17 Juli 2011

Jejak Purbakala Di Museum Dieng Kailasa

Museum Dieng Kailasa

Museum Dieng Kailasa terletak persis di depan Komplek Candi Gatotkaca. Tempat parkirnya saja jadi satu kok dengan tempat parkir Candi Gatotkaca. Cukup menyeberang jalan saja sudah sampai di Museum Dieng Kailasa. Sudah menjelang sore seperti ini museum sudah sangat sepi. Saya lihat tidak ada orang disana. Sepertinya museum sudah tutup. Tapi tidak lama kemudian datanglah rombongan tour dari Jakarta. Ada bulenya dan ada juga turis lokalnya. Pintu museum dibuka kembali. Saya tentu ikut gabung dengan mereka masuk ke dalam museum. Untuk masuk museum sih tertulis tiket masuknya 2.000 rupiah, tapi dengan ikut bersama rombongan tour ini jadi gratis. Hohoho..

Museum Dieng Kailasa

Di komplek Museum Dieng Kailasa ini terdapat beberapa bangunan. Tapi yang menjadi bangunan utama tempat menyimpan benda-benda bersejarah ada dua. Antara dua bangunan ini terpisah satu sama lain. Pertama saya masuk adalah pada bangunan yang paling depan dengan bentuk segi empat dengan ukuran nggak terlalu luas. Di dalam ruangan ini tersimpan beberapa arca yang ditemukan di Dataran Tinggi Dieng. Arcanya nggak banyak sih. Hanya ditata berjejer di sepanjang pinggir ruangan. Ada juga beberapa arca yang cukup besar terletak di tengah ruangan. Mungkin ini bisa menjadi jawaban pertanyaan saya kenapa ruangan pada candi-candi di Dieng hanya kosong melompong. Mungkin saja arcanya sudah dipindahkan ke museum ini agar terhindar dari tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab.

Masuk ke bangunan kedua, tata ruangnya agak unik. Bangunannya berbentuk lingkaran sehingga pajangan yang ada di dalam museum ditata sedemikian rupa mengikuti bentuk bangunan. Pada ruangan kedua ini banyak menampilkan berbagai informasi tentang Dataran Tinggi Dieng seperti awal mula terbentuknya Dieng, kehidupan masyarakat, pertanian, kesenian, candi-candi di Dieng, hingga legenda tentang anak bajang (rambut gimbal). Berbagai benda peninggalan sejarah bisa ditemui disini. Paling banyak sih tentang candi yang berupa arca. Selain itu juga ada alat pertanian, alat masak, dan benda-benda kesenian dan kerajinan masyarakat Dieng.

Museum Dieng Kailasa

Museum Dieng Kailasa

Museum Dieng Kailasa juga memilik theater loh. Theater baru akan diputar jika pengunjung minimal ada 10 orang. Katanya sih isinya tentang arkeologi Dieng. Saya sendiri nggak nonton theaternya karena saat itu nggak diputarkan, mungkin karena sudah sore. Selain itu di atap museum bisa difungsikan juga sebagai panggung terbuka. Kalau Anda mau jalan-jalan atau bersantai di sekitar museum juga bisa kok. Lagipula tempatnya rapi dan pemandangannya juga bagus. Kalau mau ke Museum Dieng jangan lupa kalau museum buka mulai pukul 08.00 sampai dengan 15.00. Jangan sampai terlewat!


4 komentar:

  1. Mikir-mikir, lucu juga ada museum di tempat tinggal para dewa.. apalagi liat barangnya ada kendil buat menanak nasi.. apakah dewa juga menanak nasi?.. hohoho..

    sama kayak di borobudur kan juga ada museum yang isinya tentang kapal, dan pelayaran nusantara gitu.. kalo dipikir2 kan rada nggak nyambung sama candinya sendiri.

    Mungkin biar mengelolanya enak kali ya. makanya disatuin tempatnya

    BalasHapus
  2. ya untuk kendil dan lain-lain itu sih hanya untuk menceritakan tentang kehidupan masyarakat dieng.. selain itu juga ada seperti kuda lumping yang mungkin menggambarkan kesenian disana, walaupun di tempat lain juga ada..

    kalau pandangan saya sih museum ini berisi tentang dieng secara keseluruhan, nggak cuma peninggalan arca-arca candi saja..

    BalasHapus
  3. Meutia Halida Khairani24 Juli, 2011 21:50

    saya jadi terbayang, gmn ya jaman mereka itu...? banyak dewa cuy...

    BalasHapus
  4. namanya juga rumah para dewa.. xixixiixi...

    BalasHapus