31 Desember 2011

Kesibukan Kapal Layar Motor Di Pelabuhan Kalimas Surabaya

pelabuhan kalimas surabaya

Berbicara mengenai pelabuhan di Surabaya, mau tidak mau langsung terbersit di otak adalah Pelabuhan Tanjung Perak yang merupakan salah satu pelabuhan besar di Indonesia. Padahal Surabaya setidaknya memiliki tiga pelabuhan yaitu Tanjung Perak, Pelabuhan Ujung, dan Pelabuhan Kalimas. Ketiganya saling berdekatan dan saling berdampingan kok. Hanya saja fungsi ketiga pelabuhan itu berbeda-beda. Misalnya, Pelabuhan Tanjung Perak digunakan untuk bersandar kapal-kapal kargo berukuran besar dengan tujuan domestik dan internasional serta kapal penumpang domestik jarak jauh seperti ke Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan wilayah Indonesia Timur lainnya. Pelabuhan Ujung merupakan pelabuhan yang khusus melayani pelayaran dari Surabaya ke Madura dan sebaliknya. Khusus ke Madura saya yah, nggak ada rute lainnya dari Pelabuhan Ujung. Sementara Pelabuhan Kalimas merupakan pelabuhan kecil yang sebenarnya berada tidak jauh dari Pelabuhan Tanjung Perak maupun Pelabuhan Ujung.

Saat mengikuti tour Surabaya Heritage Track (SHT) yang diadakan oleh House Of Sampoerna Museum, saya cukup beruntung karena bisa mengunjungi salah dua dari tiga pelabuhan yang sudah saya sebut sebelumnya. Perjalanan dengan rombongan tour atau yang biasa disebut dengan trackers, tentunya dimulai dari House Of Sampoerna dong. Kami berangkat dari House Of Sampoerna sekitar jam dua siang karena ini juga sekaligus tour terakhir di bulan dan hari tersebut. Seperti biasanya para trackers akan ditemani oleh seorang guide yang dengan detil akan menjelaskan tempat-tempat bersejarah yang dilewati oleh bus. Guide kali ini adalah seorang cewek dengan badan mungil, kulit agak gelap, tapi tomboi abiiss.. Caranya menjelaskan juga sangat jelas dengan gaya bicara seperti Cinca Laura.. Hoho.. Rute yang kami lewati siang itu nggak saya kenal sama sekali. Pokoknya lewat belakang penjara Kalisosok kemudian melewati jalan-jalan sempit yang belum pernah sama sekali saya lewati. Hampir tiga tahun di Surabaya saya nggak ngerti sama sekali jalan-jalan ini. Lagipula ini kan Surabaya Utara, sedangkan saya lebih dekat ke Surabaya Pusat dan Timur.. Jadi ya wajar aja sih kalau saya nggak pernah tau daerah ini. Rupanya jarak dari House Of Sampoerna nggak terlalu jauh, dalam waktu lima belas menit kami sudah sampai di tujuan yang pertama yaitu Pelabuhan Kalimas. Ada apa saja di Pelabuhan Kalimas?

pelabuhan kalimas surabaya

pelabuhan kalimas surabaya

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, Pelabuhan Kalimas merupakan pelabuhan yang terletak di Surabaya Utara. Bahkan cenderung lebih cocok disebut pelabuhan rakyat. Kalimas sendiri merupakan percabangan dari Sungai Brantas yang mengalir dari Mojokerto hingga bermuara di Surabaya (Selat Madura). Dahulu Kalimas merupakan jalur pelayaran yang sangat ramai bahkan menjadi jantung perekonomian Surabaya. Bagaimana tidak, kapal-kapal besar dari luar negeri yang membawa barang-barang perekonomian hanya bisa bersandar hingga perairan Selat Madura. Barang-barang dari kapal besar kemudian dibongkar dan dipindah ke kapal tongkang berukuran kecil untuk dibawa ke pelabuhan utama di pusat kota, tepatnya sekarang adalah Jalan Rajawali dan Kembang Jepun yang dulu menjadi pusat bisnis. Bisa dibilang Kalimas dulu merupakan jantungnya Kota Surabaya.

