2 Februari 2012

Selamat Tinggal Banyuwangi, Terbang Dengan MA60 Lagi Ke Surabaya

merpati ma60

Cukup lama saya menunggu di tengah sepinya Bandara Blimbingsari. Mungkin ada lebih dari satu jam. Waktu selama itu lebih banyak saya habiskan untuk ngobrol dengan salah seorang staff Merpati, petugas avsec, dan petugas dari dinas perhubungan udara di kursi tepat depan gedung terminal. Petugas-petugas ini masih santai-santai saja karena memang belum ada calon penumpang yang datang selain saya. Kebanyakan penumpang yang akan terbang dari Bandara Blimbingsari memang datangnya mepet dengan jam keberangkatan. Selain para petugas yang masih santai-santai, ada juga kesibukan lain yaitu pembuatan sebuah bangunan seperti pendopo atau mungkin mushola yang terletak di depan gedung terminal. Selain itu juga ada beberapa siswa BIFA yang beristirahat setelah latihan terbang.

Setelah beberapa saat menunggu akhirnya beberapa orang penumpang mulai berdatangan. Para petugas juga sudah mulai bersiap melaksanakan tugasnya. Setelah petugas siap, calon penumpang yang sudah datang dipersilakan masuk ke gedung terminal keberangkatan untuk melakukan check in. Seperti biasa dan hal yang umum dilakukan di bandara manapun, akan ada yang namanya security check. Bedanya jika umumnya di bandara-bandara yang lebih besar security check menggunakan X-Ray, kalau di Bandara Blimbingsari pengecekan dilakukan secara manual karena memang belum ada alatnya. Bukan hanya calon penumpang yang dicek secara manual. Barang-barang bawaan juga dicek secara manual dengan cara dibuka. Kalau bawa koper atau tas, tentu koper atau tas ini harus dibuka dan ditunjukkan isinya kepada avsec. Menyadari keterbatasan alat yang ada di Bandara Blimbingsari, avsec akan meminta maaf dan meminta ijin saat akan membuka tas saya. Mereka meminta agar saya memaklumi kondisi tersebut. Yah bagi saya sih nggak masalah ya, toh demi keamanan dan keselamatan juga kan?

merpati ma60

merpati ma60

merpati ma60

merpati ma60

Selesai dengan urusan security check saya bergegas ke check in counter yang jaraknya hanya beberapa langkah dari pintu masuk tadi. Jangan membayangkan kondisi ruangan ini luas, melainkan cukup sempit. Bahkan jika terjadi antrian lebih dari 7 orang saja sudah akan sumpek dan mengular sampai berdesakan dengan avsec yang melakukan security check secara manual tadi. Lagipula counter check in yang tersedia disini kan hanya ada satu. Barang-barang bagasi penumpang juga ditimbang dengan teliti mengingat pesawat MA60 yang akan digunakan dalam penerbangan ini terkena weight restriction saat take off. Jangankan barang, penumpang saja hanya dibatasi maksimal 36 penumpang kok. Padahal kapasitas maksimal pesawat MA60 milik Merpati kan 56 penumpang. Agak aneh juga sih untuk ukuran pesawat sekelas MA60 maupun Fokker 50 terkena weight restriction di landasan dengan panjang 1.400 meter. Tapi bisa jadi yang bermasalah bukan panjang landasannya, melainkan kekuatan aspal landasan yang tidak mampu menahan beban jika muatan pesawat penuh.

Saya termasuk calon penumpang yang check in lebih awal dibandingkan penumpang-penumpang yang lain. Proses check in tidak berbeda dengan yang dilakukan di bandara-bandara lain. Disini sudah menggunakan komputer kok. Saat check in ini juga diminta menunjukka ID card. Sebuah proses yang umum dilakukan saat check in dimana saja kan? Waktu itu saya meminta tempat duduk dekat jendela yang paling belakang. Sayang sekali petugas check in tidak memberikan kursi tersebut kepada saya meskipun kursi tersebut masih kosong. Alasannya adalah karena biasanya di kursi belakang akan ditempati oleh rombongan bupati. Ya sudahlah, sebagai penumpang yang menggunakan tiket gratis sebaiknya mengalah saja dengan yang punya kekuasaan. Hehe.. Saya akhirnya mendapatkan window seat yang agak di tengah. Hal yang ajaib disini adalah airport tax yang hanya sebesar 8.000 rupiah. Tentu ini adalah airport tax termurah yagn pernah saya bayarkan. Sebelumnya airport tax termurah yang pernah saya bayar adalah saat berangkat ke Jakarta dari Bandara Radin Intan II di Lampung yang hanya sebesar 15.000. Kali ini saya membayar separuh lebih murah lagi. Hal ini cukup setara lah nilainya mengingat fasilitas yang ada di bandara juga hanya seadanya.

merpati ma60

Urusan check in sudah selesai, saya mencoba masuk ke ruang tunggu. Ruang tunggu yang ada di Bandara Blimbingsari berukuran cukup kecil. Bahkan jika seluruh penumpang yang berjumlah 36 orang masuk ke ruang tunggu seluruhnya akan terasa sangat sumpek. Di ruang tunggu ada menggunakan kursi-kursi yang terbuat dari besi yang disusun memanjang ke belakang. Sebagai hiburan hanya ada sebuah LCD TV yang ada di dalam ruangan. Karena merasa sumpek berada di ruangan kecil tersebut, saya memilih keluar ruangan saja. Ternyata di luar ruangan sudah cukup ramai. Mobil-mobil plat merah terparkir di depan bandara. Tidak ketinggalan mobil patwal yang menyertainya. Terlihat pula beberapa orang polisi yang mengawal. Sepertinya ada raja kecil yang akan berangkat satu pesawat dengan saya nantinya. Kebanyakan calon penumpang juga lebih memilih menunggu di luar seperti saya. Sementara itu mendekati waktu keberangkatan pesawat tidak kunjung tiba di Bandara Blimbingsari. Rupanya ada sedikit keterlambatan sekitar 30 menit. Cuaca yang tadinya panas sudah berubah menjadi mendung. Dari samping gedung terminal ini bisa melihat langsung akivitas yang ada di landasan maupun di apron. Di apron masih terlihat aktivitas para siswa BIFA yang akan latihan touch and go dengan pesawat Cessna seperti yang dilakukan teman-temannya yang sebelumnya. Sebuah pemandangan yang sangat jarang bahkan sulit ditemui di bandara-bandara besar.

