20 Februari 2012

Ke Fort Rotterdam Di Saat Yang Kurang Tepat

benteng fort rotterdam

Setelah cukup puas menikmati Pantai Losari, saya bergegas menuju ke Fort Rotterdam atau nama lainnya adalah Benteng Ujung Pandang. Letak Fort Rotterdam tidak jauh dari Pantai Losari. Cukup berjalan kaki beberapa ratus meter saja kok melintasi Jalan Pasar Ikan menuju ke arah Jalan Ujung Pandang. Ya, Fort Rotterdam memang berada di Jalan Ujung Pandang. Kalau Anda nggak mau capek berjalan kaki dengan jarak yang kurang dari 1 km ini, Anda bisa coba naik becak deh. Banyak kok becak yang ngetem di Pantai Losari yang bisa mengantar Anda. Masuk ke Fort Rotterdam disarankan mengisi buku tamu terlebih dahulu dengan biaya masuk seikhlasnya.

Menurut sejarahnya, Fort Rotterdam merupakan benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo yang dibangun pada tahun 1545. Benteng yang semula dibangun dengan menggunakan tanah liat ini kemudian oleh Sultan Alauddin diganti dengan batu padas yang didapat dari Pegunungan Karst di daerah Maros. Konon Benteng Fort Rotterdam memilik bentuk menyerupai penyu. Tapi saya kurang tahu jika ingin melihat bentuk tersebut dilihat dari sisi sebelah mana.

benteng fort rotterdam

benteng fort rotterdam

benteng fort rotterdam

Selain melihat benteng-benteng yang masih berdiri kokoh yang disertai bangunan-bangunan dengan bentuk sangat menarik, di area Benteng Fort Rotterdam juga terdapat sebuah museum yang bernama Museum La Galigo. Menurut informasi museum ini berisi referensi mengenai sejarah kebesaran kerajaan Gowa-Tallo dan kerajaaan-kerajaan lain yang pernah ada di Sulawesi Selatan. Sayang seribu sayang, saya nggak bisa masuk ke Museum La Galigo. Museum sedang dilakukan renovasi besar-besaran. Nggak cuma museum sih, tapi juga hampir semua bangunan yang ada di dalam benteng. Semua barang-barang yang ada di dalam bangunan dikeluarkan, tidak terkecuali isi Museum La Galigo. Pemandangan di Fort Rotterdam jadi agak kurang sedap dipandang. Tapi ini hanya sementara saja kok. Sebagai gantinya saya bisa melihat koleksi lukisan-lukisan yang terbuat dari tanah liat yang disimpan di sebuah gedung yang berada di tengah benteng. Koleksi lukisan disana cukup banyak. Sayang penataannya masih agak berantakan. Bahkan saya melihat seekor burung dara hidup disalah satu lemari. Mungkin karena efek renovasi yang belum selesai tersebut sehingga penempatan koleksi lukisan ini juga masih seadanya.

Hal menarik lain yang saya lihat saat berada di Fort Rotterdam adalah tempat ini juga biasa digunakan untuk belajar oleh anak-anak di sekitar sana. Di depan ruang koleksi lukisan terdapat belasan remaja yang sedang belajar Bahasa Inggris dipandu oleh seorang tutor yang sudah berusia lanjut. Mereka cukup enjoy dalam belajar. Apalagi kemudian ada dua orang turis asing asal Amerika yang datang dan kedua orang turis itu menjadi tutor dadakan. Haha.. Mereka bisa langsung mempraktekkan kemampuan Bahasa Inggris mereka kepada dua orang tersebut. Meskipun belum fluent tapi mereka cukup pede juga loh.. Salut deh buat mereka yang masih semangat belajar meskipun ada beberapa dari mereka yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi. Hehe.

benteng fort rotterdam

benteng fort rotterdam

benteng fort rotterdam

Nah.. Kalau Anda sudah merasa puas berkeliling Fort Rotterdam, kalau masih punya waktu dan ingin berwisata bahari menikmati indahnya pantai pasir putih, silahkan mencoba menyeberang ke Pulau Salamona. Akan ada banyak jasa penyewaan kapal kayu di seberang Fort Rotterdam. Selama jalan kaki dari Pantai Losari ke Fort Rotterdam saja saya sudah beberapa kali ditawari jasa perahu tersebut. Ongkosnya saya kurang tahu karena memang saya tidak berminat. Bukan tidak mau sih, tapi karena hari sudah sore sedangkan saya harus berangkat ke Toraja malam itu juga. Mungkin di lain waktu saya akan mencoba ke beberapa pulau yang ada di sekitar Makassar.


7 komentar:

  1. coba baca postingan Nasrudin Ansori soal Pulau Samalona deh, Mas. Bukannya menjelek-jelekkan itu pulau sih. tapi pulau itu agak minus imagenya lantaran penduduknya rada matre. air dijual, bahkan katanya apa buat duduk aja disewakan...hahaha... tapi konon itu katanya karena PemKot Makassar (Ya, Samalona masuk dalam wilayah administratif Kota Makassar)  abai terhadap pengembangan dan perawatan pulau-pulau ini.

    BalasHapus
  2. Saya ke Rotterdam saat sepi di pagi hari yang gerimis. Ngeri nggak ada siapa-siapa. Mau ke Samalona juga takut dibawa kabur sopir kapalnya, hahahaha... 

    BalasHapus
  3. iya mas barusan baca.. waduh baru tau kalau sampai segitu matrenya.. berpikir dua kali untung kesana.. :|

    BalasHapus
  4. kalo sore lumayan rame bu is, banyak anak muda nongkrong (baca: pacaran). hahaha

    BalasHapus
  5. waktu ke makassar cuma sempat ke losari dan banti murung. gak tau kalo ada Fort Rotterdam di dekat losari. hikss..

    BalasHapus
  6.  wah sayang banget ya mbak padahal jalan kaki nggak sampai 1 km tuh..

    BalasHapus
  7.  Ia,di samalona begitu air tawar di bayar dan dijual per galon.. tapi ada kok sumur air tawar disana,ya resikonya cuman nimbah aja !! hahaha.. di samalona ada rumah besar milik pengusaha na pengusaha itu yg  membantu mendanai pulau tersebut makanya warga disana memberikan tanah kepada pengusaha tersebut :)

    BalasHapus