26 November 2012

Melihat Perahu Tradisional di Museum Bahari

museum bahari jakarta

Setelah puas berada di Pelabuhan Sunda Kelapa, bapak tukang ojek sepeda mengantarkan saya ke Museum Bahari yang berada tidak terlalu jauh dari pelabuhan. Museum ini terletak di Jalan Pasar Ikan, Jakarta Utara, menghadap ke Teluk Jakarta.

Kesan pertama melihat museum ini adalah bangunannya terlihat sangat tua dan terkesan angker. Ya wajar saja sih karena bangunan ini sudah dibangun oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda sejak tahun 1652. Bangunan berlantai tiga ini dulunya berfungsi sebagai gudang rempah-rempah VOC untuk menyimpan komoditi seperti cengkeh, pala, kayu manis, lada, tembakau, dan lain-lain.

Saat ini, bangunan yang sudah berumur ratusan tahun tersebut masih berdiri kokoh dan beralih fungsi menjadi Museum Bahari setelah dilakukan renovasi pada 7 Juli 1977 oleh Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin.

Bagian dalam museum tempat menyimpan koleksi terdiri dari tiga lantai. Ruangannya yang berupa bangunan memanjang dan plong sangat memudahkan akses masuk dari satu ruangan ke ruangan yang lainnya. Tangga untuk naik ke lantai atas sepertinya masih mempertahankan konsep tradisional. Yup, tangga masih terbuat dari kayu dan beberapa anak tangga saya lihat sudah mulai rusak termakan usia. Selain itu, lantai di ruangan atas juga terbuat dari papan kayu namun masih terlihat cukup kokoh. Nah di dalam ruangan museum ini sangat sepi, bahkan mungkin hanya beberapa pengunjung saja yang datang. Nggak heran deh kalau berada di ruangan Museum Bahari agak-agak menyeramkan. Hohoho..

museum bahari jakarta

Bagaimana dengan koleksi museum? Museum Bahari memiliki kurang lebih 126 koleksi benda-benda sejarah kelautan yang terdiri dari 107 buah miniatur dan foto, serta 19 buah koleksi perahu yang masih asli. Koleksi perahu yang masih asli tersebut merupakan perahu tradisional yang berasal dari beberapa daerah seperti Perahu Phinisi Bugis (Sulawesi Selatan), Lancang Kuning (Riau), dan Jukung Karere (Papua). Sedangkan untuk miniatur, terdapat miniatur Kapal VOC Batavia, Kapal Dewaruci, biota laut, dan beberapa foto yang dijuga dipajang menghiasi museum.

Sebenernya Museum Bahari ini cukup menarik karena kita bisa melihat berbagai koleksi perahu tradisional yang mungkin sudah cukup jarang dijumpai saat ini. Tapi melihat kondisi museum yang sangat sepi, saya tidak berlama-lama berada disini. Lagi pula nggak enak juga berlama-lama karena bapak ojek sepedanya juga nungguin. Setelah cukup melihat koleksi di Museum Bahari saya segera melanjutkan perjalanan ke objek selanjutnya. Yuk!


0 komentar:

Posting Komentar