31 Januari 2012

Kembali Lagi Ke Bandara Blimbingsari Yang Masih Sepi

bandara blimbingsari

Hari kedua berada di Banyuwangi waktu yang ada cukup nanggung. Siang hari saya sudah harus ke Bandara Blimbingsari untuk mengejar penerbangan saya ke Surabaya. Mau jalan-jalan lagi rasanya juga sudah tidak begitu semangat mengingat waktu yang mepet. Selain itu jarak antara Kota Banyuwangi dengan Bandara Blimbingsari cukup jauh sekitar 18 km. Ditambah lagi tidak ada angkutan umum sama sekali yang melewati Bandara Blimbingsari membuat saya harus menyediakan waktu ekstra.

Pagi hingga siang hari saya habiskan untuk mencari makanan-makanan khas Banyuwangi. Tidak ada makanan yang begitu istimewa yang saya temui. Mungkinkah saya melewatkan makanan-makanan khas yang enak di Banyuwangi? Mungkinkah saya tidak tahu tempat-tempat makanan tersebut? Ntahlah, yang jelas saya hanya menemukan yang namanya Nasi Tempong. Tidak ada yang begitu istimewa dengan Nasi Tempong karena hanya berupa nasi putih yang dihidangkan bersama dengan anek macam lauk yang bisa dipilih sesuai dengan selera kemudian ditambahkan sambal yang begitu pedas. Sambal inilah yang menjadikannya berbeda dengan makanan sejenis yang banyak terdapat di kota atau tempat lain.

Kenyang makan saya pun mulai beranjak meninggalkan Banyuwangi. Dengan menaiki angkot saya menuju ke Terminal Karangente yang terletak di sebelah selatan kota. Dari Terminal Karangente saya melanjutkan perjalanan dengan Bus Akas Asri tujuan Jember-Surabaya. Saya nggak akan ke Jember atau Surabaya dengan bus kok. Saya hanya akan turun di Rogojampi, salah satu kota kecamatan yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Tempat yang sama saat saya menunggu bus yang akan menuju Banyuwangi sehari sebelumnya. Dari sini ke Bandara Blimbingsari sudah tidak jauh lagi karena memang Bandara Blimbingsari masuk ke Kecamatan Rogojampi. Tapi jangan bayangkan dekatnya bisa ditempuh dengan jalan kaki dalam waktu singkat karena sedekat-dekatnya berjarak 6 km. Alternatif transportasi yang bisa digunakan adalah ojek dengan ongkos 15.000. Tapi saya nggak terburu-buru sampai di Bandara Blimbingsari. Meskipun sebentar, saya mencoba mengeksplor kota kecil Rogojampi. Disini juga tidak ada yang begitu menarik. Hanya ada kios-kios pedagang, toko, mini market, bank, kantor, dan lain-lain. Sebelum menluncur ke bandara saya menyempatkan makan lagi di warung yang terletak di pinggir jalan utama Rogojampi. Menunya agak unik sih, nasi pecel tapi diberi sayur nangka yang dimasak santan. Walaupun terlihat agak aneh tapi rasanya lumayan sih, apalagi harganya juga murah. *nggak ada foto, keburu dimakan*

Setelah puas makan untuk yang kedua kalinya barulah saya memanggil tukang ojek untuk mengantarkan saya ke Bandara Blimbingsari. Dalam hitungan menit saya sudah tiba di pintu gerbang depan bandara yang di portal dan dijaga avsec. Saya hanya diantar sampai portal saja. Untuk itu saya harus berjalan sekitar 150 meter dari gerbang menuju bangunan utama bandara. Sebelum masuk tadi saya melapor dulu kepada avsec yang berjaga portal. Saya menjelaskan bahwa saya adalah calon penumpang yang akan berangkat. Avsec mempersilakan saya masuk. Selama berjalan menuju ke terminal saya sempatkan mengambil beberapa foto bandara. Namun tidak disangka dari arah bangunan terminal ada seorang avsec yang menghampiri. Avsec ini menanyakan keperluan saya. Saya kembali harus menjelaskan kalau saya merupakan calon penumpang Merpati tujuan Surabaya yang berangkat nanti. Avsec kemudian meminta maaf karena mencurigai saya kemudian menawarkan boncengan motor untuk mengantar saya sampai terminal. Siang itu panasnya kebangetan, jadi tawarannya sayang kalau ditolak. Pak Avsec bercerita kalau tadi dia mendapat laporan dari tower sehingga langsung menghampiri saya. Duuh dikira orang iseng atau teroris ya? -__-

bandara blimbingsari

bandara blimbingsari

Bandara Blimbingsari memang sepi. Ada sedikit akitifitas saja pasti akan terlihat mencolok. Kebanyakan yang masuk ke area bandara juga menggunakan taksi. Atau minimal naik motor lah. Hampir tidak ada yang jalan kaki seperti saya tadi. Apalagi saya sempat mengambil beberapa foto. Wajar kalau avsec yang ada di tower mencurigai saya. Dari sini saya baru tahu meskipun Bandara Blimbingsari bukan basis militer namun rupanya cukup strict juga.

Sampai di gedung terminal belum ada seorangpun yang datang ke bandara. Hanya saya sendiri ditemani oleh ibu-ibu yang baru saja membuka warungnya. Ya ini juga satu-satunya warung yang ada di Bandara Blimbingsari. Jualannya pun hanya makanan dan minuman ringan saja. Tidak lama kemudian ada sesorang yang menghampiri saya mengajak ngobrol. Ternyata seorang staff Merpati yang berangkat ke Banyuwangi satu pesawat dengan saya kemaren. Staff ini sedang ditugaskan di Banyuwangi. Dari sini saya mendapat banyak informasi mengenai merpati. Dari mas ini juga saya baru tahu kalau penerbangan Merpati dengan MA60 dari/ke Banyuwangi ini maksimal diisi 36 penumpang meskipun kapasitas maksimum pesawat adalah 56 tempat duduk. Hal ini diakibatkan oleh runway Bandara Blimbingsari yang belum mampu menahan beban maksimum jika terisi 56 penumpang. Pantas saja kemaren saat berangkat pesawat tidak penuh, hanya ada 36 penumpang saja. Sedangkan dari Banyuwangi ke Surabaya ini menurut staff juga sudah full booked dengan total 36 penumpang. Ada baiknya juga sih kalau pengelola mempertebal aspal runway sehingga pesawat sekelas MA60 atau Fokker 50 bisa mengangkut penumpang dengan kapasitas maksimum. Kalau pesawat hanya bisa diisi 36 pax sementara kapasitasnya 56 pax ya wajar kalau harga tiket di rute ini cukup tinggi. Jadi ini merupakan sebuah keberuntungan karena saya bisa mendapatkan tiket secara gratis dari Program Kicau Merpati.

bandara blimbingsari

bandara blimbingsari

Saat saya baru datang, bandara masih tutup. Tidak ada aktifitas yang berarti kecuali gemuruh pesawat-pesawat latih Cessna yang digunakan untuk berlatih touch and go oleh siswa BIFA. Namun tidak lama kemudian satu per satu calon penumpang mulai berdatangan. Pintu terminal keberangkatan juga sudah dibuka. Bapak-bapak avsec sudah siap menjalankan tugasnya. Calon penumpang yang akan check in dipersilakan masuk. Seperti biasa diadakan security check sebelumnya. Karena keterbatasan fasilitas, security check dilakukan secara manual. Tidak ada scanner X-Ray disini. Untuk mengecek barang bawaan juga harus dibongkar satu per satu. Saya juga ikut masuk untuk check in kemudian keluar lagi. Ada hal lucu yang saya perhatikan, tidak sedikit dari calon penumpang yang datang hanya untuk check in, menaruh barang bagasi, kemudian pergi lagi dan baru kembali saat sudah mendekati jadwal keberangkatan. Enak banget kan ya? Hehe..

