23 Maret 2011

Merapi, Riwayatmu Kini....

Merapi, Riwayatmu Kini....

Saat liburan ke Jogja akhir tahun lalu saya menyempatkan untuk melihat lereng Merapi dari dekat. Karena saya kurang begitu paham dengan seluk beluk jalan menuju kesana, saya ditemani oleh dua orang teman saya yang bersedia mengantarkan ke lereng Merapi. Letusan Gunung Merapi pada akhir Oktober sampai awal November 2010 telah menghancurkan apapun yang berada di lereng Merapi. Bagaimakah kondisi lereng Merapi pasca letusan?

Merapi, Riwayatmu Kini....

Tempat yang pertama kami datangi adalah Kali Kuning. Dulu saya pernah sekali ke Kali Kuning. Kalau tidak salah ingat sekitar tahun 2005. Tentunya sudah lama sekali. Dulu Kali Kuning terlihat sangat hijau dan sejuk. Pepohonan tumbuh subur dimana-mana. Tempat ini juga menjadi tempat yang cukup nyaman untuk melepas penat seperti halnya Kaliurang. Namun pasca letusan Merapi yang terjadi menjelang akhir tahun silam, Kali Kuning sudah berubah sangat drastis. Kali Kuning sangat gersang, banyak pohon tumbang, jembatan yang ada juga rusak. Awan panas sepertinya cukup dahsyat menyapu tempat ini sehingga menjadi porak-poranda. Kali Kuning yang dulu menjadi tempat wisata sekarang sudah tidak ada tanda-tanda lagi kalau tempat ini dulunya adalah tempat wisata yang sangat asyik untuk dikunjungi.

Merapi, Riwayatmu Kini....

Merapi, Riwayatmu Kini....

Dari Kali Kuning kami bergeser ke tempat yang lebih dekat dengan Gunung Merapi yaitu menuju ke Dusun Kinahrejo. Tentu sudah tidak asing dong dengan nama dusun yang satu ini karena cukup sering disebut di media cetak maupun elektronik. Yupz.. Dusun Kinahrejo merupakan dusun tempat tinggal Mbah Marijan, seorang yang dikenal sebagai juru kunci Gunung Merapi namun beliau juga meninggal dunia karena Gunung Merapi juga.

Merapi, Riwayatmu Kini....

Untuk masuk ke Dusun Kinahrejo para pengunjung yang datang di tarik retribusi. Lima ribu rupiah untuk masuk satu motor plus satu pengemudinya. Pengunjung hari itu sangat ramai sehingga antrian untuk bayar retribusi juga sampai mengular. Para pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari Kota Jogja saja, tetapi juga berasal dari luar kota seperti Bandung, Jakarta, Surabaya, Semarang, dan lain-lain. Sepertinya para pengunjung ini juga cukup penasaran dengan kondisi lereng Gunung Merapi pasca letusan.

Merapi, Riwayatmu Kini....

Sampai di Dusun Kinahrejo saya cukup terenyuh, tidak ada lagi rumah yang berdiri. Sama sekali tidak ada. Pohon-pohon juga sudah rata dengan tanah. Tempat yang semula sangat hijau ini menjadi sangat gersang. Di beberapa tempat bahkan masih tercium bau bangkai binatang ternak seperti sapi dan kambing yang tidak sempat selamat saat awan panas menerjang. Sangat miris melihat hal ini.

Merapi, Riwayatmu Kini....

Dengan kondisi yang sedemikan hancurnya namun pengunjung yang datang begitu banyak, para warga memanfaatkan peluang untuk kembali membangkitkan akitfitas perekonomian. Ada yang berjualan makanan di tengah debu-debu yang terus menerpa, ada yang menjadi tukang ojeg, ada yang menjadi tukang parkir, dan ada yang meminta sumbangan kepada pengunjung. Ya, memang pengunjung tidak diijinkan untuk membawa kendaraannya masuk sampai dengan lokasi tempat tinggal Mbah Marijan. Untuk sampai di lokasi rumah Mbah Marijan yang cukup menyita perhatian sebagian besar masyarakat Indonesia tersebut, para pengunjung harus naik ojek dengan ongkos 20.000. Hal ini sepertinya memang sudah dikoordinasikan oleh para penduduk setempat, dan hasilnya akan digunakan untuk membangun kembali dusun mereka yang sudah diterjang oleh semburan awan panas.

Merapi, Riwayatmu Kini....

Sayang sekali saat itu cuaca sedang kurang baik. Meskipun kami berada cukup dekat dengan Merapi namun gunung yang paling aktif di Indonesia itu tidak terlihat sama sekali karena tertutup awan pekat. Yang menggembirakan saat kunjungan saya ini terlihat beberapa relawan sedang menanam pohon untuk menghijaukan kembali lereng Merapi. Mudah-mudahan lereng Merapi segera hijau kembali, dan semoga warganya pun segera berbenah untuk menapaki kehidupan yang baru setelah bencana melanda. Amin!!


0 komentar:

Posting Komentar