12 Februari 2012

Pulang Ke Surabaya Dengan Merpati KLI Livery, Si Elang Dari Merauke

merpati 737-300 KLI

Hanya dua hari satu malam di Bali tentu sangat tidak terasa. Apalagi jadwal jalan-jalan harus terganggu dengan mundurnya jadwal penerbangan di hari pertama saat berangkat ke Bali. Ditambah lagi cuaca di Bali saat hari kedua malah hujan terus. Praktis saya tidak bisa kemana-mana saat hari kedua. Dengan berat hati saya harus meninggalkan Bali dan hanya bisa mengunjungi Pantai Padang-Padang dan Pantai Suluban di hari pertama saja. Sedikit kecewa sih, tapi tak apalah. Toh dua bulan berikutnya saya juga sudah punya rencana ke Bali lagi kok. Tiket juga sudah issued. Hehe..

Saat hari sudah menjelang sore saya meninggalkan Poppies Lane menuju Bandara Ngurah Rai. Waktunya balik ke Surabaya lagi nih. Dalam perjalanan ke bandara, Bali masih saja diguyur hujan walaupun tidak deras. Untung saja area Kuta nggak begitu macet siang itu. Dalam waktu kurang dari 30 menit saya sudah sampai di Bandara Ngurah Rai. Di bulan Desember bandara terlihat sangat padat. Banyak sekali turis baik lokal maupun asing yang hilir-mudik di bandara. Maklum lah, bulan Desember itu bulannya liburan. Apalagi kalau sudah mendekati tahun baru, Bali pasti sangat macet terutama di area Kuta dan Denpasar. Masih untung saya datang nggak saat puncak liburan itu.

Begitu sampai di Bandara Ngurah Rai saya langsung masuk ke ruang check in dengan antrian yang cukup mengular. Seperti biasa saya langsung menuju konter check in Merpati untuk mendapatkan boarding pass. Staff check in sempat kesulitan menginput data saya. alasannya karena status tiket saya WL (waiting list). Setelah staff tersebut berkomunikasi dengan managernya akhirnya data saya bisa juga diinput. Boarding pass diberikan, dan saya langsung menuju ruang tunggu.

merpati 737-300 KLI

merpati 737-300 KLI
Suasana ruang tunggu keberangkatan domestik Bandara Ngurah Rai yang padat

Kalau diperhatikan, ruang tunggu domestik di Bandara Ngurah Rai ini sudah sangat tidak layak terutama saat musim liburan seperti ini. Bayangkan saja, berapa banyak penerbangan domestik dari dan menuju bandara ini. Mulai dari/ke Jakarta, Bandung, Jogja, Surabaya, Makassar, Timika, dan kota-kota di Nusa Tenggara serta Flores. Dengan penerbangan sebanyak itu, terminal keberangkatan domestik hanya mempunyai 4 gate antara lain gate 15, 16, 17, dan 18. Bisa dipastikan saat musim liburan penumpang tumpah ruah. Kapasitas ruang tunggu yang ada nggak akan bisa menampung seluruh penumpang. Banyak sekali penumpang yang nggak dapat tempat duduk yang akhirnya duduk lesehan di lantai. Belum lagi kalau ada maskapai yang mengalami keterlambatan. Jumlah penumpang di ruang tunggu akan semakin padat dan nggak nyaman sama sekali.

