2 Januari 2012

Ingin Menyeberang Ke Madura? Pelabuhan Ujung Tempatnya!

pelabuhan ujung surabaya

Mengikuti Surabaya Heritage Track yang diadakan oleh House Of Sampoerna memang menyenangkan. Selian untuk refreshing saya juga bisa mendapatkan banyak pengetahunan tentang sejarah yang ada di Kota Surabaya. Meskipun belum puas berada di Pelabuhan Kalimas melihat kapal layar motor yang unik-unik serta kesibukan yang ada disana, tapi para trackers harus segera berkumpul kembali karena tour akan dilanjutkan ke destinasi berikutnya. Namanya juga tour, waktu kunjungan ke suatu objek begitu singkat dan padat. Nggak bisa seenak jidat sampai puas. Setelah berkumpul para trackers kemudian naik bus dan duduk di tempat duduknya masing-masing. Tempat tujuan berikutnya masih berkutat dengan yang namanya pelabuhan kok. Trackers diajak melihat kesibukan yang ada di Pelabuhan Ujung Surabaya. Hmm.. Bukan ke Pelabuhan Ujung sih tepatnya, tapi ke Kantor Syahbandar Kelas Utama Tanjuk Perak yang terletak di Jalan Kalimas Baru No. 94 Surabaya. Meskipun bukan di pelabuhannya, tapi letaknya dekat kok dengan Pelabuhan Ujung, bahkan bisa dibilang sangat dekat. Hanya selemparan batu pun sampai.

Awalnya saya kira kami akan dibawa masuk ke Kantor Syahbandar atau ke menara kontrol (mercusuar) yang ada disana. Ternyata nggak... Para trackers hanya dipersilakan melihat aktivitas yang ada di Pelabuhan Ujung. Seperti diketahui, Pelabuhan Ujung yang terletak di area Tanjung Perak ini merupakan pelabuhan yang khusus digunakan untuk penyeberangan dari Surabaya ke Madura dan sebaliknya. Jadi kalau Anda ingin ke Madura naik kapal jangan salah masuk ke Pelabuhan Tanjung Perak ya. Kapal-kapal yang berlabuh dari Pelabuhan Ujung berangkat sekitar tiga puluh menit sekali. Isi kapal bervariasi, mulai dari pejalan kaki, bus, mobil pribadi, maupun truck. Pembangunan Jembatan Suramadu memang telah berpengaruh sangat signifikan terhadap jumlah penumpang kapal fery yang beroperasi dari Pelabuhan Ujung ke Pelabuhan Kamal. Terlihat sangat jelas dari tingkat isian penumpang yang terlihat. Penumpang pejalan kaki hanya ada beberapa, sepeda motor sedikit, bus dan truck mungkin hanya 1-2 mobil saja. Mobil pribadi apalagi.. Sangaaat jarang.. Adanya bus dan truck yang naik ke kepal itupun mungkin karena terpaksa. Ya, bus umum dan truck dilarang melewati Tol Suramadu dan diharuskan menyeberang menggunakan kapal. Mungkin ini salah satu cara juga agar jalur penyeberangan ini tidak mati.

pelabuhan ujung surabaya

pelabuhan ujung surabaya

pelabuhan ujung surabaya

Sebenarnya nggak ada yang begitu spesial dengan tour di Pelabuhan Ujung Surabaya ini. Selama kurang lebih tiga puluh menit disana para trackers hanya melihat aktivitas kapal yang keluar-masuk pelabuhan. Tapi berada di halaman Kantor Syahbandar ini cukup nyaman karena teduh, angin laut juga bertiup cukup kencang. Oh ya, disini terdapat kapal yang bisa dibilang fenomenal dan melegenda *lebay*. Namanya kapal Joko Tole. Konon kapal ini sudah melayani penyeberangan antara Surabaya dan Madura cukup lama, bahkan mungkin yang tertua. Orang-orang yang biasa menyeberang sangat kenal dengan kapal yang satu ini. Kebetulan saat kami berada disana kapal Joko Tole sedang lewat dan akan berangkat ke Madura. Kapal berukuran sedang, berwarna hijau dengan dua dek. Dek bawah untuk kendaraan dan atas untuk para penumpang. Kapalnya tidak istimewa, hanya seperti kapal-kapal yang lain. Tapi mungkin karena jasanya yang cukup lama mengantar penumpang di Selat Madura sehingga kapal ini begitu dikenal. Apalagi sejak dulu Joko Tole tidak merubah warnanya yang identik dengan kehijauan.

