8 September 2011

Dieng Culture Festival 2011: Larung Rambut Gimbal

Dieng Culture Festival 2011: Larung Rambut Gimbal

Pada dasarnya dalam acara ruwat rambut gimbal saat Dieng Culture Festival 2011 ini terdapat empat prosesi yang utama yaitu kirab rambut gimbal, jamasan/memandikan si anak rambut gimbal, pemotongan rambut gimbal, dan yang terakhir adalah larung rambut gimbal. Berdasarkan legenda, rambut gimbal anak-anak Dieng ini berasal dari Ratu Laut Kidul yang dititipkan kepada Tumenggung Kolo Dete beserta keturunannya. Untuk itu pada prosesi terakhir ruwatan rambut gimbal adalah melarung hasil potongan rambut anak-anak tadi ke sebuah sungai yang bermuara ke Laut Selatan (Samudra Hindia) untuk mengembalikan rambut gimbal kepada Ratu Laut Kidul. Biasanya yang digunakan untuk melarung potongan rambut gimbal adalah Telaga Warna dan Sungai Serayu. Air Telaga Warna memang mengalir ke Sungai Serayu dan diyakini bermuara sampai ke Samudra Hindia.

Dari Komplek Candi Arjuna, rombongan para sesepuh dan para abdi yang membawa potongan rambut gimbal menuju ke Telaga Warna dengan menggunakan kereta wisata yang sama saat melakukan kirab tadi. Jarak antara Komplek Candi Arjuna dan Telaga Warna agak jauh jika harus ditempuh dengan jalan kaki. Untuk itu saya dan beberapa orang jurnalis nebeng mobil pickup bak terbuka yang juga membawa petugas pengamanan pariwisata.

Dieng Culture Festival 2011: Larung Rambut Gimbal

Dieng Culture Festival 2011: Larung Rambut Gimbal

Sesampainya di pintu masuk Telaga Warna, seorang juru kunci langsung duduk untuk berdoa kemudian berjalan ke arah telaga diikuti rombongan dengan hening. Tidak ada suara yang terdengar kecuali dari gesekan langkah kaki. Komunikasi antar jurnalis dan pengunjung yang ingin melihat proses pelarungan pun hanya berupa bisikan-bisikan. Langkah kaki mulai terhenti saat rombongan sudah sampai di lokasi pelarungan. Lokasinya dekat dengan Goa Sumur dan Goa Jaran. Para sesepuh dan abdi duduk bersila pada tempat yang sudah disediakan di tepi telaga.

Ritual diawali dengan berdoa dan menyalakan beberapa batang dupa. Terlihat rambut gimbal berada di dalam baskom disertai beberapa sesajen yang juga akan dilarung ke Telaga Warna. Seperti tadi, suasanya sangat hening. Hanya suara shutter kamera yang terdengar. Selesai berdoa, lima orang sesepuh mulai berjalan memasuki telaga. Mereka berjejer dari depan sampai belakang. Potongan rambut gimbal yang ada di dalam baskom dilarung terlebih dahulu. Kemudian diikuti oleh sesajen yang berupa pisang, nasi tumpeng, dan lain-lain. Setelah rambut dan sesajen dilarung, para sesepuh ini kembali berdoa sebagai penutup berlangsungnya ritual ruwatan rambut gimbal.

Sebelum bubar, para sesepuh ini diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi. Pada intinya yang saya tangkap, para sesepuh ini dulunya juga berambut gimbal. Mereka hanya meneruskan tradisi turun-temurun yang diceritakan orang tua mereka. Sementara itu adanya sesajen dan sejenisnya hanyalah sebagai simbol rasa terima kasih kepada Tuhan. Menurut mereka Tuhan nggak doyan sama yang namanya sesajen, jadi sesajen itu hanya simbol belaka. Kalau Tuhan doyan sesajen pasti semua orang bakal memeberikan sesajen. Dan yang cukup menggembirakan, para sesepuh ini sangat setuju apabila ruwatan rambut gimbal digunakan sebagai promosi pariwisata karena akan mendongkrak perekonomian masyarakat Dieng.

Dieng Culture Festival 2011: Larung Rambut Gimbal

Dieng Culture Festival 2011: Larung Rambut Gimbal

Mungkin bagi sebagian orang menganggap ritual-ritual seperti ini sudah melenceng dari ajaran agama karena mempercayai hal-hal gaib atau sejenisnya. Tapi ambil saja sisi positifnya. Ini salah satu kekayaan budaya Indonesia yang tidak dimiliki bangsa lain dan bisa menjadi alat untuk mendongkrak potensi pariwisata. Tentu saja efeknya bisa menumbuhkan perekonomian masyarakat dalam bidang kepariwisataan.

Dengan berakhirnya ruwatan rambut gimbal, maka berakhir pula acara puncak Dieng Culture Festival 2011. Saya kembali ke penginapan nebeng lagi mobil bak terbuka tadi. Saya istirahat sejenak di penginapan dan kemudian mandi sebelum udara menjadi sangat dingin menusuk tulang. Karena hari belum terlalu sore, waktu yang tersisa saya lanjutkan untuk jalan-jalan lagi keliling sekitar Dieng. Kemana saja? Tunggu di postingan berikutnya...


5 komentar:

  1. akhirnya muncul lagi mas :P
    pengen liat langsung ih
    emang sih ada kesan siriknya ya tapi setuju juga gg bisa dipungkiri ini kekayaan budaya Indonesia yang cuma ada di Indonesia

    BalasHapus
  2. hohoo.. iya setelah semedi satu bulan sekarang baru nongol.. :D

    yuk kalo mau liat tahun depan ke Dieng.. :D

    BalasHapus
  3. Meutia Halida Khairani18 September, 2011 12:16

    hummm, sebenarnya melestarikan budaya dan syirik itu deket ngga yah?
    kalo di aceh, ngga ada sih budaya yg ngasi2 sesajen beginian. tapi
    emang, kalo mikirin syirik dan budaya utk seneng2 begini ilang, susah jg
    ya.. wallahu'alam~~

    BalasHapus
  4. bisa dibilang beda tipis sih non.. dari satu sisi ingin melestarikan budaya, tapi di sisi lain juga nggak mau adanya syirik.. susah juga yah.. karena pada dasarnya orang-orang terdahulu sudah seperti ini.. kalo mau murni bebas syirik saya jamin banyak sekali budaya yang hilang total. termasuk acara2 grebeg yang diadakan keraton jogja untuk memperingati maulid nabi muhammad, maupun grebeg syawal saat lebaran..

    BalasHapus
  5. Meutia Halida Khairani20 September, 2011 12:17

    ya sudahlah, kita nikmati aja. hehehe

    BalasHapus