16 Juli 2011

Candi Bima-Dataran Tinggi Dieng

Candi Bima

Dieng tidak hanya mempunyai wisata alam, wisata sejarah juga sangat kental berada disini. Salah satu wisata sejarah yang bisa dikunjungi adalah Candi Bima. Candi ini merupakan salah satu dari sederetan candi yang ada di Dataran Tinggi Dieng. Lokasinya sangat mudah dijangkau karena di tepi jalan sebelum pintu masuk Kawah Sikidang. Anda bisa mengunjungi Candi Bima sebelum atau sesudah mengunjungi Kawah Sikidang.

Candi Bima merupakan candi Hindu yang dibangun pada awal abad ke-9. Candinya nggak begitu besar dengan ukuran yang hanya 6 x 6 meter dengan tinggi 8 meter. Bagian atapnya penuh dengan hiasan-hiasan berbentuk seperti mangkuk yang tangkupkan. Candi ini memiliki ruangan, seperti halnya pada candi-candi Hindu di Jawa Tengah. Biasanya di ruangan candi terdapat arca, namun pada Candi Bima ruangannya kosong alias nggak ada apa-apa. Saya nggak tahu apakah memang aslinya kosong atau arcanya sudah dipindahkan. Sulit mencari infonya karena nggak ada yang jaga, selain itu juga nggak ada informasi tentang candi ini di sekitar lokasi.

Komplek Candi Bima nggak terlalu luas namun rapi. Sepertinya juga jarang pengunjung yang datang kesini, mungkin karena Candi Bima adalah candi kecil jadi kurang menarik perhatian pengunjung. Yang saya lihat sewaktu saya kesini hanyalah pasangan muda-mudi yang saya yakini adalah penduduk setempat, Mereka sedang asyik berpacaran ataupun foto-foto. Kalau orang di kota pacarannya di mall, bioskop, atau nongkrong di taman kota.. Kalau orang disini pacarannya di candi. Keren kan?

Anak-anak muda di Dieng ini cukup ramah-ramah loh. Sewaktu melihat saya datang ke candi dan mereka tahu kalau saya adalah wisatawan, mereka menyapa dengan ramah dan sedikit berbasa-basi menanyakan asal saya dengan logat Jawa-Ngapak yang sangat kental ciri khas penduduk Jawa Tengah bagian barat. Lha kok bisa tahu kalau saya wisatawan? Lha iya, kalau penduduk setempat nggak ada yang gendong backpack gede kemana-mana. Haha.. Rata-rata masyarakat Dieng memang ramah dan sangat respek dengan para wisatawan. Sangat nyaman memang berwisata di Dieng.


4 komentar:

  1. Makin iriiiiii pengen ke Diennnngggg...mau merasakan keramahan masyarakat Dieng...huaaaaaaaaaa...Mamaaaaaaaaaaaaaa......

    *nangis guling-guling di trotoar*

    *setelah tangis mereda*

    Mas Tri, entah kenapa saya menemukan trend pacaran di candi kayaknya sudah biasa yah di masyarakat yang tinggal berdekatan dengan lokasi candi. Bukan gimana-gimana sich. Tapi candi kan biasanya terbangun pada abad 7-11 M. Artinya, mereka sudah ada jauhhh sebelum bahkan kakek canggah kita eksis. Apa ngga serem yah pacaran di tempat seperti itu? Hahahaha....pas di Gedong Songo aja,saya agak takut2 pas masuk ke dalam ruang candi, sendirian, tanpa adanya wisatawan lain di sekeliling saya. :D

    BalasHapus
  2. lah emang liburan tahun ini pergi kemana mas? nggak ke dieng aja melanjutkan perjalanan yang dulu batal.. hehe..

    wah kalau serem atau nggak sih menurut saya nggak serem mas.. cuma kalau candinya masih digunakan sebagai tempat ibadah itu yang bikik agak gimana gituu

    BalasHapus
  3. Meutia Halida Khairani24 Juli, 2011 21:25

    huuu, pengen ke candi, pengen fotoan, pengen difoto disitu. hehehe. tapi kalo harus bawa backpack gede, capek jg yah..

    BalasHapus
  4. kalo nggak mau capek cari hotel dulu.. backpack ditinggal di hotel.. buruan ke jateng dan DIY gih kalo mau liat banyak candi..

    BalasHapus