30 Januari 2012

Enaknya Solo Traveling, Bisa Tidur Dimana Saja

sunrise pelabuhan ketapang

Berada di Banyuwangi hanya semalam rasanya sangat nanggung. Di kota nggak begitu banyak objek yang menarik. Sementara objek-objek yang wah kebanyakan berada di luar kota yang jaraknya cukup jauh. Oke lupakan semua objek-objek yang ada karena malam itu saya agak bingung juga mau tidur dimana. Saya memang berangkat ke Banyuwangi tanpa persiapan sama sekali, nggak browsing-browsing penginapan mana yang murah disana. Malam itu saya lontang-lantung di sekitar Pelabuhan Ketapang yang sudah mulai sepi. Kebanyakan yang lalu lalang adalah bus dan truck. Malam-malam ternyata masih ada juga warnet yang buka. Mampir dulu sebentar untuk menghilangkan penat. Heuheu.. *kayaknya susah jauh dari internet*

Malam itu saya berpikiran, saya bisa tidur dimana saja tanpa perlu menyewa kamar hotel. Bisa di masjid, SPBU, atau apa saja. Toh di depan Pelabuhan Ketapang juga ada masjid besar yang bisa digunakan untuk sekedar istirahat. Tidak jauh dari pelabuhan juga ada SPBU. Apalagi saya hanya satu malam saja berada di Banyuwangi. Keesokan harinya saya sudah pulang ke Surabaya. Nekat? Mungkin iya. Tapi ya beginilah enaknya jalan sendirian. Bisa tidur dimana saja seenaknya tanpa ada yang mengeluh atau kebingunan mau tidur dimana. Hehe..

Setelah di warnet selama dua jam, saya iseng-iseng ke Stasiun Banyuwangi untuk melihat jadwal kereta. Siapa tahu lain kali saya bisa kesini naik kereta. Kalau naik pesawat nggak kuat ongkosnya. Hihii.. Ternyata lokasinya nggak jauh dari pelabuhan. Jalan kaki saja paling sekitar lima menit. Nggak sampai bikin capek lah. Sudah malam seperti itu jadwal kereta dari Banyuwangi juga sudah sepi. Kalau saya tidak salah ingat hanya tersisa satu perjalanan kereta yaitu Kereta Api Mutiara Timur tujuan Surabaya. Tidak lama kemudian gerombolan penumpang KA Mutiara Timur masuk ke peron stasiun karena kereta akan segera berangkat. Herannya, kok masih banyak calon-calon penumpang yang tidak ikut masuk ke dalam kereta. Setelah bertanya kesana-kesini rupanya mereka ini baru akan berangkat esok pagi dengan KA Sritanjung tujuan Surabaya dan Jogja yang dijadwalkan pukul 06.00. Mereka menginap dulu semalam sebelum berangkat karena memilih kereta ekonomi yang lebih murah. Para penumpang ini juga kebanyakan adalah yang baru turun dari kapal. Selain itu ada juga penumpang kereta yang baru tiba di Banyuwangi menginap dulu di stasiun sebelum menyeberang ke Bali keesokan harinya. Mungkin faktor keamanan yang mejadi pertimbangan jika menyeberang pada malam hari.

stasiun banyuwangi

Wah rupanya banyak juga yang bermalam di Stasiun Banyuwangi. Karena banyak teman, ada baiknya saya bermalam disini juga. Hehe.. Oh ya, yang digunakan tidur ini bukan bagian dalam stasiun, melainkan emperan depan stasiun. Ada tempat duduknya sih, tapi nggak banyak. Sementara pintu stasiun sudah dikunci setelah keberangkatan kereta yang terakhir. Bisa dikatakan kehidupan di stasiun ini terjadi selama 24 jam. Tepat di depan stasiun terdapat warung kopi yang senantiasa buka. Pedagang-pedangan makanan juga masih ada saja yang menawarkan dagangannya. Masih kurang? Banci-banci juga berseliweran di depan stasiun mencari pelanggan. Kalau mau mencoba ya silahkan, kena gigi uang kembali. Ahaha.. Untungnya sih banci-banci ini nggak mendekat ke tempat orang-orang yang tidur di stasiun. Mereka kebanyakan nongkrong di warung kopi depan stasiun. Amit-amit deh kalau dideketin. Haha..

Namanya juga tidur di emperan stasiun, nggak akan bisa nyenyak meski sudah menggunakan sleeping bag sekalipun. Malam itu saya lebih banyak ngobrol dengan tiga orang yang baru pulang dari Bali dan akan melanjutkan perjalanan dengan KA Sritanjung ke Surabaya esok pagi. Hebat ya, orang-orang ini pada betah melek. Mereka nggak tidur sama sekali. Sementara saya, sesekali memejamkan mata, tertidur sebentar, kemudian bangun lagi. Begitu terus hingga pagi. Jam 5 pagi matahari sudah bersinar cukup cerah. Duh efek jarang bangun pagi nih jadi jarang lihat matahari pagi. Stasiun sudah mulai ramai. Loket pembelian tiket juga sudah dibuka. Calon penumpang dengan rela mengantri untuk mendapatkan tiket kereta ekonomi yang murah meriah. Ya beginilah nasib penumpang kereta ekonomi, tiket tidak bisa pesan terlebih dahulu dan hanya bisa dibeli saat hari keberangkatan. Padahal hal seperti ini tidak berlaku saat musim mudik dimana tiket bisa dipesan terlebih dahulu..

Pagi-pagi seperti ini saya mencoba kembali ke dermaga Pelabuhan Ketapang untuk melihat sunrise. Bagus juga sunrise pagi itu. Kesibukan juga masih saja terlihat di dermaga seperti sore kemaren. Sebentar saja di pelabuhan, saya kemudian menuju ke masjid yang ada di depan pelabuhan untuk mandi dan shalat subuh lalu tidur lagi sebentar *green*. Bangun-bangun cari sarapan kemudian lanjut ke Rogojampi dengan naik angkot dua kali sampai Terminal Karangente. Dari sana dilanjut lagi dengan naik bus tujuan Jember dan turun di Rogojampi. Ternyata nggak sengsara-sengsara banget tuh tidur di tempat yang seadanya. Mungkin akan saya praktekkan lagi nanti saat backpacking di tempat lain.

Melihat Aktifitas Pelabuhan Ketapang Di Sore Hari

pelabuhan ketapang

Saya tidak terlalu lama istirahat di Masjid Agung Baiturrahman karena hari sudah mulai sore. Saya kemudian melanjutkan perjalanan dengan tujuan ke Pelabuhan Ketapang. Jarak antara Kota Banyuwangi dengan Pelabuhan Ketapang masih cukup jauh. Akan sangat melelahkan kalau harus berjalan kaki. Ada baiknya kalau naik angkot yang banyak terdapat di kota yang bisa mengantarkan sampai ke Pelabuhan Ketapang. Lagipula ongkos naik angkot juga cukup murah kok, sama seperti di kota-kota lain yaitu 3.000 rupiah.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit dengan angkot, sampailah saya di depan Pelabuhan Ketapang-Banyuwangi. Seperti diketahui, Pelabuhan Ketapang merupakan pelabuhan penyeberangan ferry yang menghubungkan antara Pulau Jawa (Ketapang) dengan Pulau Bali (Gilimanuk). Saya nggak akan menyeberang ke Gilimanuk kok. Saya hanya akan melihat aktifitas-aktifitas yang ada disana. Hampir setiap 30 menit sekali ada saja kapal ferry yang hilir-mudik. Kapal-kapal ferry yang beroperasi antara Ketapang-Gilimanuk ini hanya berukuran kecil sampai sedang. Mungkin karena jarak antara Banyuwangi dan Bali yang tidak begitu jauh sehingga tidak memerlukan kapal yang besar. Namun hal ini diimbangi dengan frekuensi penyeberangan yang cukup tinggi. Anda bisa menyeberang kapanpun.

