29 Agustus 2010

Sweet Home Mumbang Jaya

Sweet Home Mumbang Jaya

Setelah menempuh perjalanan selama seharian dari Surabaya, akhirnya saya sampai di rumah yang ada di kampung halaman saya. Di rumah sederhana milik orang tua saya ini hanya ditempati oleh ibu dan ayah saya saja karena kakak pertama saya sudah mempunyai rumah sendiri yang juga berada di kampung ini, sedangkan kakak kedua saya ikut suaminya tinggal di Jogja.

Saya sendiri tinggal di rumah ini hanya sampai SD saja karena saya sudah meninggalkan kampung ini setelah masuk SMP. Saat SMP saya tinggal bersama om dan bulek saya di tempat yang juga termasuk pedalaman yaitu di kebun tebu PT Gula Putih Mataram atau sekarang lebih dikenal dengan Sugar Group Company, sebuah perusahaan yang memproduksi produk "Gulaku" yang banyak terdapat di pasar swalayan atau super market. Saat SMA saya sekolah di Jogja sebagai anak kost, dan sekarang kuliah di Surabaya. Sejak menjadi anak kost itulah saya jadi jarang pulang ke rumah karena memang jaraknya yang cukup jauh. Paling cepat pulang setahun sekali, itu kalo nggak males. Hehe..

Kampung saya ini terletak di Desa Mumbang Jaya, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur. Di tempat ini pula saya dilahirkan. Mungkin nggak banyak orang yang tau daerah ini karena memang tempatnya jauh dari kota. Jarak dengan kota kabupaten saja sekitar 60 Km. Nggak ada yang istimewa juga dari tempat ini karena nggak ada tempat wisata. Tempat wisata yang paling dekat adalah di pantai-pantai yang ada di Lampung Selatan yang bisa ditempuh dalam waktu 1 jam perjalanan dengan motor atau mobil. Yang paling terkenal dari Jabung adalah begal alias perampokan sepeda motor di jalanan. Aksi seperti ini sudah sangat umum terjadi disini, jadi mesti sangat berhati-hati kalau naik motor di daerah Jabung dan sekitarnya.

Meskipun berada di Lampung, tapi sebagian besar warga Desa Mumbang Jaya adalah orang Jawa. Hanya ada beberapa keluarga saja yang merupakan penduduk pribumi. Sedangkan warga pribumi kebanyakan bermukim di Kecamatan Jabung yang berjarak 10 Km dari desa saya ini. Kalau berada di Kecamatan Jabung akan sangat sulit menemui orang Jawa. Sorry bukan bermaksud SARA, kebanyakan orang-orang pribumi yang ada di sekitar sini rata-rata reseh (meskipun nggak semua). Misalnya saja kita tanpa sengaja menabrak anjing di jalanan, harga denda untuk anjing tersebut bisa menjadi 2-3 kali harga kambing. Jadi mesti ekstra hati-hati kalau melintasi daerah tempat bermukimnya warga pribumi ini. Kalau di kampung saya sih aman-aman saja.

Ya meskipun dengan segala keburukannya saya tetap cinta dengan kampung ini, walaupun saya nggak ada rencana untuk tinggal menetap disini. Jogja masih menjadi tempat idaman saya nanti. :D


13 komentar:

  1. Wow...berbahaya sekali. Koq bisa banyak pembegalan di jalanan? Hm...saya jadi inget tentang suatu artikel yang pernah saya baca beberapa tahun silam. Nggak bermaksud untuk SARA juga sich. Tapi saya pernah baca tentang Dusun Penyamun di daerah Jabung, Lampung Timur ini. Saya lupa saya pernah membacanya dimana, tapi dalam artikel tersebut dikisahkan bahwa hampir seluruh penghuni dusun tersebut adalah penyamun yang nantinya berprofesi sebagai bajing loncat, garong, atau perampok. Mas Tri pernah dengar kisah seperti ini? Maaf-maaf loch yah kalau saya ada menyinggung perasaan Mas Tri.

    BalasHapus
  2. saya nggak akan tersinggung mas, ya memang seperti inilah Jabung..

    memang hal seperti itu ada, tapi bukan berarti satu kampung jagi rampok semua. ada kampungnya juga nggak terlalu jauh dari tempat saya..

    mungkin banyaknya pembegalan karena disini masih banyak tempat-tempat sepi yang bisa menjadi tempat untuk melakukan pembegalan. tapi sekarang sudah lebih aman karena katanya ibu saya sudah sering penjahat-penjahat itu pulang ke rumah hanya jasadnya saja, mati ditembak polisi. meskipun begitu harus tetap berhati-hati..

    kalau untuk naik mobil sih sejauh ini aman2 saja, bawa motor yang agak ngeri.

    BalasHapus
  3. Ya, tapi saya tetap mohon maaf dulu waktu konfirmasi berita ini. Takut menyinggung dan merusak hubungan pertemanan kita khan...hehehe :)

    Oooh...tempatnya nggak jauh dari kampungnya Mas Tri yach? Hmm...syukurlah kalau polisi sudah bisa lebih serius dalam menangani peristiwa-peristiwa ini :) Jadinya, Jabung bisa menjadi tempat yang lebih nyaman, nggak hanya untuk warganya sendiri tapi untuk wisatawan. :)

    Makanya, Mas Tri bilang nggak mau pulang malam-malam kalau lewat daerah Mas Tri yach di postingan TNWK...

