6 Desember 2012

Delay, Terbang di Jam Kuntilanak dengan Citilink

Terbang dengan Citilink

Mengalami delay penerbangan memang bukan hal yang mengenakkan. Apalagi jika jam keberangkatan sudah cukup malam. Jika mengalami delay, tentu akan semakin malam saja tiba di tujuan. Namun itulah yang terjadi pada penerbangan saya dengan Citilink 12 Juli 2012 yang lalu. Penerbangan GA-017 yang seharusnya berangkat pukul 20.20 ditunda menjadi pukul 22.30. Pemberitahuan penundaan ini dilakukan saat saya check in. Tahu kalau pesawat delay, jadilah saya ngacir dan nyantai di Monas Lounge Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta.

Kurang lebih satu jam sebelum keberangkatan yang dijanjikan, saya kembali ke Terminal 1C tempat dimana Citilink beroperasi. Karena sudah melakukan check in, saya langsung ke ruang tunggu yang terletak di atas. Saat malam seperti ini Bandara Soekarno-Hatta terutama Terminal 1C sudah cukup sepi. Di bandara hanya menyisakan beberapa penerbangan saja, itupun kebanyakanya mengalami delay. Beberapa penerbangan Citilink saat itu juga mengalami delay. Malam hari seperti ini Terminal 1C sudah seperti rumah hantu saja, sepi dan gelap. Terutama di lorong-lorong jalan penghubung antar gate.

Terbang dengan Citilink

Terbang dengan Citilink

Begitu sampai di ruang tunggu saya coba tanya kepada petugas yang berjaga. Menurut ground handling Citilink yang merupakan outsourcing dari Gapura Angkasa, pesawat untuk GA-017 tujuan Surabaya sudah siap. Hanya saja belum ada crew yang akan menerbangkan pesawat tersebut. Ya persis seperti yang dikatakan petugas check in, Citilink sedang mengalami kekacauan sistem scheduling crew.

Terbang dengan Citilink

Terbang dengan Citilink

Ketika saya coba melihat ke apron memang benar sudah ada satu pesawat Boeing 737-400 yang sudah siap. Di pesawat tersebut tidak terjadi aktifitas apapun. Belum ada pilot yang terlihat di kokpit. Yang ada hanya teknisi yang sepertinya sedang melakukan inspeksi.

Sepertinya memang saya cukup berjodoh dengan Boeing 737-400 milik Citilink. Sudah beberapa kali naik Citilink saya sangat sering kebagian naik Boeing 737-400 dengan registrasi PK-GZQ. Pesawat ini merupakan Boeing 737-400 satu-satunya yang dioperasikan oleh Citilink. Padahal saya sangat berharap bisa mencoba Airbus A320-nya.

Terbang dengan Citilink

Terbang dengan Citilink

Terbang dengan Citilink

Boeing 737-400 dengan registrasi PK-GZQ bukanlah pesawat yang berusia muda. Pesawat ini sudah berumur sekitar 21 tahun. Pesawat yang disewa dari ILFC ini pertama kali dioperasikan oleh Malaysia Airlines pada Agustus 1991. Pada Maret 1993, pesawat ini berpindah tangan dan dioperasikan oleh British Airways selama kurang lebih tiga tahun sebelum pindah lagi ke GB Airways. GB Airways mengoperasikannya selama lebih dari enam tahun. Pada Juni 2012, maskapai asal Spanyol Futura International menjadi operator keempat yang mengoperasikan pesawat ini selama hampir tiga tahun. Tahun 2005, Boeing 737-400 ini mulai pindah ke Indonesia. ILFC menyewakannya kepada Adam Air. Pesawat diberi registrasi PK-KKG hingga akhirnya ditarik oleh ILFC pada April 2008 karena Adam Air tidak lagi beroperasi. Mulai September 2009, Citilink mengoperasikan pesawat ini dan diberi registrasi PK-GZQ hingga sekarang. Mungkin saja akhir tahun ini atau tahun depan Boeing 737-400 PK-GZQ sudah dipensiunkan dari armada Citilink karena Airbus A320 baru terus berdatangan.

Selain Boeing 737-400 PK-GZQ, di apron juga ada pesawat lain seperti McDonnell Douglas MD80 milik Airfast Indonesia dan Boeing 737-400 PK-LIT milik Lion Air. Airfast sih kayaknya mau berangkat ke Makassar dan Timika, tapi kalo si Lion kayaknya udah tertidur pulas.

Sambil menunggu keberangkatan saya sempat ngobrol-ngobrol dengan ground handling yang bertugas saat itu. Mereka berkeluh kesah karena sering ada penumpang marah-marah dan gebrak-gebrak meja. Terlebih kalau terjadi delay cukup lama. Mereka sangat memaklumi menjadi tameng operator dan menjadi tempat melimpahkan kemarahan para penumpang. Padahal sering kali mereka tidak tahu penyebab delay yang dilakukan operator. Si operator juga sering kali tidak menyampaikan penyebabnya kepada mereka, sehingga mereka nggak jarang berbohong untuk menenangkan penumpang ini. Bahkan si mbak petugas bilang kalau dia sudah cukup kebal muka menghadapi penumpang yang seperti ini, asal nggak "main tangan" saja. Ya beginilah nasib ground handling, kebanyakan mereka ini bukan karyawan dari maskapai penerbangan yang bersangkutan, tapi mereka yang pertama kali menjadi amuk masa penumpang jika terjadi delay. Beruntung malam itu nggak ada penumpang usil yang ngamuk-ngamuk.