pelabuhan ketapang

Menyaksikan aktifitas pelabuhan di sore hari menjelang matahari terbenam ternyata asyik juga meskipun tidak begitu banyak penumpang yang berangkat ke Gilimanuk. Terlihat hanya ada beberapa rombongan penumpang saja yang berduyun-duyun naik kapal. Sementara itu isi kapal lebih banyak didominasi oleh mobil-mobil baik bus, truck, maupun mobil pribadi. Yang cukup mengherankan adalah banyak sekali polisi yang berjaga di Pelabuhan Ketapang. Kalau dihitung mungkin jumlahnya puluhan. Apa mungkin karena di Bali sedang ada KTT ASEAN sehingga penjagaan lebih ketat? Atau memang sehari-harinya penjagaan pintu masuk ke Pulau Dewata memang seperti ini? Saya baru satu kali menyeberang ke Bali melalui Pelabuhan Ketapang. Itupun sudah tujuh tahun yang lalu. Waktu itu saya kurang memperhatikan hal-hal seperti ini. Oh ya, perlu diingat.. Saat menyeberang melalui Pelabuhan Ketapang menuju Gilimanuk di Bali biasanya akan ada pemeriksaan KTP pada setiap penumpang. Sebaiknya persiapkan identitas Anda ya kalau mau menyeberang.

Saya berada di dermaga Pelabuhan Ketapang sampai matahari terbenam. Tapi lama-lama dingin juga karena angin laut semakin kencang. Kemudian saya meninggalkan dermaga menuju ke depan pelabuhan untuk makan malam. Suasanya di depan pelabuhan bisa dibilang cukup ramai. Saat malam hari banyak pedagang yang berjualan makanan. Toko-toko dan mini market juga berjejer, bahkan ada yang buka 24 jam. Nggak repot deh kalau hanya sekedar cari makanan dan minuman. Nah yang bikin bingung, mala mini saya harus tidur dimana? -__-

28 Januari 2012

Rehat Sejenak Di Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi

masjid agung baiturrahman banyuwangi

Berjalan kaki menelusuri jalan utama Kota Banyuwangi memang menyenangkan karena kendaraan yang lewat tidak begitu ramai, malah cenderung sepi layaknya di kota kecil. Perjalanan saya keliling kota harus terhenti karena kaki sudah terasa pegal-pegal. Tidak terasa beberapa kilometer sudah saya lalui. Perjalanan saya terhenti ketika saya melewati Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi. Akan lebih baik kalau saya istirahat dan shalat ashar terlebih dahulu sebelum lanjut ke Pelabuhan Ketapang yang jaraknya masih cukup jauh.

Ada yang sudah pernah mampir ke Masjid Agung Baiturrahman? Konon masjid ini merupakan salah satu ikon Kota Banyuwangi yang cukup kuat karena masjid ini telah berusia cukup tua. Masjid Agung Baiturrahman yang semula merupakan masjid yang sederhana dibangun pada tahun 1774 dengan nama Masjid Jami’ Banyuwangi. Bisa dibilang masjid ini merupakan masjid tertua yang ada di Banyuwangi karena memang ini adalah masjid pertama yang didirikan disana. Masjid Agung Baiturrahman sekaligus menjadi awal mula penyebaran agama islam di Banyuwangi. Seiring berjalannya waktu, masjid mengalami renovasi beberapa kali dan sekarang ini menjadi sebuah masjid besar dan megah yang menjadi kebanggaan masyarakat.

Bangunan Masjid Agung Baiturrahman didominasi warna hijau. Hampir di setiap bagian terdapat warna hijau. Sementara itu bagian atap terdapat tiga kubah yang berwarna agak kebiruan. Pada bagian depan masjid terdapat sebuah menara yang cukup tinggi dan cantik menghiasi pelataran masjid. Saat saya datang, beberapa tempat terutama bagian halaman masjid sedang direnovasi. Sepertinya pembangunan masjid ini akan terus berlanjut menjadikannya semakin indah dan semakin banyak orang yang datang untuk beribadah. Jika Anda ingin mampir ke Masjid Baiturrahman, Anda tidak akan sulit menemukannya. Karena masjid ini berada di jantung kota Banyuwangi, tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman 137 di depan Taman Sritanjung. Setelah cukup menunaikan shalat dan meluruskan kaki, baru deh saya lanjut ke Pelabuhan Ketapang. Nah enaknya jalan kaki atau naik angkot ya? :S

25 Januari 2012

Beginilah Suasana Kota Banyuwangi

kota banyuwangi

Kalau boleh jujur, menurut saya tidak ada objek wisata yang cukup menarik di Kota Banyuwangi. Ingat.. Di Kota Banyuwangi loh ya, bukan Kabupaten Banyuwangi. Sampai di Banyuwangi saya menelusuri jalanan utama kota tersebut dengan berjalan kaki sepanjang kurang lebih 5-6 km melintasi tengah kota. Mulai dari Jalan Adi Sucipto menuju ke Jalan Ahmad Yani, terus hingga Jalan Jenderal Basuki Rahmat dan Jalan Yos Sudarso. Sayangnya saya tidak menemukan objek yang benar-benar menjadi ciri khas Banyuwangi. Bukan hal yang aneh sih karena Kota Banyuwangi hanyalah sebagai pusat pemerintahan saja dan tidak dikembangkan sebagai kota wisata. Tempat-tempat wisata terutama wisata alam kebanyakan berada di luar kota. Seingat saya, saya hanya melihat Museum Blambangan yang terletak di Jalan Ahmad Yani yang terlihat sangat sepi dan tidak ada orang yang berjaga dengan pintu gerbang yang hanya terbuka sedikit saja. Melihat kondisi seperti ini saja jadi ragu untuk masuk. Atau memang karena sudah mulai sore jadi museum sudah tutup yah?

Berjalan kaki di Kota Banyuwangi sebenarnya cukup nyaman. Kotanya bisa dibilang tidak terlalu luas namun sangat sangat bersih. Hanya dalam waktu hitungan jam Anda sudah bisa mengelilingi kota. Trotoar di tengah kota digunakan sebagaimana mestinya. Pepohonan juga sangat rimbun berada di tepian mapun median jalan. Lebih nyaman lagi karena lalu lintas di kota ini bisa dibilang cukup sepi. Tidak banyak kendaraan yang lewat baik itu mobil maupun motor. Yang jelas tidak sepadat kota-kota besar. Angkutan umum di kota ini didominasi oleh angkot yang cukup sering hilir-mudik mengantarkan penumpang. Taksi? Meskipun ada, namun alat transportasi yang satu ini memang cukup jarang ditemui di Banyuwangi. Mungkin karena jumlahnya tidak terlalu banyak.

kota banyuwangi

kota banyuwangi

kota banyuwangi

Sepanjang jalan utama di tengah kota kebanyakan dihuni oleh gedung-gedung perkantoran baik milik pemerintah maupun swasta. Tidak ketinggalan juga rumah dan toko-toko yang berderet di sepanjang jalan. Di kota yang satu ini Anda jangan berharap bertemu banyak mall layaknya di kota besar. Kalau saya tidak salah hanya ada beberapa, itupun tidak terlalu besar. Yang paling terkenal tentunya adalah Roxy yang terletak di Jalan Ahmad Yani. Selebihnya hanyalah pusat perbelanjaan seperti Giant, Ramayana, dan sejenisnya. Bagi yang tidak suka dengan riuhnya kota besar, Kota Banyuwangi merupakan kota yang cukup nyaman untuk ditinggali mengingat suasananya yang tidak terlalu crowded bahkan cenderung sepi. Tidak seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, maupun Makassar yang selalu saja macet setiap hari. Karena tidak menemukan sesuatu yang menarik, sepertinya akan lebih seru kalau nyore di Pelabuhan Ketapang. Yuuukk..