Sore itu penerbangan saya dengan Merpati tujuan Surabaya dengan nomor penerbangan MZ-617 rencananya akan diberangkatan pada pukul 16.10. Lah kok ya kebetulan banyak sekali penerbangan yang waktu keberangkatannya hampir bersamaan. Ada Batavia tujuan Jakarta, Garuda tujuan Jogja dan Jakarta, Lion Air tujuan Jakarta, Wings Air tujuan Surabaya, Merpati tujuan Jakarta via Surabaya, dan penerbangan saya Merpati tujuan Bandung via Surabaya. Sialnya lagi, ada penerbangan Garuda, Batavia, dan Merpati tujuan Jakarta via Surabaya mengalami keterlambatan antara satu hingga dua jam. Otomatis ruang tunggu berubah seperti pasar tumpah. Jadilah banyak penumpang yang lesehan di lantai. Tidak terkecuali saya. Ya mau gimana lagi, ruang tunggu sekecil itu buat nampung ratusan penumpang dari beberapa penerbangan. Keadaan kembali ricuh saat ada pengumuman boarding dari Batavia, Lion, Wings, dan Garuda dengan waktu yang bersamaan dari dari pintu yang sama pula. Petugas terlihat sangat kerepotan dalam mengatur penumpangnya. Ruang tunggu sedikit lega ketika para penumpang dari empat maskapai tersebut sudah boarding semua. Setidaknya yang masih mengalami delay hanya Merpati tujuan Jakarta via Surabaya. Sementara status penerbangan saya masih belum jelas. Jam sudah mendekati waktu boarding namun belum ada tanda-tanda akan boarding. Petugas Merpati berkali-kali mengelak saat ditanya kepastian keberangkatan penerbangan MZ-617. Petugas hanya bilang sebentar lagi sebentar lagi tapi nggak pasti jam berapa akan diberangkatkan.

Beruntung.. Penerbangan saya saat itu tidak delay sama sekali. Boarding berlangsung tepat waktu sesuai dengan waktu yang tertera pada boarding pass. Syukur banget, padahal jadwal Merpati tujuan Jakarta via Surabaya yang seharusnya berangkat duluan malah delay sampai 1,5 jam. Boarding berlangsung agak berantakan. Semua penumpang maunya boarding duluan jadi antrian semerawut. Padahal pasti kebagian kursi tapi kok ya pake buru-buru cuma masuk pesawat aja.

merpati 737-300 KLI

merpati 737-300 KLI
KLI, salah satu dari 3 unit pesawat Boeing 737-300 milik Pemda Merauke yang dioperasikan oleh PT Merpati Nusantara

merpati 737-300 KLI
Kabin pesawat Boeing 737-300 PK-MBP yang sudah terlihat kusam

Kali ini saya akan menaiki Si Elang asal Papua tepatnya Merauke yang bernama KLI. Lho kok? Iya, pesawat yang akan saya naiki adalah Boeing 737-300 dengan registrasi PK-MBP. Pesawat ini adalah pesawat milik Pemda Merauke yang dititipkan kepada PT Merpati Nusantara. Bahasa kerennya Kerjasama Operasi (KSO) gitulah. Pemda Merauke yang punya pesawat, sementara Merpati yang mengoperasikannya. Kalau saya tidak salah, total ada 4 unit pesawat Pemda Merauke yang dititipkan kepada Merpati. Terdiri dari 1 unit DHC-6 Twin Otter dan 3 unit Boeing 737-300. Uniknya, masing-masing pesawat ini diberi nama masing-masing. DHC-6 Twin Otter diberi nama Musamus yang berarti rumah semut. Sedangkan pesawat Boeing 737-300 diberi nama masing-masing AOBA (PK-MDK), BUGODI (PK-MDF), dan KLI (PK-MBP). Sebenarnya saya kurang paham arti dari nama-nama ini. Googling yang saya lakukan hanya berhasil menemukan kata AOBA yang berarti Bangau Biru. Memang sih foto pesawat Boeing 737-300 PK-MDK dengan livery AOBA memiliki logo sebuah bangau berwarna biru. Sementara untuk BUGODI dan KLI saya kurang tahu apa arti yang sesungguhnya. Yang jelas pada badan pesawat dengan livery BUGODI terdapat gambar menyerupai burung kakatua, sementara pada livery KLI terpampang dengan jelas gambar elang.

merpati 737-300 KLI
Pesawat Fokker 100 PK-TWN milik Transwisata yang sedang disewa Merpati

merpati 737-300 KLI
BAe 146-200 Aviastar Mandiri

merpati 737-300 KLI
Bersiap take off menuju Surabaya dari runway 27 Bandara Ngurah Rai

