check in ini saya meminta tempat duduk nomor 21F dengan harapan saya nanti bisa mengambil foto Bandara Soekarno-Hatta dari atas.

Flight Detail:
Date: August 04, 2010
Airline: Sriwijaya Air
Flight No: SJ-098
Route: Jakarta (CGK)-Lampung (TKG)
Departure Time: 15.30 (scheduled), 15.50 (actual)
Arrival Time: 16.10 (scheduled), 16.30 (actual)
Aircraft: Boeing 737-284 Adv
Registration: PK-CJF
Class: Economy
Seat: 21F
Site: http://www.sriwijayaair.co.id/

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Segera setelah urusan check in selesai saya menuju ruang tunggu yang ada di lantai dua setelah sebelumnya membayar airport tax sebesar 40 ribu. Seperti yang sudah saya katakan pada postingan sebelumnya, terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta ini terlihat gelap. Pencahayaan di terminal ini sangat kurang, sehingga ruangan terlihat kusam, kuno, dan angker.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Dalam boarding pass saya tertera ruang tunggu untuk tujuan Bandar Lampung adalah di Gate B6. Saat melintasi Gate B7 saya melihat di LCD Gate B7 tertera tujuan Bandar Lampung. Nah disini saya agak bingung karena di boarding pass tertera Gate B6 tapi di LCD tertera Gate B7. Karena saya melintasi Gate B7 terlebih dahulu jadi saya menuju ke ruang tunggu Gate B7. Setelah saya tanya ke petugas jaga Gate B7, ternyata tujuan Bandar Lampung berada di Gate B6 sesuai dengan boarding pass. Perbedaan antara gate di boarding pass dengan di layar LCD ini sudah umum terjadi di Bandara Soekarno-Hatta baik di terminal 1 maupun terminal 2, jadi harap maklum. Saran saya jika terjadi perbedaan seperti ini ikuti saya sesuai dengan yang ada dalam boarding pass.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Akhirnya saya menuju ruang tunggu Gate B6. Sampai disana saya melapor kepada petugas yang jaga di Gate B6 lalu petugas memberikan sebuah kotak yang berisi snack dan air mineral. Disini terlihat Sriwijaya konsisten membidik pasar kelas menengah. Terbukti dengan penerbangan dengan rute pendek, mereka tetep memberikan snack yang tidak asal-asalan. Kotak yang saya terima tersebut berisi dua potong roti isi daging dan coklat serta segelas air mineral.

Penerbangan ke Lampung memang sangat singkat, hanya sekitar 25 menit jadi para pramugari tidak akan sempat untuk membagikan makanan di atas nanti. Karena itu makanan sudah dibagikan saat masih berada di ruang tunggu. Saya rasa ini adalah keputusan yang tepat diambil oleh Sriwijaya, karena dulu sewaktu terbang dengan Batavia dengan rute yang sama, saat itu cabin crew sangat terburu-buru saat membagikan sepotong roti tanpa rasa dan segelas air mineral. Saat proses pembagian makanan belum selesai, kapten penerbangan sudah menginstruksikan untuk landing, membuat cabin crew benar-benar berkeringat.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sekedar informasi, Sriwijaya cukup dominan untuk rute pendek Jakarta-Lampung. Sriwijaya memiliki 4 kali penerbangan dalam sehari untuk rute tersebut. Selain Sriwijaya ada juga Garuda dan Batavia yang melayani rute ini. Garuda memiliki 3 penerbagan dalam sehari, sedangkan Batavia hanya 1 kali penerbangan sehari. Sebelumnya juga ada Merpati, tapi nggak tau kenapa maskapai ini menghilang dari persaingan rute Jakarta-Lampung. Saya berharap mudah-mudahan Wings Air dengan pesawat ATR 72-500 bisa meramaikan rute ini.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Setelah lama menunggu, jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Akhirnya tiba juga waktu untuk boarding. Boarding berjalan dengan lancar, saya memang sengaja untuk boarding belakangan. Saya sempatkan mengambil beberapa foto pesawat yang terparkir di sekitar area GMF saat berjalan menuju pesawat.

