Bebek Sinjay, Nasi Bebek Paling Enak di Madura

Paduan bebek goreng yang gurih dan empuk, serta sambal mangga yang khas membuat siapapun ketagihan Nasi Bebek Sinjay di Bangkalan.

Serabi Notosuman Nyonya Handayani Solo

Jalan-jalan ke Kota Solo rugi banget kalau nggak mencicipi Serabi Notosuman yang bertekstur lembut dan manis. Enak sekali!!

Lontong Balap Garuda Pak Gendut

Makanan khas Surabaya yang masih mudah ditemui adalah lontong balap. Salah satu yang direkomendasikan adalah warung Pak Gendut.

Gudeg Mbarek Bu Hj. Amad Jogja

Jogja adalah kota gudeg dimana di setiap penjuru kota kita dapat menemukan gudeg dengan mudah, salah satunya gudeg Bu Hj. Amad.

Nasi Bakar Rendang Sapi Gotri Resto

Gotri, resto di Surabaya menawarkan berbagai menu yang enak dengan harga terjangkau. Menu andalannya nasi bakar rendang sapi.

Pecel Nyamleng Gayeng Mayjen Sungkono

Nasi pecel adalah makanan khas Jawa Timur yang banyak tersebar di Surabaya umumnya dimakan saat sarapan atau makan siang.

Lezatnya Sop Ayam Pak Min Khas Klaten

Pak Min sepertinya cukup sukses membuka banyak cabang warung sop ayam di Klaten, Solo, dan Jogja. Rasa sop ayamnya memang nikmat.

31 Agustus 2010

Rumah Panggung Dari Lampung

Rumah Panggung Dari Lampung

Jika berjalan 10 Km dari rumah saya ke arah Sribhawono atau lebih tepatnya di Desa Adat Wana akan banyak ditemui deretan rumah-rumah yang berbentuk panggung, ya inilah rumah asli penduduk Lampung. Jika ditemukan rumah-rumah seperti itu sudah dapat dipastikan daerah tersebut adalah daerah perkampungan warga pribumi. Di Kecamatan Jabung juga dapat dengan mudah ditemui rumah-rumah seperti ini karena hampir sebagian besar warga masih menggunakan rumah panggung.

Rumah panggung biasanya cukup besar, memiliki tiang, dan sebagian besar bahan bangunannya terbuat dari kayu. Karena sudah terpengaruh oleh perkembangan jaman, banyak juga rumah panggung yang sudah tidak menggunakan kayu sebagai bahan bangunan utamanya, melainkan menggunakan batu bata seperti rumah-rumah modern yang ada saat ini tapi bentuknya tetap rumah panggung.

Sebenarnya bentuk-bentuk rumah panggung antar daerah di Lampung itu berbeda-beda dan beraneka ragam. Dari perbedaan bentuk dan ukuran rumah panggung itu dapat dilihat status sosial yang dimiliki oleh pemilik rumah. Sayangnya saya nggak tau persis bagian dalam rumah panggung itu seperti apa.

Rumah Panggung Dari Lampung

30 Agustus 2010

Ke Pelosok Metro Kibang

Ke Pelosok Metro Kibang

Baru semalam saya berada di rumah, keesokan harinya saya diajak om saya ke Metro Kibang untuk menghadiri undangan launching produk traktor terbaru dari sebuah distributor. Nggak pake mikir lama, saya terima ajakan tersebut. Walaupun bukan ke tempat wisata tapi paling nggak saya nggak akan merasa bosan di rumah. Nah meskipun Metro Kibang adalah termasuk daerah Metro tapi bukan Metro kota melainkan berada di pelosok yang bisa dikatakan lebih pelosok dari kampung saya. Dari rumah kami menuju ke arah Sukadana dengan jalanan yang relatif bagus, setelah itu menuju arah Metro, dan sebelum sampai di Metro kami belok kiri menuju daerah tersebut dengan jalanan yang sangat parah seperti layaknya off road. Saya baru sekali ini ke daerah ini dan sepertinya kalau saya sendiri kesini bakal nggak bisa keluar karena nyasar. Hehe..

