15 Juli 2011

Melihat Cerita Tentang Dieng Di Dieng Plateau Theater

Dieng Plateau Theater

Bagi saya wisata Dieng memang luar biasa, sangat memanjakan pengunjungnya. Bagaimana tidak, jarak dari satu lokasi wisata ke lokasi yang lain cukup berdekatan. Puas menelusuri Telaga Warna, Goa Semar, Goa Sumur, Goa Jaran, serta Telagan Pengilon, saya kemudian melanjutkan petualangan saya di Dieng. Tentu yang saya tuju adalah lokasi yang paling dekat dengan Telaga Warna terlebih dahulu yaitu Dieng Plateau Theater (DPT). Nggak perlu keluar dari Telaga Warna atau menggunakan kendaraan untuk ke DPT, cukup dengan berjalan kaki saja karena ada akses jalan dari Telaga Warna sampai ke DPT. Di tepi Telaga Warna ada jalan naik ke arah DPT dengan melewati puluhan anak tangga, mungkin juga ratusan sih. Jaraknya kira-kira 200 meter. Agak bikin ngos-ngosan kalau nggak bawa minum. Dari jalan ini saya juga bisa melihat keindahan Telaga Warna dari atas.

Hanya berjalan beberapa menit saya sudah sampai di Dieng Plateau Theater. Ini adalah bioskop mini untuk melihat berbagai macam hal tentang Dieng. Bangunannya agak unik karena malah mirip seperti rumah-rumah di Toraja dengan bentuk terlihat dari depan seakan-akan memanjang, padahal aslinya melingkar. Saya tidak perlu membayar lagi untuk masuk karena saya sudah membeli tiket terusan. Cukup memperlihatkan tiket kepada petugas kemudian tiket saya akan dilubangi pada gambar DPT pertanda saya sudah masuk disana. Tapi disini saya harus menunggu sebentar karena rombongan lain sudah masuk terlebih dahulu beberapa menit yang lalu. Kalau saya ikut masuk pasti saya sudah ketinggalan ceritanya.

Dieng Plateau Theater

Sambil menunggu para rombongan yang sudah masuk sebelumnya keluar, saya membeli minum dan makanan yang dijual di warung-warung di sekitar DPT. Ada sekitar 5-6 warung disana dan rata-rata menjual makanan yang sama yaitu kentang goreng dan jamur krispi. Saya beli kentang goreng yang masih hangat dengan ukuran yang besar-besar. Dengan harga yang cuma 5.000 dapat kentang goreng yang lumayan banyak. Makan kentang gorengnya cuma pakai saus sambal. Ya paling tidak untuk mengganjal perut saya yang terakhir diisi saat sarapan tadi pagi. Oh ya, disini untuk pertama kalinya saya melihat anak-anak berambut gimbal secara langsung. Cerita tentang anak berambut gimbal di Dieng akan saya posting kemudian.

Dieng Plateau Theater

Dieng Plateau Theater

Saat rombongan tour tadi sudah keluar semua saya dipersilahkan masuk oleh petugas. Ruangannya tidaklah besar, hanya bisa menampung sekitar 100 orang dengan jarak antar kursi depan dan belakang sangat rapat. Agak menyiksa untuk orang berbadan tinggi yang mengambil tempat duduk di tengah. Judul film yang diputar adalah "Dieng Negeri Kahyangan (God Abode)" yang juga memiliki subtitle dalam Bahasa Inggris. Film ini berkisah tentang proses terjadinya Dataran Tinggi Dieng yang berawal dari letusan gunung raksasa, potensi alam Dataran Tinggi Dieng yang banyak dimanfaatkan untuk bertani sayuran, pesona wisata Dataran Tinggi Dieng, gejala vulkanologi kawah Dieng, kejadian Kawah Sinila tahun 1979 yang membunuh ratusan warga, kesenian tradisional khas Dieng, sejarah rambut gimbal anak-anak Dieng, tradisi ruwatan potong rambut gimbal, serta embun salju yang turun di kawasan Dieng. Filmnya cukup menarik dan informatif walaupun durasinya hanya sebentar saja, sekitar 30 menit.

Selesai menonton film saya kembali menuruni anak tangga ke arah Telaga Warna. Kemudian saya menuju ke parkiran untuk selanjutnya melihat Kawah Sikidang yang jaraknya juga nggak terlalu jauh dari Telaga Warna.


10 komentar:

  1. Dieng keren yaaa....nggak hanya wisata alam dan wisata kebudayaan sejarah, namun ada informasi dalam bentuk sinema seperti ini. penataannya sungguh luar biasa.

    Mas Tri berkesempatan untuk melihat langsung embun salju tersebut?

    BalasHapus
  2. iya mas lomar, saya juga takjub.. jarak antar lokasinya cukup berdekatan..

    emabun salju? kebetulan sempet liat mas, pagi2... luar biasa!!

    BalasHapus
  3. Entah kenapa saya merasa kentang Dieng rasanya beda dengan kentang-kentang yang dijual di pasar-pasar Jogja. Jadi selalu kangen dengan kentang goreng di warung depan museum itu. Kemarin waktu ke sana, saya ndak sempat nonton film karena sudah terlampau sore. Hanya lihat-lihat koleksi museumnya saja.

    Eh, nyobain minuman Purwaceng nggak Mas?

    BalasHapus
  4. persis mas.. kentang dieng itu rasanya enak, beda kayaknya sama kentang disini.. memang karena saya lapar atau memang benar-benar enak ya?

    purwaceng? xixixiixiii.. pengen nyobain, tapi bingung nanti ngetes khasiatnya sama siapa? hahahhaa :D

    BalasHapus
  5. Meutia Halida Khairani24 Juli, 2011 21:13

    subhanallah,indah banget ya Talaga warna ituu... saya bahkan baru tau ttg anak2 rambut gimbal.. 

    BalasHapus
  6. betul mut.. mau tau lebih jauh tentang anak rambut gimbal? tunggu ya.. :D

    BalasHapus
  7. sudah nyampe mana mas jalan2nya? udah lama ga BW kesini :D haduuuh.. ini salah satu tempat yang pengen banget saya datengin.. baru bisa ngiler aja lah sekarang :D :D

    BalasHapus
  8. udah sampe medan dan bandung.. tapi belum sempet nulis nih.. :D

    BalasHapus
  9. benar2 eksplore dieng nih kayaknya, nice info. trims bro!

    BalasHapus