8 Maret 2012

Geliat Malam Di Kota Rantepao

rantepao

Rantepao memang hanyalah kota kecil. Bahkan untuk mengelilinginya saja bisa habis dalam hitungan jam dengan berjalan kaki. Tapi jangan salah sangka kalau kota ini sepi lho ya. Meskipun kota kecil namun Rantepao cukup ramai. Berbagai toko, bank, kantor perwakilan perusahaan otobus, mini market, dan warung makan berderet sepanjang jalan. Pusat Kota Rantepao ya hanya berada di sepanjang Jalan Andi Mappanyukki saja. Ruas jalan ini pun tidak panjang kok. Kalau mau ditelusuri mungkin juga tidak akan lebih dari satu kilometer.

Geliat keramaian di Rantepao rupanya tidak hanya terjadi pada siang hari saja. Malah keramaian ini semakin bertambah saat menjelang malam. Sore hari sudah banyak pedagang-pedagang kaki lima membuka lapaknya. Rata-rata mereka ini berjualan makanan, gorengan, maupun buah-buahan. Turis-turis asing sesekali juga terlihat jalan-jalan seputaran pusat kota ini. Penduduk lokal juga melakukan aktifitasnya masing-masing. Tukang becak tidak henti-hentinya menawarkan jasa kepada calon penumpang yang membutuhkan jasanya. Di Rantepao ini saya cukup salut dengan penduduk lokal yang rata-rata ramah-ramah. Misalnya saja saat saya sedang jalan-jalan di ruas Jalan Andi Mappanyukki, beberapa kali saya disapa oleh pemuda setempat, menyalami saya, kemudian menanyakan asal saya. Ini dalam kondisi saat berpapasan lho, bukan saat berhenti. Mereka dengan spontan menyapa dan menjabat tangan saya. Suatu hal yang sangat jarang saya temui di tempat lain.

rantepao

rantepao

rantepao

Semakin malam toko-toko yang ada di Rantepao memang mulai tutup. Tapi kesibukan belum selesai. Keramaian digantikan oleh calon penumpang bus yang akan pergi keluar dari Toraja. Mereka sibuk berkumpul di kantor perwakilan bus masing-masing. Keramaian ini bisa terjadi karena kebanyakan perusahaan otobus memiliki kantor perwakilan di ruas jalan utama Rantepao. Saat malam seperti ini saya juga sudah berkumpul dengan para penumpang lain di kantor perwakilan Bus Litha. Yup, malam itu juga saya akan kembali ke Makassar. Bus Litha yang akan membawa saya ke Makassar sesuai jadwal akan diberangkatkan pukul 21.00. Sembari menunggu saya sempatkan melihat-lihat souvenir yang dijual di toko sebelah perwakilan bus. Souvenir-souvenir khas Toraja banyak terdapat di sini. Ada ukiran tau-tau, topeng, patung dari kayu, kain tenun, miniatur tongkonan, dan pernak-pernik lainnya. Saya nggak beli sih, karena nggak tahu mesti ditaruh dimana kalau beli, ribet bawanya.. Yang penting ada fotonya, itu sudah cukup menjadi souvenir yang berharga yang bisa saya bawa pulang. Bagi Anda yang punya cukup tempat untuk menyimpan barang-barang unik ini, Anda bisa membelinya untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Tapi katanya harga souvenir di Rantepao lebih mahal daripada di objek-objek wisata. Saya sih kurang tahu karena memang nggak bertanya dan nggak berniat membeli. Selepas keberangkatan bus-bus yang meninggalkan Rantepao, memang Rantepao jadi lebih sepi. Kemungkinan besar Rantepao bukan kota yang hidup 24 jam. Tapi saya cukup kagum juga melihat keramaian kota yang cukup mungil ini.


2 komentar:

  1. saya tipikal orang yang suka jalan tapi ngga suka beli cindera mata... buat saya sih di foto saja sudah cukup. hahahahahah

    BalasHapus