Bagaimana kondisinya sekarang? Kapal-kapal yang bersandar di Pelabuhan Kalimas saat ini hanyalah kapal-kapal kayu yang berukuran kecil dan sedang. Kapal-kapal ini juga hanya sebagai kapal angkut barang saja. Tapi jangan salah.. Meskipun hanya kapal kayu berukuran kecil dan sedang, kapal-kapal ini jangkauannya cukup jauh. Rata-rata rute pelayaran yang dituju kapal kayu ini mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan sampai Papua. Saya cuma bengong ketika dijelaskan kapal kayu seperti ini bisa sampai sana. Ada satu hal unik yang dimiliki kapal-kapal yang ada di Pelabuhan Kalimas. Kapal-kapal disana mempunyai mesin, tapi juga masih menggunakan layar. Karena itu kapal-kapal ini biasa disebut dengan Kapal Layar Motor (KLM). Dengan kondisi Kalimas sekarang, sudah tidak memungkinkan lagi kapal berlayar hingga ke tengah kota seperti zaman dulu karena sungai sudah mengalami pendangkalan. Selain itu juga banyak jembatan-jembatan yang melintang di atas sungai membuat kapal hanya bisa bersandar di muara Kalimas yang menjadi Pelabuhan Kalimas sekarang ini.

pelabuhan kalimas surabaya

pelabuhan kalimas surabaya

Siang itu di Pelabuhan Kalimas tidak ada kesibukan yang berarti. Hanya ada puluhan kapal layar motor yang berjejer dengan rapi di dermaga. Aktivitas bongkar muat barang juga tidak begitu terlihat. Hanya ada beberapa kuli angkut saja yang sedang menaikkan karung-karung yang sepertinya pupuk ke dalam kapal. Beberapa truk yang terlihat sudah sangat tua mondar-mandir membawa barang dari dan ke kapal. Tidak terlihat sama sekali truk berusia muda disini, semuanya sudah lapuk bahkan mungkin sebagian orang menganggap sudah tidak layak dioperasikan. Di Pelabuhan Kalimas, trackers diberi waktu tiga puluh menit untuk sekedar melihat-lihat atau berfoto. Beberapa di antaranya sempat naik kapal untuk berbincang-bincang dengan awak kapal. Para crew kapal juga sangat welcome dengan kedatangan kami. Menurut saya mereka adalah para pahlawan keluarga yang rela bekerja jauh dari rumah, menerjang ombak dan badai demi menghidupi keluarga. Bahkan mereka pulang ke rumah dengan jadwal yang tidak menentu. Salut buat mereka...

Tiga puluh menit terasa cepat berlalu. Para trackers kembali diminta berkumpul di bus karena perjalanan hari ini masih cukup panjang untuk melihat sejarah-sejarah yang ada di Kota Surabaya lainnya. Dengan berat hati kami harus meninggalkan Pelabuhan Kalimas dan bergeser ke pelabuhan lain yang terletak tidak jauh, apalagi kalau bukan Pelabuhan Ujung Surabaya..

pelabuhan kalimas surabaya


2 komentar:

  1. jadi Kalimas ini nggak berjarak terlalu jauh dari Kembang Jepun dan Rajawali yach, mas? Saya belum pernah main-main ke pelabuhan-pelabuhan di Surabaya :">

    BalasHapus
  2. bisa dibilang nggak terlalu jauh sih mas, bahkan ke tanjung perak pun juga dekak kok.. mungkin jaman dulu surabaya utara ini menjadi pusat bisnis karena adanya pelabuhan itu, ya mirip seperti kota tua semarang atau kota tua jakarta.. semuanya berpusat dekat dengan pelabuhan..

    BalasHapus