18 Maret 2011

7 Jam Berdiri Di Kereta Api Pasundan

7 Jam Berdiri Di Kereta Api Pasundan

Bepergian saat musim liburan (high season) sebenernya bukan hal yang saya sukai. Alasannya yang pertama adalah bakal kesulitan untuk mendapatkan tiket. Kedua, selain tiket sulit didapat, harganya juga akan melonjak tinggi. Dan alasan yang ketiga adalah akan merasa sangat sumpek saat diperjalanan.

Meskipun begitu, karena saya sudah nganggur beberapa hari dan nggak ada kerjaan jadi berangkatlah saya ke jogja 4 hari menjelang tahun baru 2011. Tiket kereta baik kelas bisnis ataupun eksekutif sudah habis terjual sampai dengan tahun baru. Dengan terpaksa pagi-pagi sekali saya ke Stasiun Wonokromo dengan harapan saya bisa naik kereta ekonomi ke Jogja.

Sampai di stasiun saya langsung membeli tiket untuk ke Jogja dengan harga 24.000. Kereta yang akan membawa saya ke Jogja pagi itu adalah Kereta Api Pasundan yang berasal dari Stasiun Surabaya Kota dengan tujuan akhir Stasiun Kiaracondong-Bandung. Dengan harga yang sangat murah, tiket ekonomi dapat dibeli oleh semua kalangan. Bayangkan saja, saat high season seperti ini harga tersebut hanyalah seperempat dari harga tiket kelas bisnis dan seperdelapan harga tiket kelas eksekutif.

Jadwal kereta pagi itu cukup ontime. Jam 6 tepat Kereta Pasundan sudah tiba di Stasiun Wonokromo. Sebelum jam tersebut saja para penumpang beserta barang bawaannya yang cukup banyak sudah berkumpul di sepanjang jalur kereta dengan harapan mereka akan mendapat tempat duduk nantinya. Saya juga mengikuti apa yang mereka lakukan. Begitu kereta datang, para penumpang langsung memegangi barang bawaan masing-masing. Kereta belum juga berhenti dengan sempurna mereka sudah berlari dan berebut untuk menaik kereta. Saya yang terpana melihat hal tersebut cuma bisa bengong dan malah nggak buru-buru naik. Mungkin saya jadi penumpang yang terakhir naik kereta.

Sudah nggak aneh lagi saya nggak dapet tempat duduk, lha wong orang-orang yang berebut naik lebih dulu dari saya tadi aja juga nggak kebagian tempat duduk kok. Kereta sepertinya sudah penuh semenjak di Stasiun Surabaya Kota dan Gubeng. Saya hanya bisa berdiri di lorong kereta bersama penumpang-penumpang lainnya. Ada beberapa penumpang yang bersedia membayar lebih untuk dapat duduk di gerbong makan. Kalo nggak salah bayar 25.000 sudah termasuk dapat makan satu kali.

Kereta sudah sangat penuh, itupun masih berhenti di beberapa stasiun dan masih ada saja penumpang yang naik membuat suasana di dalam kereta semakin berdesak-desakan. Anak-anak kecil banyak yang menangis karena sering kali terhimpit oleh penumpang lain. Apalagi pedagang asongan yang hampir dipastikan selalu ada di dalam kereta ekonomi. Mereka dengan santainya berjalan dan bisa berjualan di lorong kereta yang sudah sangat padat ini. Mungkin bagi mereka hal ini sudah biasa, malah menjadi rejeki.

Perjalanan 1-2 jam memang belum terasa melelahkan, tapi lama-lama kaki ini pegel juga. Pengennya duduk lesehan di lantai dengan menggelar koran, sayangnya juga nggak bisa karena lorong kereta yang cukup sempit serta pedagang asongan yang mondar-mandir nggak ada habisnya. Duduk di bawah sih nggak apa-apa kalo pengen diinjek-injek sama pedagang asongan. Huuhuu..

Untuk menyiasati pegelnya kaki beberapa kali saya nebeng duduk di arm rest penumpang yang duduk. Lumayanlah paling nggak ada tempat duduk walaupun nggak nyaman juga. Sialnya sewaktu saya tanya ke beberapa penumpang yang satu gerbong, rata-rata tujuan akhirnya adalah Jogja dan Bandung. Waduh, apess!! Bakal berdiri sepanjang perjalanan nih.

Benar saja saudara-saudara, saya dan banyak penumpang lain harus berdiri sampai Jogja. Bahkan mungkin tidak sedikit juga yang berdiri hingga Bandung. Tidak bisa dibayangkan betapa capeknya ini kaki nahan berdiri selama berjam-jam. Akhirnya jam 1 siang Kereta Api Pasundan sampai di Stasiun Lempuyangan Jogja. Kaki saya rasanya seperti mau copot. Hikmahnya, saya merasakan juga paling tidak rasanya orang-orang mudik dengan kereta ekonomi yang berjubel luar biasa. Salut buat mereka yang rela berdesak-desakan bahkan berdiri sepanjang perjalanan untuk bertemu dengan keluarga di kampung halaman. Di kereta ekonomi saya juga melihat wajah-wajah yang mungkin sulit ditemui di kereta bisnis/eksekutif. Ada yang ramah, ada yang cuek, ada yang terlihat beringas, macem-macem lah pokoknya.

Nahhh, kalau punya anak kecil sebaiknya tidak usah bepergian dengan kereta ekonomi saat high season apalagi saat peak season (lebaran). Kasihan anaknya kalau harus ikut berdesak-desakan.


11 komentar:

  1. Saya pernah naik kereta ekonomi Logawa dari Jogja ke Banyuwangi, 14 jam dengan 8 jam berdiri...gilaaaa... >.<

    BalasHapus
  2. ada yang lebih parah dari saya ternyata.. xixixixii

    BalasHapus
  3. mas tri..tuuh ada yg liatin mas tri...yg pake topi biru...dia mungkin bilang..."waaaah saya pasti bakal masuk koran atw majalah neeh..."^_^

    BalasHapus
  4. kayaknya sih gitu mbak.. hahaha.. baru nyadar juga kalo ada yang ngeliatin waktu saya foto.. :D

    BalasHapus
  5. aku dulu sering naik logawa dr jogja-probolinggo, kadang sampek banyuwangi tengah malem jg.
    banyak banget pengalamannya,salah satunya waktu nyempil d kereta makan. udah enak2 dapet tempat, eh sampek stasiun semut disuruh pindah gr2 kreta maknnya mau d copot. akhirnya loncat ke rel, bawa barang banyak, bawa adikku yg masih kecil, cari tempat di gerbong lain, padahal ya wes gak muat lg.
    tapi gak pernah kapok jg. soalnya murah meriah sih... :D

    BalasHapus
  6. aku sih udah beberapa kali naik kereta ekonomi, tapi nasibnya nggak seburuk ini.. hahaha

    BalasHapus
  7. ada yang lebih parah dari saya ternyata.. xixixixii

    BalasHapus
  8. saya pernah berdiri lebih dari 24 jam. Ga kenapa-napa cuma mata doang yang ga tahan ngantuk sampe keluar air mata. Kalau 7-8 jam mah ok ok aja

    BalasHapus
  9. gak kenapa2 cuma kaki gemeteran -___-"

    BalasHapus