Bebek Sinjay, Nasi Bebek Paling Enak di Madura

Paduan bebek goreng yang gurih dan empuk, serta sambal mangga yang khas membuat siapapun ketagihan Nasi Bebek Sinjay di Bangkalan.

Serabi Notosuman Nyonya Handayani Solo

Jalan-jalan ke Kota Solo rugi banget kalau nggak mencicipi Serabi Notosuman yang bertekstur lembut dan manis. Enak sekali!!

Lontong Balap Garuda Pak Gendut

Makanan khas Surabaya yang masih mudah ditemui adalah lontong balap. Salah satu yang direkomendasikan adalah warung Pak Gendut.

Gudeg Mbarek Bu Hj. Amad Jogja

Jogja adalah kota gudeg dimana di setiap penjuru kota kita dapat menemukan gudeg dengan mudah, salah satunya gudeg Bu Hj. Amad.

Nasi Bakar Rendang Sapi Gotri Resto

Gotri, resto di Surabaya menawarkan berbagai menu yang enak dengan harga terjangkau. Menu andalannya nasi bakar rendang sapi.

Pecel Nyamleng Gayeng Mayjen Sungkono

Nasi pecel adalah makanan khas Jawa Timur yang banyak tersebar di Surabaya umumnya dimakan saat sarapan atau makan siang.

Lezatnya Sop Ayam Pak Min Khas Klaten

Pak Min sepertinya cukup sukses membuka banyak cabang warung sop ayam di Klaten, Solo, dan Jogja. Rasa sop ayamnya memang nikmat.

30 September 2010

Air Terjun Grojogan Sewu Di Tawangmangu

Air Terjun Grojogan Sewu Di Tawangmangu

Akhirnya saya sampai juga di pintu masuk menuju Air Terjun Grojogan Sewu. Sekedar info saja, Air Terjun Grojogan Sewu ini terletak di lereng Gunung Lawu tepatnya di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dan berada pada ketinggia 1.100 meter di atas permukaan laut. Lokasinya kira-kira 40 Km dari Kota Solo. Cukup banyak angkutan umum seperti bus yang bisa digunakan untuk menuju ke Tawangmangu dari Solo karena Tawangmangu merupakan salah satu tempat tujuan wisata utama di Jawa Tengah.

Sebenarnya ada dua pintu masuk untuk menuju ke air terjun, sayangnya saya nggak tau pintu masuk yang satunya itu ada di sebelah mana karena setiap saya kesini saya selalu melewati pintu yang sama. Untuk masuk menuju air terjun para pengunjung cukup membayar tiket sebesar 5.000 untuk dewasa. Harga tiket yang cukup murah dan untuk menikmati pemandangan alam yang luar biasa disini.

Jarak air terjun dari pintu masuk tempat pembelian tiket tadi masih cukup jauh. Pengunjung harus menuruni anak tangga yang sepanjang kurang lebih 500 meter. Hari ini di Tawangmangu baru saja turun hujan, anak tangga untuk menuju air terjun cukup licin. Kalau tidak berhati-hati pengunjung bisa terpeleset dan jatuh. Itu bukanlah hal yang saya harapkan.

Air Terjun Grojogan Sewu Di Tawangmangu

Udara yang sejuk menemani perjalanan saya menuju ke air terjun. Di sebelah kanan dan kiri tumbuh subur tumbuh-tumbuhan seperti pinus, kaliandra, damar, dan banyak tumbuhan lain. Sedangkan untuk fauna, hutan ini menjadi tempat hidup bagi para monyet ekor panjang, tupai, dan berbagai jenis burung. Saat di perjalanan, monyet-monyet ini tidak akan segan-segan menyapa pengunjung terutama yang membawa makanan. Sebaiknya kalau kesini tidak perlu membawa makanan agar tidak diganggu oleh monyet. Jika monyet-monyet tau ada makanan di dalam tas, mereka tidak segan-segan untuk merebutnya.

Menuruni anak tangga sejauh 500 meter tidak terlalu terasa, apalagi kalau sudah sampai di lokasi air terjun. Pemandangan Air Terjun Grojogan Sewu ini selalu saja memikat saya untuk kembali kesini. Benar-benar damai rasanya berada di alam terbuka yang indah seperti ini. Apalagi pengunjung kali ini tidak banyak, malah bisa dibilang sepi. Saya bisa menikmati keindahan air terjun dengan sepuasnya. Saya memang lebih suka ke tempat-tempat wisata alam yang sepi, membuat hati dan pikiran saya merasa lebih tenang. Tapi ini tidak akan terjadi kalau saya ke Tawangmangu saat libur lebaran nanti.

Air Terjun Grojogan Sewu Di Tawangmangu

Air Terjun Grojogan Sewu memiliki tinggi 81 meter. Saya kurang mengerti kenapa disebut Grojogan Sewu. Yang saya tau Grojogan itu kata dalam Bahasa Jawa yang artinya air yang mengalir/mancur, sedangkan Sewu artinya seribu (banyak). Apakah mungkin maksudnya adalah air terjun yang airnya selalu mengalir terus dan tidak pernah kering? Cuma ngarang aja sih. Hehe.. Tapi kalau saya lihat saat ini debit air di air terjun ini memang nggak sebesar saat saya kesini sebelumnya.

Selain melihat air terjun, di lokasi Taman Wisata Grojogan Sewu ini juga terdapat sebuah kolam renang yang ukurannya tidak terlalu besar. Harus bayar lagi kalau mau renang disini. Saya nggak pernah ada niatan untuk renang disini karena sudah dapat dipastikan airnya dingin sekali. Apalagi saya termasuk orang yang tidak tahan dingin. Selain kolam renang, pengunjung juga bisa menikmati permainan outbond seperti flying fox dan teman-temannya. Sedangkan anak-anak bisa mencoba arung jeram mini di sungai tempat air terjun ini mengalir.

Air Terjun Grojogan Sewu Di Tawangmangu

Kalau sudah lapar nggak perlu repot-repot untuk naik menuju keluar air terjun karena di dekat air terjun juga terdapat penjual makanan. Kebetulan hujan kembali turun. Sambil berteduh saya memesan sate kelinci di salah satu tenda yang ada di dekat air terjun. Sepertinya sate kelinci memang sudah menjadi makanan andalan di tempat-tempat dataran tinggi seperti ini. Misalnya saja di Bromo atau di Kaliurang juga nggak susah mencari sate kelinci.

Bagi sebagian orang mungkin enggan menyantap sate binatang yang imut-imut ini. Walaupun kalau dirasakan, rasanya juga mirip-mirip sama sate ayam. Hanya saja tekstur dagingnya saja yang lebih padat. Satu porsi sate kelinci yang berisi 10 tusuk sate plus lontong dihargai 10.000. Kalau nggak doyan sate kelinci, sate ayam juga ada kok. Malah harganya lebih murah.

Air Terjun Grojogan Sewu Di Tawangmangu

Setelah makan sate dan hujan sudah reda, saya segera naik ke atas untuk keluar karena waktu sudah semakin sore. Untuk keluar tidak melewati jalan saat masuk tadi, tetapi melewati jalan khusus untuk keluar. Kalau saat masuk jalannya menurun, untuk keluar kebalikannya. Jalan cukup menanjak yang membuat kaki sedikit pegal-pegal. Di akhir perjalanan keluar ini terdapat papan ucapan, "Selamat Anda telah turun dan menaiki 1.250 anak tangga, semoga tambah sehat dan sukses". Wuihhh!! Ayo siapa yang mau menikmati keindahan Tawangmangu?

