20 September 2010

Lontang-Lantung Malam Hari Di Jogja

Lontang-Lantung Malam Hari Di Jogja

Setelah kemaren datang ke Jogja, hari ini saya mengantarkan kakak saya ke Terminal Giwangan. Yah, kakak saya hari ini akan mudik ke Lampung naik bus favorit dia, Bus Putra Remaja. Selesai mengantarkan kakak, saya lalu menuju ke Terminal Jombor karena saya akan ke rumah bude yang ada di daerah Kronggahan, dekat dengan Terminal Jombor. Kebetulan saya sudah lama tidak berkunjung ke rumah bude, dan mumpung saya masih di Jogja saya sekalian saja main kesana.

Saya di rumah bude hanya sampai jam setengah 9 malam saja. Dari rumah bude saya kembali ke Terminal Jombor dengan harapan masih ada Bus Trans Jogja yang bisa mengantarkan saya ke Stasiun Tugu. Memang malam ini saya berencana untuk pulang ke Surabaya. Beruntung karena masih ada Bus Trans Jogja yang masih beroperasi. Setelah berkeliling sesuai dengan rutenya, saya tiba juga di depan Stasiun Tugu.

Dengan segera saya menuju ke loket penjualan tiket di stasiun. Saya sangat berharap bisa mendapatkan tiket pulang ke Surabaya malam ini dengan KA Bima (eksekutif) ataupun KA Mutiara Selatan (bisnis). Naik kereta apa saja nggak masalah yang penting saya hari ini bisa pulang ke Surabaya. Sesampainya di loket memang masih tersedia tiket untuk ke Surabaya baik untuk KA Bima ataupun KA Mutiara Selatan, tapi harganya sangat mencengangkan. Bagaimana tidak, biasanya tiket kelas bisnis dari Jogja ke Surabaya dihargai 60.000-80.000 tapi kali ini harganya 250.000. Sedangkan tiket kelas eksekutif yang biasanya berharga 100.000-130.000 kali ini dihargai 290.000. Sangat mahal sekali harga tiketnya, lebih mahal dari harga tiket pesawat untuk ke Jogja kemaren. Petugas loket mengatakan kalau harga ini adalah tarif lebaran. Memang lebaran nggak sampai seminggu lagi, tapi masa' iya sih harganya bisa melonjak sampai 300 persen? Apalagi juga masih banyak tempat duduk yang tersedia.

Akhirnya saya batal beli tiket kereta karena kemahalan. Saya berjalan menuju ke Maliboro tanpa tujuan yang jelas. Meskipun sudah jam 10 malam, Maliboro masih sangat ramai. Apalagi malam itu banyak toko dan mall-mall yang mengadakan diskon besar-besaran pada tengah malam. Tentu saja banyak pengunjung Malioboro yang menantikan acara obral tersebut. Hanya Pasar Beringharjo saja yang sudah terlihat sepi.

Lontang-Lantung Malam Hari Di Jogja

Saya terus berjalan ke arah kantor pos besar. Baru terasa perut saya sudah mulai lapar, karena itu saya berjalan terus menuju ke arah RS PKU Muhammadiyah. Saya makan oseng-oseng mercon yang banyak dijual di sekitar sana. Sudah lama sekali saya tidak makan makanan yang sangat pedas seperti ini, saya tidak kuat untuk menghabiskan oseng-oseng mercon yang saya pesan lantaran terlalu pedas dan dikhawatirkan membuat perut saya sakit.

Setelah makan saya balik lagi ke arah kantor pos besar. Malam minggu di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret (kantor pos besar) memang selalu ramai. Malam ini banyak sekali rombongan klub-klub sepeda yang nongkrong disana. Nggak cuma anak muda, bapak-bapak dan mbak-mbah pun banyak yang nongkrong dengan sepeda antiknya. Sementara itu di sisi lain juga banyak wisatawan yang berfoto-foto di kawasan itu. Sedangkan saya cuma bengong di samping rombongan bapak-bapak dengan sepeda antik tersebut. Kawasan di Kota Jogja yang satu ini memang nggak pernah sepi di malam hari.

Jam di tangan saya sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam, saya masih bingung mau kemana. Apakah pulang besok pagi dengan naik pesawat jika masih tersedia tiket atau pulang malam ini juga dengan naik bus. Sepertinya saya lebih memilih pulang malam ini naik bus karena belum tentu juga masih ada tiket pesawat untuk besok pagi jika saya harus go show. Saya lalu memberhentikan taksi untuk mengantarkan saya ke Terminal Giwangan. Jika sudah tengah malam seperti ini sudah tidak ada pilihan lain angkutan umum di Jogja selain taksi.



2 komentar:

  1. melas...pesti ujung2nya mangkal neng lampu merah...nganggo anting sbelah kanan karo cincin sbelah kanan juga...ahahahaha

    BalasHapus