Saat saya melihat pesawat yang akan membawa saya ke Lampung, saya tersenyum bahagia karena pesawat yang digunakan adalah Boeing 737-200. Sebenarnya inilah tujuan utama saya menggunakan jasa Sriwijaya Air. Saya masih ingin menikmati kembali naik pesawat yang sudah semakin langka menghiasi langit dunia ini. Suara menggelegar mesin Pratt & Whitney JT8D juga sudah jarang terdengar. Bisa jadi ini adalah terakhir kalinya saya naik Boeing 737-200 sebelum pesawat ini dipensiunkan.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Ternyata pesawat yang akan saya naiki adalah Boeing 737-200 PK-CJF dengan nama "Megah". Di sebelahnya terdapat pesawat Airbus A320 milik Batavia yang akan menuju ke Medan. Perlu diketahui, Sriwijaya memberikan nama-nama yang bagus kepada setiap pesawatnya. Nama-nama tersebut biasanya diletakkan di dekat hidung pesawat. Boeing 737-200 PK-CJF ini dibuat pada tahun 1980, jadi usianya sekarang adalah sekitar 30 tahun. Usia yang sudah sangat tua untuk ukuran pesawat. Mungkin sebentar lagi pesawat ini akan memasuki masa pensiun.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Karena tempat duduk saya ada di belakang jadi saya juga boarding melalui pintu belakang dengan disambut oleh dua orang pramugari yang cantik-cantik. Saat proses boarding sedang berlangsung, pramugari memberikan permen dan koran untuk penumpang meskipun tidak semua penumpang mendapatkan koran.

Interior yang ada di pesawat ini cukup terawat meskipun terlihat tua. Tapi yang cukup menyiksa adalah jarak antar tempat duduknya sangat sempit. Ini berbeda dengan saat saya naik Sriwijaya tahun lalu, ruang untuk kaki terasa lebih lebar. Di pesawat ini kaki saya sangat mentok, sangat tidak nyaman untuk saya yang bertinggi badan 180 cm. Untung saja penerbangannya hanya sebentar.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Setelah semua penumpang masuk ke dalam pesawat, pintu pesawat ditutup dan pesawat push back. Selanjutnya pesawat bergerak menuju runway 07R. Pesawat yang saya naiki sempat berpapasan dengan pesawat lain saat taxi ini, yang tertangkap kamera saya adalah Boeing 737-300 milik Citilink.

Pesawat melewati GMF sama seperti pesawat Mandala yang saya naik tadi pagi dari Surabaya. Ternyata tiga pesawat Boeing 747 yang saya lihat tadi pagi adalah Boeing 747 freighter alias kargo, untuk maskapainya saya masih belum tau. Rongsokan DC-10 Garuda Indonesia juga terlihat dengan jelas saat pesawat menuju runway 07R ini.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Saat pesawat sampai di ujung runway 07R, pesawat harus antri terlebih dahulu karena ada beberapa pesawat Batavia yang landing secara berurutan. Setelah runway clear, barulah pesawat memasuki runway. Deru mesin JT8D semakin menggelegar, karena mungkin juga pesawat tua jadi getaran dalam kabin sangat terasa. Pesawat mulai meluncur dengan kecepatan tinggi dengan getaran kabin yang luar biasa. Akhirnya pesawat take off dengan mulus. Setelah airborne lalu pesawat belok kanan, memutar 180 derajat sehingga sejajar dengan runway yang baru saja digunakan untuk take off. Dan ini adalah saat yang saya nanti dimana saya dapat mengambil foto Bandara Soekarno-Hatta dari atas yang sudah lama saya idamkan. Sayangnya langit di Jakarta sering berkabut yang sepertinya karena polusi sehingga foto yang dihasilkan kurang jernih.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Di kantong kursi pesawat Sriwijaya ini hanya ada safety card dan inflight shop saja. Tidak ada inflight magazine mungkin sebagai penghematan. Dalam penerbangan ini juga tidak ada pramugari yang berjualan karena waktunya mepet, jadi kalau ada barang yang mau dibeli langsung panggil pramugarinya saja.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Cuaca pada penerbangan kali ini cukup bagus, tidak ada guncangan yang berarti. Pesawat terbang pada ketinggian yang cukup rendah, hanya 12.500 kaki di atas permukaan laut. Baru beberapa menit terbang, pesawat sudah memasuki wilayah Lampung. Karena terbang rendah jadi pemandangan yang ada di bawah bisa terlihat. Terlihat sungai-sungai besar yang berkelok-kelok, banyak lahan yang masih bersih dari bangunan yang di dominasi oleh sawah-sawah, dan saat mendekati Bandara Radin Intan II yang terlihat di bawah adalah perkebunan karet.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Rute yang sangat pendek membuat penerbangan ke Lampung sangat tidak terasa. Baru 20 menit terbang, kapten sudah menginstruksikan kepada pramugari untuk bersiap landing. Kali ini pesawat akan landing dari runway 32 Bandara Radin Intan II. Dan akhirnya pesawat landing dengan mulus. Tumben sekali kali ini pesawat landing di Lampung dengan mulus. Biasanya landing di Lampung cukup anjrut-anjrutan karena selain runway tidak rata, runway-nya juga pendek sama halnya jika landing di Jogja.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Setelah seharian berada di Jakarta hanya untuk transit akhirnya saya tiba juga di Lampung dengan total waktu penerbangan dari Jakarta ke Lampung yang hanya 30 menit. Cukup melelahkan memang, tapi sebelum menuju ke area terminal kedatangan saya kembali mengambil foto pesawat yang baru saja mengantarkan saya ke Lampung ini.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Saya berharap ini bukan terakhir kalinya saya bisa menikmati terbang dengan Boeing 737-200. Mudah-mudahan saya bisa mencobanya lagi sebelum benar-benar dipensiunkan..