27 September 2010

Disambut Monyet-Monyet Tawangmangu

Disambut Monyet-Monyet Tawangmangu

Kalau mengunjungi Tawangmangu biasanya yang dimaksud adalah Air Terjun Grojogan Sewu meskipun wisata di daerah Tawangmangu nggak cuma itu saja. Tapi kali ini saya memang ke Air Terjun Grojogan Sewu. Ini bukan pertama kalinya saya kesini. Kalau dihitung ini adalah kali ketiga saya ke Grojogan Sewu. Meskipun begitu saya masih saja lupa tempat parkir terdekat dengan pintu masuk menuju air terjun. Akhirnya saya parkir agak jauh dari pintu masuk. Saya harus berjalan kurang lebih sejauh 500 meter. Sebenernya ada jasa naik kuda jika mau, tapi saya lebih memilih untuk berjalan karena memang tidak terlalu jauh.

Dalam perjalanan menuju pintu masuk saya sudah disambut oleh beberapa ekor monyet yang bermain di jalanan. Mereka terlihat tidak takut dengan manusia, bahkan saya lihat mereka sering kali mencuri makanan yang dijual oleh para pedagang yang ada di sekitar tempat wisata. Untuk melindungi barang dagangannya biasanya para pedagang menggunakan ketapel untuk mengusir monyet-monyet yang mendekat.

Disambut Monyet-Monyet Tawangmangu

Semakin mendekati pintu masuk monyetnya semakin banyak. Dengan asyik monyet-menyet itu berlari kesana kemari, berlompat-lompatan dan bermain di atas mobil pengunjung seakan-akan mobil-mobil itu adalah arena bermain mereka. Nggak tau deh kalau mobil-mobil ini penyok gara-gara monyet bisa klaim asuransi atau nggak.

Cukup lucu dan menggelitik tingkah laku monyet-monyet ini. Monyet yang ada di Tawangmangu ini adalah jenis monyet ekor panjang. Rata-rata memang nggak takut dengan manusia karena sering kali mereka diberi makanan oleh para pegunjung yang datang. Walaupun sebenarnya sudah ada larangan untuk tidak memberi makan monyet-monyet itu. Padahal akan lebih baik kalau monyet-monyet ini mencari makan sendiri di habitatnya tanpa bantuan manusia.

Sambutan monyet-monyet tadi membuat saya semakin bersemangat untuk menuju ke Air Terjun Grojogan Sewu yang ada di bawah.

Dari Sarangan Ke Tawangmangu Cuma 15 Km

Perjalanan Ke Tawangmangu

Dari Telaga Sarangan untuk ke Tawangmangu saya tinggal keluar melewati jalan yang tadi saat masuk Sarangan dan mengambil ke jalan ke arah Tawangmangu atau Solo. Lagi-lagi jalannya naik cukup hebat, asli motor saya sampai ngos-ngosan. Pakai gigi satu minta tambah, tapi pakai gigi dua nggak kuat. Untungnya tanjakan curamnya nggak terlalu lama lalu masuk ke jalan yang lebih bagus dan lebih lebar.

Ada dua jalan dari Sarangan untuk menuju ke Tawangmangu. Yang pertama adalah jalan lama yang kecil dengan tanjakan dan turunan yang cukup curam serta tikungan-tikungan tajam, sedangkan yang kedua adalah jalan baru yang lebih lebar dan tanjakannya tidak terlalu curam. Otomatis saya memilih jalan yang baru. Saat dipersimpangan antara kedua jalan ini hujan mulai turun, saya cukup kebingunan untuk mencari tempat berteduh. Karena nggak ada tempat untuk berteduh saya terus melanjutkan perjalanan, yang penting ransel sudah ditutup dengan rain cover biar isinya aman dan nggak basah.

Meskipun pada jalan yang baru ini bisa dibilang tanjakannya tidak terlalu curam tetapi motor saya juga masih ngos-ngosan, gas pol cuma dapet kecepatan 40 Km/jam saja. Mana jalanan ini sangat sepi, hanya terlihat beberapa mobil pribadi yang lewat. Nggak terlihat kendaraan umum seperti bus yang lewat sini. Kalau kendaraan umum paling hanya mobil sejenis L300 yang mempunyai trayek Plaosan-Tawangmangu, itupun sangat jarang. Yang lebih mengerikan lagi, di sebelah kanan jalan adalah bekas gunung yang dibelah untuk dibuat jalan ini. Jadi sangat rawan longsor.

Hujan yang turun tadi sudah mulai reda dan hanya gerimis-gerimis kecil. Tapi semakin naik udaranya semakin dingin, apalagi sarung tangan saya sudah terlanjur basah. Mendekati Cemoro Sewu udara yang semakin dingin membuat saya menggigil, kaki semakin gemetar menahan udara dingin. Sampai di Cemoro Sewu saya berhenti terlebih dahulu di pos polisi karena terlihat di Cemoro Kandang sedang hujan deras. Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang adalah perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah yang terletak pada ketinggian 1.820 meter di atas permukaan laut. Biasanya kedua tempat ini digunakan untuk start pendakian Gunung Lawu. Sudah dapat dipastikan suhu udara cukup dingin terutama saat hujan seperti ini.

Perjalanan Ke Tawangmangu

Setelah terlihat hujan di Cemoro Kandang sudah reda, saya kembali melanjutkan perjalanan. Akhirnya setelah perjalanan sekian lama saya sampai juga di wilayah Jawa Tengah. Memasuki wilayah Jawa Tengah ini jalanan menjadi menurun dan masih berkelok-kelok. Berarti puncak tanjakan jalanan ini berada di Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang. Semakin mendekati Tawangmangu jalanan mulai menyempit. Saya harus berhati-hati untuk menghadapi turunan-turunan yang tajam. Sepanjang jalan terlihat perkebunan yang mengijau di sebelah kiri saya. Pemandangan yang luar biasa indah. Dan yang membuat saya senang adalah suhu udara sudah tidak sedingin saat di Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang tadi.

Di tengah perjalanan saat gerimis seperti ini tiba-tiba ada cewek yang melambaikan tangan. Saya kira ada apa, ternyata mereka itu menawarkan buah strawberry segar dengan harga yang murah. Memang banyak yang menjual strawberry di jalan menuju Tawangmangu ini. Kalau mau bahkan Anda bisa memetiknya langsung dari pohonnya.

Perjalanan dari Sarangan ke Tawangmangu memang hanya 15 Km, tapi sensasi luar biasa.

26 September 2010

Telaga Sarangan, Telaga Alami Di Kaki Gunung Lawu

Telaga Sarangan

Pos pemungutan retribusi ternyata tidak jauh dari persimpangan antara ke Sarangan dan ke Solo saat saya berbelok tadi. Untuk masuk ke tempat wisata Telaga Sarangan dikenai retribusi sebesar 5.000 sudah termasuk parkir kendaraan dan asuransi jasa raharja. Dari pos pemungutan retribusi ini letak Telaga Sarangan masih agak jauh karena harus melewati satu tanjakan lagi yang nggak begitu curam dan melewati penginapan atau villa-villa yang ada di sekitar Telaga Sarangan. Meskipun sudah ada larangan untuk tidak membawa masuk kendaraan sampai dengan telaga, masih banyak juga motor ataupun mobil yang masuk ke area Telaga Sarangan termasuk saya. Xixixi..

