6 November 2010

Candi Sukuh, Candi Yang Agak "Vulgar"!!

Candi Sukuh

Sesampainya saya di Candi Sukuh cuaca sudah semakin mendung. Tapi nggak apa-apalah, show must go on!! Loh apa ya maksudnya? Hehe.. Loket pembelian tiket masuk ke Candi Sukuh ini agak aneh, berada berseberangan jalan dengan pintu masuk candinya. Banyak pengunjung yang nggak tau kalau disitu adalah tempat pembayaran tiketnya. Sebagian pengunjung langsung nyelonong masuk aja. Meskipun begitu akhirnya ada juga petugas yang teriak-teriak menyuruh pengunjung untuk membayar tiket masuk terlebih dahulu. Tiket masuk Candi Sukuh murah kok, sama dengan tiket masuk Candi Cetho yang cuma 2.500 perak.

Candi Sukuh ini secara administratif berada di Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Kompleks candi yang dibangun pada abad 15 M semasa pemerintahan Suhita yang merupakan Ratu Majapahit ini berada di tempat yang lebih rendah daripada Candi Cetho. Candi Sukuh hanya berada pada ketinggian 910 meter dpl. Udara disini cukup sejuk dan tidak sedingin saat berada di Candi Cetho.

Candi Sukuh

Sama seperti Candi Cetho, Candi Sukuh juga mempunyai sususan halaman yang berteras-teras. Kalau Candi Cetho memiliki 13 teras, halaman Candi Sukuh hanya terdiri dari 3 teras saja. Ketiga teras tersebut melambangkan kesempurnaan yang harus dicapai oleh seorang manusia untuk mencapai nirwana.

Tidak jauh dari pintu masuk merupakan bangunan pada teras pertama yang merupakan teras paling bawah. Pada teras ini terdapat gapura masuk yang berbentuk paduraksa. Katanya sih pada halaman ini mengingatkan bahwa hidup tidak mudah, kesulitan dalam hidup disebabkan oleh melekatnya mala pada diri manusia. Yang unik pada gapura ini terdapat relief berbentuk alat kelamin pria dan wanita yang saling berhadapan. *Jangan ngeres ya, lagi belajar sejarah ini!!* :D

Candi Sukuh

Masuk ke halaman dua merupakan halaman yang semi sakral. Pada halaman kedua ini pengunjung disadarkan untuk menghilangkan kesulitan dalam hidup dengan melakukan acara penyucian dengan menggunakan air suci atau amrta. Pada teras ini terdapa relief pande besi yang menyombolkan bahwa pada masyarakat Jawa kuno, golongan ini memiliki kekuatan magis yang dapat memberikan air suci.

Selanjutnya masuk ke halaman ketiga yang terletak pada posisi tertinggi merupakan halaman sakral letak dimana candi utama berada. Memasuki halaman ini para pengunjung diibaratkan sudah mencapai kesempurnaan hidup atau terbebas dari mala. Suasana pembebasan ini disimbolkan oleh relief Sudhamala. Bentuk candi utamanya sendiri cukup mirip dengan bentuk candi utama pada Candi Cetho, menyerupai limas yang atasnya rata. Pengunjung bisa naik ke atas candi utama dengan melewati pintu dan tangga yang sangat curam dan sempit. Tidak bisa tidak, untuk melewati tangga tidak bisa berpapasan antara yang naik dan yang turun, harus lewat satu per satu.

Candi Sukuh

Di depan candi utama terdapat juga sebuah relief kura-kura, lagi-lagi seperti halnya yang ada di Candi Cetho. Hal lain yang mengejutkan saya di depan candi utama ini juga terdapat arca seorang pria yang sangat jelas memamerkan alat kelaminnya. Saya nggak tau kenapa di candi ini banyak terdapat arca ataupun relief yang cukup vulgar. Ntah lah ini sebagai simbol apa, karena biasanya untuk candi yang bercorak Buddha untuk menyimbolkan pria dan wanita disimbolkan dengan bentuk lingga dan yoni. Bedanya lingga dan yoni bentukanya tidak se-vulgar seperti yang ada di Candi Sukuh.