23 Januari 2012

Taman Tirta Wangi Di Persimpangan Karangente Banyuwangi

taman tirta wangi banyuwangi

Dalam perjalanan ke Banyuwangi ini benar-benar tidak ada persiapan yang cukup, tidak ada perencanaan sama sekali. Apalagi dengan waktu yang sangat singkat, hanya satu hari saja tentu tidak akan bisa melihat tempat-tempat menarik di Banyuwangi yang rata-rata berada di luar kota. Pengennya sih ke Kawah Ijen atau ke pantai-pantai eksotis di Banyuwangi, tapi mana sempat terlebih saya baru landing di Banyuwangi saat hari sudah mau sore. Keesokan harinya pun saya sudah harus berangkat lagi ke Surabaya. Di saat waktu yang sangat mepet seperti ini city tour merupakan pilihan terbaik.

Hal pertama yang saya jumpai saat memasuki Kota Banyuwangi adalah Taman Tirta Wangi. Taman ini terletak di pinggiran kota dekat dengan Terminal Bus Karangente. Saat masuk Kota Banyuwangi dari arah Jember bisa dipastikan Anda akan melewati Taman Tirta Wangi karena lokasinya berada tepat di persimpangan Jalan Adi Sucipto yang merupakan jalan masuk menuju pusat kota. Bisa dikatakan Taman Tirta Wangi merupakan kebanggaan warga Banyuwangi. Pohon-pohon rimbun menjuntai mengelilingi taman, sementara tanaman-tanaman kecil seperti bunga menghiasi bagian dalam taman. Yang paling menarik tentunya adalah adanya monument Tirta Wangi yang disimbolkan oleh patung kuda (Kereta Kencana Srikandi). Hal ini mengingatkan saya pada patung sejenis yang terdapat dekat dengan Bandara Ngurah Rai di Bali.

Meskipun namanya mengandung kata “tirta” namun saya tidak melihat sedikitpun adanya air disini. Di samping patung kereta kencana memang dibuat seperti kolam yang mengelilingi patung. Tapi saat itu kondisi air sedang kering kerontang tidak ada isinya. Mungkinkah karena sedang musim kemarau? Sayangnya saat saya datang taman ini sedang mengalami renovasi. Beberapa bagian masih terlihat berantakan, paving block juga berserakan. Sayangnya lagi, tempat-tempat duduk yang ada kurang memadai. Padahal taman bisa digunakan untuk bersantai sembari menikmati sejuknya rerimbunan pepohonan yang ada. Mungkin Pemkab Banyuwangi bisa mencontoh taman-taman yang ada di Surabaya yang sudah sukses menjadi layaknya taman yang benar-benar bermanfaat untuk warganya untuk belajar, menyalurkan hobi, bersantai, dan nongkrong bareng teman maupun keluarga.

taman tirta wangi banyuwangi

12 Januari 2012

Cara Keluar Dari Bandara Blimbingsari Ke Kota Banyuwangi

transportasi bandara blimbingsari

Seperti yang sudah saya katakana sebelumnya, Bandara Blimbingsari merupakan bandara yang jaraknya cukup jauh dari Kota Banyuwangi. Berada di Desa Blimbingsari dengan kondisi di kepung area persawahan membuat transportasi dari bandara maupun menuju bandara cukup sulit. Jangankan angkutan umum seperti angkutan pedesaan, ojek saja tidak ada yang mangkal di bandara ini kok. Satu-satunya transportasi yang ada di Bandara Blimbingsari adalah taksi. Anda bisa memesannya di konter taksi yang ada di gedung terminal kedatangan. Konon tarifnya menggunakan argo. Tapi ya nggak tau juga argonya normal atau argo kuda. Bagi yang punya duit, taksi merupakan alternative yang paling praktis. Lalu bagaimana dengan saya? Naik taksi merupakan hal yang paling dihindari kecuali kalau kepepet sekali. Setelah bertanya kesana-kesini dengan avsec yang bertugas di Bandara Blimbingsari saya pun mendapatkan pencerahan. Bapak avsec akan memanggilkan temannya untuk mengantarkan saya ke Rogojampi yang merupakan kota kecamatan. Paling tidak dari Rogojampi saya akan lebih mudah mendapatkan transportasi ke Kota Banyuwangi. Teman bapak avsec ini rupanya juga bekerja di bandara. Saya kurang paham kerja di bagian apa. Ketika saya tanya, bapak ini hanya mengatakan bekerja di dinas perhubungan. Untuk sampai ke Rogojampi saya itungannya ngojek dengan bapak ini dengan ongkos 10.000. Bapak ini memang bukan tukang ojek, kemungkinan karena kasihan juga jadi beliau bersedia mengantar saya. Hehe..

transportasi bandara blimbingsari

Jarak dari Blimbingsari ke Rogojampi berkisar antara 5-6 km. Dengan menggunakan sepeda motor bisa ditempuh dalam waktu 10-15 menit saja. Cukup cepat bukan? Area Blimbingsari ini memang benar-benar sepi. Jangankan angkutan umum, pengendara roda dua saja hanya 1-2 saja yang lewat. Kemungkinan juga merupakan warga sekitar maupun orang-orang yang akan ke Pantai Blimbingsari. Kalau Anda mendarat di Bandara Blimbingsari bisa saja dicoba cara saya ini. Bertanya kepada petugas-petugas yang ada disana apakah bersedia mengantar sampai Rogojampi. Kalau ada yang bersedia berarti Anda sedang beruntung. Kalau nggak ada yang mau ya dengan terpaksa memesan taksi saja. Tidak perlu sampai Banyuwangi kalau tidak mau tagihan argonya melejit, cukup sampai Rogojampi saja. Rogojampi merupakan kota kecamatan yang sudah cukup ramai. Sepanjang jalan utama berderet gedung-gedung perkantoran maupun pertokoan. Di Rogojampi saya diturunkan di depan Kantor Pos Rogojampi. Disana saya sudah bisa menunggu bus yang akan ke Banyuwangi. Biasanya bus yang lewat depan kantor pos tersebut adalah Bus Akas Asri yang memiliki trayek Surabaya-Banyuwangi via Jember. Beruntung saya tidak perlu menunggu terlalu lama di Rogojampi. Hanya 30 menit menunggu, Bus Akas dari arah Jember sudah melintas. Langsung deh naik.. Selain Bus Akas Asri anda bisa juga naik angkutan umum seperti angkot kalau nggak salah ingat warna merah dari Rogojampi. Namun menurut saya yang paling nyaman ya naik bus saja sih. Lagipula ongkos naik bus juga cukup murah kok. Dari Rogojampi hingga Terminal Karangente di Banyuwangi saya cukup membayar 4.000 saja. Lama perjalanan kurang lebih setengah jam. Yup bus mentok sampai Terminal Karangente saja. Untuk menuju tengah kota Anda bisa melanjutkan perjalanan dengan angkot, becak, atau ojek yang banyak berkeliaran di sekitar terminal.

