28 September 2011

Wisma Sibayak, Penginapan Murah Meriah Di Desa Tongging

Wisma Sibayak

Wisma Sibayak merupakan salah satu penginapan murah yang terletak di Desa Tongging. Tempatnya sendiri berada di tepi Danau Toba. Sayangnya lokasinya berada agak jauh dari pusat keramaian Desa Tongging. Wisma Sibayak terletak di tengah-tengah area persawahan membuatnya seperti terisolir. Apalagi dari pusat keramaian Desa Tongging (pelabuhan) sampai ke penginapan ini jalannya lumayan hancur. Saya sangat tidak menyangka ada penginapan di tempat seperti ini.

Saya sampai di Wisma Sibayak saat matahari sudah mulai terbenam. Saya bertanya kepada si ibu pemilik penginapan apakah masih ada kamar yang tersedia buat saya. Ternyata beberapa kamar masih kosong. Ada dua tipe kamar yang ada di Wisma Sibayak. Harganya masing-masing adalah 50.000 dan 100.000. Saya ditunjukkan kedua tipe kamar tersebut agar saya bisa memilih. Yang mengantar saya adalah anak lelaki pemilik wisma yang kira-kira usianya masih 7 tahun. Namun anak ini begitu mudah akrab dan pandai menjelaskan tentang perbedaan kedua kamar. Sepertinya si anak yang mengantarkan saya ini tahu kalau saya tadi nebeng truk, sehingga kami sempat ngobrol sebentar.

“Abang tadi nebeng truk?”, tanya si anak.

“Iya, memang kenapa dek?”, saya balik bertanya.

“Itu tadi truk saudara kita”, jawabnya datar.

“Hah? Kita? Lo kaliii?”, cuma dalem hati doang sih. Hehehe..

Sejak tadi saya sering ngobrol dengan beberapa orang sering kali mereka ini mengatakan “kita”. Ternyata maksudnya adalah “kami”. Well, unik juga… Orang Sumatera Utara menyebut sepeda motor dengan kereta, mobil disebut dengan motor, dan sekarang saya mendapatkan kata yang baru “kami” diucapkan dengan kata “kita”. Lumayan nih buat nambah kosa kata bahasa daerah lain. :D

Wisma Sibayak

Kalau yang saya lihat, perbedaan utama antara yang berharga 50.000 dan 100.000 adalah luas kamar. Kamar yang harganya 100.000 memiliki ruangan yang luas dilengkapi tempat tidur dengan ukuran king size yang lebih bagus dan perabot-perabot serta dekorasi yang menarik. Sementara itu untuk yang 50.000 kamarnya sedikit lebih sempit dengan tempat tidur ukuran besar tapi udah agak bapuk, terdapat meja rias, dan kursi yang terbuat dari rotan. Keduanya sama-sama menggunakan dinding yang dilapisi oleh kayu, kipas angin, dan memiliki kamar mandi dalam. Kedua jenis kamar ini menurut saya sih tergolong sangat murah, bahkan terlalu murah jika melihat kondisinya yang cukup baik. Karena hanya untuk tidur semalam saja tentu saya memilih yang paling murah yaitu yang 50.000. Hehe..

Begitu sampai di kamar saya membatalkan puasa dulu dengan air mineral yang tadi saya beli. Kemudian saya langsung mandi karena gerah dan lengket. Kebetulan di dalam kamar sudah disediakan handuk bersih dan sabun mandi untuk saya. Selesai mandi saya keluar kamar menuju ke warung makan dalam area wisma yang juga merupakan tempat receptionist. Warung ini adalah tempat tinggal pemilik Wisma Sibayak. Warungnya nggak terlalu besar, tapi cukuplah untuk menampung belasan orang. Saya memesan nasi goreng dan teh manis untuk makan malam saya karena menu yang lainnya sudah habis atau memang nggak ada kali yah. Yang tersedia malam itu hanya nasi goreng dan indomie tok. Nasi gorengnya sangat cocok di lidah saya. Rasanya sangat pedas dengan porsi yang lumayan besar, sesuailah dengan lidah-lidah orang Sumatera.

Wisma Sibayak

Meskipun tempatnya terpencil, Wisma Sibayak sering loh kedatangan tamu asing. Nggak heran juga kalau menu-menu yang ada ditulis dalam dua versi bahasa, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Tempat terpencil dipadu dengan seringnya wisatawan asing yang datang, jadilah harga makanan disini cukup mahal. Nasi goreng adalah makanan yang paling murah. Nasi goreng, teh manis, dan sebotol air mineral 600 ml yang saya beli tadi totalnya 17.000. Sementara itu kalau makanan lainnya sekitar 20.000-30.000.

