29 Desember 2011

Mirota Batik, Tempat Favorit Belanja Souvenir Di Jogja

mirota batik

Di Jogja kalau mau beli souvenir untuk oleh-oleh maupun sebagai hiasan di rumah sendiri sih banyak. Di emperen toko sepanjang jalan Malioboro juga banyak yang menjual aneka kerajinan tangan asal Jogja mulai dari gantungan kunci, becak-becakan, sepeda-sepedaan, topeng kayu, perhiasan dari perak, serta aksesoris seperti gelang, kalung, dan lain-lain. Sayangnya saya tipe orang yang tidak suka tawar-menawar. Jadilah tempat seperti ini biasanya nggak saya lirik, kecuali kalau kepepet. Yang saya nggak suka jelas karena mereka ngasih harga seenak jidat. Dulu saya masih inget sewaktu beli ikat pinggang emperan toko ini pedagang memberi harga 35.000, ketika saya tawar 15.000 langsung dikasih. Gimana nggak bengong kalo kayak gini. Sama pedagangnya langsung dikasih dengan harga segitu berarti kan marginnya masih tinggi. Kena jebakan betmen dong saya.. Teman-teman saya dari kota lain yang datang ke Jogja juga sering komplain masalah pedagang emperan ini yang sering kali menjawab dengan ketus. Dengan begitu mereka menyimpulkan kalau orang-orang Jogja itu nggak ramah. Padahal yang saya tau pedagang emperan itu kebanyakan dari luar Jogja. Bahkan hanya sedikit dari mereka yang bisa Bahasa Jawa. Ketika ibu saya bilang ingin beli souvenir ya langsung deh saya arahkan ke tempat favorit saya beli souvenir, apalagi kalau bukan Mirota Batik. Daripada beli di emperan toko, takut kena jebakan betmen lagi.

Kalau masih bingung dimana Mirota Batik berada, ini masih di Jalan Malioboro kok. Nggak susah juga nyarinya. Letaknya hampir di ujung jalan, seberangnya Pasar Beringharjo. Toko souvenir yang satu ini khas banget. Di depan toko ada kereta kencana dan aroma sesajen cukup menusuk hidung. Tidak kalah unik, di depan pintu terdapat tulisan "Copet Dilarang Masuk". Sudah tentu bagi yang merasa copet jangan coba-coba untuk masuk ya. Selain itu di depan toko juga banyak sekali pedagang-pedagang batik yang berjualan di areanya Mirota. Ini juga salah satu keunikan Mirota, saat toko lain melarang pedagang lain berjualan di areanya, Mirota malah mengijinkan dan membuat suasana depan toko semakin ramai. Kalau musim liburan, bisa dipastikan pintu toko berjubel oleh turis yang akan masuk.

mirota batik

Lalu apa bedanya Mirota Batik dengan toko lain ataupun dengan barang-barang yang dijual di emperan toko? Yah kalau menurut saya, Mirota merupakan toko yang besar. Bahkan mungkin toko souvenir terbesar di Jogja. Barang yang dijual bisa dibilang nggak ada bedanya dengan yang dijual di emperan toko baik dari segi variasi maupun kualitasnya. Hal paling mencolok yang membedakan adalah harga. Harganya sudah fix dengan adanya label harga pada masing-masing barang. Meskipun Mirota toko besar, namun harga-harga yang ditawarkan masih sangat reasonable. Pastinya nggak akan ada harga tipu-tipu seperti halnya di emperan toko. Di emperean toko kalau Anda lagi beruntung bisa dapet harga yang murah. Tapi kalau lagi apes ya bisa jadi kena harga yang mahal. Siapa sih yang nggak pengen belanja dengan harga bagus dengan tempat luas, adem, dan banyak pilihan barang?