Bandara Blimbingsari, Bandara Kebanggaan Banyuwangi

badara blimbingsari banyuwangi

Perjalanan dari Surabaya hingga mendarat di Banyuwangi bisa dibilang cukup menyenangkan. Cuaca sangat cerah sepanjang penerbangan, pemandangan yang ada di bawah juga bagus. Mendarat di Bandara Blimbingsari ini layaknya mendarat di bandara perintis. Bandara Blimbingsari memang bukanlah bandara besar, melainkan hanyalah bandara kecil yang memang bisa dibilang sekelas dengan bandara-bandara perintis. Tidak banyak penerbangan dari Bandara Blimbingsari. Dalam seminggu hanya ada 4 kali penerbangan ke Surabaya oleh Merpati dengan pesawat MA60. Dulu ada Sky Aviation ke Surabaya dan Denpasar. Namun sepertinya maskapai tersebut sudah tidak menerbanginya lagi. Bandara ini lebih banyak disibukkan oleh latihan terbang para siswa Bali International Flight Academy (BIFA) dengan pesawat Cessna-nya. Jadi kalau sudah tidak ada penerbangan dari Merpati, bandara ini dijamin sepi karena tidak ada penerbangan komersil lainnya.

Menurut informasi dari situs Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Bandara Blimbing sari terletak di Desa Blimbingsari, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi. Dengan panjang landasan 1.400 meter dan lebar 30 meter, bandara ini sudah cukup didarati pesawat sekelas Fokker 50, Xian MA60, maupun ATR 42. Sayangnya apron yang ada cukup kecil, hanya bisa menampung satu unit pesawat dengan tipe yang saya sebutkan tadi. Disini juga belum tersedia instrument navigasi yang cukup memadai seperti halnya di bandara-bandara besar. Jadi untuk melakukan pendaratan harus dilakukan secara visual. Fasilitas lainnya hanya berupa mobil ambulance saja yang standby saat pesawat akan mendarat. Saya nggak melihat adanya mobil pemadam kebakaran di area ini. Ntahlah, saya yang nggak teliti atau memang tidak ada. Uniknya lagi, meskipun sudah memiliki penerbangan komersil namun Bandara Blimbingsari belum memiliki ICAO code (four letter code) maupun IATA code (three letter code). Tapi lucunya di tiket saya tertulis IATA code (3-letter code) BWW. Saya kurang tau berdasarkan apa Merpati menggunakan BWW ini. Padahal di situs Dirjen Hubud tidak tertera.

badara blimbingsari banyuwangi

Bangunan Bandara Blimbingsari bisa dibilang sangat kecil yang terdiri dari dua buah bangunan. Satu bangunan dicat warna kuning dengan sebelahnya masih dilakukan penambahan ruangan, sementara bangunan satunya lagi berwarna biru muda. Bangunan yang berwarna kuning merupakan gedung terminal yang digunakan baik untuk terminal kedatangan maupun keberangkatan. Tentu saja ruangannya sangat sempit. Bahkan saya cukup kebingungan saat akan keluar dari bandara ini karena para petugas darat sudah membagikan barang bagasi para penumpang saat masih berada di luar pintu terminal kedatangan. Owh rupanya terminal kedatangannya sangat sempit yang hanya diisi oleh konter pemesanan taksi. Sementara itu untuk area keberangkatan masih lebih luas. Namun untuk menampung sebuah penerbangan dengan pesawat sekelas MA60 atau Fokker 50 saja sudah terlihat sangat sumpek. Untuk bangunan berwarna biru yang terpisah dari bangunan berwarna kuning itu merupakan terminal untuk VIP. Jadi bapak-bapak pejabat yang terhormat tidak perlu mengantri berjubel saat datang maupun berangkat dari bandara ini karena sudah ada ruangan khusus untuk para raja-raja kecil yang terhormat ini.

badara blimbingsari banyuwangi

Nah kalau Anda ingin ke pantai, dari Bandara Blimbingsari ini jaraknya cukup dekat dengan Pantai Blimbingsari. Kalau saya nggak salah jaraknya hanya sekitar 1,5-2 km saja. Sayangnya nggak ada angkutan umum yang masuk kesana. Lalu untuk ke kota? Perlu saya ingatkan, Bandara Blimbingsari ini terletak di tengah-tengah sawah yang cukup jauh dari kota. Bahkan untuk ke kota Kecamatan Rogojampi juga cukup jauh sekitar 5-6 km. Disana tidak ada angkutan umum sama sekali. Sementara itu untuk sampai ke Banyuwangi paling tidak harus menempuh perjalanan 18 km lagi. Satu-satunya alternative yang paling mudah adalah naik taksi. Ada satu perusahaan taksi yang membuka pemesanan di Bandara Blimbingsari. Jumlahnya pun tak banyak. Kebanyakan dari penumpang yang bareng saya pada penerbangan tadi kalau tidak dijemput ya pesan taksi. Kalau naik taksi pastilah tarifnya lebih mahal. Terus, bagaimana caranya keluar dari Blimbingsari dengan ongkos yang murah? Ikuti terus yak! :D

11 Januari 2012

Terbang Ke Banyuwangi, Kedua Kalinya Naik Xian MA60

merpati surabaya-banyuwangi

Naik pesawat ke Banyuwangi? Emang ada? Mungkin sebagian dari Anda bertanya-tanya seperti itu. Nggak heran sih, siapa yang kenal dengan Bandara Blimbingsari? Saya yakin nggak banyak yang tau tentang bandara kebanggaan Banyuwangi ini. Penerbangan rutin ke Banyuwangi kalau saya nggak salah baru ada sekitar setahun ini. Rasanya malah belum ada setahun juga, saya nggak tau pasti. Yang jelas setau saya penerbangan rutin berjadwal ke Banyuwangi belum lama ini dimulai dengan masuknya Sky Aviation. Ada yang kenal? Maskapai ini memang bukan maskapai besar. Kebanyakan hanya melayani rute-rute perintis di Sumatera, sebagian Jawa, dan Bali. Untuk Jawa, salah satunya Sky Aviation melayani rute ke Banyuwangi dari Surabaya dan Denpasar dengan pesawat kecil tipe Cessna Grand Caravan berkapasitas 12 kursi yang diterbangi tiga kali seminggu. Seiring berjalannya waktu, kemungkinan demand meningkat, pesawat diganti dengan Fokker 50 berkapasitas 50 kursi. Dulu saya bersama dengan teman-teman penggemar aviasi di Surabaya berencana terbang jama’ah ke Banyuwangi terus balik lagi ke Surabaya. Sayangnya apa? Untuk rute yang jaraknya cukup dekat ini harga tiketnya 700.000 sekali jalan dari Surabaya dan 400.000 sekali jalan dari Denpasar. Rencana hanyalah rencana yang tidak pernah terealisasi sampai akhirnya Sky Aviation menutup rute ini dan beberapa rute lainnya dikarenakan ijin operasi di rute-rute tersebut yang hanya berlaku enam bulan sudah habis.

merpati surabaya-banyuwangi

merpati surabaya-banyuwangi

merpati surabaya-banyuwangi

Tahun 2011 sepertinya menjadi tahun yang cukup berpihak dengan saya. Berkali-kali dapat tiket murah bahkan gratis. Tiket gratis yang saya dapatkan salah satunya adalah hadiah pemenang program kuis Kicau Merpati yang diadakan dalam rangka ulang tahun ke-49 PT Merpati Nusantara. Kok ya beruntungnya, Merpati baru saja membuka rute baru Surabaya-Banyuwangi. Rute yang sebelumnya pernah saya idam-idamkan bersama teman-teman Indoflyer PK-SUB. Jadilah saya ambil hadiahnya untuk rute Surabaya-Banyuwangi pergi pulang. Berangkat tanggal 20 November 2011 dan pulang tanggal 21 November 2011. Bisa dibilang cuma sehari ya? Tapi cukup lah karena saya ke Banyuwangi ini sebenarnya nggak ada rencana buat traveling. Sebagai penggemar aviasi saya hanya ingin terbang dan melihat bagaimana Bandara Blimbingsari di Banyuwangi meskipun hanya sendiri saja, tidak bersama teman-teman PK-SUB. Hehe..

