3 November 2012

Berkeliling Jakarta dengan KRL/Commuter Line

KRL Commuter Line Jakarta

Merasakan sebentar menjadi kaum urban di Jakarta merupakan pengalaman yang mengesankan. Bagaimana saya harus menghadapi macet yang luar biasa, berdesak-desakkan di halte Bus Trans Jakarta maupun di dalam busnya sendiri, dan berdesak-desakkan dalam kereta.

Ya walaupun moda transportasi di Jakarta sangat beragam, namun selama disana saya lebih banyak memanfaatkan KRL/Commuter Line baik itu untuk berpindah ke tempat yang tidak terlalu jauh maupun ke kota satelit sekitar Jakarta seperti Depok dan Bekasi. Pengalaman naik KRL ini sebenarnya juga yang pertama kalinya buat saya.

Sebelumnya pada hari pertama saya di Jakarta, saat sore hari saya memanfaatkan jasa Bus Trans Jakarta. Antrian di halte benar-benar sangat padat. Para penumpang sering kali dorong-dorongan saat akan memasuki bus. Suasana di dalam bus juga tidak jauh berbeda, sumpek sekali. Apalagi jadwal kedatangan bus juga tidak pasti. Saya mesti menunggu lebih dari satu jam sampai kebagian bus. Alasan ini yang membuat saya agak kapok naik Trans Jakarta terutama jika harus transit di Halte Harmoni. Karena itu saya berpindah haluan memanfaatkan jasa Commuter Line yang menurut saya sedikit lebih baik.

KRL Commuter Line Jakarta

Selain alasan di atas, pertimbangan saya sering menggunakan KRL adalah karena perjalanan dengan kereta cukup cepat, jadwal yang cukup on time, dan saya tidak perlu berdesak-desakan di stasiun. Kalau di dalam kereta sih beda cerita. Kalau berangkat pagi hari saat jam kantor ya wajar kalau nggak dapat tempat duduk dan mesti berdesak-desakan. Tapi kalau naik KRL sekitar pukul 10.00 biasanya sudah relatif sepi. Paling tidak keadaan seperti ini terjadi hingga sore hari bertepatan saat jam pulang kantor. Selain pada jam-jam sibuk naik KRL akan terasa longgar dan nyaman. Setidaknya pada jam sibukpun KRL masih sedikit lebih nyaman dibanding Trans Jakarta ataupun bermacet-macetan dengan kendaraan di jalan. Sejak saat itu saya mulai suka dengan KRL/Commuter Line.

Harga tiket KRL yang berkisar antara 6.000 hingga 8.500 (sekarang sudah naik) tergantung tujuan memang cukup murah. Tapi kalau setiap hari sering berpindah-pindah tempat dan mesti beberapa kali naik KRL, terasa juga pengeluaran buat transportasi ini. Nah kalau mau lebih murah lagi bisa juga memanfaatkan KRL Ekonomi. Kalau nggak salah harga tiketnya cuma 1.500 atau 2.000. Saya nggak tau pastinya karena nggak pernah naik. Masih agak segan dan ngeri untuk mencobanya. Berminat mencoba KRL/Commuter Line di Jabodetabek?



4 komentar:

  1. Kalo dulu sebelum punya motor lebih suka naik Trans Jakarta ke kantor.. Tapi sekarang setelah males naik motor kekantor, saya lebih suka naik angkot.. hahahahaha

    BalasHapus
  2. Naik motor juga pasti pegel banget, apalagi kalau motor sport yang harus megang kopling mulu pas macet.. kalau naik angkot cuma sesekali aja pas di jakarta.. Naik Trans Jakarta di Harmoni bener-bener neraka deh -_-

    BalasHapus
  3. Meutia Halida Khairani15 November, 2012 05:58

    akhirnyaaa, saya bisa posting komen. huft!
    KRL sih alat transportasi yg paling ontime menurut saya. ngga usah tunggu lama lagi. ya kalo pergi kerja, mau ga mau ya pepes. tp ga masalah sih. udah biasa.. hehehe

    BalasHapus
  4. iya mut, KRL emang yang paling ontime.. kalau masalah kayak pepes sih sama aja ya mau di indonesia ataupun di negara2 maju seperti jepang. pas jam sibuk ya rame banget

    BalasHapus