Sebenarnya saya hanya penasaran saja dengan telaga yang terletak di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan ini karena nama Telaga Sarangan sudah cukup dikenal sebagai tempat tujuan wisata di Jawa Timur. Padahal kalau saya lihat tempat juga hanya biasa saja, tidak terlalu menarik. Telaga Sarangan adalah sebuah telaga alami dengan luas kurang lebih 30 hektar yang terletak di kaki Gunung Lawu. Mungkin ini yang membuatnya jadi memikat banyak orang. Ditambah lagi udara disini sangat sejuk, berkisar antara 18-24 derajat celcius. Bahkan walaupun siang hari, tidak jarang telaga dan sekitarnya ditutupi oleh kabut.

Telaga Sarangan

Jika ingin benar-benar menikmati berwisata di Telaga Sarangan mungkin Anda harus mencoba berkeliling telaga dengan kuda. Ada banyak kuda yang bisa disewa di sepanjang telaga. Untuk harganya saya kurang begitu tau karena nggak nanya juga. Selain kuda, ada juga becak air dan perahu motor yang bisa disewa. Harga sewa becak air adalah 40.000 per jam, sedangkan perahu motor 40.000 sekali putaran mengelilingi danau.

Telaga Sarangan

Kalau ingin bermalam disini juga nggak akan pusing karena banyak sekali penginapan, hotel, ataupun villa yang bisa disewa baik yang murah ataupun yang mahal. Kebanyakan penginapan-penginapan itu berada mengelilingi telaga. Dari penginapan ke telaga cukup berjalan kaki saja. Tempat makan juga banyak tersedia di sepanjang telaga. Sayangnya saya tidak akan menginap atau berlama-lama disini. Rasa penasaran saya akan Telaga Sarangan sudah terpenuhi, saya hanya berkeliling telaga dengan motor saja. Setelah itu saya melanjutkan perjalanan saya. Tujuan selanjutnya adalah Tawangmangu!!

24 September 2010

Kabut Tebal Menuju Telaga Sarangan

Menuju Telaga Sarangan

Setelah makan di Warung Nasi Pecel 99 saya kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini cek poin-nya adalah Kota Magetan. Saya belum pernah sama sekali melewati jalanan menuju ke kota ini. Ternyata jarak antara Madiun dengan Magetan sudah tidak terlalu jauh. Tidak sampai satu jam saya sudah sampai di Kota Magetan. Udara di Magetan memang lebih sejuk daripada di daerah-daerah yang saya lewati sebelumnya meskipun cuaca cukup panas.

Tidak sulit untuk mencari jalan dari Magetan ke Sarangan karena hampir di setiap persimpangan terdapat petunjuk jalan yang cukup jelas. Tinggal ikuti saja petunjuk jalan tersebut, kita akan diarahkan keluar kota menuju sebuah kota kecil bernama Plaosan. Nah dari Plaosan ini jalanan mulai naik meskipun dengan hembusan angin pegunungan yang sudah mulai terasa. Lama-kelamaan jalanan semakin menanjak dan berliku, sampai pada sebuah tanjakan yang cukup tinggi saya melihat sebuah danau yang saya kira adalah Telaga Sarangan. Saya berhenti sejenak di tepi jalan pada jalanan yang menanjak tersebut untuk mengamati. Kalau memang Telaga Sarangan, saya herannya danau ini kok sepi. Jadi saya hiraukan saja dan memang itu bukan Telaga Sarangan.

Menuju Telaga Sarangan

Perjalanan terus berlanjut dengan suara mesin motor tua saya semakin meraung-raung, tanjakan semakin tajam. Langit juga sudah mulai gelap ditutupi oleh awan-awan hitam. Beruntung saat itu belum turun hujan. Telaga Sarangan sudah semakin dekat, jalanan yang saya lewati semakin terasa ekstrim. Bukan karena jalan yang jelek dan sempit, tapi jalanan terkadang tidak terlihat sama sekali karena kabutnya yang luar biasa tebal. Pemandangan perkebunan strawberry di sebelah kanan dan jurang di sebelah kiri hanya terlihat samar-samar. Tanjakan dan tikungan-tikungan tajam nggak habis-habis membuat saya sangat berhati-hati.

Saat jalanan lebih naik lagi kabut yang tebal sudah mulai berkurang meskipun jarak pandang juga tidak bisa terlalu jauh. Saya sudah melihat penunjuk jalan menuju ke Sarangan dengan berbelok ke kiri, karena kalau lurus ke arah Tawangmangu atau Solo. Yak, jalanan masih naik lagi dan suhu udara sudah cukup dingin disini.

23 September 2010

200 Km Menuju Sarangan, Mampir Di Nasi Pecel 99 Madiun

Nasi Pecel 99 Madiun

Hari ini adalah H-1 lebaran, saya sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk ke Jogja dari tadi malam. Saya berencana untuk berangkat jam 5 pagi untuk menghindari kemacetan karena kemungkinan akan banyak sekali pemudik yang pulang kampung hari ini. Rencana hanya sebuah rencana, saya baru bangun jam setengah 6 dan baru berangkat tepat jam 6. Terlambat satu jam dari rencana saya.

Meskipun baru berangkat jam 6, tapi untuk keluar dari Kota Surabaya cukup cepat. Surabaya pada pagi hari masih cukup sepi, mungkin juga karena para pekerja sudah libur. Sampai Mojokerto jalanan juga masih lancar meskipun sudah ramai dengan para pemudik yang menggunakan mobil ataupun motor. Hal yang tidak terduga terjadi dalam perjalanan dari Mojokerto ke arah Jombang, benar-benar macet cukup parah. Untuk perjalanan dari Mojokerto sampai dengan Jombang yang hanya beberapa kilometer harus ditempuh selama lebih dari 2 jam. Padahal saat hari biasa bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Perjalanan dari Jombang ke arah Madiun juga sedikit tersendat saat berada di daerah Caruban. Setelah menempuh 4,5 jam saya baru sampai di Madiun, lama banget kan?

Saat melewati Jalan Cokroaminoto di Kota Madiun saya mampir untuk makan di Warung Nasi Pecel 99. Kenapa diberi nama Warung Nasi Pecel 99? Karena terletak di Jalan Cokroaminoto No. 99. Nggak tau kenapa saya dengan refleks membelokkan motor saya ke tempat makan yang satu ini. Mungkin salah satu alasannya adalah keinginan untuk merasakan nasi pecel di kota asalnya, lagipula memang sebagian besar warung makan di Madiun saat itu tidak banyak yang buka.

Nasi Pecel 99 Madiun

Nggak pake lama saya memesan satu porsi nasi pecel ditambah dengan ayam goreng dan minum es jeruk. Dengan cepat pesanan saya datang. Seporsi nasi pecel dengna isi nasi dengan sayuran-sayuran segar dan disiram dengna bumbu kacang yang ditemani oleh kerupuk puli (kata ibunya). Menariknya Nasi Pecel 99 adalah pada penyajiannya, tidak mengguakan piring tetapi menggunakan pincuk daun pisang. Untuk rasanya nggak perlu diragukan lagi, enak banget!! Beda dengan rasa pecel yang biasa saya makan di Surabaya, terutama pada bumbu kacangnya yang lebih kental dan rasanya lebih pas. Saya nggak tau harga rinciannya, tapi yang jelas total makanan yang saya pesan tersebut habis 18.000.

Ada hal yang membuat saya bertanya dengan ibu pedagangnya, di setiap sudut ruangan terdapat foto Bapak Presiden SBY dan Ibu Ani. Ternyata saya mendapat jawaban bahwa Warung Nasi Pecel 99 ini menjadi langganan Pak SBY jika berkunjung ke Madiun. Wah hebat ya sering dikunjungi sama presiden.