Thanks Sriwijaya, nice flight with you!!


23 komentar:

  1. wah sudah di kampung halaman nih....saya baru tanggal 4 september berangkatnya. salam deh buat keluarga di lampung. :D

    BalasHapus
  2. sayangnya saya sudah balik lagi ke surabaya mas. hahaha

    BalasHapus
  3. Hmm....saya jadi ingat penerbangan Palangka Raya - Jakarta pada Juli 2008 lalu. Saya kala itu naik Batavia Air dengan pesawat yang sama sekali nggak kelihatan baru. Pesawat tersebut agak-agak menyeramkan karena agak bobrok. Yang lebih membuat nyali saya ciut, semua tulisan di dalam pesawat menggunakan Bahasa Spanyol. hahaha...jiper dech :D

    saya belum pernah naik Sriwijaya, tapi kayaknya maskapai ini hebat yach. walaupun murah, tapi untuk snacknya nggak main-main. ada roti isi daging segala. wow. saya jadi inget sama Lion Air yang nggak pernah memberikan saya makanan apapun. Batavia saja memberikan, walaupun cuma sebungkus roti bulat isi coklat. hehehe.

    DC-10 koq disebut rongsokan, Mas? apa gara2 kasus Mandala Air di Jamin Ginting, Medan itu kali yach?

    25 menit terbang pastinya nggak berasa apa-apa dech. kalau ketinggian 36000 kaki, pesawat kan baru stabil sekitar 15 menitan gt yach? nah, kalau 25 menit, jangan2 begitu pesawat sudah stabil, trus buru-buru bersiap landing kali yach? hehehe

    penerbangan yang harusnya berdurasi 100 menit, ternyata ditempuh dalam waktu 1 jam. saya nggak ngeti dech, apakah saya masuk lorong waktu atau pesawatnya punya warp atau memang pilotnya jago ngebut. hahaha. Tapi terburu-burunya pesawat ini jelas terlihat dari saat pramugari memperagakan penggunaan alat-alat keselamatan. mereka tampak terburu-buru sambil diiringi suara dari speaker yang juga terburu-buru. Kalau saya ingat sich jadinya lucu yah mas, serasa nonton video yang pitchnya dipercepat 2x atau 4x fast forward....hahahaha...