Foto arca ataupun relief yang vulgar tidak bisa saya tampilkan karena terkena sensor oleh photobucket saya. Karena disensor berarti benar-benar tidak layak untuk ditampilkan meskipun hanya berupa arca ataupun relief. Jadi kalau penasaran mendingan langsung dateng saja ke Candi Sukuh. Hehehe..

Menurut saya yang membedakan Candi Sukuh dengan candi-candi Hindu lain yang ada di Pulau Jawa adalah corak reliefnya. Reliefnya tidak halaus seperti di Candi Prambanan. Reliefnya tergolong dalam dan sangat jelas. Relief manusia, bintang, dan tumbuhan digambarkan sangat jelas disini dengan ukuran yang besar-besar.

Candi Sukuh

Lagi-lagi saya mendapatkan banyak ilmu dan informasi dari perjalanan saya kali ini. Sesuatu hal yang unik kembali saya temukan. Sungguh luar biasa kekayaan budaya bangsa kita. Saya merasa sangat beruntung lahir di negara antah berantah seperti Indonesia karena disini saya bisa menikmati keindahan dan keunikan yang tidak bisa dilihat di negara lain.

Akhirnya selesai juga liburan saya di Jogja dan Jawa Tengah. Saat akan pulang ke Surabaya sekitar Candi Sukuh sudah dikepung gerombolan awan hitam. Tidak lama kemudian hujan turun sangat deras. Perjalanan saya tunda terlebih dahulu sampai hujan sedikit reda. Saya tidak cukup tahan dingin kalau harus hujan-hujanan di pegunungan seperti ini meskipun dengan menggunakan jas hujan sekalipun. Perjalanan pulang sama dengan seperti saat berangkat dengan melewati rute Tawangmangu-Cemoro Kandang-Cemoro Sewu-Sarangan-Magetan-Madiun-Surabaya. Alhamdulillah jam 7 malem saya sudah sampai di Surabaya meskipun terjadi kemacetan parah di daerah Caruban. Keesokan harinya saya sudah beraktifitas seperti biasa. Kuliah.. Kuliah.. Kuliahhh..!!

Candi Sukuh


10 komentar:

  1. Hahaha gak ngeres itu emang wajar kok, klo orang berpikir ngeres..

    BalasHapus
  2. hiya wajar mas, khusus untuk dewasa :D

    BalasHapus
  3. Kecil ya ternyata candi2ne..
    ditunggu postingan berikutnya lho :)

    BalasHapus
  4. iya mbak nita, candinya memang kecil.. tapi udaranya itu loh yang ueenaakk.. sejuk banget disini.. jangan dibandingin sama borobudur atau prambanan loh candinya, karena bakal kalah jauh..

    BalasHapus
  5. hiya wajar mas, khusus untuk dewasa :D

    BalasHapus
  6.  "Sungguh luar biasa kekayaan budaya bangsa kita. Saya merasa sangat beruntung lahir di negara antah berantah seperti Indonesia karena disini saya bisa menikmati keindahan dan keunikan yang tidak bisa dilihat di negara lain" sy stuju kt2nya mas tri ini.... nia juga bangga dngn Indonesia, tinggal skrng siap2 generasi muda utk membuat bangsa ini lebih maju dan mnjd negara kebanggan ...klo qt sama2 bergerak insyaAllah bisa...mulai dari diri qt sendiri...smangaaattt... ilove Indonesia ^_^

    BalasHapus
  7. maka berbanggalah kita pada leluhur kita bangsa indonesia warisan budayanya tak tertandingi.........kenapa kita boro boro membanggakan budaya bangsa lain sementara kita telah diwariskan budaya adiluhung tak ternilai

    BalasHapus