Setelah makan dan istirahat sebentar, saya melanjutkan perjalanan saya lagi menuju Telaga Sarangan dengan melewati Kota Magetan. Oh ya, jujur aja saya hari ini membatalkan puasa karena perjalanan saya menuju tujuan akhir di Jogja masih cukup panjang dan pasti akan sangat melelahkan sekali. Apalagi cuaca sangat terik yang membuat tenaga cepat sekali terbuang. Hutang puasa akan dibayar nanti, mudah-mudahan Allah memaafkan. Hehe..

20 September 2010

Libur Lebaran Ke Jogja Lagi

Libur Lebaran Ke Jogja Lagi

Lebaran tahun 2010 adalah untuk kedua kalinya saya nggak mudik. Pada libur lebaran kali ini masih sama seperti tahun lalu, baru libur kuliah pada H-1 lebaran. Waktu liburannya juga sangat pendek, hanya 5 hari. Kenapa ke Jogja lagi? Yang jelas tujuan utama saya adalah untuk mengeksplor pantai-pantai cantik yang terletak di Gunung Kidul-Yogyakarta. Sebelum-sebelumnya walaupun saya sering ke Jogja tapi saya nggak punya waktu luang untuk menikmati indahnya pantai di Gunung Kidul karena jaraknya yang lumayan jauh dari Kota Jogja. Sedangkan kali ini libur yang hanya 5 hari rasanya sudah lebih dari cukup untuk jalan-jalan kesana.

Untuk ke Jogja kali ini saya tidak akan naik bus, kereta, ataupun pesawat. Saya lebih memilih untuk naik motor karena dengan membawa motor nantinya saya bisa leluasa untuk menelusuri daerah Wonosari alias Gunung Kidul. Selain itu saya juga tidak akan melewati rute yang umum digunakan untuk perjalanan dari Surabaya ke Jogja. Kalau biasanya rute yang digunakan adalah Surabaya-Jombang-Nganjuk-Caruban/Madiun-Ngawi-Solo-Jogja, tapi saya akan melewati rute Surabaya-Jombang-Nganjuk-Madiun-Magetan-Karanganyar-Solo-Jogja. Meskipun jarak tempuhnya hampir sama, tapi dengan melewati Magetan dan Karanganyar akan memberikan sensasi tersendiri. Selain udara yang sangat sejuk dan jalan yang sangat berliku, juga banyak sekali tempat-tempat menarik di lereng Gunung Lawu yang bisa dikunjungi. Yuk ikuti terus perjalanan saya di Jateng dan DIY!!

Dengan Terpaksa Pulang Ke Surabaya Naik Bus Eka

Bus Eka

Kali ini saya memang benar-benar terpaksa pulang ke Surabaya naik bus. Jujur saja, ini adalah kedua kalinya saya ke Surabaya naik bus selama sekian tahun. Pengalaman pertama sudah terjadi 3 tahun yang lalu. Untuk bepergian, saya selalu memprioritaskan kereta atau pesawat sebagai transportasi yang saya naiki daripada bus. Bukan karena mau boros duit... Tapi pernah mengalami kecelakaan saat naik bus, dirawat di rumah sakit sampai berbulan-bulan, dan dioperasi sampai dua kali bukanlah hal yang menyenangkan. Inilah yang membuat saya masih sedikit trauma naik bus terutama jika bus-nya ugal-ugalan. Apalagi bus rute Jogja-Surabaya memang sudah terkenal ugal-ugalannya. Hal ini semakin membuat saya berpikir berkali-kali untuk naik bus dari Jogja ke Surabaya ataupun sebaliknya. Untuk malam ini apa daya tiket kereta sangat mahal, sedangkan kalau go show naik pesawat besok pagi belum tentu dapet tiket juga.

Perjalanan dengan taksi dari Monumen Serangan Umum 1 Maret sampai dengan Terminal Giwangan tidak membutuhkan waktu yang lama, kurang lebih hanya 20 menit dan cuma kena argo 22.000 saja. Saya diantar oleh supir taksi melalui pintu belakang terminal karena lebih dekat dengan bus tujuan Surabaya. Terminal Giwangan pada malam hari cukup sepi tapi saya masih merasa aman berada disini. Mungkin karena sepi di malam hari jadi untuk masuk tidak perlu membayar peron yang hanya 200 rupiah itu.

Beberapa bus tujuan Surabaya sedang mangkal di terminal malam itu. Ada bus Sumber Kencono, Mira, dan Eka. Saya memilih Bus Eka karena ini adalah bus kelas eksekutif jadi ruang untuk kaki saat duduk nanti cukup luas, biar nggak terlalu pegel kakinya karena perjalanannya cukup lama. Kalau Sumber Kencono dan Mira bervariasi, ada yang kelas ekonomi dan ada yang AC ekonomi. Tentunya tarif Bus Sumber Kencono dan Mira lebih murah daripada Eka. Tapi secara teori Bus Eka lebih cepat sampai karena tidak lewat Kota Madiun dan nggak sering ngetem.

Tidak perlu menunggu lama, jam 12 malem tepat bus sudah berangkat menuju Surabaya. Penumpang saat itu juga nggak banyak, mungkin hanya 6-8 orang saja dari Terminal Giwangan. Ongkos naik Bus Eka dari Jogja ke Surabaya pada hari normal adalah 70.000. Tapi saat mendekati lebaran seperti ini tarifnya naik 10% menjadi 77.000. Enaknya kalau naik Bus Eka kita mendapatkan kupon makan yang bisa digunakan saat singgah di Rumah Makan Duta yang berada di daerah Ngawi.

Seperti layaknya bus tujuan Surabaya yang lain, bus ini juga langsung meluncur dengan kecepatan yang tinggi menuju Solo. Tapi karena mata sudah sangat berat, saya tertidur dengan lelap sampai bus berhenti untuk ngetem di Terminal Tirtonadi Solo. Yang membuat saya terbangun adalah pedagang-pedagang yang keluar masuk bus untuk menawarkan dagangannya. Di Terminal Tirtonadi ini banyak sekali pedagang yang keluar masuk bus, bandingkan dengan saat di Terminal Giwangan yang nggak ada sama sekali pedagang berkeliaran.

Setelah bus kembali berjalan, mata saya kembali terpejam walaupun terasa bus melaju dengan kencang dan meliuk kanan-kiri untuk mendahului kendaraan lain. Sepertinya rasa kantuk mengalahkan rasa takut saya. Saya baru bangun kembali saat bus berhenti di Rumah Makan Duta di Ngawi, itupun dibangunin sama kondektur bus. Nah di RM Duta ini kita bisa menukarkan kupon yang diberikan oleh kondektur dengan makanan yang tersedia. Ada beberapa menu makanan yang ada di kupon, tapi kita hanya boleh memilih salah satu. Untuk pilihan minuman hanya teh dan sirup saja. Jika tidak suka dengan menu di kupon kita bisa juga mengganti dengan menu lain, nanti dihitung berapa kita harus membayar biaya tambahannya. Saya memilih nasi rawon panas dan teh hangat untuk makan malam sebagai penghangat badan. Maklum saja suhu di bus cukup dingin apalagi saya hanya pakai celana pendek 3/4 dan tidak membawa jaket.