Sepertinya penerbangan Merpati ke Banyuwangi memang untuk menggantikan Sky Aviation yang sudah menutup rute ini. Frekuensi penerbangan dari Surabaya ke Banyuwangi hanya sedikit. Dalam seminggu hanya ada empat kali penerbangan saja menggunakan pesawat XIAN MA60 dengan harga rata-rata lima ratus ribuan. Kenapa mahal? Nggak ada saingan, frekuensi rendah, dan penumpangnya rata-rata adalah pejabat daerah dan pebisnis. Kalau tiket seharga ini nggak akan deh saya beli sendiri untuk penerbangan sependek Surabaya-Banyuwangi. Gilaa, setengah juta itu saya bisa terbang ke Makassar, Balikpapan, Banjarmasin, atau Denpasar pergi-pulang. Kalau gratis sih ya ayo aja. Hoho.. Sebaiknya Anda memesan tiket jauh-jauh hari jika ingin ke Banyuwangi dengan pesawat. Seringkali penerbangan rute ini penuh lho. Pesan lewat web Merpati juga cukup mudah kok dengan alternative pembayaran yang juga tidak rumit.

merpati surabaya-banyuwangi

merpati surabaya-banyuwangi

merpati surabaya-banyuwangi

Di hari keberangkatan seperti biasa aja sih, berangkat ke Bandara Juanda agak siangan. Saya ke bandara bawa motor, biarlah motor saya nginep di parkiran bandara kepanasan/kehujanan semaleman. Lagian bawa motor juga biar irit, nggak perlu bayar ongkos Damri atau taksi. Maklum udah akhir bulan dompet udah menipis. Dari parkiran saya bergegas ke konter check in Merpati yang kosong melompong. Saya sempet deg-degan sih karena status tiket saya yang WAITLISTED itu. Takutnya kalau penerbangan penuh dan saya nggak bisa ikut ke Banyuwangi. Ya beginilah resiko tiket gratisan, harus ngalah sama yang bayar. Haha.. Sampai konter check in langsung disambut seorang staff wanita yang ramah. Check in seperti biasa berlangsung lancar. Kekhawatiran saya tidak terbukti, masih ada kok seat yang tersedia untuk penerbangan hari itu. Intinya sih saya bisa berangkat ke Banyuwangi. Staff check in juga mengatakan bahwa dalam penerbangan ke Banyuwangi ini akan ada 36 penumpang dari total 56 kursi yang tersedia. Konter Merpati sangat sepi siang itu. Konter maskapai-maskapai lain juga sepi selain maskapai terbesar di Indonesia yang selalu ramai dan mengular di bandara manapun, siapa lagi kalau bukan Lion Air.

merpati surabaya-banyuwangi

merpati surabaya-banyuwangi

merpati surabaya-banyuwangi

Seperti biasa, penerbangan siang hari di Bandara Juanda itu nggak ramai. Paling-paling yang sering mondar-madir ya Lion lagi Lion lagi.. Sementara maskapai lainnya hanya satu dua dengan frekuensi yang agak jarang. Penerbangan saya ke Banyuwangi ini kalau tidak salah dua hari setelah berlangsungnya KTT ASEAN 2011 di Bali. Namun efek domino kekacauan penerbangan masih sangat terasa. Beberapa penerbangan delay mulai dari Garuda, Lion, Batavia, Wings, termasuk juga penerbangan Merpati ke Banyuwangi. Meskipun KTT ASEAN telah usai, namun beberapa kepala negara belum meninggalkan Bali. Ada juga yang baru meninggalkan Bali bertepatan dengan hari keberangkatan saya itu. Hasilnya, pesawat yang akan membawa saya ke Banyuwangi masih tertahan di Denpasar karena belum mendapat clearance terbang ke Surabaya. Yes, my flight delayed due to VVIP movement at DPS. Dengan terpaksa penerbangan delay satu jam, dari yang semula dijadwalkan berangkat jam 12.10 menjadi jam 13.00. Itupun masih mungkin molor lagi karena belum ada kepastian pesawat dari Denpasar berangkat jam berapa. Ya sudahlah diterima saja, duduk di ruang tunggu sambil makan Roti Boy yang saya beli sebelum masuk ruang tunggu tadi, melihat beberapa pesawat yang hilir-mudik sambil mata udah sepet agak ngantuk.

merpati surabaya-banyuwangi

merpati surabaya-banyuwangi

Sekitar jam 13.15 barulah terdengar panggilan boarding untuk penumpang Merpati tujuan Banyuwangi. Akhirnya berangkat juga. Pesawat yang akan digunakan pada penerbangan ini adalah jenis MA60 buatan Xian Aircraft seperti yang sudah pernah saya naiki sebelumnya di rute Bandung-Jakarta (Halim). Biasanya pesawat tipe baling-baling seperti ini parkir di remote apron paling ujung di Bandara Juanda, dekat dengan tower bersama dengan pesawat ATR 72-500 milik Wings Air. Karena jarak tempat parkir dengan terminal yang cukup jauh maka untuk kesana menggunakan bus. Dengan total jumlah penumpang yang hanya 36, satu kali angkut dengan bus ukuran besar juga sudah cukup.

Benar saja, tempat parkir pesawat di ujung sendiri. Pesawat MA60 dengan registrasi PK-MZI terlihat sudah siap mengangkut kami ke Banyuwangi. Rupanya tidak hanya penumpang saja yang mengisi pesawat ini. Beberapa staff Merpati juga ikut terbang ke Banyuwangi termasuk engineer dan FOO. Ntahlah, mungkin sedang ditugaskan di kantor yang ada disana. Boarding yang diiringi lagu-lagu pop Indonesia ini berlangsung cukup cepat. Ya wajar juga lah pesawatnya kecil, penumpangnya juga tidak penuh. Otomatis proses boarding cukup efisien. Sama seperti penerbangan saya dengan MA60 sebelumnya, di dalam pesawat akan dipandu oleh dua orang pramugari. Satu orang pramugari terlihat cukup senior, sementara satu lagi sepertinya adalah juniornya.

merpati surabaya-banyuwangi

merpati surabaya-banyuwangi

merpati surabaya-banyuwangi

Tidak membutuhkan waktu lama, pintu pesawat sudah ditutup. Kemudian pesawat di dorong mundur yang selanjutnya taxi menuju runway 10. Sambil push back dan taxi tadi mbak mugari memperagakan safety demo tapi sepertinya tidak banyak penumpang yang memperhatikan. Sebagai penumpang yang baik seharusnya selalu memperhatikan safety demo yang dilakukan oleh pramugari meskipun sudah sering naik pesawat karena bisa saja Anda menaiki tipe pesawat yang berbeda dengan cara penyelamatan darurat yang berbeda pula. Sampai di ujung runway 10 Bandara Juanda, pesawat dengan nomor penerbangan MZ-3510 ini masih harus mengantri karena ada beberapa pesawat yang akan landing. Setelah mendapat clearance untuk take off, pesawat langsung masuk ke runway dan melesat dengan dorongan dua mesin baling-baling Pratt and Whitney Canada PW127J berkekuatan 2.051 kW. Akhirnya terbanglah saya ke Banyuwangi meskipun sempat terlambat lebih dari satu jam.

