6 September 2010

Waktunya Kembali Ke Surabaya, Ngojek Ke Pelabuhan Bakauheni

Waktunya Kembali Ke Surabaya, Ngojek Ke Bakauheni

Tidak terasa saya sudah dua minggu berada di Lampung dan kebetulan tidak jalan-jalan kemana-mana karena kondisi cuaca di Lampung yang tidak memungkinkan. Ya yang terpenting sih saya sudah bertemu dengan orang tua saya dan keluarga-keluarga saya di Lampung karena saya lebaran nggak ada rencana pulang, masalah jalan-jalan bisa saya lakukan di waktu yang lain. Sekarang saatnya saya kembali ke Surabaya karena akitifitas kuliah sebentar lagi akan dimulai.

Tidak seperti saat berangkat yang menggunakan pesawat dari Surabaya sampai dengan Lampung, kali ini saya akan menyeberangi Selat Sunda melalui Pelabuhan Bakauheni dengan naik kapal ferry baru berlanjut naik pesawat dari Jakarta ke Surabaya. Alasannya adalah karena jarak ke bandara dari rumah saya tergolong jauh, lebih dekat untuk menuju Pelabuhan Bakauheni daripada ke bandara. Lagipula saya tidak terburu-buru untuk mengejar penerbangan saya ke Surabaya karena penerbangan saya pada sore hari.

Sebenarnya saya akan diantar oleh kakak saya dengan menggunakan mobil sampai dengan Pelabuhan Bakauheni, tapi nggak jadi karena saat packing resleting tas saya jebol jadi saya harus nyari ransel pengganti. Agak susah mencari ransel yang bagus disini, karena itu membutuhkan waktu lebih lama. Kalau saya tetap diantar kakak saya dengan mobil bisa jadi saya malah telat sampai di Bandara Soekarno-Hatta, karena itu saya lebih memilih untuk naik ojek saja dengan asumsi lama perjalanan dari rumah sampai di Bakauheni adalah 1-1,5 jam naik motor.

Jarak dari rumah saya ke Pelabuhan Bakauheni adalah sekitar 60 Km. Bisa ditempuh dalam waktu yang lebih cepat jika melewati jalan-jalan terobosan dengan menggunakan motor. Tapi jalan-jalan terobosan itu malah cukup sulit jika dilewati oleh mobil. Jika menggunakan mobil harus lewat jalan raya dan membutuhkan waktu sekitar 2 jam atau lebih.

Waktunya Kembali Ke Surabaya, Ngojek Ke Bakauheni

Setelah melewati jalan pintas selama 15 menit sampailah saya di Jalan Lintas Timur Lampung. Jalan Lintas Timur ini menghubungkan antara Pelabuhan Bakauheni sampai dengan Palembang. Jalan yang saya lewati saati ke Taman Nasional Way Kambas beberapa hari yang lalu juga masih terusan dari jalan lintas timur ini. Jalan lintas timur ini cukup bagus, sangat cocok digunakan untuk pemudik yang akan ke Palembang. Sayangnya sepanjang jalan ini juga masih sepi, belum banyak kendaraan yang lewat sini, dan belum banyak juga rumah makan ataupun SPBU yang buka. Dan sebaiknya kalau melewati jalan ini adalah pada siang hari karena tidak ada lampu penerangan jalan, selain itu jalanan yang mulus dan panjang akan membuat pengemudi terlena karena beberapa bagian jalan masih ada lobang yang dalam.

Benar saja, dengan naik ojek perjalanan menuju Pelabuhan Bakauheni menjadi lebih cepat. Saya sudah mulai melihat lautan yang membiru saat berada di jalan yang menurun, ternyata sudah hampir sampai di Bakauheni. Beberapa menit kemudian Si Om tukang ojeknya belok ke kiri ke arah kampung-kampung, nggak taunya jalan tembusan langsung masuk ke pelabuhan. Hebat lah, dari rumah saya ke pelabuhan bisa ditempuh dalam waktu 1 jam 15 menit saja.



4 komentar:

  1. AKhirnya.....setinggi-tingginya bangau terbang, akhirnya kan turun jua. Sejauh-jauhnya kita bertamsya, beravontur dan berpelesir ke tempat-tempat indah di seluruh Indonesia (dan dunia...), akhirnya harus pulang juga. Nggak ada yang bisa memenangkan perasaan pulang tersebut. Rasa ini adalah rasa nomor satu setelah semua letih dan lelah jadi satu. Travelling lama-lama juga nggak asyik. Saya pernah merasakannya dan menjadi rinduuuuuu sekali dengan rumah. Yang saya inginkan hanyalah tidur di kasur butut saya yang bau, bantal saya yang kempes dan selimut tua saya yang baunya apek. Saya rindu rumah :)

    anyway, itu bolongnya jalanan kelihatan satu buah di foto yang atas. Hmm...saya nggak kebayang dech betapa ramainya jalanan sepi tersebut pada saat-saat musim mudik seperti ini yach. Hehehehe. Lampung sebenarnya indah, banyak perbukitan disana-sini, tapi beneran nggak dingin ya Mas? Durian Lampung masih terkenal nggak sich?

    BalasHapus
  2. yang keliatan bolong itu masih lubang kecil, di bagian lain masih ada lubang yang lebih besar dan dalam. sebenernya walaupun musim mudik jalanan ini juga nggak terlalu ramai karena orang-orang dari jawa masih belum banyak yang tau dengan jalanan ini, lagi pula karena sepi jadi bahan pertimbangan pula untuk lewat sini. jarak antar SPBU cukup jauh lho, gawat kalau fuel menipis. kebanyakan lebih memilih untuk lewat bandar lampung meskipun jalanan nggak terlalu bagus, macet sana-sini, dan jaraknya lebih jauh..

    walaupun banyak perbukitan disana-sini tapi rata-rata perbukitannya itu di dekat pantai jadi tetap saja terasa panas, nggak ada sejuk-sejuknya sama sekali..

    durian lampung? masih terkenal lah, sayangnya sekarang lagi nggak musim. biasanya musim durian ada di bulan januari-februari, jadi selama di lampung makannya cuma durian montong aja beli di toko buah.. hehehe..

    BalasHapus
  3. iya yah.. kalo menurutku, kok si mas waktu kedatangan masih naek pesawat, secara dari branti ke rumah e mas, jauuh banget gitu, mendingan juga naek kapal..

    BalasHapus
  4. soalnya tiket murah begitu menggodaku untuk terbang sampai ke lampung. lagipula yang jemput juga pas lagi ada keperluan ke bandar lampung jadi ya sekalian. sedangkan waktu pulangnya lewat bakauheni aja naik kapal, soalnya lebih deket. waktu tempuh kurang lebih satu jam dari rumah..

    BalasHapus