9 September 2011

Nyore Di Telaga Merdada

Telaga Merdada

Hari sudah mulai sore saat acara larung potongan rambut gimbal selesai dilaksanakan. Dari Telaga Warna saya kembali nebeng mobil bak terbuka bersama dengan para petugas keamanan pariwisata. Saya minta turun tepat di depan penginapan saya yaitu Hotel Asri. Begitu tiba di penginapan saya kemudian beristirahat sejenak lalu mandi. Mumpung masih belum terlalu sore jadi lebih baik mandi saja, paling tidak dinginnya belum kebangetan.

Masih ada waktu sekitar tiga jam tersisa sebelum maghrib datang. Memanfaatkan waktu yang masih lumayan ini saya gunakan saja untuk mengunjungi tempat yang lokasinya tidak jauh dari penginapan yaitu Telaga Merdada. Yah itung-itung buat jalan-jalan sore. Motor saya keluarkan dari penginapan.. Daann... Susah sekali ngidupinnya. Electric starter nggak berhasil menghidupkan motor saya. Terpaksa beberapa kali harus dipancal dengan kick starter baru bisa hidup mesinnya. Itupun susah sekali. Sepertinya efek suhu udara di Dieng yang begitu dingin membuat oli mesin agak membeku. Putaran mesin menjadi sangat berat sehingga susah sekali dihidupkan.

Telaga Merdada

Mesin motor saya panaskan selama kurang lebih 10 menit baru saya beragkat menuju Telaga Merdada. Saat melewati Dieng Kulon saya mampir dulu di sebuah warnet untuk melakukan backup foto yang ada di memory camera ke dalam flash disk. Kebetulan saya waktu itu memang nggak bawa netbook. Walaupun lokasinya di pelosok tapi ada beberapa warnet loh yang ada di Dieng Kulon. Lumayan bagi para wisatawan yang ingin terhubung dengan dunia luar. Hohoho..

Backup data cukup 30 menit sambil online sebentar baru deh meluncur ke Telaga Merdada. Telaga Merdada sendiri berada di Desa Karang Tengah. Dari jalan menuju ke arah Banjarnegara masih belok kiri melewati jalan yang cukup jelek. Mendekati area telaga kabut tebal sudah mulai turun. Lumayan mengganggu karena jarak pandang jadi rendah. Tidak lama kemudian saya sudah sampai di area parkir Telaga Merdada.

Telaga Merdada

Telaga Merdada sore itu sangat sepi. Mungkin saya adalah satu-satunya pengunjung yang datang. Ada tempat seperti gardu yang sepertinya untuk pembayaran loket masuk tapi nggak ada yang jaga, jadi anggap aja gratis. Area parkir Telaga Merdada lumayan luas, bisa menampung beberapa mobil dan cukup banyak sepeda motor. Ada fasilitas toilet juga tapi sepertinya sudah rusak dan dalam kondisi yang mengenaskan.

Telaga Merdada memiliki luas kurang lebih 15 hektar. Di sekeliling terlaga di kelilingi oleh bukit dan tebing. Untuk itu Anda harus menuruni bukit yang cukup landai untuk sampai di telaga. Sore itu telaga benar-benar sangat tenang. Tidak ada pengunjung satupun kecuali saya. Di tepi telaga hanya terlihat dua sampai tiga orang penduduk yang sedang memancing. Saya menghampiri salah satu dari mereka. Ternyata si bapak masih belum dapat ikan juga walaupun udah dua jam mancing disini.

Karena berfungsi sebagai tempat wisata, di Telaga Merdada juga sudah disediakan tiga buah perahu wisata bagi Anda yang ingin berkeliling telaga. Tapi namanya juga sepi pengunjung apalagi sudah sore, pemilik perahunya nggak tahu dimana. Perahu hanya dibiarkan tertali di batang-batang bambu yang terletak di tepi telaga. Sebenarnya Telaga Merdada cukup bagus, tapi sayang saya kesini sudah sore. Sepanjang mata memandang sudah mulai tertutup kabut. Otomatis telaga menjadi gelap karena kabut tersebut. Bagi Anda yang ingin ke Telaga Merdada ada baiknya jika Anda datang pada pagi atau siang hari saat kabut belum turun. Sore hari keindahan telaga sudah turun drastis karena yang terlihat hanya kabut yang tebal.

Telaga Merdada

Di sekeliling telaga Anda bisa menjumpai beberapa pohon cemara yang masih berdiri kokoh. Hanya sedikit pepohonan tinggi yang terlihat. Namun lahan pertanian yang ditanami tumbuhan seperti kacang, jamur, dan carica sangat mendominasi di sekitar telaga. Selain itu aneka macam bunga tumbuh subur di sekitar telaga. Paling banyak saya lihat adalah bunga pancawarna.

Berlama-lama di Telaga Merdada sih enak-enak saja karena tempatnya cukup nyaman dan udaranya sangat sejuk. Tapi kalau sepi banget seperti ini ya agak-agak ngeri juga. Apalagi kabut tebal mulai turun menjadikan telaga cukup gelap. Daripada pikiran nggak tenang lebih baik saya segera meninggalkan Telaga Merdada.


5 komentar:

  1. Meutia Halida Khairani20 September, 2011 12:21

    berani bgt jadi pengunjung sendirian. saya mulai serem sama kabut kalo setebal itu. foto background perahu kayak di blur padahal itu kabut.
    kebayang seremnya dan spooky, hiii

    BalasHapus
  2. emang sih rata2 hampir semua tempat di dieng kalo sore kabutnya tebel.. jadi mau nggak mau deh mut.. resiko jalan2 sore..

    iya yang di background perahu itu memang kabut yang udah tebel banget..

    BalasHapus
  3. foto yang pertama mantap mas auranya

    BalasHapus
  4. mantapz mas p0stingnya..

    Aku dulu tingal disana.PIR dieng djaya ,lumayan buat tombo kangen nadjan mung sakedeping m0t0. .halah. . .nyanyi.

    Lam kenal mas.

    BalasHapus
  5. mantapz mas p0stingnya..

    Aku dulu tingal disana.PIR dieng djaya ,lumayan buat tombo kangen nadjan mung sakedeping m0t0. .halah. . .nyanyi.

    Lam kenal mas.

    BalasHapus