17 September 2010

Selamat Datang Di Candi Terbesar Dunia, Candi Borobudur

Candi Borobudur

Saat tiba di Terminal Borobudur saya jadi teringat oleh perkataan Mas Lomar Dasika bahwa tidak perlu naik becak dari terminal menuju ke Candi Borobudur. Memang saat baru tiba di terminal, padahal bus belum berhenti para tukang becak dan tukang ojek sudah sangat bersemangat berebut naik ke dalam bus untuk menawarkan jasanya. Ini sangat mirip dengan porter yang ada di stasiun berebut masuk ke kereta saat kereta baru saja tiba, hanya saja beda jasa yang ditawarkan oleh mereka. Dengan banyaknya tukang becak yang berada di pintu bus, dengan sukses mereka membuat penumpang kesulitan untuk keluar.

Para tukang becak dan tukang ojek tadi langsung menawarkan jasanya kepada para penumpang yang turun dari bus. Dan memang sepertinya Terminal Borobudur didesain sedemikian rupa agar penumpang mau naik becak, ojek, ataupun andong. Beberapa tukang becak menawarkan untuk mengantarkan saya ke candi, tapi saya menolaknya dengan halus menggunakan Bahasa Jawa.

Meskipun sudah menolak, tapi masih ada saja yang menawarkan jasa becak kepada saya. Rata-rata mereka menawarkan dengan harga Rp 10.000,- untuk dua orang sampai dengan candi. Kembali saya harus menolak tawaran bapak tukang becak tersebut. Bapak tukang becak menawarkan dengan Bahasa Jawa, "Monggo Mas sedasa mawon dugi candi". Maksudnya, sepuluh ribu saja diantar sampai dengan candi. Dengan halus kembali saya tolak tawaran tersebut. Bahkan tukang becak tersebut sampai berani banting harga, "Nggih sampun, gangsal ewu mawon (ya sudah, lima ribu saja)". Saya pun menolaknya karena saya memang ingin berjalan kaki saja.

Candi Borobudur

Saya disini tidak mengalami hal yang dialami oleh Mas Lomar Dasika yang tukang becaknya sampai mengiba-iba. Saya berusaha menggunakan Bahasa Jawa halus saat meladeni tawaran dari tukang becak. Karena itu mungkin si tukang becak mengira saya adalah warga lokal, bukan seorang turis yang akan mengunjungi candi jadi tukang becak itu nggak ngotot menawarkan jasanya. Memang biasanya bahasa lokal cukup efektif digunakan saat travelling seperti ini. Dan saya beruntung beberapa tahun tinggal di Jogja dan sedikit-sedikit bisa berbahasa Jawa.

Jarak antara terminal sampai dengan candi memang tidak terlalu jauh, hanya sekitar 500 meter. Tadinya saya sempat bingung lokasi candinya ada dimana, setelah bertanya kepada penjual sayuran di pasar ternyata untuk ke candi harus berjalan ke arah barat dari terminal tadi (ke arah Alfamart atau Indomaret). Setelah masuk ke area parkir candi kita akan menemui loket untuk pembelian karcis. Sayangnya petunjuk untuk menuju loket ini banyak yang tertutup oleh pepohonan dan toko-toko yang menjual souvenir.

Tiket masuk Candi Borobudur saat saya masuk ini adalah Rp 17.500,-. Cukup mahal memang jika dibandingkan dengan tiket masuk Candi Prambanan ataupun Keraton Ratu Boko. Tapi meskipun ketiga candi yang saya sebutkan tersebut sama-sama dikelola oleh Borobudurpark.co.id, tapi tiket masuk Candi Borobudur masih menggunakan kertas yang disobek saat masuk ke area candi. Tidak seperti Candi Prambanan yang sudah menggunakan smart card.

Candi Borobudur

Kalau Anda ingat, Candi Borobudur adalah candi yang dibangun oleh Raja Samaratungga, yaitu salah seorang raja kerajaan Mataram Kuno keturunan Wangsa Syailendra pada abad ke-9 di Desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Bangunan yang dulunya masuk dalam tujuh keajaiban dunia ini memiliki 1.460 relief dan 504 stupa Buddha. Saya nggak ngitung sendiri, tapi dapet info dari baca-baca sejarah. Hehe.. Tapi sepertinya sekarang Candi Borobudur sudah tidak lagi masuk ke dalam tujuh keajaiban dunia. Meskipun begitu, bangunan ini tetap mengagumkan.

Bangunan Candi Borobudur berbentuk punden berundak dan terdiri dari 10 tingkat dengan ukuran 123 x 123 meter. Sebelum direnovasi tinggi candi adalah 42 meter, tapi setelah direnovasi tingginya menjadi 34,5 meter. Saya bingung, apanya yang dipangkas ya? Candi ini sudah selesai dibangun tiga abad sebelum Angkor Wat di Kamboja didirikan.

Candi Borobudur

Di sepanjang dinding Candi Borobudur terdapat relief-relief yang sangat melegenda, yaitu relief tentang Ramayana. Saya tidak tau pasti ceritanya bagaimana, mungkin kalau ingin benar-benar tau bisa menyewa jasa guide di pintu masuk dengan membayar Rp 60.000,- untuk menjelaskan tentang relief ini. Tapi yang saya tangkap, relief ini bercerita tentang kehidupan masyarakat pada saat itu. Bisa dilihat dari adanya relief kapal layar yang menceritakan tentang kemajuan pelayaran pada masa lalu, atau relief aktivitas petani yang mencerminkan kemajuan pertanian.

