1 Agustus 2011

Fenomena Anak Rambut Gimbal Di Dieng

Anak Rambut Gimbal Di Dieng

Berbagai macam keunikan ada di Dieng. Mulai dari alamnya yang indah, masyarakat yang santun dan ramah, makanan yang khas, dan peninggalan sejarah yang cukup banyak. Tapi nggak cuma itu saja yang unik di Dieng. Keunikan lainnya adalah Anda bisa menemui anak-anak berambut gimbal atau kalau orang lokal menyebutnya gembel. Antara helaian rambut yang dimiliki anak-anak ini saling merekat sampai tidak bisa disisir. Mirip sekali dengan rambut-rambut bergaya reggae. Anak-anak ini nggak perlu ke salon untuk membuat rambut bergaya reggae karena rambut-rambut gimbal ini akan tumbuh dengan sendirinya. Ya ini adalah ciri-ciri yang sangat menonjol dari anak-anak keturunan Dieng.

Menurut cerita rakyat, datangnya rambut gimbal ini berasal dari Ratu Laut Kidul yang dititipkan kepada Tumenggung Kolo Dete. Tumenggung Kolo Dete adalah seorang panglima dari Keraton Yogyakarta yang sedang mengasingkan diri di kawasan Dieng. Nantinya keturunan dari Tumenggung Kolo Dete akan mempunyai rambut gimbal. Tapi rambut gimbal ini akan diminta kembali oleh Ratu Laut Kidul.

Pada mulanya rambut anak-anak Dieng normal. Pada usia sekitar dua tahun si anak akan terserang sakit panas tinggi selama beberapa hari dan bisa sembuh tanpa obat. Sakit panas yang sangat tinggi itu adalah awal mula tumbuhnya rambut gimbal. Saat rambut gimbal kembali tumbuh, sakit panas itu kembali berulang. Konon rambut gimbal ini adalah sebagai anugerah tapi juga sekaligus menjadi kesialan. Untuk itu anak rambut gimbal harus diruwat (potong rambut gimbal). Jika sudah pada waktunya, si anak akan meminta untuk dipotong rambut gimbalnya. Namun si orang tua harus menuruti apapun keinginan anaknya sebelum diruwat. Menurut kepercayaan, permintaan ini sebenarnya bukan permintaan langsung si anak melainkan permintaan dari makhluk halus. Nggak kebanyang kan kalau anaknya minta diruwat setelah dewasa dan permintaannya Honda Jazz atau motor Ducati? Bangkruttt!! Hihihiihi..

Agar si anak tidak sakit dan gembel tidak tumbuh kembali, potongan rambut harus diletakkan pada cawan berisi air dari Bima Lukar dan bunga setaman agar rambut ini bisa diterima Ratu Kidul. Sekedar info, Bima Lukar adalah salah satu sumber mata air yang berada di Dataran Tinggi Dieng. Tidak lupa pada ruwatan ini juga disertakan sesaji yang berupa nasi tumpeng, ayam panggang, dan jajanan pasar.

Ritual terakhir dalam ruwat rambut gimbal adalah melarung potongan rambut agar sampai kepada Ratu Kidul. Larung dilakukan di tempat yang terdapat air yang mengalir ke pantai pantai selatan. Biasanya lokasi larung rambut gembel ini dilakukan di Sungai Serayu atau Telaga Warna. Percaya nggak percaya, menurut saya tradisi sakral masyarakat Dieng ini sangat menarik untuk disaksikan. Bagaimana prosesi lengkapnya? Tunggu aja ya di acara puncak Dieng Culture Festival 2011. :D


12 komentar:

  1. ooh ... apa bukan karena jarang disampo aja ? bisa ya ada kejadian kayak begitu

    BalasHapus
  2. nggak dong tiara.. memang kejadiannya seperti itu.. tapi nanti setelah dipotong dengan ruwatan rambutnya tumbuh normal kok.. mungkin ini karena keturunan aja kali yah..

    BalasHapus
  3. wah kemarin pas ke sini gak dapat bocah gimbalnya

    BalasHapus
  4. padahal banyak loh bocah2 gimbal yang bermain baik di DPT maupun komplek candi.. :D

    BalasHapus
  5. Meutia Halida Khairani03 Agustus, 2011 12:54

    kalo sampe harus kasi sesaji gituan, bukannya malah jadi syirik yah? emang masyarakat sini masi animisme gt? bukannya udah ada mesjid..?

    BalasHapus
  6. yang di foto itu nggak terlalu kelihatan gimbalnya yach Mas? iya loch, padahal saya pikir gimbalnya itu seperti penyanyi Reggae macam Bob Marley, Sania *santai saja* atau Mbah Surip. hehehe

    Dieng memang kayak akan keunikan tersendiri yach Mas.

    hmm...permintaan termahal seorang anak yang pernah diajukan apa tuh? Porche Cayman barangkali? XD

    BalasHapus
  7. kalo menurut juru kuncinya sih ini hanya sekedar melestarikan tradisi budaya mut.. sedangkan penduduknya tetap menjadi muslim yang taat.. tapi ya nggak tau juga kalo mereka benar2 percaya dengan mitos2 ini..

    BalasHapus
  8. tapi emang ada kok yang gimbalnya semacam bob marley atau mbah surip.. namun itu jarang.. gimbalnya pun macem2 kok mas jenisnya..

    nggak tau deh yang diajukan paling mahal berapa. tapi sepertinya malah yang diajukan itu permintaan aneh2 yang bagi kita agak sedikit nggak masuk akal, seperti ayam hitam panggang, 100 bungkus tempe, dan lain-lain..

    BalasHapus
  9. Meutia Halida Khairani18 September, 2011 04:34

    tapi kayaknya tetep aja yah, kalo ada sesaji gitu, jadi gimana gt. hehe.. tauk ah! :p

    BalasHapus
  10. Meutia Halida Khairani18 September, 2011 04:36

    kirain tu image utk avatarnya.. hehe, jadi aneh.. maaf tri, ga tau cara hapusnya :D

    BalasHapus
  11. Yudi Febrianda10 Juni, 2012 11:50

    sesaji merupakan bagian dari tradisi kepercayaan kejawen. secara formal penduduk dieng memang mayoritas muslim. tapi tradisi kepercayaan jawa (kejawen) masih eksis. 
    fenomena anak gembel ini sudah sangat jauh berkurang sejak islam menguat di Dieng. periode sebelum 1980-an, hampir semua anak Dieng berambut Gimbal.

    hasil penelitian saya taun 2001-2003 ttg Anak Gembel di Dieng ini silahkan diliat di
    http://catatansikudaliar.blogspot.com/2011/01/anak-gembel-di-dieng-titisan-sang.html 

    BalasHapus