    BalasHapus
  4. iya mas, pulang saat maghrib aja udah was-was.. kalau mau nekat sekalian aja pulang tengah malem jam 12 atau jam 1 malah nggak apa2, begalnya juga bakal mikir "siapa yang berani lewat sini malem2 gini?". hehe

    BalasHapus
  5. Halo.. aku baru saja baca2 postingan situ..
    aku juga orang lampung nih,di kotabumi,lebih jauuh lagi dari kampungnya mas,dari branti kira2 2,5 jam.

    aku juga gak bermaksud mendiskreditkan, tapi memang kadang2 mereka agak nge-ganggu mereka, di rumah saya aja, pintu rumah bisa di timpuk pake batu,dengan tanpa alasan(dan kita gak bisa apa2, daripada di kroyok),lampu2 jalan di tembak pake senjata peluru. kalo di jalan antar propinsi(khususnya yg jalan agak2 rusak), kontainer yang lewat mesti di kawal polisi segala..


    hmm.. yah gitu deh,maaf yah mas, sekalian curhat.
    sukses terus buat blognya,aku suka baca blog e sampeyan :)

    BalasHapus
  6. wah dari lampung juga ya mbak, salam kenal..

    sebagai orang pendatang hanya bisa nrimo dan pasrah ya mbak. hehehe.. memang bener sih, kalo truck-truck container yang ke arah palembang itu biasanya minta kawalan kalau di tempat-tempat sepi. kalo nggak gitu bisa habis mereka. hehe..

    terimakasih mbak nana sudah berkunjung..

    BalasHapus
  7. Assalamualaikum....
    salam,
    Saya orang Lampung asli. Saya Lampung api, (Lampung dialek A) asal dari Liwa, Lampung barat.
    Mohon maaf juga kiranya bila warga pendatang merasa kurang nyaman, dan mungkin agak sedikit ketakutan. tapi percayalah, orang Lampung sebenarnya bersifat baik, bahkan bila sudah dekat akan dianggap seperti saudara sendiri. kebanyakan dari mereka para penyamun adalah orang Lampung dialek O, orang Lampung ini memang reseh2... beda dengan kami Lampung api.
    kami berprinsip piil pusingikhi (malu melakukan pekerjaan hina), walau memang sifat dan adatnya keras. tapi kami nggak pernah reseh dikandang, maksudnya di kapung sendiri.

    Tabik.... salam jak mekhanai Liwa.

    BalasHapus
  8. salam juga mas/mbak.. saya juga menyadari kok kalau nggak semua orang lampung seperti itu, hanya beberapa saja yang melakukannya dan itu pengaruhnya cukup buruk bagi para pendatang yang datang di lampung.. meskipun begitu tetap saja lampung adalah tanah kelahiran saya dan menjadi tempat saya tumbuh besar paling nggak sampai usia 15 tahun sebelum saya akhirnya menjadi warga jogja untuk sekarang ini.. :D

    lampung akan tetap di hati saya.. hehehe

    BalasHapus
  9. wah, kl istri sy kbtln jg kelahiran lampung (pringsewu), hnya mmg keturunan jawa. tp msh bnyk saudara2-nya di lampung, ex : pringsewu,metro,tj.karang, dll. dan bsk pg kebtln mau ke lampung pakai garuda. tdnya mau pakai sj tp penuh. tp ya krn darurat, ya udah gpp deh.. cm tiket ke jktnya blm dpt, terutama yg hrg promo. oya, ada yg punya pengalaman mengangkut orang sakit dgn naik pswt ngga ya ? krn kondisi si pasien tdk bisa duduk, jd hnya bs berbaring sj. maaf kl comment-nya panjang & kacau bahasanya. tks. han setiawan

    BalasHapus
  10. kalau mengangkut orang sakit sebaiknya langsung hubungi maskapainya saja, biasanya beberapa tempat duduk akan diblok (mungkin di lepas) untuk memberikan tempat kepada orang yang sakit tersebut. karena prosesnya agak panjang sebaiknya langsung ditanyakan kepada maskapai.

    BalasHapus
  11. Wow...berbahaya sekali. Koq bisa banyak pembegalan di jalanan? Hm...saya jadi inget tentang suatu artikel yang pernah saya baca beberapa tahun silam. Nggak bermaksud untuk SARA juga sich. Tapi saya pernah baca tentang Dusun Penyamun di daerah Jabung, Lampung Timur ini. Saya lupa saya pernah membacanya dimana, tapi dalam artikel tersebut dikisahkan bahwa hampir seluruh penghuni dusun tersebut adalah penyamun yang nantinya berprofesi sebagai bajing loncat, garong, atau perampok. Mas Tri pernah dengar kisah seperti ini? Maaf-maaf loch yah kalau saya ada menyinggung perasaan Mas Tri.

    BalasHapus
  12. iya mas, pulang saat maghrib aja udah was-was.. kalau mau nekat sekalian aja pulang tengah malem jam 12 atau jam 1 malah nggak apa2, begalnya juga bakal mikir "siapa yang berani lewat sini malem2 gini?". hehe

    BalasHapus
  13. Ya, tapi saya tetap mohon maaf dulu waktu konfirmasi berita ini. Takut menyinggung dan merusak hubungan pertemanan kita khan...hehehe :)

    Oooh...tempatnya nggak jauh dari kampungnya Mas Tri yach? Hmm...syukurlah kalau polisi sudah bisa lebih serius dalam menangani peristiwa-peristiwa ini :) Jadinya, Jabung bisa menjadi tempat yang lebih nyaman, nggak hanya untuk warganya sendiri tapi untuk wisatawan. :)

    Makanya, Mas Tri bilang nggak mau pulang malam-malam kalau lewat daerah Mas Tri yach di postingan TNWK...

    BalasHapus