7 Maret 2012

Makan Apa Di Toraja?

makanan halal di toraja

Permasalahan yang sering muncul saat backpacking biasanya adalah mengenai makanan. Hal ini pula yang terjadi saat saya backpacking ke Tana Toraja. Sebagian besar dari Anda mungkin sudah banyak yang tahu kalau mayoritas penduduk Toraja adalah non-muslim. Hal ini berarti akan sedikit menyulitkan bagi Anda yang beragama muslim saat mencari makan halal di sana. Yah intinya Anda harus ekstra hati-hati dalam memilih tempat makan. Bagi Anda yang bisa makan “all you can eat” tentu Toraja adalah surganya. Tapi nggak usah khawatir deh, meskipun tidak begitu banyak tapi Anda masih bisa kok mendapatkan makanan halal di Toraja.

Setelah puas berkeliling Toraja dengan mengunjungi objek-objek seperti Buntu Pune, Ke’te’ Kesu’, Londa, Tilanga, Lemo, Kambira, hingga Makale saya memutuskan untuk kembali ke Rantepao. Selain hari sudah menjelang sore, juga perut saya belum diisi sejak pagi. Pagi hari saat baru tiba di Rantepao saya hanya makan pop mie saja yang saya beli di warung dekat perwakilan Bus Litha di Rantepao. Selama berada di objek-objek wisata tadi pun saya tidak menemukan adanya warung makan yang umumnya banyak terdapat di objek wisata. Kebanyakan yang ada di objek wisata hanyalah toko-toko souvenir saja. Agak aneh memang.

Dengan kembali ke Rantepao setidaknya saya bisa memilih makanan yang kira-kira cocok di lidah saya sekaligus yang halal. Cara paling gampang mencari makanan halal di Toraja adalah dengan makan di warung-warung yang bertuliskan “warung makan muslim” atau sejenisnya. Setidaknya hal itu cukup menjamin bahwa makanan yang dijual merupakan makanan halal. Memang nggak terlalu banyak jumlah warung makan yang berlabel muslim di Toraja. Tapi saya melihat ada beberapa kok di sepanjang Jalan Andi Mappanyukki maupun di jalan-jalan lain. Di Toraja saya tidak cukup berani mencari makanan yang khas. Di sini saya mencari amannya saja, yang penting halal.

Saat berada di Toraja selama satu hari dari pagi hingga sore saya hanya dua kali makan. Makan yang pertama adalah saat makan siang yang sudah terlewat. Kemudian makan yang kedua kali saat hari sudah gelap. Untuk makan siang saya waktu itu saya makan di sebuah warung nasi goreng di Jalan Andi Mappanyukki Rantepao. Menunya sejenis nasi goreng, mie goreng, kwetiau, dan capcay. Meskipun hanya berupa warung yang biasa saja tapi harga makanan di sana cukup lumayan. Rata-rata harganya di atas 20.000. Harga 20.000 merupakan harga standar yang paling murah. Menu ayam goreng saja dihargai sampai 40.000. Bayangkan kalau di Jawa, harga segitu bisa dapat empat porsi! Sebagai menu makan siang saya memesan kwetiau dan jus alpukat. Dengan harga 20.000 tersebut saya mendapatkan kwetiau dengan porsi jumbo. Saya rasa porsinya sangat berlebihan, harganya juga berlebihan. Alhasil kwetiau tersebut hanya saya makan separuhnya saja.

makanan halal di toraja

Saat menjelang malam saya kembali mencari makanan untuk mengisi perut. Kali ini yang menjadi tujuan saya adalah warung makan muslim yang terletak tidak jauh dari tempat makan saya yang pertama tadi. Namanya “Warung Muslim Patma”. Menu makanan di sini juga tergolomg mahal meskipun tidak semahal di tempat yang pertama. Sebagai contoh, nasi dengan ikan dihargai 25.000, sup ayam 17.000, dan nasi campur 15.000. Sementara itu menu yang paling murah adalah gado-gado, bakso, dan mie pangsit yang dihargai 10.000. Anda tentu sudah tahu dong saya bakal pilih yang mana. Yup, gado-gado. Gado-gado di Toraja menurut saya lebih mirip seperti pecel terutama untuk bumbunya. Tapi herannya itu bumbu seperti tidak tercampur dengan sempurna saat dicairkan dengan air. Jadi saat dihidangkan bumbu kacangnya terlihat mengental di atas sayuran, sedangkan airnya merembes di bawah. Untuk rasanya lumayan lah. Secara umum warung-warung di Sulawesi Selatan akan memberi minum air putih secara gratis saat makan. Ya hitung-hitung buat pengiritan, nggak perlu pesan minum lagi. Hehe..