Tiga puluh menit berada di Pelabuhan Ujung membuat anak-anak yang tadinya sangat exited menjadi mulai bosan. Lagipula traffic kapal juga tidak begitu sering. Mengetahui hal tersebut, guide kami langsung mengajak ke bus untuk melanjutkan tour. Sore itu kami diajak ke sebuah tempat yang konon merupakan Keraton Surabaya. Baru denger kan kalau Surabaya punya keraton? Saya juga iya.. Penasaran? Tunggu postingan selanjutnya ya..


9 komentar:

  1. Perjalanan yg sangat mengasikkan dan berkesan tuh. Eh emang surabaya ada keraton nya? Baru denger nih? Aku tggu cerita nya

    BalasHapus
  2. Hehe.. Saya juga baru tau mas.. :D

    Sent from my BlackBerry®
    powered by Sinyal Kuat INDOSAT

    BalasHapus
  3. eh, tumben.. baru tahu saya kalo SHT juga mampir ke pelabuhan.. saya dulu cuman mampir di kantor walikota sama di cak durasim. hmm... kalo ekarang sih, menyeberangnya lewat suramadu aja. murah dan cepat :)

    BalasHapus
  4. Iya karena memang lagi spesial tour.. Biasanya diadakan di hari2 tertentu.. Kalo tour yg reguler ya cuma ke cak durasim, balai pemuda, tugu pahlawan, dan lain2..

    Iya murah lewat suramadu lebih deket, lebih cepet.. Tapi seru juga sih nyeberang naik kapal walau cuma 30 menit..




    Sent from my BlackBerry®
    powered by Sinyal Kuat INDOSAT

    BalasHapus
  5. Ayoo kesini nanti tak temenin.. ;)




    Sent from my BlackBerry®
    powered by Sinyal Kuat INDOSAT

    BalasHapus
  6. katanya, penyebrangan antara Ujung dan Kamal mau dibikin romantis ya cak? saya pernah denger sih, salah satu upaya agar penyebrangan tidak mati adalah dengan membuat penyebrangan menjadi memiliki nilai "sesuatu banged" dibanding dengan jembatan. Salah satunya ya mungkin perjalanan romantis selama 30 menit sambil menikmati pertunjukkan teater, atau musik khas, plus makan malam/siang.

    yah, pihak ASDP sih memang harus membenahi diri yah. saat nggak ada saingan, mereka terkesan apa adanya dan cuek, tidak menata diri. sembarangan lah istilahnya. namun, setelah ada saingan berupa jembatan, terdengar jeritan dan teriakan bahwa jembatan telah mematikan usaha mereka. harus disadari sejak awal, seharusnya "nilai tambah" itulah yang menjadi penting ketika muncul pesaing sejenis, atau bahkan lebih baik. klau mereka dari awal sudah memiliki yang namanya "nilai tambah", saya yakin usaha ini nggak akan kalah, walaupun nantinya ada Jembatan Selat Sunda, Jembatan Selat Bali, maupun jembatan-jembatan lainnya yang sedang direncanakan untuk dikerjakan. :D

    BalasHapus
  7. bisa jadi kan, ada mini konser Surabaya : The Heritage yang isinya konser musik lagu lagu perjuangan yang diaransemen menjadi nuansa jazz, klasik, seriosa, keroncong dan pop. wuuuaaa...saya pasti pengen nonton. Surabayaaaa...Surabayaaa...oohh Surabayaaaaaaaaa :D

    satu lagi : (ga abis abis), ASDP sudah saatnya memiliki sistem ticketing online. Mungkin mereka baru "nyaho" *kalau istilah Sunda* kalau ada pihak ASDP pesaing yang kapalnya lebih baru, lebih bagus, lebih ontime, lebih nggak sering docking karena kerusakan, dan kru nya lebih profesional kali yah?

    BalasHapus
  8. seperti biasanya mas, hanya sekedar wacana.. banyaaak rencana-rencana bagus yang nggak pernah direalisasikan padahal untuk kemajuan sendiri.. tipikal BUMN lebih seneng teriak meminta belas kasihan kalau udah kegencet.. saya juga membayangkan pasti seru kalo ada "nilai tambah" dengan transportasi yang mulai ditinggalkan ini.. sayang sepertinya nggak akan pernah terlaksana setidaknya dalam waktu dekat..

    sistem ticketing online? ini juga tipikal BUMN mas, sistem ticketing masih jadul. kalopun ada sistem ticketing online, sistemnya masih sangat bapuk.. coba saja kalo PT KAI dan ASDP punya sistem ticketing online seperti halnya maskapai penerbangan, pasti penumpang akan lebih nyaman dan nggak kebingunan cari tiket.. untuk maskapai penerbangan seperti Garuda pun sistem ticketing online-nya masih sangat bapuk. lion, batavia, sriwijaya, citilink, airasia, masih jauh lebih baik.. again, tipikal BUMN.. kalo bisa dipersulit kenapa mesti dipermudah? :))

    BalasHapus