Anda dengan mudah dapat membedakan mana pesawat milik Pemda Merauke yang dioperasikan oleh Merpati hanya melalui livery yang digunakan. Rata-rata pesawat milik Pemda Merauke berlivery nyentrik. Misalnya saja pada pesawat yang akan saya naiki dengan livery KLI ini. Pada bagian bawah fuselage menggunakan warna hitam. Setengah bagian mesin juga berwarna hitam dengan kombinasi warna hijau muda. Di bagian sekitar horizontal stabilizer dicat dengan warna biru. Bagian ekor terdapat logo khas Merpati warna kuning, sedangkan pada bagian body tengah agak ke belakang terdapat logo besar bertuliskan KLI beserta ikon burung elang. Bagaimana dengan AOBA dan BUGODI? Hampir serupa kok. Kalau AOBA semua badan pesawat bercat putih sama seperti pesawat Boeing 737 Merpati yang lain. Yang membedakan adalah logo AOBA dengan ikon bangau biru pada badan pesawat. Nah kalau BUGODI nggak kalah nyentrik. Warna bagian bawah fuselage pesawat BUGODI dicat warna biru mulai dari depan hingga belakang, kemudian terdapat logo BUGODI dengan ikon burung kakatua. Masih sulit atau bingung membedakan mana pesawat milik Merpati dan mana yang milik Pemda Merauke yang dioperasikan Merpati? Paling gampang ya dilihat ditulisan badan pesawat. Selain bercirikan seperti yang sudah saya tulis di atas, semua pesawat milik Pemda Merauke dapat dipastikan bertuliskan “IZAKOD BEKAI IZAKOD KAI” yang artinya “SATU HATI SATU TUJUAN” lengkap dengan logo Pemda Merauke. By the way, keren juga ya Pemda Merauke bisa punya Boeing 737-300 sampai 3 unit .

merpati 737-300 KLI
Indonesia AirAsia Airbus A320

merpati 737-300 KLI
Take off menuju Surabaya

merpati 737-300 KLI
Pantai selatan Bali

merpati 737-300 KLI
Suasana kabin saat penerbangan

merpati 737-300 KLI
Inflight meals, sepotong roti dan segelas air mineral

Nah pesawat yang saya naik yaitu KLI alias PK-MBP ini bukanlah pesawat yang berusia muda. Umurnya sudah mencapai 25 tahun, lebih tua dari saya dong. Sejarahnya, pesawat ini pertama kali dikirimkan pada tanggal 19 Februari 1987 kepada America West Airlines dengan registrasi N173AW. America West menggunakan pesawat 737 classic ini selama 19 tahun sampai tanggal 31 Januari 2006. Enam bulan kemudian si classic kemungkinan dibeli oleh Pemda Merauke yang kemudian dikirimkan kepada Merpati pada tanggal 1 Juli 2006 dengan menggunakan registrasi Indonesia PK-MBP dan masih digunakan hingga sekarang. Sempat tersiar kabar kerjasama operasi antara Pemda Merauke dan Merpati akan diakhiri karena berbagai hal (baca: duit). Merpati akan mengembalikan pesawat satu per satu. Nggak tahu deh sekarang gimana kabarnya. Yang pasti setahu saya ketiga pesawat 737-300 masih dioperasikan hingga tulisan ini dibuat.

Umur pesawat nggak bisa dibohongi saat saya memasuki kabin. Intertior terlihat menua. Kursi-kursi pesawat sudah kusam. Tidak ada kantong kursi untuk menyimpan safety card dan majalah di depan kursi saya. Lebih parah lagi, sandaran kursi saya rusak. Saat badan bersandar, sandaran recline alias jeplak dengan sendirinya. Padahal kita semua tahu kan kalau saat take off dan landing sandaran kursi harus ditegakkan? Ya sudahlah, mau pindah tempat duduk juga nggak ada lagi kursi kosong. Penerbagan Denpasar-Bandung via Surabaya vv saat akhir pekan memang selalu full. Mau gimana lagi..