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam dengan tanya sana-sini, kami tiba di lokasi. Ternyata lokasi launching produknya adalah di sebuah ladang milik warga, padahal tadinya yang ada dibayangan saya adalah di sebuah gedung ataupun hotel berbintang seperti undangan salah satu produk lain yang menjadi saingan dari produk yang di-launching ini. Ternyata saat launching ini sekalian bisa ngetest, pantes aja di ladang.

Ke Pelosok Metro Kibang

Ke Pelosok Metro Kibang

Yah di Lampung ini memang lahan pertanian masih begitu luas, jadi prospek untuk bisnis alat-alat pertanian masih cukup cerah. Tidak hanya petani-petani saja yang menyewa alat-alat seperti ini, karena banyak perusahaan-perusahaan yang ada seperti PT Perkebunan Nusantara juga lebih memilih untuk menyewa daripada membeli sendiri.

Setelah selesai mendengarkan penjelasan-penjelasan dari pihak distributor yang sangat membosankan dan tidak mendapatkan tawaran harga yang bagus untuk produk ini, kami akhirnya pulang. Produk dan sistem pembayaran yang ditawarkan sangat mahal, bisa 2-3 kali lipat dari harga kompetitor yang sudah keluarga saya miliki. Jadi nggak pakai berpikir lama lebih baik mengambil lagi produk dari kompetitor.

Saat menuju mobil baru saya amati ternyata pemandangan di ladang ini lumayan bagus juga. Terhampar luas kebun singkong yang belum terlalu tinggi dengan langit yang membiru meksipun cuaca saat itu cukup panas. Saat pulang kami masih melalui jalan sama dengan saat berangkat tadi, melewati sawah-sawah dengan tanaman padi yang menghijau yang banyak terdapat di daerah Metro.

Ke Pelosok Metro Kibang

Ke Pelosok Metro Kibang

Sesampainya di daerah Labuhan Ratu atau mungkin lebih dikenal sebagai tempat masuk untuk menuju Taman Nasional Way Kambas, kami mampir dulu untuk menengok salah satu traktor yang kerja di sekitar area Taman Nasional Way Kambas. Tapi kali ini saya nggak akan menuju TNWK meskipun jarak untuk menuju TNWK sudah sangat dekat karena sudah terlalu sore. Menurut sopir traktor, mereka sering kali didatangi beberapa ekor gajah liar saat sedang membajak lahan milik warga. Mungkin gajah-gajah tersebut merasa terganggu atau tertarik (?) dengan adanya alat berat tersebut.

Begitu urusan selesai kami melanjutkan perjalanan pulang ke rumah, tapi sebelumnya mampir dulu ke rumah makan yang ada di daerah Curug-Sribhawono. Di depan rumah makan saya melihat sebuah mobil yang unik yaitu sebuah truck yang mengangkut beton jembatan, dan uniknya beton jembatan yang dibawa tersebut lebih mirip seperti badan mobil daripada sebuah muatan.

Ke Pelosok Metro Kibang

29 Agustus 2010

Sweet Home Mumbang Jaya

Sweet Home Mumbang Jaya

Setelah menempuh perjalanan selama seharian dari Surabaya, akhirnya saya sampai di rumah yang ada di kampung halaman saya. Di rumah sederhana milik orang tua saya ini hanya ditempati oleh ibu dan ayah saya saja karena kakak pertama saya sudah mempunyai rumah sendiri yang juga berada di kampung ini, sedangkan kakak kedua saya ikut suaminya tinggal di Jogja.

