23 Oktober 2010

Melihat Pertunjukan Reog Ponorogo Di Tepus, Gunungkidul

Reog Ponorogo

Saat lebaran seperti ini, warga Gunungkidul merayakan hari lebaran untuk bersilaturahim dengan berbagai macam cara. Beberapa kegiatan yang saya lihat saat saya pulang dari Pantai Wediombo adalah warga merayakannya dengan mengadakan lomba seperti voli dan sepak bola. Tapi ada kegiatan yang lebih menarik perhatian saya saat lewat di Kecamatan Tepus. Saya melihat kerumunan warga dan juga mendengar suara gamelan khas seperti gamelan jathilan. Dengan penasaran saya berhenti untuk ikut melihatnya. Ternyata sumber suara yang dikerumuni oleh warga itu adalah pertunjukan Reog Ponorogo.

Pertunjukan Reog Ponorogo yang merupakan kesenian asli dari Ponorogo ini dilakukan di halaman salah seorang rumah warga. Area untuk pertunjukan sudah dikelilingi oleh pagar bambu agar pemain Reog tidak melewati batas pagar tersebut. Warga yang menonton acara ini juga sangat antusias, benar-benar sangat banyak. Dari yang dewasa sampai dengan yang anak-anak berhamburan datang untuk melihat.

Reog Ponorogo

Keunikan dari pertunjukan Reog Ponorogo adalah kesenian ini penuh dengan mistis. Pemain reog juga sangat kuat untuk mengangkat reog yang cukup besar itu, apalagi terkadang ditambah dengan beban orang yang naik ke kepala reog. Saat saya datang, para pemain sudah dalam kondisi kesurupan. Badannya kaku, tatapan matanya sangat tajam. Sambil mengunyah bunga mereka terus menari mengikuti irama gamelan. Sang pawang berkali-kali melepaskan cambukan kepada pemain. Tapi sepertinya tidak ada rasa sakit sama sekali akibat dari cambukan tersebut.

Tidak semua pemain mengalami kesurupan. Malah beberapa diantaranya menari dengan kocak untuk meledek para pemain lain yang sedang kesurupan. Beberapa kali musik yang sudah hampir memuncak diubah menjadi musik dangdut agar lebih santai. Lalu diubah lagi menjadi musik gamelan agar kembali sedikit tegang, begitu seterusnya.

Reog Ponorogo

Yang membuat saya terkesan adalah saat si pawang akan menyadarkan salah seorang pemain yang sedang kesurupan. Pemain tersebut dibungkus oleh kain batik seluruh badan seperti layaknya orang yang baru saja meninggal dunia. Lalu di pemain yang kesurupan diangkat beramai-ramai untuk kemudian dibacakan doa oleh si pawang. Tapi begitu doa dibaca pemain yang sudah kesurupan tadi bergerak memutar seperti halnya bambu gila sehingga orang-orang yang mengangkat tersungkur dan jatuh bersama-sama. Sementara itu yang kesurupan tetap saja dalam posisi diam dan kaku, tidak bergerak sama sekali.

Saat percobaan kedua dilakukan, hasilnya tetap sama saja. Pemain yang kesurupan memutar saat diangkat dan menjatuhkan dirinya sendiri dan orang-orang yang mengangkatnya. Proses menyadarkan pemain yang kesurupan kembali dilakukan. Dengan usaha ekstra akhirnya si pawang berhasil menyadarkan meskipun yang kesurupan tersebut harus dicambuk beberapa kali sebelum dibacakan doa. Saat dibacakan doa terlihat pemain yang kesurupan tadi badannya bergetar dengan hebat. Setelah sadar, pemain tersebut langsung memuntahkan isi perutnya yang baru saja dia makan yaitu hasil dari memakan bunga.