merpati 737-300 KLI
Di atas wilayah Surabaya

merpati 737-300 KLI
Citilink Boeing 737-300

merpati 737-300 KLI

merpati 737-300 KLI
Turun dari pesawat

merpati 737-300 KLI
Bandara Juanda

Walaupun pesawat full tapi penumpang pada tertib alias nggak ada yang ngaret masuk ke pesawat. Proses boarding dapat berlangsung cukup cepat sehingga pesawat bisa segera diberangkatkan ke Surabaya. Setelah pintu pesawat ditutup, pesawat segera bergerak ke runway 27 Bandara Ngurah Rai. Sore itu traffic cukup padat. Pesawat yang saya naiki harus antri karena ada pesawat Airbus A320 Jetstar dan ATR 72-500 Wings Air yang mendarat. Setelah kedua pesawat itu mendarat, barulah pesawat yang saya naiki mendapat clearance untuk berangkat. Di belakang pesawat saya juga sudah antri berturut-turut Airbus A320 Indonesia AirAsia, Merpati MA60, dan Merpati Fokker 100. Pesawat saya akhirnya take off dengan mulus. Terlihat sekilas Pantai Kuta yang pastinya selalu ramai dikunjungi wisatawan. Lalu pesawat mengarah ke Surabaya dengan cuaca yang berawan dan sedikit goncangan. Tidak ada hal sepesial selama penerbangan ini. Seperti saat berangkat, penumpang dibagikan snack box yang berisi sepotong roti isi selai dan segelas air mineral. Penerbangan yang hanya berdurasi 40 menit itupun tidak terasa sampai akhirnya pesawat mulai approach ke Bandara Juanda. Kondisi cuaca di Surabaya sore hari cukup cerah. KLI melakukan pendaratan dengan mulus di runway 10 Bandara Juanda. Setelah terparkir dengan sempurna, penumpang tujuan Surabaya dipersilakan turun. Sementara itu penumpang lanjutan yang akan ke Bandung diperbolehkan turun dan menunggu selama 30 menit di ruang tunggu sebelum melanjutkan penerbangan ke Bandung. Namun bagi yang nggak mau turun juga tidak dilarang berada dalam pesawat saja. Sampai jumpa di trip berikutnya edisi Sulawesi Selatan.. 

Saya mengucapkan terima kasih kepada PT Merpati Nusantara atas tiket gratis Surabaya-Banyuwangi PP dan Surabaya-Denpasar PP. Semoga Merpati bisa survive dari kesulitan yang melanda saat ini. GO MERPATI!!


6 komentar:

  1. Om, ikutan berburu tiket promo Citilink ga ?

    BalasHapus
  2. nggak om, masih ada tiket citilink yang tersisa dan belum dipake.. kemaren udah dipake 4 sector.. #ihik

    BalasHapus
  3. senangnyaa dapet tiket gratisan, jadi diulas abis-abisan disini tentang merpati.. saya malah belom pernah naik merpati, kata temen-temen saya mengerikan.. harga tiketnya (relatif) mahal dibanding dengan yang lain, tapi fasilitas dan pelayanannya nggak sebanding.. tapi ah, toh kalo kemana-mana keseringan dibayarin kantor sih..

    BalasHapus
  4. mengerikan apanya bang? harga tiket nggak mesti kok, tapi kalau untuk ke indonesia timur sih bisa dibilang begitu.. menurut saya sih ya, yang sering mengecewakan dari merpati adalah sering cancel dadakan dan delay berjam-jam.. ini terjadi karena banyak pesawat seri 737 yang nongkrong di hanggar alias rusak dan belum ada dana untuk memperbaiki.. jadi kalau ada satu saja pesawat yang rusak ya wassalam.. bisa jadi semua jadwal yang pakai 737 kena imbasnya.. :))

    jujur ya bang, tapi jangan bilang siapa2.. #eh
    saya juga lebih milih yang lain kok kalau bayar sendiri.. :D

    BalasHapus
  5. keren. merpati air punya TV. ngomong-ngomong merpati pernah meng-operasikan pesawat Airbus ya?

    BalasHapus
  6. sudah lama sekali.. dulu pernah pakai A300/310

    BalasHapus