Saya sendiri tinggal di rumah ini hanya sampai SD saja karena saya sudah meninggalkan kampung ini setelah masuk SMP. Saat SMP saya tinggal bersama om dan bulek saya di tempat yang juga termasuk pedalaman yaitu di kebun tebu PT Gula Putih Mataram atau sekarang lebih dikenal dengan Sugar Group Company, sebuah perusahaan yang memproduksi produk "Gulaku" yang banyak terdapat di pasar swalayan atau super market. Saat SMA saya sekolah di Jogja sebagai anak kost, dan sekarang kuliah di Surabaya. Sejak menjadi anak kost itulah saya jadi jarang pulang ke rumah karena memang jaraknya yang cukup jauh. Paling cepat pulang setahun sekali, itu kalo nggak males. Hehe..

Kampung saya ini terletak di Desa Mumbang Jaya, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur. Di tempat ini pula saya dilahirkan. Mungkin nggak banyak orang yang tau daerah ini karena memang tempatnya jauh dari kota. Jarak dengan kota kabupaten saja sekitar 60 Km. Nggak ada yang istimewa juga dari tempat ini karena nggak ada tempat wisata. Tempat wisata yang paling dekat adalah di pantai-pantai yang ada di Lampung Selatan yang bisa ditempuh dalam waktu 1 jam perjalanan dengan motor atau mobil. Yang paling terkenal dari Jabung adalah begal alias perampokan sepeda motor di jalanan. Aksi seperti ini sudah sangat umum terjadi disini, jadi mesti sangat berhati-hati kalau naik motor di daerah Jabung dan sekitarnya.

Meskipun berada di Lampung, tapi sebagian besar warga Desa Mumbang Jaya adalah orang Jawa. Hanya ada beberapa keluarga saja yang merupakan penduduk pribumi. Sedangkan warga pribumi kebanyakan bermukim di Kecamatan Jabung yang berjarak 10 Km dari desa saya ini. Kalau berada di Kecamatan Jabung akan sangat sulit menemui orang Jawa. Sorry bukan bermaksud SARA, kebanyakan orang-orang pribumi yang ada di sekitar sini rata-rata reseh (meskipun nggak semua). Misalnya saja kita tanpa sengaja menabrak anjing di jalanan, harga denda untuk anjing tersebut bisa menjadi 2-3 kali harga kambing. Jadi mesti ekstra hati-hati kalau melintasi daerah tempat bermukimnya warga pribumi ini. Kalau di kampung saya sih aman-aman saja.

Ya meskipun dengan segala keburukannya saya tetap cinta dengan kampung ini, walaupun saya nggak ada rencana untuk tinggal menetap disini. Jogja masih menjadi tempat idaman saya nanti. :D

28 Agustus 2010

Dari Bandara Ke Rumah Masih 3 Jam Lagi!!

Dari Bandara Ke Rumah Masih 3 Jam Lagi!!

Waktu sudah semakin sore, saya dijemput oleh Om dan Ibu saya di bandara. Saya masih akan melanjutkan perjalanan menuju rumah di kampung halaman saya kurang lebih 2 sampai 3 jam lagi. Karena saya juga sudah merasa lapar jadi kami mampir terlebih dahulu di sebuah Rumah Makan Padang yang ada di jalan raya dari bandara menuju kota. Di sepanjang jalan ini sampai dengan di ujung yaitu di Pelabuhan Bakauheni, hampir 90% rumah makan yang ada adalah Rumah Makan Padang. Sepertinya Padang dengan rumah makannya cukup sukses menjelajah nusantara, karena di setiap kota pasti ada.

Rumah Makan Padang yang ada di Lampung ini hampir semuanya besar-besar dan terlihat mewah dengan tempat parkir yang luas, bahkan untuk puluhan bus sekalipun. Padahal di dalamnya biasa aja dan harganya masih cukup reasonable kok karena memang biasanya tempat-tempat makan ini untuk disinggahi oleh kendaraan-kendaraan lintas Sumatera menuju Palembang, Bengkulu, Jambi, dan kota-kota lainnya.

Dari Bandara Ke Rumah Masih 3 Jam Lagi!!

Setelah selesai makan kami melanjutkan perjalanan menuju ke rumah. Buat yang penasaran, kampung saya itu terletak di pelosok Lampung. Tepatnya ada di sebuah desa di Kabupaten Lampung Timur. Mungkin sebagian orang akan lebih mengenal Taman Nasional Way Kambas daripada Lampung Timur, seperti orang bule yang lebih mengenal Bali daripada Indonesia.

