24 Februari 2012

Perjalanan Panjang Ke Tana Toraja

bus litha toraja

Tidak terasa waktu keberangkatan Bus Litha yang akan membawa saya ke Toraja sudah semakin dekat. Selama menunggu bus tadi saya berkenalan dengan seorang cewek, turis asing asal Belanda yang juga akan ke Toraja. Menurutnya dia sudah hampir empat bulan berada di Indonesia dan sudah menjelajah mulai dari Jakarta, Bali, Lombok, Gorontalo, Manado, dan Makassar. Dia sendiri belum memutuskan akan berapa lama berada di Toraja. Tapi yang jelas setelah dari Toraja dia akan kembali ke negaranya. Gila ya, seorang cewek yang masih muda berumur dua puluh tahunan traveling seorang diri jauh dari negaranya selama itu. Salut deeh.. Sayang kami tidak satu bus. Malam itu ada tiga bus yang berangkat ke Toraja. Dia berangkat dengan bus yang jadwalnya pukul 21.00, sementara saya berangkat 30 menit kemudian.

Menjelang keberangkatan bus sudah siap. Barang-barang penumpang yang ukurannya besar-besar dan cukup banyak dimasukkan ke dalam bagasi bus. Emang gila bawaan orang-orang lokal disana, udah kayak kargo aja. Paling tidak satu orang bisa membawa tiga hingga empat potong barang yang merupakan kombinasi dari tas, koper, karung, maupun kardus dengan ukuran besar. Setelah semua barang disusun di bagasi, semua penumpang dipersilakan masuk karena bus akan segera berangkat.

bus litha toraja
Bus Litha tujuan Toraja

Tepat pukul 21.30 Bus Litha ini berangkat ke Toraja dengan penumpang yang hampir penuh. Impresi pertama saat naik bus, kursinya lumayan nyaman dengan ruang kaki yang cukup lebar serta terdapat penyangga kaki. Kebetulan saya duduk di kursi paling depan tepat di belakang sopir. Dari kantor perwakilan Bus Litha yang ada di Jalan Urip Sumoharjo, bus berjalan ke arah Terminal Regional Daya yang merupakan terminal terbesar di Makassar. Sampai di terminal seluruh penumpang diminta turun dari bus. Kemudian penumpang masuk ke dalam terminal setelah sebelumnya membayar uang peron sebesar 500 rupiah. Ohh God!! Hanya untuk bayar peron 500 rupiah saja penumpang harus turun semua? Sebegitu buruknya kah birokrasi di Sulawesi Selatan? Saya hanya bisa menggerutu dalam hati. Apalagi Terminal Daya bukanlah terminal yang nyaman kalau menurut saya. Anak-anak kecil yang menjadi pedagang asongan terus-menerus merengek meminta barang dagangannya dibeli. Meskipun saya sudah menolaknya tapi anak-anak tersebut terus membuntuti dan menarik-narik baju saya. Parahnya itu nggak cuma satu anak, tapi ada dua sampai tiga anak yang terus mengikuti. Beruntung bus segera datang dan saya bisa segera naik ke bus lagi.

Dari sini saya berpikiran, hanya karena uang 500 rupiah saja kenapa mesti bikin repot penumpang? Apa nggak bisa kondektur saja yang diminta mengumpulkan uang tersebut dari penumpang tanpa penumpang harus turun dari bus? Atau kalau mau lebih simple lagi, uang yang 500 rupiah itu sudah termasuk dengan harga tiket bus. Nggak repot kan? Toh hanya 500 rupiah, penumpang juga nggak akan kerasa kalau diminta menambah uang tiket sekecil itu. Jangan karena birokrasi yang busuk ini turis jadi ogah ke Sulsel. Sudah banyak juga lho turis mengeluhkan hal serupa.

Setelah semua penumpang masuk bus kembali barulah bus meninggalkan Terminal Daya. Rencananya bus ini akan melintasi Maros, Pangkajene, Pare-Pare, dan Enrekang barulah sampai di Toraja. Karena sangat lelah saya memutuskan untuk memejamkan mata sepelas dari Terminal Daya. Wajar sejak kemaren saya tidur di bus dalam perjalanan dari Jogja ke Surabaya sebelum berangkat ke Makassar. Malam itu saya harus tidur di bus lagi dalam perjalanan Makassar-Toraja. Bahkan untuk keesokan harinya saya juga akan kembali tidur di bus dalam perjalanan pulang dari Toraja ke Makassar. Setidaknya saya akan tidur di bus selama tiga malam. Hal ini dilakukan karena untuk menghemat budget. Berangkat pada malam hari dan sampai di tempat tujuan (Toraja) pada pagi hari. Selanjutnya jalan-jalan seharian dan kembali ke kota asal (Makassar) pada malam harinya. Benar-benar perjalanan yang super melelahkan.

