4 November 2011

Bandara Polonia Medan: Gerbang Indonesia Bagian Barat

bandara polonia medan

Tanggal 10 Agustus 2011 merupakan hari kelima saya berada di Sumatera Utara. Sayangnya hari tersebut juga merupakan hari terakhir saya berada di Sumatera Utara. Menjelajah Sumatera Utara selama kurang lebih empat hari merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan dan tak terlupakan. Saya baru menyadari setelah sampai di Sumatera Utara, ternyata waktu empat hari terasa sangat kurang. Waktu kurang lebih 10-15 hari sepertinya sangat ideal untuk bisa menjelajahi seluruh kabupaten di Sumatera Utara. Cuma empat hari? Yah hanya sekelumit saja lah yang bisa dijangkau.

Memang sih penerbangan saya ke Bandung dijadwalkan pukul 08.40. Tapi sekitar pukul 06.30 saya sudah check out dari hotel dan segera menuju ke Bandara Polonia. Saya merasa lebih nyaman menunggu di bandara saja dibanding berada di hotel meskipun jarak antara hotel dan bandara cukup dekat. Pagi itu Medan diguyur hujan deras semenjak subuh. Saat saya keluar dari hotel masih gerimis kecil dan rapat. Saya berlari menuju ke depan Masjid Raya Medan untuk mendapatkan angkutan. Pengennya sih naik becak atau ojek gitu biar murah. Tapi melihat kondisi cuaca yang tidak memungkinkan jadi saya menelpon taksi burung biru untuk mengantar saya ke bandara. Hanya 15 menit perjalanan saya sudah sampai. Argometer hanya menunjukkan 12.000, terbukti kalau hotel cukup dekat dengan bandara. Tapi karena pesan lewat telpon, minimum payment 20.000. Lebih mahal yah dibandingkan Surabaya atau Jakarta sekalipun yang cuma 15.000 minimum payment-nya.

Yah meskipun dibilang bandara internasional sekaligus bandara terbesar di Sumatera, menurut saya Bandara Polonia nggak mencerminkan hal tersebut sama sekali. Malah mungkin lebih cocok dibilang bandara tradisional. Hehe.. Saat pertama kali datang ke Medan, saya melihat ruang terminal kedatangan yang begitu suram, tukang ojek, becak, dan taksi gelap dengan lelauasa menawarkan jasanya. Saat akan meninggalkan Medan kali ini, begitu turun dari taksi langsung disambut calo. Padahal sudah dibilang saya sudah punya tiket, tapi masih kekeh saja menawarkan, “Kemana bang? Jakarta, Batam, Pekanbaru?”. Suasana luar terminal keberangkatan ini juga terasa suram. Kanan-kiri terdapat toko-toko namun agak nggak rapi aja gitu. Pencahayaannya kurang dan bangunannya juga kelihatan bapuk. Keliatan angker booo…

bandara polonia medan

bandara polonia medan

bandara polonia medan

Untuk ruang check in agak lumayan lah. Mirip kebanyakan bandara-bandara jadul yang ada di Indonesia seperti Denpasar atau Jogja. Model atapnya pendek dengan penerangan yang bisa dibilang cukup. Namun hal itu nggak bisa menutupi kalau bandara ini sudah berumur dan sangat tidak fresh. Eh tapi menurut saya Jogja masih lebih bagus ding. Imbanglah kalau dibandingkan dengan Denpasar. Polonia sedikit lebih baik untuk ruang check in dibanding Ngurah Rai demestik.

Tenant-tenant yang ada di terminal domestik jumlahnya sangat minim. Tenant-tenant ini berjejer di lorong yang menghubungkan antara ruang check in dengan ruang tunggu. Tenant yang paling terkenal yang terdapat di Polonia adalah Starbuck, selain itu hanya tenant lokal saja yang ada. Kondisi ruang tunggu nggak jauh beda juga sih dibanding dengan ruang check in. Semua penumpang dari seluruh maskapai penerbangan domestik jadi satu di ruang tunggu ini. Nggak terlalu luas, tapi cukup untuk menampung penumpang yang ada pagi itu. Maklum sekitar jam 7 lebih bandara ini nggak terlalu sibuk. Saya kurang tahu gimana kondisinya kalau peak hour. Yang menjadi nilai plus di ruang tunggu ini adalah kursinya yang masih lumayan baru sepertinya. Selain itu ya gitu deh..