Kampung saya tersebut berjarak kurang lebih 100 Km dari Bandar Lampung, bisa ditempuh dalam waktu 2 jam kalau lancar. Dari bandara kami menuju ke arah Terminal Rajabasa, selanjutnya tidak menuju ke Bandar Lampung melainkan menuju ke arah Panjang atau Pelabuhan Bakauheni. Dari Panjang lalu menuju ke arah Sribhawono. Jalanan dari panjang ke Sribhawono ini hanya lurus saja tidak berbelok-belok sepanjang 70 Km. Lalu setelah mentok sampai di pertigaan simpang Sribhawono selanjutnya belok kanan, karena kalau belok kiri menuju ke arah Taman Nasional Way Kambas ataupun Sukadana (Kota Kabupaten Lampung Timur).

Dari Sribhawono ke rumah saya masih harus menempuh jarak 30 Km. Jalanan cukup bagus dan bisa ditempuh dalam waktu 45 menit saja. Sepanjang perjalanan saya cuma tidur karena sudah lelah dan mengantuk, lagipula saat itu hujan deras. Sesampainya di rumah saya juga langsung mandi dan tidur....

27 Agustus 2010

Selamat Datang Di Bandara Radin Intan II-Bandar Lampung!!

Bandara Radin Intan II-Bandar Lampung

Setelah 30 menit terbang dari Jakarta, sampailah saya di Bandara Radin Intan II Bandar Lampung. Ini adalah satu-satunya bandara yang terdapat di Lampung. Jangan membayangkan Bandara Radin Intan II di Lampung ini seperti Bandara Juanda di Surabaya ataupun Bandara Sultan Hasanudin di Makassar, karena Bandara Radin Intan II adalah bandara yang kecil dan sangat sederhana.

Bandara Radin Intan II tidak terlalu ramai, cukup sepi malahan menurut saya. Hanya ada 8 sampai 9 penerbangan setiap hari yang dilayani oleh 3 maskapai. Sriwijaya Air memiliki penerbangan paling banyak yaitu 4 kali sehari menuju Jakarta, Garuda Indonesia memiliki 3 penerbangan sehari ke Jakarta, sedangkan Batavia Air hanya memiliki 1 penerbangan perhari juga dengan tujuan Jakarta. Kalau saya tidak salah selain menuju Jakarta, Batavia juga membuka penerbangan dari Lampung ke Batam 3 kali seminggu.

Bandara Radin Intan II-Bandar Lampung

Apron untuk menampung pesawat disini juga cukup sempit. Apron hanya dapat menampung maksimal 3 pesawat Boeing 737. Disini tidak ada push back car sehingga kalau mau berangkat, pesawat langsung maju dan belok kanan menuju ke runway. Bandara Radin Intan II juga tidak menyediakan pengisian bahan bakar untuk pesawat, jadi pengisian bahan bakar sudah dilakukan saat di Jakarta ataupun kota asal pesawat yang akan ke Lampung. Sudah dapat dipastikan, garbarata juga tidak tersedia disini.

Begitu masuk ke terminal kedatangan, kita tidak perlu berputar-putar dan berjalan jauh seperti di bandara-bandara besar untuk menuju tempat pengambilan bagasi karena saat kita masuk ke terminal kedatangan, disitulah tempat pengambilan bagasi berada. Di ruangan yang cukup sempit tersebut para penumpang menunggu bagasinya. Saya jamin kalau ada dua penerbangan yang landing dengan waktu yang hampir bersamaan pasti ruangan ini menjadi sangat penuh dan sesak. Di ruangan ini pula tempat pemesanan taksi untuk menuju ke kota. Yang cukup unik adalah pada tiang-tiang bangunan yang ada memiliki ukiran-ukiran khas Lampung.

