14 Oktober 2011

Selamat Datang Di Ajibata!

Ajibata

Akhirnya bersandar juga kapal kayu yang membawa saya dari Tomok. Sekarang ini saya sudah resmi berada di daratan Sumatera tepatnya Ajibata. Memang sih Ajibata berada di daratan Sumatera namun kecamatan yang satu ini tidak masuk bagian wilayah Parapat. Ajibata masih merupakan bagian dari Kabupaten Toba Samosir. Sementara Parapat masuk wilayah Kabupaten Simalungun. Untuk fasilitas-fasilitas publik seperti jaringan listrik, telepon, dan PDAM Ajibata bersumber dari Parapat. Sehingga antara Ajibata dan Parapat ini seperti dua wilayah yang tak dapat terpisahkan. Malah lebih terasa kalau Ajibata ini seolah-olah bagian dari Parapat, bukan Toba Samosir.

Hal yang menjadi unggulan di Ajibata adalah penyeberangan. Jika Anda akan menyeberang dari ke Pulau Samosir tentu saja Anda akan melalui Pelabuhan Ajibata sebagai salah satu alternatif. Ajibata memiliki dua pelabuhan, satu pelabuhan reguler dengan menggunakan kapal kayu seperti yang baru saja naiki dan satu lagi adalah pelabuhan kapal ferry untuk mengangkut kendaraan roda empat dan barang-barang kebutuhan sehari-hari dari dan ke Tomok.

Pelabuhan Ajibata yang baru saja saya injak bukanlah sebuah pelabuhan besar. Hanya ada kapal-kapal kayu yang bersandar dengan jumlah yang tidak terlalu banyak. Memang suasana pelabuhan agak berantakan menurut saya. Nggak ada keteraturan kondisi fisik bangunan. Begitu turun dari kapal langsung banyak kios-kios layaknya sebuah pasar. Ada yang jual sayuran, ikan, dan juga daging. Mobil-mobil angkutan juga sudah berjejer di gang yang sesempit itu. Calo-calo maupun sopir angkutan sudah mulai menawarkan jasanya saat Anda turun dari kapal. Ada yang menawarkan ke Pematang Siantar, ada juga yang menawarkan langsung ke Medan. Bahkan ada juga yang bisa mengantar Anda sampai di Bandara Polonia jika Anda langsung ke airport.

Ajibata

Sampai disini saya santai-santai terlebih dahulu. Mengambil gambar beberapa sudut pelabuhan sebagai koleksi. Calo-calo yang menawarkan jasanya saya abaikan dulu. Setelah semua penumpang kapal habis barulah calo-calo ini bubar. Saya sih nggak mau berlama-lama di Ajibata. Saya juga nggak ada minat keliling-keliling Parapat terlebih dahulu. Bagi saya pemandangan Danau Toba di Parapat tidak se-spektakuler di Desa Tongging yang saya kunjungi beberapa hari yang lalu. Itu salah satu pertimbangan saya ingin langsung ke Pematang Siantar. Kebetulan juga saat itu ada bus besar tujuan Medan yang melewati Pematang Siantar. Bus menjadi pilihan saya karena pastinya ongkos bus jauh lebih murah dibandingkan jika saya harus naik angkutan sejenis mobil L300 yang disebut “taksi” itu.. Yuuk langsung saja ke Pematang Siantar…


4 komentar:

  1. kadang banyak calo aku tuh suka ikutan kawer gitu ya, #kawer apa ya bahasa indonesianya :P

    cara nyupir busnya gila2an juga gg tuh mas ?

    BalasHapus
  2. kawer apaan tir? bahasa mana ya? purwakarta kah? hihihi

    jiper atau takut gitu ya? :D

    nggak kok.. kalo bus mah nyantai aja.. nggak ugal-ugalan sama sekali.. :D

    BalasHapus
  3. bahasa Sunda itu B)
    ooh aku tahu kawer bisa diartikan ribet kayaknya

    BalasHapus
  4. bukan Riweuh?

    BalasHapus