13 Juli 2011

Selamat Datang Di Rumah Para Dewa, Dataran Tinggi Dieng

Dataran Tinggi Dieng

Akhirnya sampai juga di Dataran Tinggi Dieng setelah menempuh perjalanan selama tiga jam dari Jogja. Sebelum menjelajah Dieng ada baiknya kalau saya sedikit bercerita tentang Dieng. Secara geografis Dataran Tinggi Dieng dimiliki oleh empat kabupaten di Jawa Tengah yaitu Wonosobo, Banjarnegara, Temanggung, dan Batang. Namun untuk area wisatanya kebanyakan masuk di Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara. Dengan ketinggian rata-rata 2.000 meter di atas permukaan laut membuat Dieng menjadi dataran tertinggi kedua di dunia setelah Tibet/Nepal di Pegunungan Himalaya. Dengan lokasi yang cukup tinggi tersebut nggak heran kalau suhu udara di Dieng cukup dingin. Suhu berkisar antara 15-20 derajat pada siang hari dan bisa turun hingga kurang dari 10 derajat pada malam hari. Suhu pada saat musim kemarau (Juli-Agustus) lebih ekstrem lagi karena bisa mencapai nol derajat pada pagi hari. Jadi kalau mau ke Dieng sebaiknya persiapkan berbagai macam baju tebal seperti jaket, penutup kepala, kaos kaki, sepatu, dan kalau perlu penutup hidung (masker). Kenapa? Udara disini sangat lembab. Jika belum terbiasa dan langsung menghirup udara yang lembab ini hidung terasa sakit, bahkan berujung pada sakit kepala juga.

Dataran Tinggi Dieng merupakan wilayah vulkanik aktif yang mirip seperti gunung api raksasa. Anda akan dengan mudah menemui kawah-kawah aktif di sekitaran Dieng. Dieng terbentuk karena letusan gunung berapi yang sangat dahsyat. Sampai sekarang bisa dikatakan kondisi geologi Dieng masih cukup labil karena sering terjadi pergerakan-pergerakan tanah. Namun aktifnya Dieng tidak bersifat eksplosif seperti Gunung Merapi, Semeru, dan gunung-gunung lainnya. Dieng bersifat lebih kalem tapi yang membahayakan adalah munculnya gas beracun (CO) dari kawah-kawah yang mengelilingi Dieng. Contoh paling nyata adalah letusan Kawah Sinila pada tahun 1979 yang membunuh ratusan warga karena menghirup gas CO yang mematikan. Dan yang paling baru tentu saja aktifnya Kawah Timbang yang mengeluarkan gas beracun pada bulan Mei kemaren, bahkan sampai sekarang statusnya masih siaga. Nggak usah khawatir adanya status Kawah Timbang yang masih siaga karena lokasinya berjarak 15 km dari lokasi wisata.

Nama Dieng sendiri berasa dari Bahasa Kawi: "di" berarti tempat atau gunung dan "hyang" berarti dewa. Dengan demikian Dieng dapat diartikan pegunungan sebagai tempat para dewa dan dewi bersemayam. Nuansa Hindu begitu kental disini dengan banyaknya candi-candi Hindu yang ditemukan di Dieng seperti Candi Arjuna, Candi Bima, Candi Gatotkaca, Candi Dwarawati, dan candi-candi lainnya. Meskipun demikian sebagain besar warga Dieng adalah muslim yang taat. Saya tidak tahu berapa persen yang memeluk agama Hindu. Sebagian besar dari masyarakat ini bekerja sebagai petani. Sayur-sayuran tumbuh dengan subur di Dataran Tinggi Dieng.

Oke, segitu dulu pengenalnnya. Sudah siap berkeliling Dieng? Ada banyak sekali tempat-tempat menarik dan hal-hal unik yang saya temui disana. Ikutin terus ya!! :D


12 komentar:

  1. Rumputilalang13 Juli, 2011 15:12

    sudah aman dikunjungi ya mas?

    BalasHapus
  2. sangat aman mas.. yang aktif itu kawah timbang, lokasinya 15 km dari lokasi wisata dieng.. lagi pula kawah timbang bukanlah tempat wisata, jadi nggak perlu repot2 kesana..

    BalasHapus
  3. ahaiiiii...kangen banget ama dieng..... aku dulu KKn di wonosobo...tiap akhir pekan maen mulu ke dieng....

    BalasHapus
  4. kedinginan saya mbak kalo tinggal di wonosobo atau di dieng lama-lama.. :D

    BalasHapus
  5. Konon yach Mas, pemeluk Hindu terusir waktu Kerajaan Demak ekspansi wilayah kerajaan mereka. Mereka terusir ke timurnya Jawa Timur seperti di wilayah Tengger dan wilayah "Pandalungan dan Osing" seperti Probolinggo, Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi serta ke seberang pulau yakni Bali dan Lombok. Ekspansi mereka nggak bisa lebih ke timur lagi sebab ada Kerajaan Sumbawa di timur. Kalau lebih ke timur lagi, ketemu sama kepulauan NTT yang saat itu harusnya masih beranimisme dinamisme hehehe...sekian lintas sejarahnya :p

    yang jelas, saya iriiiiii *saya udah bilang saya iri belum yach?* kalau Mas Tri sampai ke Dieng ini. soalnya saya belum pernah. hahaha...Saya akan mencapai tempat ini. pasti! Eh mas, bener-bener dingin dibanding Cemoro Lawang? Mas Tri ada persiapan memadai?

    Kawah Sinila itu yang menginpirasi Ebiet G. Ade menciptakan lagu "Berita Kepada Kawan". liriknya dimulai dengan "Perjalanan ini..." hehehe

    eh, saya jadi penasaran. Mengapa Kawah Timbang nggak dijadikan objek wisata yach? apakah belum? atau memang tidak?

    BalasHapus
  6. owhh jadi pemeluk hindu kebanyakan terusir ke arah timur ya? saya baru tau tentang info ini.. terimakasih mas lomar atas infonya..

    sebelum kesini saya sudah mempersiapkan jaket tebal, penutup kepala, sarung tangan.. tapi kalo nggak bawa bisa juga dibeli di dieng.. banyak yang jual aksesoris kecuali jaket.. jaket harus bawa sendiri.. hehe..

    kawah timbang sepertinya memang tdak akan dijadikan objek wisata mas. kalau nggak salah ingat berdasarkan film yang diputar di dieng plateau theater, kawah timbang sering mengeluarkan gas beracun. bisa dipastikan kalaupun ada yang datang  kesana dilarang mendekati kawah. yang mendekat kesana hanya peneliti dengan baju dan masker khusus seperti astronot.. hehe..

    BalasHapus
  7. Meutia Halida Khairani24 Juli, 2011 17:54

    huueee, saya tau Dieng itu dataran tinggi. tapi kirain masih sama dinginnya kayak bandung. ternyata dingiiiin sekaliiiii

    BalasHapus
  8. kalo dibanding sama bandung ya jelas masih jauh lebih dingin dieng lah mut.. yang bisa ngimbangin mungkin ya bromo..

    BalasHapus
  9. Dian Sigit Solichedi17 Oktober, 2011 09:00

    Thx for sharing ya mas, ijin ilmunya saya pke sedikit2. kmrin habis liburan dr dieng soalnya :)

    BalasHapus