Reog Ponorogo

Sambil menonton saya sempat ngobrol dengan warga sekitar. Katanya di Tepus masih sangat sering diadakan pertunjukan reog ini. Pertunjukan lain seperti karawitan juga maish sering diadakan. Warga juga selalu menyambut dengan antusias pertunjukan kesenian-kesenian daerah seperti ini. Syukurlah kalau masih ada yang peduli dengan kesenian daerah jadi kesenian seperti ini tidak habis ditelan jaman. Bayangkan saja, di kota sudah sangat sulit untuk menemukan kesenian daerah seperti reog. Kalaupun ada biasanya hanya untuk menyambut tamu-tamu negara ataupun turis asing. Dengan begini sih wajar aja kalau ada negara lain yang mengklaim, lha wong yang punya nggak pernah peduli. Tapi kalau diklaim negara lain baru merasa punya.

Tidak terasa pemain yang kesurupan sudah disadarkan satu persatu. Reog juga sudah ditarik keluar arena. Reog ini diangkat oleh tiga orang tapi mereka masih terlihat keberatan. Yah berarti pertunjukan sudah selesai karena mereka sudah berberes. Lagipula hari sudah sore dan langit juga kembali mendung. Saya harus segera pulang ke Jogja dengan harapan tidak kehujanan di jalan. Dengan demikian berakhirlah trip saya mengelilingi pantai-pantai di Gunungkidul, Yogyakarta.

Reog Ponorogo



15 komentar:

  1. KALAU SAYA ,BELUM PERNAH MELIHAT LANGSUNG PERTUNJUKAN REOG PONOROGO, PALING DI TELEVISI SAJA.... KARENA MEMANG SAYA BUKAN ORANG PONOROGO...!!! kEREN PHOTO2NYA MAS SUKSES SELALU

    BalasHapus
  2. menonton reog ponorogo nggak harus selalu datang ke ponorogo. saya ini nonton saat lewat di kecamatan tepus, kabupaten gunungkidul, salah satu kabupaten yang masih manjadi bagia dari yogyakarta..

    BalasHapus
  3. Reog memang kesenian penuh dengan mistis

    BalasHapus
  4. salam sobat
    wah meriah sekali , kalau melihat reyog di Tepus.
    jadi ingat masa kecl nonton jatilan seperti reyog ini.

    BalasHapus
  5. mantab bro... dapat moment pertunjukan reog ponorogo jg tho di gnkidul, beruntung bgt

    BalasHapus
  6. @anak nelayan: memang benar, terimakasih udah mau mampir..

    @mila: wah lagi begadang neh kayaknya :p

    @nura: dulu saya juga sering liat jathilan di kampung saya, tapi sekarang sepertinya sudah amat sangat jarang sekali..

    @pemburu: iya bro, pas banget momennya.. ;)

    BalasHapus
  7. aku pny temen dari ponorogo, tp dia nggak bisa main reog..hahaha

    BalasHapus
  8. Iyah Mas Tri. Setuju. Hendaknya, kesenian daerah apapun wujudnya, dilestarikan agar menjadi kebiasaan sehari-hari. Jadi, pada saat diklaim orang lain, kita nggak kebakaran jenggot. Masalahnya, bagaimana menumbuhkan rasa itu pada anak-anak kita untuk bisa mendalami dan belajar kesenian daerah tanpa harus terpaksa? :D

    BalasHapus
  9. @tunsa: meskipun orang ponorogo juga kan nggak harus bisa main reog tho? saya sendiri dari lampung dulu pernah belajar bikin kain tapis tapi nggak bisa-bisa..

    @lomar dasika: jujur aja ya mas, saya sendiri agak kesulitan kalau untuk langsung melestarikan sebagai pekerja seni ataupun budaya. seni apapun itu bentuknya, saya tidak suka melakukannya tapi saya suka menikmatinya.. gimana dong? hehehe..

    BalasHapus
  10. hehehe...harus ada yang melakukan dengan hati dan berdedikasi untuk itu. Untungnya, Tuhan memang maha adil. Nggak semua orang diciptakan sebagai petani, pelaut, ataupun guru saja. Ada yang jadi presiden, ada yang jadi tentara, ada yang jadi blogger *hihihi*, ada yang jadi pedagang bakso, dan tentunya, ada yang jadi penari dan melestarikan kebudayaan lokal :)

    BalasHapus
  11. yang pasti, kalo ada yang melestarikan juga harus ada yang menikmati seperti kita-kita ini.. hahaha

    BalasHapus