19 Juli 2011

Candi Setyaki Yang Sudah Tidak Asli Lagi (?)

Candi Setyaki

Penelusuran candi di Dataran Tinggi Dieng masih berlanjut. Mudah-mudahan nggak bosen. Hehehe.. Nggak jauh dari Candi Arjuna masih ada lagi loh candi yang bisa Anda lihat, namanya Candi Setyaki. Jaraknya cuma sekitar 200 meter dari Candi Arjuna, cukup jalan kaki aja buat kesana. Candi Setyaki terlihat menyendiri di tengah lapangan yang menghijau. Di sekelilingnya hanya ada rerumputan maupun tanaman-tanaman pertanian milik warga. Meskipun di Komplek Candi Arjuna cukup ramai, tapi saat saya ke Candi Setyaki nggak ada pengunjung lain yang menengok candi ini. Adanya cuma gerombolan domba yang sibuk mencari makan. Benar-benar seperti candi yang sudah terlupakan.

Kalau dilihat sekilas Candi Setyaki ini terlihat seperti halnya candi-candi lain di Dieng yaitu candi yang bercorak agama Hindu. Namun siapa yagn menyangka kalau bangunan candi ini ternyata sudah bukan bangunan yang asli lagi. Menurut info, candi ini dibangun lagi dengan menggunakan pondasi yang lama (asli). Kemudian batuan baru disusun di atas pondasi untuk melengkapi batuan lama yang masih bisa digunakan. Batuan baru ini selanjutnya disusun dan dipahat sesuai dengan kondisi aslinya.

Pertanyaannya, emang boleh ya batuan pengganti dipahat untuk menggantikan batuan lama yang sudah rusak? Seingat saya dulu waktu belajar sejarah, guru saya mengatakan kalau ada arca maupun bangunan candi yang hilang kemudian akan diganti dengan batuan yang baru, batuan baru tersebut tidak boleh dipahat menyerupai aslinya. Hanya boleh berupa batuan utuh saja misal bentuk balok yang ditaruh untuk menggantikan arca atau bagian bangunan yang hilang. Mungkin ada di antara rekan-rekan ahli arkeologi/sejarah yang bisa menjelaskan hal ini?

Selain Candi Setyaki sebenarnya di sekitar sini masih ada lagi candi-candi lain seperti Candi Petruk, Candi Antareja, Candi Nala Gareng, Candi Nakula, dan Candi Sadewa. Hanya saja candi-candi ini sudah sulit diidentifikasi karena yang tersisa hanya pondasi-pondasinya. Mungkinkah batuan yang berserakan di dekat Candi Setyaki itu salah satu dari candi-candi ini? Atau itu hanya sebuah candi perwara yang menjadi satu kesatuan dengan Candi Setyaki? Nggak tau deh.. Mumet!! :D


13 komentar:

  1. Setahu saya sih memang begitu Mas, batu pengganti biasanya batu andesit polos. Dulu pas saya kesana tidak bisa mengamati dengan teliti, sebab candinya sedang dipergunakan sebagai latar foto model. Beh... >.< 

    BalasHapus
  2. saya sekarang di Yogyakarta bukan di Aljubail lagi
    ass.
    wah baru tahu nama candi seyaki,
    pingin juga mengunjungi candi tersebut

    BalasHapus
  3. jd penasaran neh ama candinya, duh.. ga ngerti jg seh ttg boleh diganti atw ngga :D hehehe *pdahal saya pernah kuliah di sejarah..hehe*

    BalasHapus
  4. model? orang lokal yang lagi pacaran yah? xixixiiixi

    BalasHapus
  5. mumpung udah di jogja, jalan-jalan ke dieng mbak buat ngadem.. hehe

    BalasHapus
  6. coba buka kembali mbak catatan sejarahnya.. xxixiixi :p

    BalasHapus
  7. wah lagi banyak ngulas ttg wisata candi to? jd pengen ke jogja lagi trakhir taon kemarin mampir ke prambanan. xixixi aku gak tau ttg bangunan candi bs diganti dgn batuan baru & dipahat sesuai aslinya ato enggak. tp menurutku ndak apa dari pada potongannya berserakan tok dibawah dan ndak terurus ato ilang gt. tp mkn jg dr segi sejarahnya jd ndak asli lg yo? *ikut mumet ha..ha..

    BalasHapus
  8. iya mbak, lagi berkutat dengan cerita Dieng.. banyak candi-candi disana.. makanya mbak kalo batunya diganti dengan yang baru dan dipahat berarti udah hilang dong nilai historisnya karena jelas-jelas itu tiruan..

    BalasHapus
  9. bukan, fotomodel beneran, tapi nggak cantik-cantik amat siy dan logatnya ngapak gitu, hihihi :D

    BalasHapus
  10. Meutia Halida Khairani25 Juli, 2011 07:20

    hmm, mungkin supaya tetep ada bentuknya tu candi, supaya bisa di lestarikan, jadi dipahat aja. dulu di aceh banyak bgt istana indah (berdasarkan buku sejarah). tp karena nggak di lestarikan, sekarang udah nggak ada lagi jejaknya. jadi mending  dipahat gitu deh biar kita pada tau klo dulu ada candi dengan bentuk seperti ini.. *mulai sotoy

    BalasHapus
  11. kalo begitu ya orang situ-situ aja.. (banjarnegara, wonosobo, dan sekitarnya).. hiihihi..

    BalasHapus
  12. mungkin sih maksudnya gitu mut.. cuma ya menurutku bangunannya udah nggak ada nilai sejarahnya lagi kalo udah dipahat sesuai dengan bentuk aslinya.. :D

    *beda pendapat itu biasa*

    BalasHapus
  13. mari belajar manajemen pemugaran candi dari sumber yang dapat dipercaya dan dapat dipertanggungjawabkan kebenaran secara ilmiah pula. Bukan berdasarkan info atau suara pihak-pihak yang tidak menghadapi langsung/bertanggung jawab dalam pelaksanaan pekerjaannya. Pelindungan dan pelestarian Cagar budaya tidak berdasarkan pada info, tapi melalui kajian ilmiah dan dipertanggungjawabkan secara teknis dan administasi....terima kasih

    BalasHapus