Memasuki Mirota Batik nuansa Jogja begitu terasa. Mulai dari bau aroma terapi yang tercium di setiap sudut ruangan, sesajen berupa bunga-bunga dimana-mana, dan para staff yang mengenakan pakaian tradisional. Meskipun memiliki nama "Mirota Batik" namun yang dijual disini nggak melulu batik kok. Batik ada di lantai dasar bersama dengan aneka kaos, aroma terapi, dan jamu-jamu tradisional. Ibu saya masih aja berkutat di lantai dasar ini. Bukan nyari batik lagi sih, tapi nyari bed cover. Karena menurut saya nggak ada yang begitu menarik di lantai dasar, jadi saya langsung ke lantai dua aja. Di lantai dua ini barulah gudangnya souvenir. Mulai dari harga ribuan sampai puluhan juta ada disini. Tinggal pilih aja sesuai keinginan dan kebutuhan. Barang-barang yang mahal biasanya kerajinan yang terbuat dari perak. Harganya bisa sampai jutaan. Kalau yang harganya mencapai puluhan juta itu kebanyakan barang-barang antik dengan kondisi yang masih sangat mulus meskipun usianya sudah tua. Kalau yang sesuai dengan kantong saya ya kerajinan seperti gantungan kunci dan sejenisnya yang terbuat dari kayu atau bambu karena harganya yang murah, mulai dari 1.500 hingga puluhan ribu saja. Yah karena kali ini ada yang bayarin (ayah saya) jadi ya banyak yang bisa dimasukin ke keranjang. Aji mumpung nih. Hoho.. Barang-barang yang dari dulu pengen dibeli tapi belum bisa kebeli karena masalah harga akhirnya kebeli juga. Selain barang kerajinan saya juga beli wedang uwuh. Ada yang tau wedang uwuh? Wedang uwuh ini minuman tradisional yang berasal dari Imogiri. Isinya aneka rempah-rempah berupa jahe, cengkeh, kapulaga, salam, secang, daun kayu manis, dan gula batu. Cara menyajikannya cukup disedu saja dengan air panas. Selain bikin anget badan, minuman ini juga menyehatkan loh. Disebut wedang uwuh mungkin karena saat disajikan menyerupai uwuh (sampah). Haha..

mirota batik

Selain lantai dasar dan lantai dua di Mirota masih ada lantai tiga. Pada lantai tiga ini ada sejenis kafe gitu namanya Oyot Godhong. Anda bisa santai, makan atau minum disini sambil nunggu teman atau keluarga yang berbelanja. Harganya ya standar harga "turis" lah. Maklum lokasinya di Jalan Malioboro yang terkenal dengan pusatnya turis. Kalau mau makan di kafe sejenis yang lebih murah bisa aja datang ke House of Raminten yang ada di Kota Baru. Pemiliknya masih sama kok dengan Mirota. Konsepnya juga mirip-mirip dengan mengusung konsep khas Jawa. Mungkin lain kali deh saya kesana. Di Mirota ini ibu nggak banyak belanja, cuma beli bed cover aja. Yang banyak belanja souvenir dan hiasan malah ayah. Ya sudah.. Selesai belanja di Mirota kamipun pulang dengan setumpuk barang belanjaan.. Hari berikutnya saya sudah balik lagi ke Surabaya karena kuliah.. Goodbye Jogja!


8 komentar:

  1. Meutia Halida Khairani29 Desember, 2011 13:41

    nah ini nih tempat favorit saya. hahaha. shopping2. saya baca postingan ini sambil ada orang jogja di sebelah. eh dia cerita ada bioskop indra ya disitu? filmnya 17+ hahahaha. palingan semua film horor ada. =))

    BalasHapus
  2. di sebelahnya mut.. iya spesial muter film 17+.. hahahaha

    BalasHapus
  3. ak belum pernah deh ke Mirota hyahaha kasian banget yaak lagian ak gg terlalu suka belanja, lebih suka makan :D
     

    BalasHapus
  4. berarti cocoknya ke house of raminten aja tir :D

    BalasHapus
  5. sama saja di sini juga begitu, kalau ga pandai menawar..wah bakalan dikadalin hehehe..istilahnya tepat gak ya?..
    pedagang kaki lima ( penjual souvenir, dll)...selalu ga punya patokan harga jual, mereka kebanyakan melihat dari siapa yang datang dan membeli...

    BalasHapus
  6. kayaknya sih begitu mas.. namanya jogja sebagai "tempatnya turis", warga lokal yang beli di pedagang kaki lima juga bisa kena getok.. walaupun peluangnya lebih kecil.. :D

    BalasHapus
  7. ini rumus saya dapet dr sodara yg di jogja::
    klo mw beli barang di emperan malioboro tuh sepertiganya duluw,, (itu merupakan harga kulakan doi)

    jadi misal ada yg jual sabuk harga 45, doi kulakannya 15rebu
    kasih untung 5rebu paling udah dikasih th sabuk ^^

    BalasHapus