Saya berada di warung cukup lama bahkan sampai malam. Saya asyik ngobrol dengan pemilik wisma dan sepasang suami-istri yang menginap tepat di sebelah kamar saya. Mereka semua sangat ramah dan sangat terbuka. Walaupun baru saja kenal tapi mereka tidak segan-segan untuk berbicara tentang hal-hal pribadi mereka. Sepasang suami-istri yang menginap di sebelah kamar saya tersebut bahkan mengajak saya untuk mampir ke rumah mereka dan menginap satu atau dua malam disana. Rumah meraka juga berada di tepi Danau Toba namun harus menyebrang naik perahu dari pelabuhan Desa Tongging untuk sampai disana. Mereka bilang kalau pemandangan di desa tersebut jauh lebih bagus lagi daripada di Tongging. Kebetulan mereka juga sedang panen buah mangga sehingga kalau saya bersedia saya disuruh ikut mereka besok pagi. Saya mengucapkan terimakasih atas tawaran mereka namun tawaran itu belum bisa saya terima karena saya punya jadwal lain yang tidak mungkin saya ubah. Mereka cukup mengerti dan kemudian memberikan nomor handphone untuk dihubungi kalau saja suatu saat nanti saya kembali ke Sumatera Utara dan ingin mampir ke rumah mereka. Sebuah keramah-tamahan yang luar biasa menurut saya. Malam semakin larut, saya pamit kepada mereka karena saya ingin istirahat karena besok masih banyak kegiatan yang akan saya lakukan.


11 komentar:

  1. Meutia Halida Khairani28 September, 2011 21:27

    sewaktu baca percakapan diatas, langsung ngeh sih saya kalau 'kita' itu 'kami'. saya jg masih sering terucap kata2 spt itu padahal udah tinggal 4 tahun di bdg dan 2 taun di jkt. kereta dan motor jg ngeh. kalo bahasa aceh mobil = moto, kalo motor = honda (seriusan). dulu pertama dtg motor ke aceh merk honda. jadi sampe sekarang masi di sebut honda padahal motornya merk yamaha. hahaha

    BalasHapus
  2. ya kalo saya sih sempet bingung mut sama kata "kita".. karena sejak kapan saya menjadi bagian dari mereka itu.. hehe.. ternyata cuma perbedaan bahasa aja yak..

    jadi yamaha, suzuki, kawasaki, dan lain2 nggak laku dong mut di  aceh.. ahahaha.. :p

    BalasHapus
  3. nurhasty natalina sari29 September, 2011 16:59

    Kalo di Manado dan Ternate, kita itu artinya saya, sedangkan di Makassar kita artinya kamu :)

    BalasHapus
  4. laah.. beda lagi dong ya.. satu kata "kita" udah bermacam-macam artinya di berbagai daerah.. thanks infonya mbak asty.. :)

    BalasHapus
  5. saya suka dipepet orang terus dia bertanya "mau kemana kita?"

    trus dalam hati saya juga jawab "hah? kita?? lo aja kali. gue kagak. wkwkwkwk"

    di Sumatera juga ada isilah kita untuk kamu :D

    anyway, itu fotonya yg harga goban bukan Mas? lumayan juga yah ^^ murmer dan bersih ^^

    BalasHapus
  6. owhh jadi "kita" selain digunakan untuk "kami" juga digunakan untuk "kamu".. tambah mumeet.. ahaha..

    iya mas ini yang harga 50.00, ngapain juga ngambil yang lebih mahal.. haahaha

    BalasHapus
  7. slam kenal....

    saya orang siantar, trus terang saya belum pernah ke tonnging, meliat foto diatas jadi pengen ke tongging

    BalasHapus
  8. wah sayang sekali yah, padahal tongging sudah jadi rujukan turis-turis asing yang datang ke sumatera utara.. semoga lekas bisa ke tongging ya pak :)

    BalasHapus
  9. pagi mas, saya Insya Allah tanggal 5-8 April rencana ke Medan dan Danau Toba, mohon info penginapan murmer dan tempat wisatanya, matursuwun...

    BalasHapus
  10. sayangnya disini sepertinya nggak ada line telpon :(


    nomer hapenya saya juga nggak punya

    BalasHapus