    BalasHapus
  4. DC-10 saya sebut rongsokan karena memang sudah sangat lama tidak operasikan oleh Garuda, pesawat tersebut hanya terparkir di halaman GMF saja dan mungkin tidak lama lagi bakal dihancurkan menjadi panci, sendo, ataupun garpu. alangkah sebaiknya kalau pesawat ini jadikan museum saja, mungkin akan lebih berguna. seperti halnya pesawat Garuda DC-9 yang cukup terawat di museum transportasi TMII.

    terkadang kalau pesawat landing lebih cepat dari jadwal itu bisa jadi memang saat taxi ngebut (lebih cepat 5 menit sangat berharga), tidak ada antrian saat take off, saat di atas juga pakai kecepatan yang lebih tinggi alias ngebut, lalu traffic diatas juga tidak ramai jadi bisa meminta rute-rute check point yang direct (tidak perlu memutar), pas landing juga tidak ada antrian, saat taxi menuju terminal juga ngebut. jika dikombinasikan dijamin bakal dateng lebih awal dari jadwal. samapai lebih awal dari jadwal seperti ini sudah sering saya alami saat terbang dengan mandala ataupun airasia.

    BalasHapus
  5. Saya belum pernah mengalaminya sich. biasanya, selalu on time, atau molor banter 5 menitan - 10 menitan. yang lebih maju dari jadwal ya Batavia satu ini, satu satunya dari Palangka Raya. Hahaha. saya sampai takut...hahaha

    BalasHapus
  6. DC-10 koq disebut rongsokan, Mas? apa gara2 kasus Mandala Air di Jamin Ginting, Medan itu kali yach?

    Kl gak salah, yg di Jamin Ginting itu B 737-200 deh ? Dan kl DC-10-30 Garuda, salah satunya PK-GIE di Fukuoka,13 Juni 1996. abborted take off.

    koreksi ?

    BalasHapus
  7. yang saya maksud rongsokan itu ya dengan kondisi saat ini, bukan yang dulu-dulu.. coba deh sekarang liat nasib DC-10 di GMF, hanya sebuah besi tua yang mungkin sebentar lagi akan di-scrap, dipotong-potong menjadi panci dan sendok. karena itulah saya bilang rongsokan. tidak akan saya bilang rongsokan jika pesawat ini dijadikan museum sehingga lebih berguna untuk alat pembelajaran daripada membusuk di depan GMF.

    jadi nggak ada hubungannya sama Boeing 737-200 mandala di medan ataupun kecelakaan garuda di FUK. ;)

    BalasHapus
  8. Wah enak banget... dapet Boeing 737-200. Kalau saya naik Sriwijaya,saya dapetnya Boeing 737-300/400.Kalau bandara Lampung itu emangnya kecil ya? Kalau sama bandara Solo lebih besar mana ya?

    BalasHapus
  9. saya malah nggak pernah dapet B733 atau B734 sriwijaya, selalu dapet B732. :D

    tentu saja jauh lebih kecil mas kalo dibanding solo.. :D

    BalasHapus
  10. Ga takut mas naik B737-200?Sy paling takut kalo naik Sriwijaya air dapet yang B737-200, apalagi suara mesinnya berisik banget, jadi inget jaman bouraq HS748 hehehe

    BalasHapus
  11. saya malah sangat menikmati kalo dapet B732 karena pastinya sebentar lagi pesawat ini akan dipensiunkan mengingat umurnya rata-rata sudah 30 tahun. kalo nggak sekarang ya kapan lagi bisa mencoba naik pesawat jurassic ini.. hehehe

    BalasHapus
  12. saya belum pernah naik sriwijaya air sebelumnya

    BalasHapus
  13. Tanx pak, saya sangat menikmati penjelasannya

    BalasHapus
  14. Hmm....saya jadi ingat penerbangan Palangka Raya - Jakarta pada Juli 2008 lalu. Saya kala itu naik Batavia Air dengan pesawat yang sama sekali nggak kelihatan baru. Pesawat tersebut agak-agak menyeramkan karena agak bobrok. Yang lebih membuat nyali saya ciut, semua tulisan di dalam pesawat menggunakan Bahasa Spanyol. hahaha...jiper dech :D

    saya belum pernah naik Sriwijaya, tapi kayaknya maskapai ini hebat yach. walaupun murah, tapi untuk snacknya nggak main-main. ada roti isi daging segala. wow. saya jadi inget sama Lion Air yang nggak pernah memberikan saya makanan apapun. Batavia saja memberikan, walaupun cuma sebungkus roti bulat isi coklat. hehehe.

