13 September 2011

Melihat Koleksi Kereta Di Museum Kereta Api Ambarawa

Museum Kereta Api Ambarawa

Siapa sih yang nggak kenal Ambarawa? Sebuah kota kecil yang terletak tidak jauh dari ibu kota Jawa Tengah, Semarang. Sebuah kota yang dulunya sebagai basis militer Pemerintah Kolonial Belanda. Kota yang dikenal dengan peristiwa Palagan Ambarawa yaitu pertempuran antara rakyat Indonesia melawan pasukan Sekutu di Ambarawa. Kalau masih belum inget juga ya kebangetan deh, lha wong di buku sejarah SD pasti ada kok. Hehe

Berbicara mengenai Kota Ambarawa, ingatan saya selalu tertuju kepada Museum Kereta Api. Padahal walaupun saya sering mondar-mandir Jogja-Semarang, tapi saya belum pernah sama sekali ke museum ini. Mungkinkah karena seringnya museum ini ditayangkan di TV sehingga membuat saya teringat terus? Sepertinya sih iya. Hehe.. Nah untuk menghilangkan rasa penasaran saya, dalam perjalanan touring ini saya agendakan untuk mempir di Museum Kereta Api Ambarawa.

Begitu memasuki area museum Anda akan disambut oleh sebuah lokomotif tua yang terletak di halaman depan museum. Jangan heran ya kalau museum ini menyerupai stasiun karena museum ini memang dulunya adalah stasiun kereta api. Namanya Stasiun Willem I. Stasiun ini dibuat pada tahun 1873 oleh Pemerintah Kolonial Belanda yang difungsikan untuk mengangkut pasukannya ke Semarang. Nama Stasiun Willem I masih menempel di dinding stasiun (museum) loh sampai sekarang. Kalau nama resminya sih Stasiun Ambarawa. Nggak percaya? Liat aja sendiri. Hohoho..

Museum Kereta Api Ambarawa

Museum Kereta Api Ambarawa

Kesan pertama saya begitu melihat bangunan stasiun yang sudah berubah menjadi museum ini adalah arsitekturnya mirip banget sama Stasiun Tawang di Semarang. Bukan dalam hal bentuk bangunannya loh, tapi bentuk-bentuk jendela, pintu, dan hiasan-hiasan pada dinding bangunan. Di Museum Kereta Api Ambarawa terdapat dua ruang utama. Ruang yang pertama adalah ruang perkantoran meliputi loket penjualan tiket kereta wisata, ruang kepala stasiun, dan ruang-ruang administrasi lainnya. Sedangkan ruang yang kedua adalah ruang tempat menyimpan beberapa koleksi museum. Koleksinya antara lain telepon jadul, peralatan telegram morse, bel antik, topi masinis, mesin ketik, koleksi foto-foto, dan beberapa barang-barang antik lainnya.

Sudah cukup di dalam ruang museum? Yuk pindah ke halaman museum. Di halaman museum terdapat beberapa koleksi lokomotif uap. Tipe-tipenya saya nggak tahu dan memang nggak saya catat. Kebetulan saya juga bukan seorang railfan yang suka memperhatikan detail loko kereta. Hehehe.. Jumlahnya cukup banyak juga, ada sekitar 20-an lokomotif. Di antara lokomotif-lokomotif ini beberapa masih bisa dioperasikan loh. Semuanya masih terawat dengan baik. Ada beberapa bagian loko memang terlihat keropos. Selain sudah termakan usia, mungkin juga karena terkena hujan dan panas secara langsung. Maklumlah, lokomotif disini sudah berusia lebih dari 100 tahun dan diletakkan di tempat terbuka.

Museum Kereta Api Ambarawa

Museum Kereta Api Ambarawa

Anda tertarik jalan-jalan dengan kereta wisata? Anda bisa beli tiketnya di loket stasiun tadi dengan harga 25.000. Tapi kereta yang dioperasikan ini adalah Kereta Wisata Diesel dengan rute Ambarawa-Tuntang, bukan kereta uap yang jadul itu. Kereta wisata ini dioperasikan setiap hari mulai pukul 08.00-15.00. Sayangnya saat saya datang Kereta Wisata Diesel sedang rusak. Kereta tersebut kemudian diganti dengan Kereta Lori Wisata dengan harga tiket yang sama. Tadinya saya ingin mencoba naik kereta tersebut. Namun setelah melihat rupa Kereta Lori Wisata saya pun berubah pikiran. Hehe.. Keretanya itu mirip kereta odong-odong untuk anak-anak yang biasanya untuk keliling kampung itu loh. Bedanya kalau yang keliling kampung itu lewat jalan kampung atau jalan raya, sedangkan kalau Kereta Lori Wisata ini lewat rel. Ya mungkin belum beruntung aja jadi nggak bisa menikmati paling tidak Kereta Wisata Diesel. Kalau Anda nekat ingin naik kereta uap jadul yang sudah berusia lebih dari 100 tahun, Anda bisa menyewanya dengan biaya sekitar 5 jutaan. Harga sewa yang sama dengan Kereta Uap Jaladara di Solo. Menarik bukan?


7 komentar:

  1. ebuset mahal banget mau naek kereta uap :P
    kereta lorinya yang mana sih kok gg difoto ?
    huu jadi ceritanya gg lanjut ke Semarang nih ?

    eh khansa putri itu Tiara ya hhihhi aneh ak dipanggil putri :P

    BalasHapus
  2. halah.. ganti nama segala kamu tir? :D

    iya mahal banget.. coba kalo cuma 50.000 aja pasti aku mau.. hmm.. ke semarang nggak yah? :D

    kereta lorinya kira-kira kayak foto yang tak lampirin ini.. aku nggak ngambil fotonya.. ini nyolong dari image hosting orang.. hahaha


    *note: bagi yang punya foto ane minta ijin yak.. :D

    BalasHapus
  3. Oom Tri...sampai juga dirimu mencicipi museum ini. hehehe. Jadi kangen sama Ambarawa. habis dari Bandungan, tiba di Ambarawa. pulang dari Muncul, kembali ke Ambarawa juga. Mau ke Yogyakarta, pasti lewat Ambarawa juga. hihihi.

    museumnya menarik ya? sayang, nggak rame. padahal interior dan perawatannya bagus loch. :)

    BalasHapus
  4. iya mas, cukup menarik museumnya.. tapi masih ngincer naik kereta uapnya itu mas.. cuma harga sewanya nggak nguati.. kalopun ada kereta diesel saya mau deh, asal bukan kereta lori wisata.. hehe..

    BalasHapus
  5. Meutia Halida Khairani27 September, 2011 11:42

    huee, ini sih bener2 stasiun kereta yg berubah jadi museum ya.. saya jg lupa2 inget apaan itu ambarawa, hehehehehe...

    BalasHapus
  6. tepaat sekali.. aslinya dulu emang stasiun, dan sekarang masih tetep jadi stasiun kok.. stasiun untuk kereta wisata.. :D

    BalasHapus
  7. ini kotaku mas,,hehehe

    BalasHapus