bandara polonia medan

bandara polonia medan

Padahal kalau dipikir-pikir, Bandara Internasional Polonia ini merupakan bandara terbesar dan tersibuk di Sumatera sekaligus menjadi urutan keempat di Indonesia setelah Bandara Soekarno Hatta (Jakarta), Juanda (Surabaya), dan Ngurah Rai (Denpasar). Maskapai yang terbang dari Bandara Polonia juga cukup beragam. Kurang lebih ada belasan maskapai loh yang melayani rute dari dan ke Medan baik domestik maupun internasional. Sebut saja Garuda Indonesia, Citilink, Lion Air, Wings Air, Batavia, Sriwijaya, Merpati, NBA, Susi Air, Indonesia AirAsia, AirAsia (Malaysia), Silk Air, Malaysia Airlines, dan Firefly. Untuk kota tujuan domestik juga lumayan banyak. Mulai dari Jakarta, Bandung, Pekanbaru, Batam, Padang, Banda Aceh, Lhokseumawe, Kutacane, Gunung Sitoli, Sibolga, dan beberapa kabupaten kecil di sekitaran Sumatera Utara dan Aceh. Sebagai bandara internasional, rute internasional dari Polonia memang nggak banyak. Kalau saya tidak salah hanya ada rute ke Kuala Lumpur, Penang, Bangkok, dan Singapore.

Melihat kondisi Bandara Polonia yang seperti sekarang ini serta perkembangan jumlah penumpang dan lalu lintas udara yang sudah sedemikian padatnya, memang sudah seharusnya Bandara Polonia dipensiunkan dan diganti dengan Bandara Kuala Namu yang lebih besar dan lebih baik. Sayangnya proyek Bandara Kuala Namu sendiri nggak jelas nasibnya sampai sekarang.


11 komentar:

  1. heee kasian banget bandaranya dibilang tradisional :D tapi kalau bener2 mengusung konsep tradisional yang sebenarnya bisa jadi icon tuh ya :D

    BalasHapus
  2. bukan mengusung konsep tradisional tir, tapi emang udah jadull... mungkin karena sedang di bangun bandara baru jadi bandara yang satu ini nggak akan dikembangkan lagi.. tapi bandara barunya gak tau kapan jadinya.. :D

    kalo yang pake konsep tradisional sih salah satunya bandara soekarno-hatta terminal 1 dan 2 :)

    BalasHapus
  3. nah maksudku tuh : kasian banget bandaranya dibilang "tradisional" lupa pake tanda petik ==a :D

    BalasHapus
  4. Kalau sampai Kuala Namu selesai, artinya kita nggak akan memperoleh kemudahan turun di Medan dan langsung sampai di pusat kota loch. Hehehe. Walau demikian, saya tetap mendukung Polonia pindah ke Kuala Namu sich. kasihan. Biarlah Kasus Jamin Ginting menjadi kasus besar dan sekaligus pengingat bahwa bandara sebaiknya tidak berada di tengah-tengah kota. Hmm...bagaimana nanti kalau proses pembangunan dan pemekaran sebuah kota telah sampai ke bandara juga? yah...kita pikirkan saja nanti. hehehe.

    BalasHapus
  5. Nggak masalah mas jauh dari kota asal transportasi ke kota tersedia dengan baik misalnya kereta atau bus. Sebenarnya bandara nggak salah kok, pemerintahnya aja yang salah yang ngasih ijin pembangunan di sekitar bandara.. Ya rata-rata sih di setiap kota pembangunan condong ke arah bandara.. Otomatis setelah padat, bandara yang disuruh ngalah pindah ke tempat lain.. -___-

    BalasHapus
  6. nurhasty natalina sari10 November, 2011 08:00

    Ya ampun bandara internasionalnya kyk bandara Sultan Hasanuddin Makassar yg lama, kalo yg baru sekarang sih udah keren bgt.

    BalasHapus
  7. iya mbak asty.. mungkin nanti kalau kuala namu sudah jadi bakal lebih keren daripada sultan hasanuddin. :D

    BalasHapus
  8. hahahah, mas tri....awak salut dengan komentar mas tentang kota medan,,, memang acem gitulah kota medan kami ini...
    aku suka baca petualangan mas ini....
    mas minta info donk penginapan murah di semarang, kayak backpaker gitulah...

    ntar kalo ke medan lagi...infoin ya mas...
    biar kita nanti jalan2 keliling medan...
    tenang aja mas...
     

    BalasHapus
  9. terimakasih bang boy.. lain kali aku pasti ke medan lagi..

    penginapan di semarang? waduh kayaknya aku belum bisa bantu nih.. lha kalau ke semarang cuma nebeng nginep di tempat temen, nggak pernah nginep di hotel..

    BalasHapus
  10. penginapan murah di semarang ada beberapa mas... salah satunya adalah Wisma Pemda... ada 3 lokal... yang terdekat dari simpanglima bisa jalan kaki... depan SMA 1 Semarang ke arah kiri deket kantor kompas, tanya orang aja wisma Pemda... kalo belum naik rate permalam 90.000

    BalasHapus