    DC-10 koq disebut rongsokan, Mas? apa gara2 kasus Mandala Air di Jamin Ginting, Medan itu kali yach?

    25 menit terbang pastinya nggak berasa apa-apa dech. kalau ketinggian 36000 kaki, pesawat kan baru stabil sekitar 15 menitan gt yach? nah, kalau 25 menit, jangan2 begitu pesawat sudah stabil, trus buru-buru bersiap landing kali yach? hehehe

    penerbangan yang harusnya berdurasi 100 menit, ternyata ditempuh dalam waktu 1 jam. saya nggak ngeti dech, apakah saya masuk lorong waktu atau pesawatnya punya warp atau memang pilotnya jago ngebut. hahaha. Tapi terburu-burunya pesawat ini jelas terlihat dari saat pramugari memperagakan penggunaan alat-alat keselamatan. mereka tampak terburu-buru sambil diiringi suara dari speaker yang juga terburu-buru. Kalau saya ingat sich jadinya lucu yah mas, serasa nonton video yang pitchnya dipercepat 2x atau 4x fast forward....hahahaha...

    BalasHapus
  15. sp saat ini, utk rute jakarta-lampung vv, saya baru sekali nyoba sriwijaya, sekali nyoba batavia., 
    selebihnya garuda.
    jujur, agak horor juga perasaaan naik kedua pesawat ini, ya karena faktor usia. salah satunya ya itu tadi, vibrasinya dimana-mana... seluruh kabin seperti beresonansi... hehehe...
    tapi saat itu sptnya lebih parah yg batavia, body pesawat terlihat seperti ada retakan-retakan gitu... 
    begitupun, mondar-mandir jakarta-lampung, saya masih lebih sering via selat sunda atau nyetir sendiri... lebih enjoy saja walau lebih lama dan capek tentunya... hehehe... biayanya pun sebenarnya tidak bisa dibilang lebih hemat...  tapi mau gimana lagi, namanya sudah hobi... :)
    kalaupun mau hemat dan nyantai, naik damri... gak nyampe 200rb sudah sampai rumah.

    saat ini sudah ada pemain baru, lion air 2 x sehari.. kalo gak salah armadanya 900ER.

    btw, saat saya ke medan dr jakarta naik Lion 900ER, speed terukur di gpshampir mentok 900 km/jam.. rata-rata sekitar 880km/jam... tapi jakarta-lampung speednya lebih pelan (ngukurnya waktu naik garuda, 800NG, speed di info lcd pesawat dan gps saya gak beda) , kalau gak salah ingat, sekitar 600km/jam... kalau dengan speed jakarta-medan, mungkin penerbangan hanya sekitar 15 menit atau kurang...

    panjang landasan di lampung sekitar 1900 meter, waktu take off, saat ngukur distance via gps, butuh sekitar 1600 meter sampai pesawat terangkat... berarti nyisa sedikit lagi... hehehe.... harus lebih khusuk berdoa kalo dari/ke branti...

    BalasHapus
  16. dari jakarta ke lampung speed lebih pelan sepertinya karena faktor jarak.. total waktu terbang untuk sektor jakarta-lampung cuma 20-25 menit dengan ketinggian jelajah yang cukup pendek. sementara jakarta-medan kan sekitar 2 jam..

    kalau nggak salah sekarang panjang landasan udah sekitar 2,2 km deh.. kalo masih 1,9 km saya ragu Boeing 737-800 dan Boeing 737-900ER bisa masuk..

    BalasHapus
  17. siang mas, sy mau menanyakan foto ke-3 dan ke-4 dari bawah, itu proses pengereman ya? maaf kalo ndeso...

    BalasHapus
  18. benar mas itu proses pengereman, pengereman dengan reverser..

    BalasHapus
  19. hey aku jeni, anak mesin... buat aku mesin mesin baru memang canggih dan menyenangkan, tapi, untuk mendengar suara dan tenaga mesin tua, lebih menyenangkan.

    BalasHapus
  20. iya mbak jeni, mesin tua itu gemuruh suaranya memang mengagumkan :D

    BalasHapus