Bus Eka

Di RM Duta bus hanya berhenti kurang lebih 20 menit sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Yang berbeda dari Bus Eka dibanding dengan Sumber Kencono ataupun Mira adalah Bus Eka dari Ngawi tidak melewati Kota Madiun, melainkan langsung menuju Kota Caruban. Dengan begitu jarak tempuhnya menjadi lebih pendek. Jalanan dari Ngawi menuju Caruban ini sangat bergelombang, tapi bus tetap melaju kencang.

Lagi-lagi saya tidak bisa menahan rasa kantuk saya dan terlelap hingga mendekati Surabaya. Saat sudah dekat dengan Surabaya bus berjalan santai. Akhirnya bus tiba di Terminal Bungurasih tepat jam 7 pagi. Ini berarti perjalanan dari Jogja ke Surabaya naik bus membutuhkan waktu 7 jam jika lancar seperti ini. Waktu tempuh yang lama ini pula yang membuat saya lebih suka naik kereta yang hanya membutuhkan waktu tempuh kurang lebih 5 jam. Tapi saya jadi mendapatkan tips untuk mengurangi rasa trauma naik bus yaitu dengan tidur selama perjalanan. Sayangnya ini akan sulit berlaku jika perjalanannya pada siang hari. Hehehe..

Lontang-Lantung Malam Hari Di Jogja

Lontang-Lantung Malam Hari Di Jogja

Setelah kemaren datang ke Jogja, hari ini saya mengantarkan kakak saya ke Terminal Giwangan. Yah, kakak saya hari ini akan mudik ke Lampung naik bus favorit dia, Bus Putra Remaja. Selesai mengantarkan kakak, saya lalu menuju ke Terminal Jombor karena saya akan ke rumah bude yang ada di daerah Kronggahan, dekat dengan Terminal Jombor. Kebetulan saya sudah lama tidak berkunjung ke rumah bude, dan mumpung saya masih di Jogja saya sekalian saja main kesana.

Saya di rumah bude hanya sampai jam setengah 9 malam saja. Dari rumah bude saya kembali ke Terminal Jombor dengan harapan masih ada Bus Trans Jogja yang bisa mengantarkan saya ke Stasiun Tugu. Memang malam ini saya berencana untuk pulang ke Surabaya. Beruntung karena masih ada Bus Trans Jogja yang masih beroperasi. Setelah berkeliling sesuai dengan rutenya, saya tiba juga di depan Stasiun Tugu.

Dengan segera saya menuju ke loket penjualan tiket di stasiun. Saya sangat berharap bisa mendapatkan tiket pulang ke Surabaya malam ini dengan KA Bima (eksekutif) ataupun KA Mutiara Selatan (bisnis). Naik kereta apa saja nggak masalah yang penting saya hari ini bisa pulang ke Surabaya. Sesampainya di loket memang masih tersedia tiket untuk ke Surabaya baik untuk KA Bima ataupun KA Mutiara Selatan, tapi harganya sangat mencengangkan. Bagaimana tidak, biasanya tiket kelas bisnis dari Jogja ke Surabaya dihargai 60.000-80.000 tapi kali ini harganya 250.000. Sedangkan tiket kelas eksekutif yang biasanya berharga 100.000-130.000 kali ini dihargai 290.000. Sangat mahal sekali harga tiketnya, lebih mahal dari harga tiket pesawat untuk ke Jogja kemaren. Petugas loket mengatakan kalau harga ini adalah tarif lebaran. Memang lebaran nggak sampai seminggu lagi, tapi masa' iya sih harganya bisa melonjak sampai 300 persen? Apalagi juga masih banyak tempat duduk yang tersedia.

Akhirnya saya batal beli tiket kereta karena kemahalan. Saya berjalan menuju ke Maliboro tanpa tujuan yang jelas. Meskipun sudah jam 10 malam, Maliboro masih sangat ramai. Apalagi malam itu banyak toko dan mall-mall yang mengadakan diskon besar-besaran pada tengah malam. Tentu saja banyak pengunjung Malioboro yang menantikan acara obral tersebut. Hanya Pasar Beringharjo saja yang sudah terlihat sepi.

Lontang-Lantung Malam Hari Di Jogja

Saya terus berjalan ke arah kantor pos besar. Baru terasa perut saya sudah mulai lapar, karena itu saya berjalan terus menuju ke arah RS PKU Muhammadiyah. Saya makan oseng-oseng mercon yang banyak dijual di sekitar sana. Sudah lama sekali saya tidak makan makanan yang sangat pedas seperti ini, saya tidak kuat untuk menghabiskan oseng-oseng mercon yang saya pesan lantaran terlalu pedas dan dikhawatirkan membuat perut saya sakit.

Setelah makan saya balik lagi ke arah kantor pos besar. Malam minggu di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret (kantor pos besar) memang selalu ramai. Malam ini banyak sekali rombongan klub-klub sepeda yang nongkrong disana. Nggak cuma anak muda, bapak-bapak dan mbak-mbah pun banyak yang nongkrong dengan sepeda antiknya. Sementara itu di sisi lain juga banyak wisatawan yang berfoto-foto di kawasan itu. Sedangkan saya cuma bengong di samping rombongan bapak-bapak dengan sepeda antik tersebut. Kawasan di Kota Jogja yang satu ini memang nggak pernah sepi di malam hari.

Jam di tangan saya sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam, saya masih bingung mau kemana. Apakah pulang besok pagi dengan naik pesawat jika masih tersedia tiket atau pulang malam ini juga dengan naik bus. Sepertinya saya lebih memilih pulang malam ini naik bus karena belum tentu juga masih ada tiket pesawat untuk besok pagi jika saya harus go show. Saya lalu memberhentikan taksi untuk mengantarkan saya ke Terminal Giwangan. Jika sudah tengah malam seperti ini sudah tidak ada pilihan lain angkutan umum di Jogja selain taksi.

19 September 2010

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Minggu-minggu ini sepertinya saya ditakdirkan untuk bolak-balik Surabaya-Jogja. Setelah empat hari yang lalu saya baru pulang dari Jogja, kali ini saya harus ke Jogja lagi untuk mengantarkan pesanan ayah saya yang akan dibawa kakak saya pulang ke Lampung keesokan harinya. Pagi hari saya mengecek harga tiket pesawat untuk keberangkatan hari ini juga ternyata masih ada tiket promo X class dari Lion/Wings Air untuk keberangkatan yang siang. Langsung saja tiket tersebut saya issued, print tiket, dan langsung menuju airport.

Flight Detail:
Date: September 03, 2010
Airline: Wings Air
Flight No: IW-1811
Route: Surabaya (SUB)-Yogyakarta (JOG)
Departure Time: 11.10 (scheduled), 11.20 (actual)
Arrival Time: 12.10 (scheduled), 12.20 (actual)
Aircraft: ATR 72-500
Registration: PK-WFI
Class: Economy
Seat: 12F
Site: http://www.lionair.co.id/

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Tidak sama seperti penerbangan saya dengan Lion Air seminggu yang lalu, untuk penerbangan Lion Air dari Surabaya ke Jogja yang siang hari akan dioperasikan oleh anak perusahaannya yaitu Wings Air. Otomatis pada penerbangan ini akan menggunakan pesawat baling-baling ATR 72-500. Ini adalah kedua kalinya saya naik pesawat baling-baling dan untuk kedua kalinya pula naik ATR 72-500. Pengalaman pertama adalah saat pulang dari Denpasar bulan Juni yang lalu dengan maskapai yang sama yaitu Wings Air.