Tidur di bus seperti halnya tidur ayam, sebentar-sebentar melek, sesekali terlelap. Saat mata terbuka sesekali saya melihat ke depan. Ternyata jalan yang dilewati cukup bagus juga dan terlihat masih baru. Ntah lah saya tidak tahu dimana tempatnya. Meskipun bagus tapi sepertinya jalan cukup sempit. Hanya terdiri dari dua lajur saja. Saya baru terbangun kembali saat bus berhenti di sebuah SPBU yang cukup besar tepat tengah malam. Saya tidak tahu dimana lokasi pastinya. Mungkinkah Pare-Pare? Disana sudah ada belasan Bus Litha yang juga mengisi bahan bakar. Saya sempatkan ke toilet dulu karena meskipun saya naik bus super eksekutif namun nyatanya bus ini tidak dilengkapi dengan toilet.

bus litha toraja
Bus lain tujuan Toraja saat berhenti di RM Panorama Indah Puncak Enrekang

Selepas mengisi bahan bakar bus kembali berjalan. Kali ini jalan yang dilewati lebih sempit dan sangat sepi. Yang terlihat hanyalah sawah-sawah yang membentang di bawah sinar bulan. Meskipun tengah malam dan tidak ada pencahayaan listrik sama sekali namun langit malam itu cukup terang. Jalan yang sempit ini dilewati bus dengan kencang. Namun sesekali bus mengerem dengan kuat saat bertemu dengan bus lain dari arah sebaliknya. Salah satu bus harus berhenti untuk memberi jalan bus lain lewat. Yah rupanya jalan sempit ini hanya cukup dilewati satu bus ukuran besar. Kembali saya memajamkan mata, namun beberapa jam kemudian saya terbangun. Rasanya bus terombang-ambing ke kanan dan ke kiri. Walaah, ternyata lewat jalan yang berliku naik-turun. Jalanan yang seperti ini dilewati dalam waktu yang relative lama membuat perut saya mulai mual, rasanya pengen muntah. Untung saja rasa mual tersebut bisa saya tahan. Sepertinya bus sudah memasuki daerah Enrekang yang terkenal dengan pegunungannya yang berkelok-kelok itu. Benar saja, setelah melewati jalan-jalan yang aduhai tersebut bus berhenti di sebuah rumah makan yang jauh dari keramaian. Namanya Rumah Makan Panorama Indah yang terletak di Puncak Enrekang. Rupanya rumah makan ini menjadi tempat transit bagi bus-bus tujuan Toraja. Tidak hanya Bus Litha, tapi hampir semua perusahaan otobus mampir disini. Lagi-lagi saya hanya turun untuk ke toilet. Mau makan? Nggak deh.. Jam tangan saya menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Bukan waktu yang enak buat makan. Selain rumah makan, di Puncak Enrekang ini juga ada beberapa kios yang menjual oleh-oleh. Salah satu yang khas adalah salak Enrekang. Buah salak yang dibungkus dan disusun cukup menarik dengan menggunakan daun. Pengen sih beli, tapi setelah dipikir-pikir satu paket salak itu ukurannya cukup besar. Akan merepotkan nanti bawanya. Mau dimakan? Mana mungkin saya bisa menghabiskannya dalam waktu beberapa jam.

bus litha toraja
Salak Enrekang yang dibungkus cukup unik

Bus tidak terlalu lama berhenti di RM Panorama Indah Puncak Enrekang. Bus kembali melanjutkan perjalanan menuju Toraja. Kali ini jalan yang dilewati masih sempit tapi sudah tidak berliku-liku lagi seperti sebelum sampai Puncak Enrekang tadi. Nah terkadang sopir bus harus kembali mengerem mendadak karena ada gerombolan kerbau yang lewat. Waah, pagi buta begini sudah ada kerbau yang lewat.. Kerbau siapa pula kok nggak dikandangin.. Kembali saya mencoba memejamkan mata. Namun tidak begitu lama saya merasa bus sering kali berhenti. Rupanya sudah sampai di Makale yang merupakan ibukota Toraja. Paling tidak sebentar lagi saya bus akan sampai di Rantepao yang merupakan pusat turis di Toraja. Jam menunjukkan pukul 05.30 tapi masih sangat gelap. Sepanjang jalan dari Makale ke Rantepao satu persatu penumpang turun. Tiga puluh menit kemudian sampailah di Rantepao. Ya, bus ini mentok berhenti di perwakilan Bus Litha yang ada di Rantepao. Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang hampir 9 jam saya tiba juga di Rantepao-Tana Toraja. Ada apa saja di Toraja? Tunggu petualangan saya di Toraja yah.. Hoho..


3 komentar:

  1. aku dari bandung pernah tinggal di makale,woww budaya dan pemandangan alamnya sangat beautful dan aku sangat menikmatinya.thanks

    BalasHapus
  2.  saya juga salut dengan budaya toraja yang masih dijunjung teguh.. pengen balik kesana lagi dan berlama2 disana :|

    BalasHapus
  3. Untuk jasa rental mobil drop maupun pemakaian kendaraan sewa ke tana toraja contact Ambassador CarReRent Car 085342633633

    BalasHapus