Nah saat awal masuk candi, saya membaca bahwa Candi Borobudur dibagi menjadi 3 teras yaitu Kamadhatu, Ruphadatu, dan Arupadhatu. Kamadhatu merupakan bagian dasar Candi Borobudur yang melambangkan bahwa manusia masih terikat oleh nafsu. Rupadhatu adalah empat tingkat di atas Kamadhatu yang melambangkan bahwa manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu tapi masih terikat rupa dan bentuk. Oleh karena itu dalam tingkatan ini patung Buddha diletakkan terbuka. Sedangkan Arupadhatu berada tiga tingkat di atas Rupadhatu dimana patung Buddha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang. Arupadhatu melambangkan bahwa manusia sudah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk. Di teras Arupadhatu ini pula terdapat patung dimana Sang Buddha berada. Mungkin kalau disimpulkan adalah untuk menuju sebagai manusia yang sempurna setara dengan Sang Buddha harus melewati tujuh tingkatan tadi. Mohon dikoreksi kalau salah.

Candi Borobudur

Saat berada pada teras Rupadhatu yang terdapat patung Buddha tertutup oleh stupa berlubang-lubang, saya jadi teringat perkataan bude saya saat saya pertama kali berkunjung ke Borobudur 12 tahun yang lalu. Bude saya yang orang asli Sleman itu mempercayai bahwa jika berhasil menyentuh patung Buddha yang ada di dalam stupa tersebut akan mendapatkan rejeki yang melimpah. Orang-orang menyebutnya dengan k*nt*l bimo. Tapi nggak usah dipercayalah, itu hanya sebuah mitos. Lagipula sangat mudah memegang patung Buddha di dalam stupa itu karena tidak terlalu dalam.

Cukup beruntung sebenarnya karena cuaca hari ini sangat baik. Tapi ada nggak enaknya juga karena masih puasa, panas yang terik benar-benar menguras tenaga. Padahal pemandangan di belakang Candi Borobudur yang berupa pegunungan sangat sayang jika dinikmati hanya sebentar saja. Tapi karena saya khawatir jika terjadi dehidrasi jadi saya putuskan untuk menyudahi kunjungan saya di Candi Borobudur, candi dengan segala kemegahannya yang luar biasa. Anda tertarik kesini juga??

Candi Borobudur



6 komentar:

  1. hmm...sayang banged, saya hanya bisa bahasa Jawanya : ora opo opo Mas....saya jalan kaki ae....wakakakakak! langsung ketauan dah bukan Orang Jawa, makin didempetin dah buat ditawarin. Tapi aku bingung Mas...Panjenengan koq iso ngomong Boso Jawa Kromo Inggih? alus bener kan iku?...tuh kan kacau bahasa Jawa jadi-jadian saya. kena dech >.<

    hmm...Borobudur never looks so sepi seperti di foto-fotomu....how come?

    BalasHapus
  2. bukan kromo inggil mas, tapi ngoko alus.. ngoko alus itu maksudnya ya seperti percakapan sehari-hari tapi bahasanya lebih halus. kalo kromo inggil saya mah kagak ngerti, cuma bengong doang kalo dengerin si mbah atau pakde ngomong kromo inggil. haha..

    awal mulanya saya bisa bahasa jawa karena dulu sewaktu SMA ada pelajaran bahasa jawa. saya yang dari sumatera yang nggak ngerti sama sekali dengan aksara dan bahasa jawa baik ngoko halus maupun koromo. mau nggak mau ya harus belajar. kalo nggak bisa ya nggak lulus ujiannya. dengan begitu sekarang saya sedikit2 bisa bahasa jawa dan sudah terbiasa menggunakannya ketika ngobrol dengan teman-teman dari jogja..

    saat kunjungan saya ini pas puasa, cuaca panas bangettt.. jadi mungkin pada menghemat tenaga, nggak banyak yang dateng ke borobudur. cuma turis-turis asing aja yang berkunjung, itupun nggak banyak..

    BalasHapus
  3. Wah...saya pun mau berjalan kaki aja ke Borobudur nanti, bagaimana ya mahu menghidari tukang becak, ojek dan andungnya :D Saya ngak mengerti bahasa jawa pun :(

    BalasHapus
  4. silahkan tolak/hindari saja mereka dengan halus dan tetap terus berjalan seakan-akan anda sudah tau tempatnya.. tidak usah berhenti atau hanya sekedar menanyakan harga becak atau ojek, karena sekali anda bertanya harga anda akan dikejar terus.. kalau memang ingin naik ojeg atau becak, tawar saja harganya 5.000 rupiah. harga itu sudah cukup murah.

    selamat berlibur..

    BalasHapus
  5. klo bahasa jawa, saya cuman bisa yang diajarin sule d.kk di Ovj... O..ora iso, ojo nesu", dsb .. xixixi

    BalasHapus
  6. klo bahasa jawa, saya cuman bisa yang diajarin sule d.kk di Ovj... O..ora iso, ojo nesu", dsb .. xixixi

    BalasHapus