Sejujurnya saya kurang paham kenapa harga makanan di Toraja bisa cukup mahal seperti ini. Apakah memang penduduk sana cukup mampu untuk membeli makanan dengan harga standar seperti itu? Atau karena Toraja khususnya Rantepao merupakan pusat turis jadi harga makanan di sana menjadi mahal? Namun sepanjang penglihatan saya, saat makan di Rantepao kebanyakan yang makan bareng saya adalah penduduk lokal dan bukan turis.

makanan halal di toraja

Oh ya, sore itu Rantepao diguyur hujan deras selama beberapa jam. Tidak ada aktifitas lagi yang saya lakukan di Toraja setelah mengunjungi objek-objek yang saya sebutkan di awal. Beruntung saya sudah kembali ke Rantepao karena hujan baru reda saat hari sudah mulai gelap. Motor pun saya kembalikan karena sudah mendekati deadline masa sewa. Sisa waktu yang ada saya habiskan untuk mengurus tiket kembali ke Makassar pada malam harinya serta sedikit berkeliling Rantepao dengan jalan kaki. Rupanya Rantepao di malam hari masih cukup bergeliat. Seperti apa Rantepao di malam hari? Saya sambung di tulisan berikutnya……


8 komentar:

  1. hihihihi....saya juga ga ngerti kenapa ya harga makanan di Rantepao itu mahal. apa karena mereka nggak memproduksi sendiri untuk bahan bahan bakunya dan harus didatangkan dari luar? memang sih ada juga warung bakso 10ribuan. tapi ya rata-rata memang harganya "lumayan"

    oh ya Mas...saya kayaknya pernah mengulas gado gado di Tana Toraja. rasanya amburadul. hahaha. Gado Gado emang paling enak di tanah asalnya. kalau makanan khas, Mas Tri sebenernya bisa mencoba Pa'Piong dan Londong Pa'marassan yang bahan bakunya kerbau atau ayam. tenang, ada pilihan menu halal koq di beberapa restoran namun tetap mengusung makanan halal.

    Saya berpendapat, orang Batak, orang Toraja, orang Flores, Timor dan Sumba adalah satu rumpun suku yang sama. Alasannya, mereka pintar menenun kain, pintar menari dan menyanyi, arsitek yang luar biasa soal keunikan rumah adat, tapi soal makanan khas...maaf maaf saja, nggak terlalu bisa di'heboh'kan banget. ini kenyataan sih. tempat paling enak dan murah soal makanan di Indonesia, juaranya adalah Yogyakarta dan Solo hehehehe....

    BalasHapus
  2. Sepertinya sih memang begitu mas, bahan baku makanan harus didatangkan dari luar Toraja.. Makanya harganya disana cukup mahal, malah bisa dibilang 2-3 kali lipat harga makanan sejenis di Surabaya/Jakarta.. Haha.. Kalau Jogja dan Solo sih nggak usah ditanya mas, makanan enak-enak dan yang pasti muraaaaah! Makanan seharga 20rb itu udah jadi makanan yang cukup mewah bagi orang yang tinggal di Jogja/Solo, karena rata-rata harga makanan disana nggak sampai 10rb sih per porsinya.. Maklum tempatnya mahasiswa, jadi makanan harus murah dan enak! Haha..

    Duh saya malah nggak sempet tau dan lihat yang namanya Pa'Piong dan Londong Pa'marassan.. 

    BalasHapus
  3.  ooo y?, masa sich,
      jadi terharu...!!!!

    BalasHapus
  4. Bukan londong pa"marrasan, mungkin yng dimaksud  PANTOLLO' PAMARRASAN

    BalasHapus
  5. nggak tau deh mbak.. thanks buat koreksinya.. :D

    BalasHapus
  6. mungkin karena orang toraja tidak terlalu familiar dengan 'makan di warung'
    mereka lebih memilih makan di rumah.
    makanya pasarannya dikit sehingga harga melambung.

    BalasHapus
  7. thanks infonya...
    soalnya minggu ini mau praktek lapang di toraja...
    pengalaman pertama juga, jadi thank's banget sudah share pengalaman anda....

    BalasHapus