Penerbangan dari Surabaya ke Banyuwangi akan ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam dengan ketinggian 15.000 kaki di atas permukaan laut. Ketinggian yang bisa dibilang cukup tinggi untuk pesawat baling-baling dengan penerbangan yang cukup singkat ini. Hanya 7 menit setelah take off mbak mugari yang bertugas mulai membagikan ransum. Pada penerbangan Merpati, meskipun jaraknya cukup dekat tetap mendapatkan snack box yang kali ini isinya dua potong roti dan segelas air mineral. Cuaca yang cukup cerah membuat penerbangan ini tanpa goncangan sama sekali. Bahkan sebagian besar penumpang sudah terlihat tidur dengan nyenyak. Kalau saya perhatikan memang sebagian besar penumpang yang ke Banyuwangi ini merupakan pejabat-pejabat daerah dan pebisnis. Sepertinya saya adalah satu-satunya gembel pada penerbangan tersebut. Haha..

merpati surabaya-banyuwangi

merpati surabaya-banyuwangi

merpati surabaya-banyuwangi

merpati surabaya-banyuwangi

Sekitar jam 14.14 pesawat sudah berada di atas Kota Banyuwangi. Terlihat kepadatan kota di ujung timur Jawa Timur ini dari atas. Kepadatan membentuk blok-blok tertentu yang tidak merata. Kepadatan rumah-rumah penduduk ini kebanyakan bergerombol di pinggir jalan raya. Sementara di tempat lainnya masih banyak sekali lahan-lahan kosong yang dijadikan kebun kelapa maupun persawahan. Tentunya masih banyak sekali tempat-tempat hijau di Banyuwangi. Setelah melintas di atas kota, pesawat terbang terus ke selatan sambil mengeluarkan roda yang terlihat sangat jelas di samping tempat duduk saya. Wah sepertinya bandaranya lumayan jauh dari kota karena setelah itu yang terlihat hanya persawahan saja. Semakin mendekati Bandara Blimbingsari flaps pesawat diset diangka 30 derajat. Semakin turun.. Semakin turun.. Akhirnya pesawat landing dengan selamat di Bandara Blimbingsari, Banyuwangi. Seperti apa Bandara Blimbingsari? Ikuti terus perjalanan saya yah. :D

5 Januari 2012

Menang Program Kicau Merpati, Dapet Tiket Gratis Ke Banyuwangi

merpati ma60

Siapa sih yang nggak mau tiket pesawat gratis? Terlebih seorang traveler yang doyan jalan-jalan, ada tiket murah aja kalapnya bukan main apalagi kalau ada tiket gratis. Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan tiket gratis tisss tanpa biaya sepeser pun yang saya keluarkan. Dalam rangka memperingati HUT Merpati ke-49, Merpati mengadakan kuis di twitter dengan hadiah tiket gratis pergi-pulang ke beberapa rute Merpati. Sebagai seorang traveler yang baik tentu saya cukup tergoda dong mengikuti kuis ini. Kuisnya cukup mudah, bukan berupa pertanyaan, undian, dan sejenisnya kok, tapi hanya berupa mempromosikan tweet dari akun @Merpati_Info dengan cara retweet. Ya saya cukup sadar sih promosi melalui retweet-retweet seperti ini sudah bukan jamannya lagi. Pasti follower bakal banyak yang teriak-teriak karena tweet saya membanjiri timeline mereka dengan promo dari Merpati tersebut. Karena sudah bertekat bulat jadi ya sudah, sementara abaikan dulu yang ngoceh-ngoceh *maafkan saya teman*.. Hihii.. Pemenang program kicau Merpati ini pun ditentukan hanya melalui jumlah tweet terbanyak. Tiga orang dengan tweet terbanyak akan mendapatkan tiket gratis. Tak disangka-sangka ternyata saya kebagian jadi pemenang waktu itu dengan total 180 tweet dalam sehari. Beuuh.. Nyampah bener nggak tuh? Terimakasih buat temen-temen yang udah sabar ngeliat sampah saya. :p

Setelah diumumkan memenangkan kuis saya cukup mengirim data diri berupa nama lengkap, email, nomor telepon, nomor identitas, dan alamat. Dua hari kemudian saya ditelepon oleh Mbak Zia, salah seorang staff Merpati untuk menanyakan rute perjalanan saya. Sayang sekali memang nggak banyak rute hadiahnya waktu itu. Kalau saya tidak salah hanya ada rute Bandung-Lampung vv, Bandung-Jogja vv, Bandung-Semarang vv, Bandung-Jakarta vv, Surabaya-Banyuwangi vv, dan Surabaya-Semarang vv. Yak sepertinya hadiahnya kebanyakan menjadi konsumsi orang-orang Bandung. Sementara dari Surabaya hanya ada dua rute saja. Awalnya saya ingin mengambil rute Surabaya-Semarang. Toh kebetulan disana juga ada teman, kalaupun mau menginap gampang. Sayang sekali rute Surabaya-Semarang baru saja tutup. Rute yang tersisa hanya Surabaya-Banyuwangi. Sepertinya nggak ada pilihan lain selain rute ini. Pengen sih ke Bandung lagi, tapi masa’ iya saya harus ke Semarang atau Jogja dulu. Padahal kan saya cuma punya libur Sabtu-Minggu. Dengan berat hati akhirnya harus memilih rute Surabaya-Banyuwangi berangkat tanggal 20 November 2011 dan pulang tanggal 21 November 2011. Nekat? Mungkin bisa dibilang iya. Tapi memang gini sih kalau jadi seorang traveler sekaligus aviation geek, lama nggak terbang kepala jadi senut-senut serasa sakau *lebay*.

Oke.. Rute dan tanggal keberangkatan sudah saya berikan kepada Mbak Zia, beberapa hari kemudian ada email masuk dari Mbak Zia. Yup itu adalah surat pengantar yang bisa digunakan mengambil tiket hadiah di kantor Merpati. Untuk mengambil tiket cukup dengan membawa print out surat pengantar dan kartu identitas. Saat saya datang ke kantor Merpati Surabaya yang terletak di Jalan Raya Darmo untuk mengambil hadiah tiket, staff yang ada disana malah kebingungan dan tanya dengan polosnya, “Hadiah apa ya mas?”. Errgghh.. Rupanya cabang Surabaya nggak tau kalau Merpati lagi ada program “Kicau Merpati” dalam rangka ulang tahun itu. Hasilnya saya nunggu agak lama karena staff harus crosscheck ke pusat. Gini nih ya kalau nggak ada koordinasi antara pusat dan cabang. Sebenarnya nunggu nggak lama-lama banget sih, paling juga 20 menitan. Akhirnya tiket Surabaya-Banyuwangi vv issued juga. Bener kok nggak keluar biaya sama sekali. Pajak dan biaya lain-lain juga sudah ditanggung oleh Merpati. Saya baru sadar setelah pulang dan mengecek kembali tiket yang saya dapatkan tadi. Disana tertulis tiket untuk STAFF, kemudian statusnya WAITLISTED. Artinya apa? Berarti status saya dalam penerbangan tersebut masuk dalam daftar tunggu. Kalau penumpang penuh dan tidak tersedia tempat duduk sama sekali artinya saya nggak bisa terbang pada hari tersebut. Tapi tiket tidak hangus dan saya bisa menggantinya di hari yang lain *pingsan*. Bisa dibilang status tiket nggak jelas. Hahai. Ya sudah lah, pasrah aja semoga penerbangan nggak full supaya saya bisa berangkat ke Banyuwangi. Sebelumnya thanks buat Merpati atas tiket gratisnya…..

Preview: Short Trip To Banyuwangi

banyuwangi



Short Trip to Banyuwangi Slideshow: Tri’s trip from Surabaya, Jawa, Indonesia to Banyuwangi was created by TripAdvisor. See another Banyuwangi slideshow. Take your travel photos and make a slideshow for free.

4 Januari 2012

Bertamu Ke Rumah HOS Cokroaminoto

rumah HOS Cokroaminoto

Perjalanan tour Surabaya Heritage Track masih belum selesai loh. Setelah melihat tempat Keraton Surabaya berada yang sudah tidak ada bekasnya para tracker diajak berjalan kaki melewati Jalan Kramat Gantung menuju Jalan Gemblongan. Namun sebelum sampai di Jalan Gemblongan kami belok ke kiri menyeberangi sebuah jembatan yang melintas di atas Kalimas. Lurusan jembatan itu ada sebuah gang yang diberi nama Jalan Peneleh VII. Objek yang terakhir akan kami kunjungi adalah rumah salah seorang pahlawan nasional yaitu HOS Cokroaminoto. Siapa beliau? Ini sih nggak perlu saya jelaskan lebih banyak karena sudah banyak disebutkan dalam buku-buku sejarah maupun literatur-literatur. Secara garis besar beliau adalah pimpinan Sarekat Islam, sebuah organisasi massa terbesar pada masa Hindia-Belanda dengan jumlah anggota sampai 1 juta orang dari seluruh pelosok nusantara.

