28 Juli 2011

Kehidupan Masyarakat Dieng

Kehidupan Masyarakat Dieng

Dataran Tinggi Dieng adalah wilayah yang masuk dalam Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Saya kurang tahu dengan detail batas-batas wilayahnya. Tempat saya menginap yaitu Hotel Asri sampai dengan Telaga Warna itu masuk ke dalam wilayah Wonosobo. Namun kalau sedikit saja berjalan ke arah Candi Arjuna itu sudah termasuk Kabupaten Banjarnegara. Wilayah Dieng ini kalau saya nggak salah terbagi dalam tiga bagian yaitu Kejajar (tempat saya menginap), Dieng Kulon (pemukiman dekat Candi Arjuna), dan Dieng Wetan.

Dieng tidak hanya dikenal dengan wisata alam dan wisata sejarahnya yang luar biasa mengagumkan. Masyarakat Dieng juga dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan santun. Mereka ini hidup berdampingan dengan alam. Sebagian besar masyarakat Dieng memang menggantungkan hidup dengan alam sebagai petani. Tanaman yang menjadi andalan petani di Dieng adalah kentang. Dengan mudah Anda bisa menemukan tanaman kentang di Dataran Tinggi Dieng. Bahkan hasil kentang Dieng adalah yang terbesar di Indonesia. Sayuran lain juga ada namun variasinya nggak banyak karena Dieng lokasinya cukup tinggi dan mempunyai suhu yang sangat dingin jadi hanya tanaman yang berpohon pendek, berukuran kecil, dan berdaun tebal seperti kentang yang bisa tumbuh dengan baik disini.

Kehidupan Masyarakat Dieng

Selain kentang hasil pertanian lain di Dieng adalah Carica dan Purwaceng. Carica adalah buah sejenis pepaya yang katanya hanya hidup di dua tempat di dunia yaitu Brazil dan Dieng. Biasanya buah ini diolah menjadi manisan dan dikemas dalam bentuk gelas untuk dijual di pasaran. Kalau mau membeli buah Carica yang belum diolah juga ada kok. Saya sempat melihatnya di warung-warung yang ada di Dieng Plateau Theater. Sementara Purwaceng yang pernah sedikit saya bahas adalah tanaman yang cukup langka karena hanya bisa hidup di tempat dengan ketinggian 2.000 meter dpl atau lebih. Purwaceng biasa diolah menjadi sebuah minuman atau kapsul yang berkhasiat untuk menambah vitalitas pria.

Dengan kondisi alam Dieng yang luar biasa indah dan banyaknya tempat wisata, masyarakat Dieng juga menggantungkan hidup kepada para wisatawan dengan menyewakan penginapan atau homestay. Banyak sekali penginapan dan homestay yang tersebar di sepanjang Kejajar dan Dieng Kulon. Harganya sangat bervariasi, mulai dari yang paling murah adalah 50.000 untuk penginapan sederhana. Sedangkan rata-rata harga untuk homestay adalah 120.000-200.000 tergantung dari fasilitas yang disediakan.

Menjadi tukang ojek adalah profesi sebagian kecil masyarakat Dieng. Bagi yang ke Dieng tidak menggunakan kendaraan sendiri tukang ojek menjadi solusi alternatif untuk berkeliling Dieng. Anda bisa menyewanya selama beberapa hari. Tarif ojek untuk dua hari keliling Dieng adalah 100.000-150.000. Tukang ojek ini sekaligus bisa menjadi guide Anda saat berkeliling Dieng. Selain itu beberapa warga bekerja sebagai guide, tukang panggul di ladang, dan pengamen di beberapa tempat wisata.

Kehidupan Masyarakat Dieng

Ada sebagian orang berpendapat bahwa tinggal di tempat yang suhunya dingin membuat kulit menjadi putih. Tapi ini sepertinya nggak berlaku untuk warga Dieng. Rata-rata warna kulit warga Dieng adalah coklat tua seperti halnya orang Jawa kebanyakan meskipun suhu udara di Dieng sangat dingin. Mau tahu kenapa? Ini hanya dugaan saya saja, mungkin kebiasaan masyarakat Dieng berjemur di bawah terik matahari pada pagi hingga siang hari adalah penyebabnya. Maklum saja, pada jam 10 pagi dimana matahari sudah mulai di atas kepala tapi udara dingin disini masih saja terasa. Saya juga mengalami hal yang sama kok. Untuk menghilangkan rasa dingin saya ikut-ikutan berjemur di panas terik matahari. Hasilnya adalah kulit muka saya jadi gosong, bahkan sampai mengelupas. Padahal sewaktu disana nggak terasa panasnya.

Selain beberapa profesi yang saya sebutkan di atas, masyarakat Dieng juga terkenal akan kesenian daerahnya. Setiap RT/RW memiliki kelompok-kelompok tari tersendiri yang melakukan pentas saat ada festival budaya. Luar biasa!! Benar-benar masyarakat yang dekat dengan alam, sejarah, dan budaya. Hal yang tidak kalah menarik adalah adanya fenomena anak berambut gimbal (gembel) yang hanya bisa ditemukan di Dataran Tinggi Dieng. Beberapa hal yang sudah saya sebutkan ini bisa disaksikan nanti saat puncak Dieng Culture Festival 2011 berlangsung. Tunggu aja ya laporannya!


8 komentar:

  1. Endah Wijayanti28 Juli, 2011 16:07

    Pengen ke Dieng, tapi belum sempet :'(

    BalasHapus
  2. kentang Dieng menjadi primadona dimana-mana, tapi ironisnya lahan pertanian kentang makin meluas seiring dengan hutan yang kian dirambah serta unsur hara tanah yang makin berkurang...

    BalasHapus
  3. nyesel loh kalo sampe ngga punya kesempatan ke dieng.. hehe

    BalasHapus
  4. bener mas.. biasanya selalu ada efek negatif dari hasil yang positif.. gunung2 di dieng sudah mulai gundul akibat lahannya digunakan sebagai lahan pertanian kentang..

    BalasHapus
  5. Saya pernah ke Dieng, dan di sana hawanya sejuuuuuk sekali, kalau tak bisa dibilang dingin. :)

    BalasHapus
  6. sejuk kalau siang... kalau malem sampai pagi udah nggak bisa dibilang sejuk lagee.. :D

    BalasHapus
  7. Meutia Halida Khairani03 Agustus, 2011 12:21

    sama aja kayak di bandung, saya malah jadi item di bandung n di jkt jadi putih. anehh -__-
    btw, foto pertama kayak di jepang. ada gunung fujinya.. itu gunung apa?

    BalasHapus
  8. emang dulu di bandung suka berjemur mut? haha,.. itu gunung sindoro, nggak jauh sih dari dieng..

    BalasHapus