23 Maret 2011

Masih Seputar Lereng Merapi

Masih Seputar Lereng Merapi

Baru beberapa hari sebelumnya saya ke lereng Merapi tepatnya ke Kali Kuning dan Dusun Kinahrejo. Kali ini saya kembali lagi ke lereng Merapi karena ajakan dari kakak saya yang juga penasaran dengan kondisi yang terjadi di lereng Gunung Merapi pasca erupsi. Dengan menggunakan motor matic Honda Vario berangkatlah kami menuju kesana. Kebetulan keponakan saya yang masih berumur 1 tahun lebih juga diajak.

Karena sebelumnya saya sudah ke Kali Kuning dan Dusun Kinahrejo, jadi kali ini saya tidak kesana lagi. Tujuan saya kali ini adalah ke Kali Gendol. Nggak sulit untuk menemukannya. Saya berjalan dari arah Stadion Maguwo dan lurus saja ke utara. Beberapa petunjuk jalan akan terlihat meskipun tidak begitu jelas. Cuaca yang cerah dan udara yang sejuk menemani jalan-jalan kami pagi itu.

Masih Seputar Lereng Merapi

Setelah 45 menit perjalanan kami lalui, sampailah kami di Kali Gendol. Suasana ramai sudah cukup terasa disana. Walaupun kami sudah datang pagi-pagi, ternyata ada juga yang lebih pagi dari kami :D. Di Kali Gendol tidak ada bedanya dengan yang terjadi di Kali Kuning maupun Dusun Kinahrejo. Tidak ada rumah yang berdiri, semuanya rata dengan tanah dan terasa sangat gersang karena pohon-pohon banyak yang tumbang. Ya mau bangaimana lagi, Kali Gendol ini merupakan salah satu aliran lava pijar dan awan panas saat Merapi terjadi erupsi. Jadi tidak heran kalau kita bisa melihat batu yang sebesar mobil berserakan di aliran Kali Gendol.

Masih Seputar Lereng Merapi

Sepertinya warga yang berada di daerah aliran Kali Gendol ini juga memanfaatkan kunjungan turis yang ada. Dengan kondisi Kali Gendol yang sedemikian rupa dimanfaatkan untuk Toru de Gendol. Yang hobi sepedahan pasti doyan banget melahap track yang naik turun disertai tikungan dan batu-batuan Merapi yang berhamburan cukup banyak di sekitar aliran Kali Gendol. Dengan adanya Tour de Gendol ini sepertinya juga cukup memikat para pecinta sepeda gunung. Terbukti dengan banyaknya rombongan sepeda gunung yang mencoba track ini.

Di sepanjang aliran Kali Gendol juga terdapat beberapa alat berat yang digunakan untuk menambang pasir di aliran Kali Gendol. Saat mengambil pasir dengan alat berat tersebut terlihat pasir masih panas. Lagi-lagi ini menjadi bukti bahwa masih ada keuntungan di tengah bencana. Nah saat di aliran Kali Gendol ini keponakan saya yang imut-imut dan nakal ini sepertinya sangat tertarik dengan alat berat yang sedang menggali pasir sehingga selalu berusaha untuk berlari mendekatinya. Padahal angin cukup kencang, keponakan saya yang baru bisa jalan ini sering geleyoran saat angin berhembus. Tapi namanya juga anak kecil, tetep nekat..

Masih Seputar Lereng Merapi

Setelah cukup puas berada di Kali Gendol, kami menuju ke sebuah dusun yang tidak jauh dari Kali Gendol. Saya lupa nama dusunnya, yang jelas jaraknya juga tidak jauh dari Dusun Kinahrejo yang saya kunjungi beberapa hari sebelumnya. Dampak semburan awan panas saat erupsi Gunung Merapi juga sangat terasa dusun ini. Rumah hancur, ternak mati, dan pepohonan juga tumbang. Namun di dusun ini para warganya sudah mulai bergotong royong membangun rumah-rumah mereka. Meskipun rumah baru yang dibangun ini hanya terbuat dari kayu yang sangat sederhana dengan ukuran yang cukup kecil, akan tetapi sudah terlihat bagaimana para warga berusaha untuk bangkit pasca bencana meletusnya Gunung Merapi.

Dari dusun ini kita juga bisa menuju ke Dusun Kinahrejo tempat kediaman Mbah Marijan. Tentunya kendaraan yang kita gunakan cukup diparkirkan disana, kemudian kita menggunakan jasa ojek yang sudah disediakan oleh penduduk setempat. Kami tidak menuju ke Dusun Kinahrejo karena hembusan angin yang cukup kencang, kasihan si kecil yang kesulitan bernapas. Lha saya berdiri aja sampai sempoyongan kok untuk menahan angin.

Masih Seputar Lereng Merapi

Di dusun yang terletak tidak jauh dari Kali Gendol ini kami hanya nongkrong di sebuah warung milik seorang warga. Ibu pemilik warung menceritakan kejadian yang menimpa mereka saat Merapi erupsi. Beruntungnya rumah ibu ini masih berdiri meskipun terbakar saat awan panas turun. Padahal rumah-rumah warga yang lain sampai hancur berantakan.

Masih Seputar Lereng Merapi

Hari sudah siang, panas semakin menjadi, kamipun pergi meninggalkan lereng Merapi menuju ke rumah. Kembali saya berdoa agar lereng Merapi cepat pulih seperti semula dan perekonomian warga menjadi normal seperti sedia kala. Amin!!


5 komentar:

  1. udah lama gak liat blognya mas tri :D
    jadi pengen ke jogja, kemaren ke surabaya cuma dilewat aja tuh jogja

    BalasHapus
  2. Huhu... semoga nggak terjadi banjir lahar dingin lagi...

    BalasHapus
  3. @zoerry: sayang banget mbak nggak mampir jogja.. karena menurutku sih jogja jauh lebih menarik daripada surabaya.. hahaha :p

    @kakaakin: iya semoga saja, karena kalo saya liat efek banjir lahar dingin malah lebih besar daripada saat erupsinya..

    BalasHapus