Terbang dengan Citilink

Oh ya, karena terjadi delay kurang lebih dua jam ini para penumpang diberi kompensasi nasi kotak. Lumayanlah isinya nasi, ayam, tumis sayur-sayuran, dan jelly. Cukup membantu mengganjal perut. Padahal saya tadi juga udah kenyang makan di Monas Lounge. Hahaha..

Sekitar pukul 22.00 penumpang GA-017 tujuan Surabaya dipersilakan masuk ke pesawat. Syukurlah akhirnya berangkat juga. Sedikit lebih cepat dari jadwal yang dijanjikan. Meskipun kode penerbangan masih menggunakan kode Garuda (GA), livery pesawat sudah menggunakan warna hijau, dan seragam pramugari juga hijau tua. Seragam Citilink ini tidak lagi model casual seperti dulu saat masih dengan tagline "Enjoy Simplicity". Bagaimana dengan interior pesawat? Tidak berubah sejak saya terakhir naik Boeing 737-400 PK-GZQ dari Denpasar ke Surabaya bulan Februari lalu. Masih dengan konfigurasi 170 kursi kelas ekonomi. Padeettt!!

Terbang dengan Citilink

Boarding berlangsung cukup cepat. Para penumpang juga sepertinya sudah kecapekan. Terbang nyaris tengah malem gini memang enak. Begitu dapet tempat duduk langsung pada molor. Begitu bangun udah mendarat. Enak kan? Hahaha.. Lagipula malam-malam seperti ini mau lihat apa. Mau motretpun nggak ada yang bisa dipotret. Ya walaupun boarding lebih awal tapi berangkatnya tetep aja jam 22.30. Badan udah capek semua.. Hasilnya tidur sepanjang penerbangan.

Terbang dengan Citilink

Terbang dengan Citilink

Akhirnya pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Juanda pukul 23.45. Nyaris tengah malam. Apalagi sebentar lagi Bandara Juanda tutup setelah penerbangan Indonesia AirAsia dari Bangkok tiba.

Kesan saya dalam penerbangan ini, delay lama tidak akan menjadi sebuah penderitaan jika kita bisa menikmatinya. Lakukan apa saja yang membuat kalian enjoy.. Haha.. Nah satu lagi nih yang penting bagi operator alias maskapai penerbangan, jika terjadi delay, informasikan penyebab delay yang sesungguhnya kepada penumpang. Nggak perlu bohong.. Pesawat rusak ya bilang rusak, cuaca buruk ya bilang cuaca buruk, crew belum ada ya bilang aja kalau memang belum ada crew-nya. Bisa dibilang ground staff Citilink dari Smart Handling Gapura Angkasa kali ini cukup sabar dan telaten dalam menjelaskan penyebab delay kepada penumpang. Hasilnya ya nggak ada penumpang yang marah-marah apalagi sampai gebrak-gebrak meja. Good job lah!

Ini repotnya sampai di Juanda tengah malam. Damri sudah tidak ada, yang ada hanya taksi bandara yang super mahal dan taksi gelap. Dengan ngedumel saya memilih Taksi Prima Juanda dengan harga 125.000 untuk sampai di kost saya. Padahal kalau naik taksi argo cuma kena 50.000. Paling mahal juga 60.000, itu udah pake macet-macetan segala. Hentikan monopoli taksi Bandara Juanda!! Merdeka!! #apasih


8 komentar:

  1. disqus_mBFEMWLhci06 Desember, 2012 02:16

    hahhaha,,ga kurang jauh tu boz ke LOUNGE nya???

    BalasHapus
  2. nggaakk.. buat refreshing sekalian jalan-jalan :p

    BalasHapus
  3. delay itu menyebalkan tp kalo bisa menikmati nya jadi nikmat hehehe

    BalasHapus
  4. judulnya ngeri bow. Jam Kuntilanak...hahahaha.....

    kayaknya bukan traveller sejati kalau ngga pernah ngalamain delay. makanya, sedapat mungkin selalu pilih pesawat paling pagi dan paling malam...hihihi.....kalau emang kena delay tetep, yah nasib deh :p

    BalasHapus
  5. paling pagi sih enak mas.. kalo paling malam biasanya malah rawan delay..

    BalasHapus
  6. saat ni kalo delay minimal 3 jm dpt kompen 100rb per jamnya...lumayan juga..walau tetep j gak worth it

    BalasHapus
  7. masa' sih mbak? setahu saya delay 4 jam baru dapet kompensasi 300rb

    BalasHapus