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Jadwal keberangkatan pesawat hari ini adalah pukul 11.10. Saya sudah sampai di airport 1,5 jam sebelum jadal kebarangkatan. Nggak seperti di pagi hari yang super padat, suasana berbeda terlihat di Bandara Juanda menjelang siang hari. Pada saat saya masuk ruang check in pukul 10.00, bandara terlihat cukup lengang, tidak sumpek, dan tidak ada antrian saat check in. Dengan begitu urusan check in berjalan dengan sangat cepat karena sepertinya masih belum ada orang lain yang check in dengan tujuan Jogja selain saya. Saya cukup leluasa memilih tempat duduk di pesawat nanti karena memang masih banyak seat yang kosong.

Setelah check in saya naik ke lantai dua. Saya nggak langsung menuju ke gate karena waktu boarding masih cukup lama. Saya iseng spotting dulu dari balik kaca di ruang tunggu yang berada di luar gate. Traffic yang ada cukup membosankan karena bolak-balik yang datang dan pergi kebanyakan pesawat Boeing 737-900ER Lion Air. Hanya sesekali saja diselingin pesawat Sriwijaya atau Mandala. Sepertinya Lion Air sangat mendominasi penerbangan domestik, hampir di setiap bandara numpuk pesawat Lion Air.

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Karena sudah mendekati waktu boarding, saya segera menuju ke gate 1 yang letaknya ada di ujung sendiri. Saat menuju gate saya melihat di depan layar jadwal keberangkatan domestik sudah dihias dengan bunga-bunga dan bedug disertai ucapan "Selamat Idul Fitri". Nggak terasa memang, seminggu lagi akan mengakhiri puasa dan mencapai hari kemenangan.

Sesampainya di gate ternyata masih belum boarding juga. Di gate 1 dan 2 ini penuh sesak dengan penumpang Lion Air yang akan menuju Denpasar, Jogja, Jakarta, dan Mataram. Apalagi penumpang tujuan Mataram mengalami delay sampai 2,5 jam membuat ruang tunggu gate 1 tidak bisa menampung jumlah penumpang yang ada.

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Untung saja saya tidak terlalu lama menunggu karena baru duduk sebentar saja sudah dipanggil untuk boarding. Karena menggunakan pesawat ATR 72-500 yang cuma berkapasitas 72 tempat duduk jadi antrian saat boarding cukup lancar dan tidak berdesakan. Yang bikin berdesak-desakan adalah kami harus melewati tangga yang sama-sama digunakan oleh penumpang pesawat Lion Air lain yang baru saja landing. Sementara itu penumpang tujuan Jogja akan di antar dengan menggunakan bus untuk menuju ke pesawat. Banyak diantara penumpang yang baru turun tersebut mengira bahwa bus ini akan membawa mereka ke terminal kedatangan.

Setelah penumpang masuk ke dalam bus, langsung diantar ke pesawat yang berada di ujung sana dekat tower. Ternyata pesawat untuk hari ini adalah PK-WFI, berarti ini sama dengan pesawat yang mengantarkan saya dari Denpasar ke Surabaya beberapa bulan lalu. Untuk kedua kalinya pula berarti saya naik pesawat Wings Air ATR 72 dengan registrasi yang sama. Sepertinya hari ini ditakdirkan untuk mengalami hal-hal yang serba kedua. Memang PK-WFI ini khusus untuk melayani rute-rute komuter Wings Air yaitu dalam sehari akan menerbangi rute Semarang-Surabaya-Denpasar-Surabaya-Yogyakarta-Bandung-Yogyakarta-Surabaya-Semarang.

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Kalau naik pesawat ATR 72 dapat dipastikan naiknya lewat pintu belakang karena pintu depan digunakan sebagai pintu kargo. Saat masuk pun saya disambut oleh mbak mugari yang sama dengan penerbangan saya dengan Wings Air ATR 72-500 sebelumnya. Saya masih ingat betul dengan muka mbak mugari yang satu ini. Hehe.. Boarding agak tersendat karena ada satu ibu-ibu yang membawa tas koper segede gaban dinaikkan ke kabin. Padahal pesawat ATR 72-500 ini tidak mempunyai ruang bagasi yang cukup luas untuk menampung koper-koper besar. Mbak mugari meminta ibu itu untuk menitipkan tasnya di galley tapi dia menolak dan masih saja berusaha memasukkan tasnya yang berat itu ke dalam ruang bagasi di atas sambil ngoceh-ngoceh. Akhirnya dia menyerah juga menaruh kopernya di galley belakang. Penumpang reseh kayak gini nih yang perlu dibinasakan karena udah membuat penerbangan tertunda.

Begitu penumpang komplit, pintu pesawat ditutup lalu mulai push back. Mbak mugari segera memeragakan petunjuk keselamatan penerbangan. Pesawat segera taxi menuju ke runway 10. Nggak tau kenapa kok perasaan saya taxi-nya ngebut bener. Begitu sampai diujung runway 10 karena nggak ada antrian langsung masuk runway dan langsung gas poll nggak pake hold short atau line up terlebih dahulu. Udah kayak pembalap aja ini pilotnya. Hehe.. Begitu mendapat kecepatan yang cukup akhirnya pesawat lepas landas meninggalkan Bandara Juanda.

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Cuaca hari itu sangat baik karena cerah dan pesawat akan berada pada ketinggian jelajah 15.000 kaki di atas permukaan laut. Inilah yang saya suka kalau naik pesawat baling-baling, ketinggian jelajahnya yang rendah sehingga bisa dengan jelas menikmati pemandangan yang ada di bawah.

Selama di pesawat saya lebih banyak ngobrol dengan penumpang di sebelah saya sambil sesekali membaca inflight magazine yang ada di dalam pesawat. Inflight magazine yang ada di pesawat Wings Air ini cukup menarik, berisi tentang kebudayaan dan tempat-tempat wisata menarik di pedalaman Indonesia baik Indonesia bagian barat maupun Indonesia bagian timur. Dan yang pasti sudah ada penerbangan Wings Air untuk menuju ke tempat-tempat tersebut.

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Yang berbeda lagi dari Lion Air, pada penerbangan Wings Air meskipun penerbangan jarak dekat tetap akan dibagikan segelas air mineral meskipun saya tidak mengambilnya karena puasa. Bandingkan saja dengan penerbangan Lion Air, walaupun anda terbang berjam-jam ke Jayapura juga tidak akan mendapatkan apa-apa. Untuk minum saja Anda harus membelinya. Sedangkan pada penerbangan Wings Air dengan pesawat ATR 72-500 tidak terdapat penjualan makanan atau minuman selama penerbangan. Satu lagi yang menurut saya berbeda, kursi di ATR 72-500 ini lebih empuk daripada kursi di Boeing 737-900ER Lion Air meskipun sama-sama sempit.

Tidak terasa saya sudah melihat pemandangan indah berupa dua buah gunung kembar (jangan mikir ngeres) yaitu Gunung Merapi dan Merbabu. Ini menandakan pesawat sudah dekat dengan Jogja, berarti sesaat lagi akan landing di Bandara Adisucipto.

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Setelah semakin mendekati Jogja, saya sudah bisa melihat runway Bandara Adisucipto. Saya mengira pesawat akan landing dari runway 27, tapi perkiraan saya salah. Pesawat lalu belok kiri melintas di atas Akademi Angkatan Udara menuju ke arah barat untuk memutar terlebih dahulu. Pesawat akan landing dari runway 09.

Saat memutar di atas kota Jogja terlihat pemukiman di Kota Jogja sudah sedemikian padatnya. Tapi dibeberapa tempat di Bantul dan Sleman masih terlihat banyak lahan yang kosong dan masih digunakan sebagai areal persawahan. Saat itu terlihat pula kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang berada di sisi selatan Jogja.

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Setelah pesawat memutar langsung roda pesawat dikeluarkan pertanda pesawat akan segera landing. Saat approach ini terlihat tempat-tempat menarik di Jogja seperti Jalan Malioboro dan Keraton Yogyakarta setra terlihat pula Stadion Mandalakrida. Saya dulu pernah ngekost di sebelah timur Stadion Mandalakrida kurang lebih selama 3 tahun.

Sepertinya angin saat itu sangat kuat karena terjadi goncangan-goncangan yang cukup lumayan padahal cuaca sangat bagus. Semakin mendekati runway goncangan semakin terasa bahkan pesawat seperti dihempaskan ke bawah. Ibu-ibu dibelakang saya sampai berteriak histeris karena ketakutan. Sepertinya sih memang dia baru pertama kali naik pesawat baling-baling jadi baru tau sensasinya. Bahkan ada 2 ibu-ibu dibelakang yang sampai muntah-muntah. Saat akan landing ini memang serasa naik kora-kora di Dufan. Hohoho..

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Setelah ditunggu-tunggu akhirnya roda pesawat menyentuh runway dan landing dengan mulus, lalu langsung masuk ke apron. Alhamdulillah sampai di Jogja dengan selamat. Bandara Adisucipto cukup sepi pada siang itu hanya ada pesawat Malaysia Airlines Boeing 737-400 saja yang akan segera menuju ke Kuala Lumpur. Nggak tau pesawat parkir di gate berapa yang jelas agak jauh ke barat dari pesawat Malaysia Airlines itu.

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Setelah pintu dibuka para penumpang dipersilakan turun, sementara penumpang tujuan Bandung diminta untuk tetap berada di dalam pesawat. Saya sengaja turun belakangan karena tidak mau berdesak-desakan dengan penumpang lain saat turun dari pesawat. Karena nggak ada security bandara saat itu jadi saya agak berlama-lama di apron untuk mengambil foto pesawat yang baru saja saya naiki. Menurut saya pesawat ATR 72-500 ini sangat cantik, membuat saya jadi ingin lebih sering untuk menaikinya terutama untuk rute di Indonesia Timur.

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

Yang saya suka dari Bandara Adisucipto adalah sarana transportasinya sangat lengkap. Mungkin paling lengkap di antara bandara-bandara lain di Indonesia. Anda ingin ke Solo bisa naik Kereta Prameks dari Stasiun Maguwo yang ada di bandara. Anda ingin ke Magelang, Kebumen, atau Purworejo sudah ada Damri yang siap mangantar Anda. Kalau mau ke kota, prambanan, atau tempat-tempat lainnya di Jogja sudah tersedia Bus Trans Jogja yang haltenya dekat dengan stasiun. Kalau butuh taksi juga banyak tersedia disini. Kalau saya lebih memilih untuk naik Trans Jogja karena murah. Hehe..

Wings Air ATR 72-500 Surabaya-Yogyakarta

18 September 2010

Jangan Lewatkan Candi Mendut!!

Candi Mendut

Setelah berkunjung ke Candi Borobudur, kalau ada waktu sebaiknya jangan melewatkan untuk mengunjungi Candi Mendut. Letaknya nggak jauh kok dari Candi Borobudur, hanya berjarak kurang lebih 3 Km dengan berjalan ke arah Jogja. Sebenarnya saat berangkat tadi melewati Candi Mendut ini, tapi candi berada di seberang jalan. Untuk menuju kesana juga cukup mudah. Dari Candi Borobudur saya kembali ke Terminal Borobudur lalu naik bus sama seperti yang saya naiki saat berangkat yaitu bus tujuan Jogja. Cukup dengan membayar ongkos Rp 2.000,- sudah di antar sampai Candi Mendut.

Sama seperti Candi Borobudur, candi yang terletak di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang ini juga masih bercorak agama Buddha. Bahkan katanya Candi Mendut masih berhubungan erat dengan Candi Borobudur serta Candi Pawon yang masih berada dalam satu garis imajiner.

Candi Mendut

Candi Mendut dibangun oleh pemerintahan Raja Indra pada masa Dinasti Syailendra dengan menggunakan bahan bangunan berupa batu bata yang dilapisi oleh batu alam. Di bagian atap candi terdapat jejeran stupa-stupa kecil yang berjumlah 48 buah. Ukuran candinya tidak terlalu besar dengan tinggi yang hanya 26,4 meter tapi Candi Mendut terlihat cantik, anggun, dan kokoh.

Karena ukurannya yang kecil, saya langsung mengelilingi candi. Seperti sebagian besar candi-candi Buddha yang lain, di dinding candi terdapat hiasan berupa relief-relief Boddhisatwa antara lain Awalokiteswara, Maitreya, Wajrapani, dan Manjusri. Terdapat juga relief kalpataru, Hariti, Atawaka, dan dua bidadari.

Candi Mendut

Sedangkan di dalam ruangan candi utama terdapat 3 arca Buddha dengan ukuran yang cukup besar. Ketiga arca Buddha ini tersusun rapi di bagian tengah, kanah, dan kiri. Di tengah adalah Dhyani Buddhawairocana dengan sikap tangan dharmacakramudra. Yang di sebelah kiri adalah arca Awalokiteswara, sedangkan yang di sebelah kanan adalah arca Wajrapani. Di dalam ruangan candi ini masih digunakan untuk beribadah bagi umat Buddha sampai sekarang.

Area Candi Mendut ini menurut saya cukup nyaman untuk bersantai. Sekitar candi tumbuh pohon-pohon yang sangat rindang. Yang menarik untuk bersantai tentu saja adalah di bawah Pohon Beringin yang ukurannya sangat besar dan kemungkinan juga sudah berusia tua, benar-benar sejuk.

Seperti biasanya, di sekitar candi ini banyak dijumpai penjual souvenir seperti layaknya di Candi Borobudur. Disini juga menjual bibit Pohon Bodhi yaitu sebuah pohon yang dalam agama Buddha dikenal sebagai pohon suci tempat Sang Buddha Gautama Bersemedi. Beberapa jenis hiasan dan souvenir seperti topeng yang dijual disini terbuat dari kayu Pohon Bodhi. Kalau Anda menginginkan hiasan dalam bentuk lain dari kayu Pohon Bodhi, Anda juga dapat memesan kepada para penjual souvenir yang ada di area Candi Mendut ini.

Candi Mendut

Saya sebenarnya masih ingin mengunjungi Candi Pawon. Tapi karena sudah sore, sedangkan saya diundang untuk berbuka bersama teman-teman sore nanti jadi saya harus mengakhiri perjalanan saya di Magelang ini dan kembali ke Jogja, serta malam berikutnya sudah harus pulang ke Surabaya. Saya naik bus seperti pada saat berangkat dengan menunggu bus tujuan Jogja di pinggir jalan Candi Mendut. Untuk pulangnya ini dari Candi Mendut sampai dengan Terminal Jombor cuma Rp 8.000,- saja. Sedangkan 2 orang turis cewek asal Perancis ditarik masing-masing Rp 20.000,- tapi nggak mau bayar dan cuma mau ngasih Rp 10.000,- per orang. Hahahaha..