Bandara Radin Intan II-Bandar Lampung

Di bagian luar bandara juga cukup sepi, hanya ada beberapa sales counter beberapa maskapai saja. Kios-kios makanan tidak akan ditemukan disini, hanya ada kios yang berjualan minuman saja. Di bagian atas terminal keberangkatan juga terdapat waving gallery. Karena jemputan saya belum datang jadi saya naik dulu ke waving gallery. Tidak seperti waving gallery di Bandara Soekarno-Hatta yang dihalangi oleh kawat-kawat, atau waving gallery di Bandara Adisucipto yang dihalangi oleh kaca, disini tidak ada penghalang apapun. Kita berada sangat dekat dengan pesawat. Bahkan Saat pesawat Sriwijaya yang baru saja saya naiki akan kembali ke Jakarta, jet blast-nya sangat terasa dari tempat ini.

Bandara Radin Intan II-Bandar Lampung

Bandara Radin Intan II-Bandar Lampung

Setelah pesawat Sriwijaya yang baru mengantar saya ke Lampung tersebut kembali ke Jakarta, jemputan saya sudah sampai di depan. Saya masih harus menempuh perjalanan darat 2-3 jam untuk sampai di rumah.

26 Agustus 2010

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Karena waktu sudah mendekati jadwal penerbangan saya ke Lampung, saya memutuskan untuk masuk ruang check in. Ruang check cukup ramai penumpang tapi kebanyakan penumpang-penumpang tersebut adalah penumpang Batavia Air, sedangkan penumpang Sriwijaya tidak terlalu banyak sehingga antriannya tidak sampai mengular.

Meskipun saat itu di LCD yang ada di depan check in counter belum ada tujuan ke Lampung, yang artinya check in untuk tujuan ke Lampung belum dibuka tapi seorang security Sriwijaya Air memberi info bahwa saya bisa check in di counter mana saja. Check in berjalan dengan lancar karena tidak ada antrian yang berarti. Saat check in ini saya meminta tempat duduk nomor 21F dengan harapan saya nanti bisa mengambil foto Bandara Soekarno-Hatta dari atas.

Flight Detail:
Date: August 04, 2010
Airline: Sriwijaya Air
Flight No: SJ-098
Route: Jakarta (CGK)-Lampung (TKG)
Departure Time: 15.30 (scheduled), 15.50 (actual)
Arrival Time: 16.10 (scheduled), 16.30 (actual)
Aircraft: Boeing 737-284 Adv
Registration: PK-CJF
Class: Economy
Seat: 21F
Site: http://www.sriwijayaair.co.id/

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Segera setelah urusan check in selesai saya menuju ruang tunggu yang ada di lantai dua setelah sebelumnya membayar airport tax sebesar 40 ribu. Seperti yang sudah saya katakan pada postingan sebelumnya, terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta ini terlihat gelap. Pencahayaan di terminal ini sangat kurang, sehingga ruangan terlihat kusam, kuno, dan angker.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Dalam boarding pass saya tertera ruang tunggu untuk tujuan Bandar Lampung adalah di Gate B6. Saat melintasi Gate B7 saya melihat di LCD Gate B7 tertera tujuan Bandar Lampung. Nah disini saya agak bingung karena di boarding pass tertera Gate B6 tapi di LCD tertera Gate B7. Karena saya melintasi Gate B7 terlebih dahulu jadi saya menuju ke ruang tunggu Gate B7. Setelah saya tanya ke petugas jaga Gate B7, ternyata tujuan Bandar Lampung berada di Gate B6 sesuai dengan boarding pass. Perbedaan antara gate di boarding pass dengan di layar LCD ini sudah umum terjadi di Bandara Soekarno-Hatta baik di terminal 1 maupun terminal 2, jadi harap maklum. Saran saya jika terjadi perbedaan seperti ini ikuti saya sesuai dengan yang ada dalam boarding pass.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Akhirnya saya menuju ruang tunggu Gate B6. Sampai disana saya melapor kepada petugas yang jaga di Gate B6 lalu petugas memberikan sebuah kotak yang berisi snack dan air mineral. Disini terlihat Sriwijaya konsisten membidik pasar kelas menengah. Terbukti dengan penerbangan dengan rute pendek, mereka tetep memberikan snack yang tidak asal-asalan. Kotak yang saya terima tersebut berisi dua potong roti isi daging dan coklat serta segelas air mineral.

Penerbangan ke Lampung memang sangat singkat, hanya sekitar 25 menit jadi para pramugari tidak akan sempat untuk membagikan makanan di atas nanti. Karena itu makanan sudah dibagikan saat masih berada di ruang tunggu. Saya rasa ini adalah keputusan yang tepat diambil oleh Sriwijaya, karena dulu sewaktu terbang dengan Batavia dengan rute yang sama, saat itu cabin crew sangat terburu-buru saat membagikan sepotong roti tanpa rasa dan segelas air mineral. Saat proses pembagian makanan belum selesai, kapten penerbangan sudah menginstruksikan untuk landing, membuat cabin crew benar-benar berkeringat.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sekedar informasi, Sriwijaya cukup dominan untuk rute pendek Jakarta-Lampung. Sriwijaya memiliki 4 kali penerbangan dalam sehari untuk rute tersebut. Selain Sriwijaya ada juga Garuda dan Batavia yang melayani rute ini. Garuda memiliki 3 penerbagan dalam sehari, sedangkan Batavia hanya 1 kali penerbangan sehari. Sebelumnya juga ada Merpati, tapi nggak tau kenapa maskapai ini menghilang dari persaingan rute Jakarta-Lampung. Saya berharap mudah-mudahan Wings Air dengan pesawat ATR 72-500 bisa meramaikan rute ini.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Setelah lama menunggu, jam sudah menunjukkan pukul 15.30. Akhirnya tiba juga waktu untuk boarding. Boarding berjalan dengan lancar, saya memang sengaja untuk boarding belakangan. Saya sempatkan mengambil beberapa foto pesawat yang terparkir di sekitar area GMF saat berjalan menuju pesawat.

Saat saya melihat pesawat yang akan membawa saya ke Lampung, saya tersenyum bahagia karena pesawat yang digunakan adalah Boeing 737-200. Sebenarnya inilah tujuan utama saya menggunakan jasa Sriwijaya Air. Saya masih ingin menikmati kembali naik pesawat yang sudah semakin langka menghiasi langit dunia ini. Suara menggelegar mesin Pratt & Whitney JT8D juga sudah jarang terdengar. Bisa jadi ini adalah terakhir kalinya saya naik Boeing 737-200 sebelum pesawat ini dipensiunkan.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Ternyata pesawat yang akan saya naiki adalah Boeing 737-200 PK-CJF dengan nama "Megah". Di sebelahnya terdapat pesawat Airbus A320 milik Batavia yang akan menuju ke Medan. Perlu diketahui, Sriwijaya memberikan nama-nama yang bagus kepada setiap pesawatnya. Nama-nama tersebut biasanya diletakkan di dekat hidung pesawat. Boeing 737-200 PK-CJF ini dibuat pada tahun 1980, jadi usianya sekarang adalah sekitar 30 tahun. Usia yang sudah sangat tua untuk ukuran pesawat. Mungkin sebentar lagi pesawat ini akan memasuki masa pensiun.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Karena tempat duduk saya ada di belakang jadi saya juga boarding melalui pintu belakang dengan disambut oleh dua orang pramugari yang cantik-cantik. Saat proses boarding sedang berlangsung, pramugari memberikan permen dan koran untuk penumpang meskipun tidak semua penumpang mendapatkan koran.

Interior yang ada di pesawat ini cukup terawat meskipun terlihat tua. Tapi yang cukup menyiksa adalah jarak antar tempat duduknya sangat sempit. Ini berbeda dengan saat saya naik Sriwijaya tahun lalu, ruang untuk kaki terasa lebih lebar. Di pesawat ini kaki saya sangat mentok, sangat tidak nyaman untuk saya yang bertinggi badan 180 cm. Untung saja penerbangannya hanya sebentar.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Setelah semua penumpang masuk ke dalam pesawat, pintu pesawat ditutup dan pesawat push back. Selanjutnya pesawat bergerak menuju runway 07R. Pesawat yang saya naiki sempat berpapasan dengan pesawat lain saat taxi ini, yang tertangkap kamera saya adalah Boeing 737-300 milik Citilink.

Pesawat melewati GMF sama seperti pesawat Mandala yang saya naik tadi pagi dari Surabaya. Ternyata tiga pesawat Boeing 747 yang saya lihat tadi pagi adalah Boeing 747 freighter alias kargo, untuk maskapainya saya masih belum tau. Rongsokan DC-10 Garuda Indonesia juga terlihat dengan jelas saat pesawat menuju runway 07R ini.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Saat pesawat sampai di ujung runway 07R, pesawat harus antri terlebih dahulu karena ada beberapa pesawat Batavia yang landing secara berurutan. Setelah runway clear, barulah pesawat memasuki runway. Deru mesin JT8D semakin menggelegar, karena mungkin juga pesawat tua jadi getaran dalam kabin sangat terasa. Pesawat mulai meluncur dengan kecepatan tinggi dengan getaran kabin yang luar biasa. Akhirnya pesawat take off dengan mulus. Setelah airborne lalu pesawat belok kanan, memutar 180 derajat sehingga sejajar dengan runway yang baru saja digunakan untuk take off. Dan ini adalah saat yang saya nanti dimana saya dapat mengambil foto Bandara Soekarno-Hatta dari atas yang sudah lama saya idamkan. Sayangnya langit di Jakarta sering berkabut yang sepertinya karena polusi sehingga foto yang dihasilkan kurang jernih.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Di kantong kursi pesawat Sriwijaya ini hanya ada safety card dan inflight shop saja. Tidak ada inflight magazine mungkin sebagai penghematan. Dalam penerbangan ini juga tidak ada pramugari yang berjualan karena waktunya mepet, jadi kalau ada barang yang mau dibeli langsung panggil pramugarinya saja.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Cuaca pada penerbangan kali ini cukup bagus, tidak ada guncangan yang berarti. Pesawat terbang pada ketinggian yang cukup rendah, hanya 12.500 kaki di atas permukaan laut. Baru beberapa menit terbang, pesawat sudah memasuki wilayah Lampung. Karena terbang rendah jadi pemandangan yang ada di bawah bisa terlihat. Terlihat sungai-sungai besar yang berkelok-kelok, banyak lahan yang masih bersih dari bangunan yang di dominasi oleh sawah-sawah, dan saat mendekati Bandara Radin Intan II yang terlihat di bawah adalah perkebunan karet.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Rute yang sangat pendek membuat penerbangan ke Lampung sangat tidak terasa. Baru 20 menit terbang, kapten sudah menginstruksikan kepada pramugari untuk bersiap landing. Kali ini pesawat akan landing dari runway 32 Bandara Radin Intan II. Dan akhirnya pesawat landing dengan mulus. Tumben sekali kali ini pesawat landing di Lampung dengan mulus. Biasanya landing di Lampung cukup anjrut-anjrutan karena selain runway tidak rata, runway-nya juga pendek sama halnya jika landing di Jogja.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Setelah seharian berada di Jakarta hanya untuk transit akhirnya saya tiba juga di Lampung dengan total waktu penerbangan dari Jakarta ke Lampung yang hanya 30 menit. Cukup melelahkan memang, tapi sebelum menuju ke area terminal kedatangan saya kembali mengambil foto pesawat yang baru saja mengantarkan saya ke Lampung ini.

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Sriwijaya Air Boeing 737-200 Jakarta-Lampung

Saya berharap ini bukan terakhir kalinya saya bisa menikmati terbang dengan Boeing 737-200. Mudah-mudahan saya bisa mencobanya lagi sebelum benar-benar dipensiunkan..

Thanks Sriwijaya, nice flight with you!!

25 Agustus 2010

Kegiatan Selama Transit 7 Jam Di Jakarta

Bagi sebagian orang, transit merupakan hal yang membosankan. Apalagi jika waktu transitnya sangat lama seperti yang harus saya alami ini. Saya harus transit selama kurang lebih 7 jam di Jakarta. Menunggu selama 7 jam bukanlah suatu hal yang menyenangkan. Padahal kalau jadwal penerbangan saya dengan Mandala sesuai seperti jadwal yang awal, saya hanya perlu menunggu penerbangan saya ke Lampung dengan Sriwijaya 3 jam saja.

Bagi yang mempunyai kartu kredit platinum dan sejenisnya mungkin bisa saja bersantai menghabiskan waktu di lounge dengan segala fasilitasnya yang banyak tersedia di bandara. Lha kalau saya boro-boro kartu kredit gold atau platinum, yang paling rendah aja nggak punya. Nah untuk membuang kejenuhan selama transit tersebut saya gunakan untuk spotting dari waving gallery. Kebetulan di sepanjang terminal 1 (lantai 2) terdapat waving gallery. Disana saya bisa menyaksikan traffic pesawat yang lalu-lalang di terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta ini.

Oke.. Yang pertama saya naik ke waving gallery yang ada di terminal 1A. Traffic pesawat di terminal ini nggak ada matinya, setiap beberapa menit terdapat pesawat yang take off dan landing. Boeing 737-900ER sangat mendominasi traffic di terminal 1A. Beberapa pesawat Boeing 737 Classic juga menghiasi terminal ini. Sayangnya saya tidak melihat pesawat favorit saya yaitu MD-90.

Lion Air Boeing 737-900ER PK-LGS
Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Lion Air Boeing 737-300 PK-LIU
Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Traffic di terminal 1B siang itu tidak seramai di terminal 1A. Hanya ada beberapa pesawat Batavia dan Sriwijaya yang bergantian datang dan pergi. Dari waving gallery terminal 1B ini saya juga melihat masih ramainya hilir mudik Boeing 737-900ER milik Lion Air.

Batavia Air Airbus A320-200 PK-YUC
Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Batavia Air Airbus A320 PK-YUC vs Lion Air Boeing 737-900ER
Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Batavia Air Airbus A319 PK-YVA
Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Lion Air Boeing 737-900ER
Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Boeing 737-400 PK-YVP dan Airbus A319 PK-YVA
Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Lion Air Boeing 737-900ER dan Wings Air MD-80
Bandara Internasional Soekarno-Hatta

TOP Air Boeing 737-200 dan Sriwijaya Air Boeing 737-300
Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Sriwijaya Air Boeing 737-300 PK-CKI "Kebaikan"
Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Boeing 737 Sriwijaya dan Batavia Air
Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Di terminal 1C adalah terminal yang suasananya paling sepi. Tidak terlihat adanya keramaian disini karena yang menempati terminal ini hanyalah Citilink dan maskapai lain yang frekuensi terbangnya dari Jakarta sangat sedikit. Mungkin dengan pindahnya Batavia ke terminal 1C nantinya akan memberikan kesan hidup pada terminal ini. Karena memang sepi jadi ya sangat jarang pesawat yang parkir di terminal ini. Waktu itu hanya terlihat Boeing 737 Citilink yang sepertinya sedang mengalami kerusakan. Tapi yang mengejutkan saya, di terminal 1C terparkir Airbus A330-200 milik Batavia yang jadwal regulernya adalah menuju Jeddah. Sepertinya pesawat ini juga sedang melakukan perawatan.

Batavia Air Airbus A330-200 PK-YVI
Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Mungkin bagi sebagian orang, hal yang saya lakukan ini tidak menyenangkan, tidak menghibur, dan lain-lain. Tapi bagi saya hal ini cukup membantu menghilangkan kebosanan saat transit. Daripada manyun duduk doang, ya mending spotting, makan, spotting lagi. Nggak terasa deh tuh menunggu saat transit. Hehehehe..