merpati ma60

merpati ma60

Saat gerimis kecil-kecil mulai menetes, terdengar deru suara pesawat. Akhirnya pesawat MA60 yang akan membawa saya ke Surabaya baru saja mendarat. Setelah terlihat semua penumpang turun, saya kembali masuk ke ruang tunggu. Tidak ada pengecekan ulang saat masuk ruang tunggu baik untuk calon penumpang maupun barang bawaan. Menurut avsec hal ini karena sudha dilakukan pengecekan tadi. Padahal riskan lho ya kalo nggak dicek ulang. Tidak perlu lama menunggu akhir petugas yang sama saat check in tadi mengumumkan panggilan boarding. Turn around pesawat memang bisa dibilang cepat karena kapasitasnya kecil, ditambah lagi pesawat tidak melakukan pengisian bahan bakar di Bandara Blimbingsari. Karena agak gerimis jadi saya langsung bergegas naik ke pesawat saja. Kebetulan sekali pesawat yang digunakan memiliki registrasi PK-MZI. Berarti ini adalah pesawat yang sama dengan yang saya naiki saat berangkat dari Surabaya ke Banyuwangi. Di pesawat saya disambut oleh seorang pramugara dan seorang pramugari. Tidak seperti pada penerbangan sebelumnya dimana kedua flight attendant yang bertugas adalah pramugari. Begitu masuk langsung saja menuju tempat duduk saya, kemudian memasang sabuk pengaman yang panjangnya nggak kira-kira itu.

merpati ma60

merpati ma60

merpati ma60

merpati ma60

Dalam waktu yang tidak lama seluruh penumpang sudah masuk semua dalam pesawat. Pintu pesawatpun ditutup, selanjutnya mbak mugari memperagakan safety demo. Dalam cuaca yang gerimis ini pesawat berjalan pelan menuju landasan. Setelah sampai di ujung landasan dan berbalik arah, mesin menderu kencang. Pesawatpun melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan Banyuwangi. Selamat tinggal Banyuwangi. Lain waktu saya akan kembali kesini untuk mengeksplor keindahan Banyuwangi yang kebanyakan terdapat di luar kota. Pemandangan saat pesawat meninggalkan Bandara Blimbingsari ini memang bagus. Di bawah terlihat pemandangan yang menghijau karena didominasi perkebunan dan persawahan. Selain itu terlihat pula Selat Bali yang indah di bawah sana. Sama seperti saat berangkat, pada penerbangan ini dibagikan snack box yang berisi dua potong roti dan segelas air mineral. Lumayanlah buat ganjel perut.

merpati ma60

merpati ma60

Selama penerbangan saya tidak banyak mengambil foto. Saya sudah agak capek jadi lebih banyak tidur meskipun durasi penerbangan hanya sekitar satu jam. Dengan durasi yang cukup pendek itu tidak terasa pesawat sudah mendekati wilayah Surabaya. Saya kira pesawat akan mendarat dari runway 28 Bandara Juanda. Ternyata saya salah. Pesawat berputar dulu dan akan mendarat dari runway 10. Saat proses ini pesawat melintas pendek di atas kampus saya. Ada yang bisa menebak yang mana kampus saya di foto? Hehe.. Setelah mendekati landasan roda pesawat keluar tepat berada di samping tepat duduk saya. Unik ya, pesawat kebanyakan rodanya berada di bawah badan pesawat. Sedangkan untuk pesawat jenis MA60 ini rodanya berada di samping, lebih tepatnya di bawah sayap. Akhirnya pesawat mendarat dengan mulus dari runway 10 Bandara Juanda. Alhamdulillah sampai lagi di Surabaya.


9 komentar:

  1. baru tau bandara banyuwangi sudah beroperasi untuk komersil.

    BalasHapus
  2. rasanya udah agak lama kok mas beroperasi :)

    BalasHapus
  3. Ariska Perdana Wibisono26 Juli, 2012 16:06

    Kalo boleh saya tebak dalam foto mas Wijanarko diatas adalah daerah semampir / perempatan MERR II-C....dan disebelah kanan dari perempatan tsb adalah kampus STIKOM...tul nggak ;-)

    BalasHapus
  4. ada penerbangan banyuwangi - surabaya ya? wah baru tahu saya,,

    BalasHapus
  5. Ada mas udah cukup lama kok.. Sebentar lagi wings air juga mau buka rute kesana

    BalasHapus
  6. Seat belt yg panjangnya ga kira-kira.. hahahahaha.. Itu juga yg terpikir waktu naik MA60. Beda pesawat siyy.. PK-MZL. Tapi sama, panjangnya ga kira-kira :D

    BalasHapus
  7. Aku udah pernah naik PK-MZD, PK-MZI, sama PK-MZM. Sama aja kok mbak, seat belt panjang banget, buat dua orangpun kayaknya masih sisa. -__-

    BalasHapus
  8. panjang juga runwy bandara blimbing sari
    panjangnya 1400 m.....:)

    BalasHapus