17 September 2010

Selamat Datang Di Candi Terbesar Dunia, Candi Borobudur

Candi Borobudur

Saat tiba di Terminal Borobudur saya jadi teringat oleh perkataan Mas Lomar Dasika bahwa tidak perlu naik becak dari terminal menuju ke Candi Borobudur. Memang saat baru tiba di terminal, padahal bus belum berhenti para tukang becak dan tukang ojek sudah sangat bersemangat berebut naik ke dalam bus untuk menawarkan jasanya. Ini sangat mirip dengan porter yang ada di stasiun berebut masuk ke kereta saat kereta baru saja tiba, hanya saja beda jasa yang ditawarkan oleh mereka. Dengan banyaknya tukang becak yang berada di pintu bus, dengan sukses mereka membuat penumpang kesulitan untuk keluar.

Para tukang becak dan tukang ojek tadi langsung menawarkan jasanya kepada para penumpang yang turun dari bus. Dan memang sepertinya Terminal Borobudur didesain sedemikian rupa agar penumpang mau naik becak, ojek, ataupun andong. Beberapa tukang becak menawarkan untuk mengantarkan saya ke candi, tapi saya menolaknya dengan halus menggunakan Bahasa Jawa.

Meskipun sudah menolak, tapi masih ada saja yang menawarkan jasa becak kepada saya. Rata-rata mereka menawarkan dengan harga Rp 10.000,- untuk dua orang sampai dengan candi. Kembali saya harus menolak tawaran bapak tukang becak tersebut. Bapak tukang becak menawarkan dengan Bahasa Jawa, "Monggo Mas sedasa mawon dugi candi". Maksudnya, sepuluh ribu saja diantar sampai dengan candi. Dengan halus kembali saya tolak tawaran tersebut. Bahkan tukang becak tersebut sampai berani banting harga, "Nggih sampun, gangsal ewu mawon (ya sudah, lima ribu saja)". Saya pun menolaknya karena saya memang ingin berjalan kaki saja.

Candi Borobudur

Saya disini tidak mengalami hal yang dialami oleh Mas Lomar Dasika yang tukang becaknya sampai mengiba-iba. Saya berusaha menggunakan Bahasa Jawa halus saat meladeni tawaran dari tukang becak. Karena itu mungkin si tukang becak mengira saya adalah warga lokal, bukan seorang turis yang akan mengunjungi candi jadi tukang becak itu nggak ngotot menawarkan jasanya. Memang biasanya bahasa lokal cukup efektif digunakan saat travelling seperti ini. Dan saya beruntung beberapa tahun tinggal di Jogja dan sedikit-sedikit bisa berbahasa Jawa.

Jarak antara terminal sampai dengan candi memang tidak terlalu jauh, hanya sekitar 500 meter. Tadinya saya sempat bingung lokasi candinya ada dimana, setelah bertanya kepada penjual sayuran di pasar ternyata untuk ke candi harus berjalan ke arah barat dari terminal tadi (ke arah Alfamart atau Indomaret). Setelah masuk ke area parkir candi kita akan menemui loket untuk pembelian karcis. Sayangnya petunjuk untuk menuju loket ini banyak yang tertutup oleh pepohonan dan toko-toko yang menjual souvenir.

Tiket masuk Candi Borobudur saat saya masuk ini adalah Rp 17.500,-. Cukup mahal memang jika dibandingkan dengan tiket masuk Candi Prambanan ataupun Keraton Ratu Boko. Tapi meskipun ketiga candi yang saya sebutkan tersebut sama-sama dikelola oleh Borobudurpark.co.id, tapi tiket masuk Candi Borobudur masih menggunakan kertas yang disobek saat masuk ke area candi. Tidak seperti Candi Prambanan yang sudah menggunakan smart card.

Candi Borobudur

Kalau Anda ingat, Candi Borobudur adalah candi yang dibangun oleh Raja Samaratungga, yaitu salah seorang raja kerajaan Mataram Kuno keturunan Wangsa Syailendra pada abad ke-9 di Desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Bangunan yang dulunya masuk dalam tujuh keajaiban dunia ini memiliki 1.460 relief dan 504 stupa Buddha. Saya nggak ngitung sendiri, tapi dapet info dari baca-baca sejarah. Hehe.. Tapi sepertinya sekarang Candi Borobudur sudah tidak lagi masuk ke dalam tujuh keajaiban dunia. Meskipun begitu, bangunan ini tetap mengagumkan.

Bangunan Candi Borobudur berbentuk punden berundak dan terdiri dari 10 tingkat dengan ukuran 123 x 123 meter. Sebelum direnovasi tinggi candi adalah 42 meter, tapi setelah direnovasi tingginya menjadi 34,5 meter. Saya bingung, apanya yang dipangkas ya? Candi ini sudah selesai dibangun tiga abad sebelum Angkor Wat di Kamboja didirikan.

Candi Borobudur

Di sepanjang dinding Candi Borobudur terdapat relief-relief yang sangat melegenda, yaitu relief tentang Ramayana. Saya tidak tau pasti ceritanya bagaimana, mungkin kalau ingin benar-benar tau bisa menyewa jasa guide di pintu masuk dengan membayar Rp 60.000,- untuk menjelaskan tentang relief ini. Tapi yang saya tangkap, relief ini bercerita tentang kehidupan masyarakat pada saat itu. Bisa dilihat dari adanya relief kapal layar yang menceritakan tentang kemajuan pelayaran pada masa lalu, atau relief aktivitas petani yang mencerminkan kemajuan pertanian.

Nah saat awal masuk candi, saya membaca bahwa Candi Borobudur dibagi menjadi 3 teras yaitu Kamadhatu, Ruphadatu, dan Arupadhatu. Kamadhatu merupakan bagian dasar Candi Borobudur yang melambangkan bahwa manusia masih terikat oleh nafsu. Rupadhatu adalah empat tingkat di atas Kamadhatu yang melambangkan bahwa manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu tapi masih terikat rupa dan bentuk. Oleh karena itu dalam tingkatan ini patung Buddha diletakkan terbuka. Sedangkan Arupadhatu berada tiga tingkat di atas Rupadhatu dimana patung Buddha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang. Arupadhatu melambangkan bahwa manusia sudah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk. Di teras Arupadhatu ini pula terdapat patung dimana Sang Buddha berada. Mungkin kalau disimpulkan adalah untuk menuju sebagai manusia yang sempurna setara dengan Sang Buddha harus melewati tujuh tingkatan tadi. Mohon dikoreksi kalau salah.

Candi Borobudur

Saat berada pada teras Rupadhatu yang terdapat patung Buddha tertutup oleh stupa berlubang-lubang, saya jadi teringat perkataan bude saya saat saya pertama kali berkunjung ke Borobudur 12 tahun yang lalu. Bude saya yang orang asli Sleman itu mempercayai bahwa jika berhasil menyentuh patung Buddha yang ada di dalam stupa tersebut akan mendapatkan rejeki yang melimpah. Orang-orang menyebutnya dengan k*nt*l bimo. Tapi nggak usah dipercayalah, itu hanya sebuah mitos. Lagipula sangat mudah memegang patung Buddha di dalam stupa itu karena tidak terlalu dalam.

Cukup beruntung sebenarnya karena cuaca hari ini sangat baik. Tapi ada nggak enaknya juga karena masih puasa, panas yang terik benar-benar menguras tenaga. Padahal pemandangan di belakang Candi Borobudur yang berupa pegunungan sangat sayang jika dinikmati hanya sebentar saja. Tapi karena saya khawatir jika terjadi dehidrasi jadi saya putuskan untuk menyudahi kunjungan saya di Candi Borobudur, candi dengan segala kemegahannya yang luar biasa. Anda tertarik kesini juga??

Candi Borobudur