Seperti yang sudah saya sebutkan, rumah HOS Cokroaminoto berada di Jalan Peneleh VII No. 29 dan 31. Unik ya, dua nomor dipakai untuk satu rumah. Rumah yang berada di gang sempit ini cukup sederhana, memiliki warna dominan hijau dengan kelir kuning. Saat ini rumah ini sudah tidak digunakan lagi, tapi kami tetap bisa masuk melihat ruang-ruang yang ada di dalamnya dengan meminjam kunci kepada Pak RT. Meskipun tidak ditempati, rumah sederhana ini cukup bersih dan begitu terawat. Dinding rumah sudah terbuat dari batu bata yang disemen, lantainya juga terbuat dari semen. Tidak menggunakan keramik, marmer, atau sejenisnya. Seperti pada rumah kebanyakan, ruangan paling depan merupakan ruang tamu. Kursi, meja, dan lemari semuanya terbuat dari kayu yang terlihat sangat antik. Pada dinding ruangan terdapat foto HOS Cokroaminoto di sebelah kiri, lambang Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) di tengah, dan foto Bung Karno di bagian kanan.

rumah HOS Cokroaminoto

rumah HOS Cokroaminoto

rumah HOS Cokroaminoto

Di rumah berukuran 36 ini hanya terdapat tiga kamar tidur. Satu kamar berada di belakang ruang tamu dengan ukuran sedang. Sementara dua kamar lainnya saling berdampingan di sebelah kiri ruang tamu. Di dalam kamar kosong, hanya ada beberapa perkakas seperti lemari dan beberapa barang milik keluarga. Tidak ada lagi tempat tidur disini. Selain kamar tidur, terdapat pula dapur dan kamar mandi di bagian bbelakang. Tidak ketinggalan, di bagian atas terdapat sebuah ruang rahasia semacam loteng berukuran cukup luas yang biasa digunakan oleh rapat Pak Cokro bersama pejuang-pejuang lainnya.

Ada hal yang tidak kalah menarik, rumah ini dulunya juga digunakan sebagai rumah kost Bung Karno. Dulu Soekemi (ayah Soekarno) yang merupakan teman akrab Pak Cokro menitipkan Soekarno karena Soekarno harus sekolah di Hoogere Burger School (HBS) Surabaya, sebuah sekolah yang setara dengan SMA. Sementara Soekemi yang dulu tinggal di Pendean VI, kampung yang berjarak 500 meter dari Peneleh VII akan pindah ke Mojokerto. Bung Karno ngekost di rumah Pak Cokro selama kurang lebih dua tahun antara 1917-1919 sebelum kemudian melanjutkan kuliah di Bandung.

rumah HOS Cokroaminoto

rumah HOS Cokroaminoto

Secara keseluruhan rumah HOS Cokroaminoto yang sekarang menjadi cagar budaya ini tampak biasa saja. Namun di dalamnya terdapat sejarah yang begitu besar. Banyak tokoh besar pernah tinggal maupun berdiskusi di rumah kecil ini. Saya sangat beuntung bisa ikut Surabaya Heritage Track "special edition" ini karena sebelumnya memang tidak tau dan belum pernah ke objek-objek yang dikunjungi kali ini. Dari rumah Pak Cokro para trackers langsung diajak pulang ke House Of Sampoerna karena tour sudah berakhir. Saya dan partner juga langsung pulang, tidak masuk ke House Of Sampoerna karena sebelumnya kami juga sudah pernah masuk kesana. Saya mungkin bakal ikut Surabaya Heritage Track lagi kalau ada tour spesial lagi. Thank to House Of Sampoerna!

rumah HOS Cokroaminoto

Benarkah Ada Keraton Surabaya?

keraton surabaya

Cukup sudah kami berada di Pelabuhan Ujung melihat kapal-kapal yang modar-mandir dari Surabaya ke Madura maupun sebaliknya. Bus Surabaya Heritage Track sore itu meninggalkan area pelabuhan menuju ke arah kota melewati Jalan Perak Timur, masuk ke Jalan Rajawali, Jalan Jembatan Merah, Jalan Veteran, dan akhirnya berhenti di Jalan Pahlawan. Saya agak kaget juga mendengar penuturan guide bahwa para trackers akan diajak melihat bekas Keraton Surabaya. Pikiran langsung berkecamuk dan bertanya-tanya, emang Surabaya punya keraton?

Berbicara mengenai keraton, pikiran saya langsung tertuju dengan Keraton Yogyakarta yang besar. Atau setidaknya seperti Keraton Surakarta di Solo. Rupanya Surabaya yang menjadi calon kota metropolitan ini juga pernah mempunyai keraton. Tentu namanya adalah Keraton Surabaya. Memang nggak banyak yang tau tentang keberadaan Keraton Surabaya. Di literatur-literatur sejarah juga tidak banyak ditemukan mengenai keraton yang satu ini. Bahkan di buka-buku sekolah nama Keraton Surabaya tidak pernah disebutkan sama sekali.

keraton surabaya

jalan kramat gantung

Keraton Surabaya bisa dibilang bukanlah kerajaan besar. Dulu kerajaan ini masih di bawah pengaruh Kerajaan Mataram (Yogyakarta). Pada masa jayanya, Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung mengincar Surabaya sebagai daerah kekuasaannya. Sultan Agung sangat menginginkan Surabaya karena lokasinya begitu strategis yaitu dekat dengan laut dan berada di tepi Kalimas. Dengan berbagai taktik perang yang bisa juga dibilang licik akhirnya Mataram berhasil mengalahkan Surabaya. Pangeran Pekik yang saat itu memimpin Surabaya menyerah. Tapi kemudian antara Mataram dan Surabaya menjadi sekutu terlebih setelah Pangeran Pekik diangkat menjadi menantu Sultan Agung. Konon, sekarang ini makam Pangeran Pekik berada di Imogori (Yogyakarta), berada satu kompleks dengan makam raja-raja Jogja namun diluar kompleks makam Sultan Agung.

Lalu bagaimana kondisi Keraton Surabaya sekarang? Bisa dibilang saat ini Keraton Surabaya tidak ada bekasnya sama sekali. Lokasi tepatnya Keraton Surabaya berada di Gang Keraton yang terletak antara Jalan Pahlawan dan Jalan Kramat Gantung. Gang Keraton disini ada beberapa, saya lupa tepatnya. Kami masuk ke salah satu gang yang yang merupakan Kampung Keraton. Masuk ke daerah ini memang tidak terlihat adanya tanda-tanda bekas kerajaan baik berupa situs maupun prasasti. Kemungkinan dulu bangunan keraton terbuat dari kayu sehingga rusak tak bersisa. Hal yang bisa dilihat di gang sempit ini hanya berupa gedung-gedung tua yang menyeramkan dengan warna kusam, sepi, bahkan sepertinya sudah tidak digunakan lagi. Selain Kampung Keraton, tempat lain di sekitar sini yang membuktikan bahwa Surabaya pernah menjadi bekas kerajaan adalah Kampung Kepatihan, Kampung Tumenggungan, Alun-Alun Contong, dan Kebon Rojo. Tapi ya itu, tidak ada bekas berupa kondisi fisik sama sekali kalau pernah ada bekas kerajaan. Mengenaskan ya? -__-

Share: