Bebek Sinjay, Nasi Bebek Paling Enak di Madura

Paduan bebek goreng yang gurih dan empuk, serta sambal mangga yang khas membuat siapapun ketagihan Nasi Bebek Sinjay di Bangkalan.

Serabi Notosuman Nyonya Handayani Solo

Jalan-jalan ke Kota Solo rugi banget kalau nggak mencicipi Serabi Notosuman yang bertekstur lembut dan manis. Enak sekali!!

Lontong Balap Garuda Pak Gendut

Makanan khas Surabaya yang masih mudah ditemui adalah lontong balap. Salah satu yang direkomendasikan adalah warung Pak Gendut.

Gudeg Mbarek Bu Hj. Amad Jogja

Jogja adalah kota gudeg dimana di setiap penjuru kota kita dapat menemukan gudeg dengan mudah, salah satunya gudeg Bu Hj. Amad.

Nasi Bakar Rendang Sapi Gotri Resto

Gotri, resto di Surabaya menawarkan berbagai menu yang enak dengan harga terjangkau. Menu andalannya nasi bakar rendang sapi.

Pecel Nyamleng Gayeng Mayjen Sungkono

Nasi pecel adalah makanan khas Jawa Timur yang banyak tersebar di Surabaya umumnya dimakan saat sarapan atau makan siang.

Lezatnya Sop Ayam Pak Min Khas Klaten

Pak Min sepertinya cukup sukses membuka banyak cabang warung sop ayam di Klaten, Solo, dan Jogja. Rasa sop ayamnya memang nikmat.

26 Juli 2016

Menengok Taman Purbakala Pugung Raharjo di Lampung Timur


Sudah sekitar dua bulan terakhir saya belum beranjak dari kampung halaman di Lampung Timur. Saat ada waktu luang, nggak ada salahnya kalau jalan-jalan di objek wisata di sekitar Lampung Timur. Memang benar, Lampung Timur nggak punya objek wisata yang cukup menonjol dan dikenal luas di kalangan traveler. Namun, Lampung Timur setidaknya masih punya peninggalan sejarah bernama Taman Purbakala yang terletak di Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik! Seperti apakah penampakan Taman Purbakala Pugung Raharjo? 

Untuk menuju Taman Purbakala Pugung Raharjo bisa ditempuh dari Bandar Lampung dan Metro dengan perjalanan selama kurang lebih 1,5-2 jam. Kok lama? Iya, karena nggak sedikit spot jalan yang rusak lumayan parah, membutuhkan kesabaran ekstra ketika mengendarai motor atau mobil. Saya sendiri dari rumah yang berada di Kecamatan Jabung memilih menggunakan mobil untuk menuju Taman Purbakala. Paling nggak menggunakan mobil lebih aman dibandingkan dengan menggunakan motor. Bukan bermaksud menakut-nakuti, sudah menjadi rahasia umum wilayah Lampung Timur rawan begal!

Nah... Bisa dibilang lokasi Taman Purbakala agak tersembunyi. Dari jalan raya di depan pasar masih masuk ke dalam gang beberapa ratus meter dan berada di tengah area ladang atau perkebunan milik warga. Kalau nggak melihat papan petunjuk jalan, sebaiknya bertanya kepada penduduk sekitar biar nggak nyasar ya... Di Taman Purbakala sudah mempunyai area parkir yang luas dan representatif. Asyiknya lagi, kita nggak perlu mengeluarkan biaya tiket maupun uang parkir karena memang nggak ada yang jaga. Mungkin saking sepinya kali ya... Satu hal lagi, sebelum meninggalkan kendaraan, pastikan mobil atau motor terkunci dengan baik.

Petunjuk arah di dalam komplek Taman Purbakala Pugung Raharjo
Pintu gerbang Taman Purbakala Pugung Raharjo
Benteng tanah timur
Benteng tanah timur
Menurut sejarahnya, Taman Purbakala Pugung Raharjo merupakan peninggalan jaman megalitikum. Ada beberapa spot yang menarik dikunjungi dalam satu kompleks taman. Pertama yang bisa dilihat adalah pintu gerbang yang menyerupai bangunan candi. Kedua, ada gundukan tanah yang dipenuhi oleh rumput yang sangat rapi. Konon dulunya gundukan ini merupakan bekas benteng. Kemudian masuk lebih dalam terdapat komplek yang disebut dengan batu kandang atau batu mayat. Di dalam komplek batu kandang kita bisa melihat sekelompok batu besar yang disusun dalam bentuk empat persegi menghadap ke arah timur dan barat. Di bagian tengahnya ada batu bulat panjang yang di kedua ujungnya dipahatkan phallus alias lambang alat kelamin laki-laki. 

Komplek batu kandang atau batu mayat
Komplek punden berundak atau piramida
Komplek punden berundak atau piramida
Apakah cuma itu saja? Ternyata nggak kok... Masuk ke wilayah yang lebih dalam kita bisa melihat komplek punden berundak yang mirip seperti piramida. Mungkin piramida ini menjadi ikon bagi Taman Purbakala Pugung  Raharjo. Tidak jauh dari komplek punden berundak terdapat kolam megalitik atau kolam bertuah. Air kolam yang sangat jernih berasal dari sumber mata air di bawah pohon besar yang tidak pernah berhenti mengalir hingga sekarang. Suasananya lumayan adem di sekitaran kolam karena pepohonan begitu rimbun.

Komplek kolam megalitik
Komplek kolam megalitik
Komplek kolam megalitik
Komplek kolam megalitik
Komplek kolam megalitik
Overall, Taman Purbalaka Pugung Raharjo sangat rapi dan terawat. Taman ini nggak banyak berubah sejak tearkhir saya ke sini puluhan tahun lalu waktu masih kecil. Hanya saja promosi yang kurang dan faktor keamanan yang jauh dari kata bagus membuat pengunjung yang datang ke Taman Purbakala sangat sepi. Hal itu tentu saja menjadi PR besar bagi Lampung Timur jika ingin menggaet wisatawan yang lebih banyak... 

3 Mei 2016

Kebun Teh Wonosari, Tempat Liburan Asyik Dekat dengan Surabaya



Kali ini saya bakal menceritakan mengenai jalan-jalan yang sebenarnya sudah cukup lama, tepatnya Desember 2015. Mungkin sudah agak basi, tapi nggak apa-apalah daripada foto-fotonya cuma mengendap di hard disk. Iya kan? 

Tujuan sebenarnya jalan-jalan kali ini sih sebenarnya cuma mau mengisi waktu luang aja. Kebetulan libur, sekaligus mau ngetes motor aja. Jadi destinasi yang dipilih nggak terlalu jauh dari Surabaya, yaitu Kebun Teh Wonosari yang berada di Lawang, Kabupaten Malang. Berangkat di pagi hari, saya langsung menggeber motor ke arah luar kota Surabaya menuju ke arah Malang. Karena mesin motor cukup besar, nggak heran kalau kami sudah sampai di Lawang dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Apalagi di pagi hari jalanan juga relatif sepi... 

Di Pasar Lawang kami berhenti sejenak untuk mengisi perut dengan nasi rawon. Setelah itu kami baru naik ke arah Kebun Teh Wonosari. Jalanan dari Pasar Lawang ke arah Kebun Teh Wonosari tergolong bagus meskipun sempit. Semakin mendekat kebun teh, kondisi jalan semakin menanjak berliku, namun nggak sulit... Kalau nggak salah jarak dari Surabaya hingga Kebun Teh Wonosari hanya sekitar 80 km saja... 





Untuk masuk ke kawasan kebun teh, pengunjung harus membayar tiket masuk. Saya lupa berapa harga tiketnya, yang jelas nggak mahal kok. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya ke Kebun Teh Wonosari. Malah sudah berkali-kali... Tapi rasanya nggak pernah bosan main-main ke sini. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Kebun Teh Wonosari, seperti jalan-jalan menghirup udara segar di area kebun teh yang hijau, main ATV, main flying fox, berkuda, berenang, dan masih banyak lagi fasilitas lain yang disediakan. 

Nah... Ke Kebun Teh Wonosari nggak lengkap rasanya kalau nggak mencicipi minuman teh. Banyak juga varian minuman teh yang ada di sana, bisa dinikmati di Rollaas Cafe. Konsep cafe-nya sendiri cukup menarik dengan menonjolkan point of view alam. Enak banget deh icip-icip teh di Rollaas Cafe. Santai sembari menikmati udara khas perkebunan teh yang sejuk. Selain itu, di Rollaas Cafe tersedia aneka makanan yang bisa disantap untuk mengisi perut yang sudah keroncongan... Oh ya, kalau mau bermalam pun di Kebun Teh Wonosari tersedia villa dan hotel lho... Saya pernah bermalam waktu gathering, tapi udah lama banget... Cukup recommended juga!


28 April 2016

Ikutan Kopdar Food Blogger di Rumah Makan Lombok Idjo Kediri... Rame Bangeettt!!


Hari Sabtu lalu (23/04/2016), saya mendapatkan undangan Kopdar Food Blogger di Rumah Makan Lombok Idjo Kediri. Waktu mendapatkan undangan sih agak mengernyitkan dahi. Soalnya kan undangan untuk food blogger... Sedangkan saya apakah masuk ke dalam kategori food blogger? Tapi karena hari Sabtu nggak ada kesibukan yang berarti, nggak ada salahnya ngacir ke Kediri. Apalagi udah lama juga nggak riding dengan motor dalam jarak yang cukup jauh, ditambah dengan beberapa member Jatimotoblog, salah satu komunitas yang saya ikuti, juga mendapatkan undangan serupa. 

Saya sampai di Rumah Makan Lombok Idjo yang berada di Jalan Patiunus No. 16, Kediri, sekitar pukul 14.10, padahal undangannya pukul 14.00. Agak telat dikit nih... Begitu sampai langsung ngisi absensi dan ngambil undian. Maksudnya undian makanan dan minuman... Jadi seluruh tamu undangan mendapatkan menu makanan dan minuman berdasarkan undian. Harapannya biar masing-masing peserta Kopdar Food Blogger mendapatkan menu yang berbeda... Dalam undian menu makanan dan minuman ini saya mendapatkan ikan nila goreng dan es kelon alias es kelapa muda sirup melon. Setelah itu saya digiring ke meja sesuai dengan nomor urut pendaftaran deh kayaknya ya... 




Kebetulan banget siang itu di Rumah Makan Lombok Idjo yang berbentuk joglo sudah ramai banget oleh peserta yang jumlahnya mencapai 50 orang (sesuai undangan). Nggak banyak peserta kopdar yang saya kenal. Kalau yang dari komunitas Jatimotoblog jelas kenal semua. Selain itu paling kenal sama travel blogger ngehits asal Jombang, Mas Alid Abdul, dan food blogger tulen asal Surabaya, Bu Vika. Itupun hanya tau di dunia maya karena dulu sering baca-baca blog mereka... 

Pada dasarnya acara Kopdar Food Blogger yang diselenggarakan oleh Lombok Idjo ini cukup menarik... Lombok Idjo berupaya memperkenalkan brand mereka, beserta menu-menu makanan mereka di kalangan para blogger. Tentu saja harapannya Lombok Idjo bisa memiliki footprint di dunia maya. Kenapa mesti dunia maya? Sekarang ini mencari apa-apa serba pakai internet, termasuk mencari tempat makan. Saya pun demikian, mau jajan atau makan di sebuah kota ya googling dulu... Berbagai informasi mengenai tempat makan, menu makanan, sampai harga makanan bisa saya akses dengan mudah melalui internet. Jadi bukan rahasia lagi kalau internet, khususnya blog, bisa menjadi media marketing yang sangat ampuh. 



Acaranya sendiri dikemas secara santai, tapi tetap seru. Teman-teman yang ikut dalam Kopdar Food Blogger terlihat sumringah mengikuti dari awal acara sampai akhir. Dalam acara tersebut ada sambutan dari Mas Ulil dari Lombok Idjo Kediri yang selalu berbicara menggunakan bahasa kromo. Kemudian ada juga sambutan dari Mbak Septi Sutrisna selaku bagian marketing dari Lombok Idjo Group. Ada pula product knowledge dari Biznet yang merupakan provider internet berkecepatan tinggi, menjamin nonton video berkualitas HD tanpa buffering. Sayangnya jaringan Biznet masih cukup terbatas, namun ke depan sudah memiliki rencana ekspansi untuk memperluas jaringan... 

Terus gimana dengan icip-icip menu makanan di Lombok Idjo? Saya mendapatkan menu berupa ikan nila goreng dan es kelon seperti yang sudah saya sebutkan di atas... Kira-kira gimana rasanya ya? Enak nggak? Langsung cek di foodspotting.wijanarko.net.






26 April 2016

Bermalam di Same Hotel Malang, Murah dan Nyaman


Sekitar tiga minggu yang lalu, tepatnya (9/4/2016), saya memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan di Malang. Alasannya sih simple... Malang lokasinya lumayan deket dari Surabaya dan selama ini saya nggak pernah liburan di Kota Malang. Lebih seringnya langsung ke Batu, bukan ke Malang. Sebelum pergi liburan, tentu saya cari hotel melalui Traveloka mobile apps. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya memilih Same Hotel Malang sebagai tempat menginap. Gimana impresi menginap di Same Hotel Malang? Yuk simak!

Pertimbangan pertama saya memilih Same Hotel Malang karena harganya cukup terjangkau untuk standar hotel bintang tiga. Cuma Rp 300.000 saja. Menariknya lagi, lokasi Same Hotel Malang sangat strategis berada di pusat kota, tepatnya di Jalan Pattimura No. 19, Malang. Mau cari tempat makan malam ataupun hanya sekedar nongkrong di cafe, banyak banget tersedia di seputaran hotel. Enak banget deh pokoknya. Mau ke alun-alun balaikota pun nggak terlalu jauh... 



Bangunan Same Hotel Malang ini tergolong baru, jadi nggak heran kalau eksterior maupun interior bangunan masih kinclong. Saat check-in saya dilayani oleh staf resepsionis yang ramah. Walaupun saya beli voucher hotel secara online via Traveloka, tapi Same Hotel Malang nggak meminta dana deposit yang cukup besar. Dana deposit yang diserahkan hanya Rp 50.000 saja. Itu untuk deposit kunci. Dana deposit bakal dikembalikan saat check-out. 

Lalu, gimana kondisi di dalam kamar Same Hotel Malang? Kamar yang ada bisa dibilang nggak terlalu luas, tapi bersih dan rapi. Fasilitas di dalam kamar nggak terlalu banyak. Sesuai dengan standar hotel bintang tiga yang mendekati budget hotel. Ada LCD TV, AC cukup dingin, dan toiletries pun ada meskipun nggak lengkap. Ruangannya menurut saya nyaman lah. Kalaupun ada kekurangan itu karena ruangan kurang kedap suara, sehingga suara dari luar masih bocor ke dalam. 




Oh ya, harga yang saya bayarkan itu sudah termasuk breakfast ya. Sayangnya, walaupun dikatakan memiliki standar bintang tiga, namun menu sarapan di Same Hotel Malang masih kurang bervariasi. Pagi itu menu sarapan yang bisa dipilih antara lain nasi putih atau nasi goreng yang dinikmati dengan ayam dan sayur buncis, ada juga soto ayam, bubur kacang hijau, jajanan pasar, buah, serta kopi, teh, dan orange juice untuk minuman. Kurang lebih variasi makanan kayak budget hotel lah. Nggak ada pastry ataupun omelet. Kekurangan lainnya, pelayanan di restoran tergolong lelet, kurang sigap. Saat minuman atau makanan habis nggak segera diisi ulang. Begitu juga ketika di meja banyak piring dan gelas kotor menumpuk, nggak lekas dibereskan. 



Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, Same Hotel Malang cukup recomended sebagai tempat bermalam di Malang, baik untuk acara liburan maupun business trip. Fasilitas yang disediakan saya rasa cukup sesuai dengan harganya. Satu lagi yang mungkin bisa jadi pertimbangan, Same Hotel Malang nggak memiliki area parkir kendaraan yang cukup luas. 

4 April 2016

Mencicipi Sate Klathak Pak Pong yang Super Ramai...


Pergi ke Jogja rasanya nggak lengkap kalau nggak disertai dengan mencicipi aneka kuliner. Beberapa hari yang lalu saya ke Jogja dalam waktu yang cukup singkat untuk beberapa keperluan. Di sela-sela waktu yang mepet itu saya menyempatkan diri makan di Warung Sate Klathak Pak Pong yang terletak di Jalan Stadion Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta. 

Memang warung Pak Pong ini bukan satu-satunya warung sate klathak yang berada di Jalan Imogiri Timur dan sekitarnya. Banyak banget warung sate klathak di sini. Warung yang menjadi langganan saya sih biasanya di Warung Sate Klathak Pak Bari yang berada di dalam area Pasar Jejeran. Tapi nggak ada salahnya kalau sesekali mencoba Sate Klathak Pak Pong. Alasannya simple... Warung Sate Klathak Pak Pong ini gede banget dan pengunjungnya nggak pernah sepi. Itu yang membuat saya sangat penasaran mencicipi gimana enaknya sate klathak versi warung Pak Pong... 

Saya ke Warung Sate Klathak Pak Pong ini nggak sendiri... Melainkan bersama kakak perempuan saya bersama suaminya dan dua keponakan saya yang lucu-lucu. Ke sana malam hari setelah isya', kondisi warung seperti biasanya ramai banget... Menariknya Warung Sate Klathak Pak Pong ini luas, jadi bisa menampung banyaknya pengunjung. Ada tempat dengan kursi dan meja. Ada pula versi lesehan. Tinggal pilih saja sesuai selera.


Malam itu kami memesan empat porsi sate klathak, satu porsi tengkleng, satu porsi tongseng, empat nasi putih, dan empat minuman. Walaupun kondisi warung dalam keadaan ramai, tapi pelayanan dilakukan dengan cepat. Tidak perlu menunggu terlalu lama, menu-menu yang dipesan tadi sudah berada di atas meja dan siap disantap. Bagaimana rasanya? 

Saya highlight untuk sate klathaknya dulu deh... Menurut saya sih nggak mengherankan kalau Warung Sate Klathak Pak Pong selalu ramai. Lha wong porsi satenya amat sangat besar! Dalam satu porsi sate klathak itu sudah umum terdiri dari dua tusuk sate. Namun, di Warung Sate Klathak Pak Pong, irisan daging kambing di satenya itu besar-besar banget. Belum lagi daging yang disajikan dalam satu tusuk sate juga banyaaak!! Kayaknya saya belum nemu warung sate klathak lain yang porsinya sebesar ini. 

Soal rasa, sebenarnya nggak ada yang beda antara Sate Klathak Pak Pong dengan sate klathak lainnya. Rasanya gurih karena daging kambing dalam sate tidak diberi apa-apa. Daging kambing muda di dalam sajian sate inipun empuk, nggak alot. Hanya ada cita rasa asin yang membuat rasa sate begitu alami. Untuk makan sate klathak selalu disajikan dengan kuah gulai. Sayang rasa kuah gulai di Warung Sate Klathak Pak Pong agak hambar. Tapi menariknya, selain kuah gulai, di sini juga diberi sambel kecap sebagai teman untuk menikmati sate. 


Terus gimana dengan rasa tongseng dan tengklengnya? Mungkin lidah saya kurang berselera dengan tongseng buatan Jogja. Di manapun saya mencicipi tongseng di Jogja, rasa manisnya begitu kuat walaupun sudah pesen tongseng yang pedes. Termasuk di Warung Sate Klathak Pak Pong ini, rasa manis di tongseng lumayan mendominasi. Sedangkan untuk tengkleng saya nggak ikut mencicipi karena selain kurang suka dengan tulang belulang, juga perut sudah amat sangat kenyang... Memang yang istimewa rasa dan porsi sate klathaknya itu tadi... 

Yang membuat saya agak kaget ketika makan di Warung Sate Klathak Pak Pong adalah harganya... Bukan karena harganya yang mahal, tapi malah menurut saya tergolong murah untuk porsi makanan yang jumbo seperti itu. Saya sih nggak begitu hafal rinciannya... Kalau nggak salah seporsi sate klathak hanya dihargai Rp 19.000 saja, belum termasuk nasi lho ya... Nah, total pesananan empat porsi sate klathak, satu porsi tongseng, satu porsi tengkleng, empat nasi putih, dan empat minuman (es teh/es jeruk) cuma perlu dibayar dengan duit Rp 143.000 saja. Asyiknya di Warung Sate Klathak Pak Pong tersedia pembayaran melalui debit card, jadi nggak perlu khawatir kalau nggak bawa uang cash yang cukup...

31 Maret 2016

Asyik Juga Menunggu Kereta Api di Loko Cafe Stasiun Gubeng


Jadi kemarin ini, Rabu (30/3/2016), saya melakukan perjalanan dari Surabaya menuju Jogja dengan moda transportasi yang menjadi favorit saya, yaitu kereta api. Kenapa? Yang jelas karena harga tiket kereta api masih jauh lebih murah dibandingkan dengan tiket pesawat. Memang sih harga tiket kereta api masih lebih mahal kalau dibandingkan dengan bus, tapi cukup setara lah karena hanya membutuhkan waktu sekitar 5 jam perjalanan, dibandingkan dengan bus yang bisa mencapai 10 jam perjalanan lengkap dengan atraksi sopir yang ugal-ugalan. 

Kemarin saya menggunakan jasa Kereta Api Sancaka Sore yang dijadwalkan berangkat pada pukul 17.25 WIB. Melihat kondisi cuaca Surabaya yang kurang mendukung, saya memilih bergegas ke Stasiun Gubeng, dan sudah sampai sana sekitar pukul 16.00 WIB. Daripada menunggu di peron, saya memilih menunggu di Loko Cafe yang terletak di bagian dalam Stasiun Gubeng. Soalnya penampilan cafe yang satu ini terlihat mencolok dan dilihat dari luar lumayan menarik perhatian. 


Begitu masih ke Loko Cafe, ternyata ruangannya tergolong kecil, namun tetap cozy dan fotogenik. Hanya ada beberapa bangku kayu yang berderet di sisi kanan dan kiri ruangan. Mungkin ruangan ini nggak akan mampu menampung 30 orang atau lebih. Beruntung pengunjung Loko Cafe sore itu sepi, jadi saya masih merasa nyaman berada di dalam. Ada juga bangku-bangku yang berada di luar. Paling nggak itu bisa mengakomodasi bagi pengunjung cafe yang ahli hisap. 

Memang ada menu apa saja di Loko Cafe? Ternyata lumayan banyak juga sih ya, mulai minuman panas dan dingin, makanan ringan, hingga makanan berat. Saya sampai bingung mau pesan apa. Walaupun akhirnya pesan Bebek Mayor dan Iced Caramel Cappuccino. Sempat pesan Zupa Zupa Soup juga, tapi sayangnya lagi kosong. Padahal Zupa Zupa Soup sangat direkomendasikan oleh teman yang sudah sering kali ke sini. 



Kali ini beralih ke makanan yang sudah saya pesan... Satu porsi Bebek Mayor rupanya sudah lengkap dengan nasi, sepotong bebek dengan ukuran yang besar, sambal, dan lalapan. Awalnya saya memang nggak tau Bebek Mayor itu seperti apa. Cuma tertarik karena menjadi menu best seller di Loko Cafe. Ternyata Bebek Mayor adalah bebek goreng. Menggorengnya sih nggak terlalu kering, terus ada kayak bumbu bebeknya gitu. Gimana rasanya? Bisa dikatakan rasa Bebek Mayor enak!! Daging bebeknya nggak terlalu lunak, tapi nggak alot juga. Tekstur dagingnya masih kerasa... Pas! Mantap! Nggak salah kalau jadi best seller... 

Salah satu yang spesial mungkin adalah sambelnya. Dia pakai sambel yang rasanya mirip seperti sambel bawang yang ditambah oleh irisan mangga. Rasa sambelnya pedes banget, dikombinasikan dengan rasa mangga muda yang asem, jadi unik! Beda dengan ukuran bebeknya yang besar, porsi sambel yang disertakan dalam menu Bebek Mayor cenderung sedikit. Masih kurang buat pecinta sambel kayak saya... 




Kelezatan menyantap Bebek Mayor semakin lengkap dengan kesegaran Iced Caramel Cappuccino. Menurut saya rasa Iced Caramel Cappuccino juga pas banget. Nggak terlalu manis, rasa caramel dan cappuccino-nya juga strong. Enak banget lah pokoknya... 

Satu porsi Bebek Mayor bisa ditebus dengan harga Rp 30.000, sedangkan Iced Caramel Cappuccino dihargai Rp 22.000. Harga makanan dan minuman lain kurang lebih ada di rentang antara Rp 6.000 sampai Rp 45.000. Harga yang cukup reasonable untuk sebuah cafe yang berada di dalam stasiun. Apalagi porsi makanan cukup besar, tempat nyaman, ada wi-fi, colokan listrik, dan pelayanan oke... Pokoknya Loko Cafe jadi tempat yang asyik menunggu kereta api di Stasiun Gubeng... 




30 Maret 2016

Mengisi Waktu Luang Akhir Pekan di Coban Baung Pasuruan


Di update postingan yang pertama ini saya akan menulis tentang pengalaman jalan-jalan akhir pekan lalu yang masih fresh banget... Mumpung belum lupa... Jadi akhir pekan lalu, Minggu (27/3/2016), saya bersama sebut saja asisten, jalan-jalan ke Coban Baung yang masuk ke dalam wilayah Kabupaten Pasuruan. Sengaja milih lokasi yang dekat dengan Surabaya biar bisa tek-tok dalam waktu sehari. Apalagi kemarin adalah long weekend yang membuat berbagai tempat wisata unggulan penuh sesak. 

Nah... Coban Baung itu terletak di wilayah Kabupaten Pasuruan. Tapi lokasinya agak jauh dari Kota Pasuraun. Malah sudah mepet dengan wilayah Kabupaten Malang. Untuk mencari lokasinya gampang banget kok dan jaraknya nggak terlalu jauh dari Surabaya. Paling hanya sekitar 70-75 km saja yang bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam perjalanan menggunakan motor atau mobil. Saya sendiri kemarin ke Coban Baung naik motor karena lebih efektif dan efisien. Padahal punyanya ya cuma motor itu doang. Xixixixi...

Sudah saya katakan tadi, untuk mencari lokasi Coban Baung itu gampang banget. Tinggal jalan aja dari Surabaya ke arah Malang melewati jalur utama seperti Sidoarjo, Porong, dan Pandakan. Dari Pandakan masih terus saja ke arah Malang. Persis banget menjelang Kebun Raya Purwodadi, ada persimpangan ke arah kiri. Masuk aja sampai mentok dan ketemulah Coban Baung. Bisa dikatakan lokasi Coban Baung ini tepat berada di belakang Kebun Raya Purwodadi, tapi sayangnya nggak masuk ke dalam wilayah kebun raya. 

Untuk masuk ke Coban Baung, pengunjung hanya perlu membayar tiket yang relatif murah. Saya nggak begitu paham detailnya. Tapi kemarin masuk dua orang dengan motor hanya membayar Rp 20.000 saja. Mungkin karena belum begitu dikenal, Coban Baung ini nggak ramai pengunjung meskipun bertepatan dengan long weekend sekalipun. Sangat berbeda dengan Kebun Raya Purwodadi yang berada di depan, yang kalau saya lihat begitu ramai!

Track ke sungai di puncak air terjun
Saat menuju air terjun kemarin saya sedikit tersesat nih. Jadi dari parkiran motor sudah ada jalan setapak yang terbuat dari paving block. Jalan itu kemudian bercabang dua, lurus dan belok kanan. Dengan sok pede saya ambil yang belok kanan. Setelah ditelusuri terus kok semakin masuk ke dalam hutan yang sangat sepi, nggak ada pengunjung sama sekali. Kelihatannya jalan ini juga nggak pernah dilewati. Terbukti dari banyaknya rumah laba-laba yang membentang menutupi jalan. Tapi suara gemuruh air terjun yang terdengar jelas membuat saya dan asisten semakin semangat trekking hingga ke ujung jalan. Ternyata, di ujung nggak ada air terjun. Hahaha... Rupanya itu adalah jalan menuju sungai yang berada di puncak air terjun. Nggak masalah, toh tempatnya asyik juga buat foto-foto. Sayang air sungai di sini nggak jernih. 

Sungai di puncak air terjun
Puas berfoto di sungai yang berada di puncak air terjun, kami kembali ke titik awal untuk menuju jalur yang tepat ke dasar air terjun. Kondisi jalan menuju dasar air terjun ini nggak terlalu jauh, tapi cenderung menurun tajam. Nggak perlu khawatir terpeleset karena kondisi jalan sudah bagus dengan banyak anak tangga. Kalau turunnya enak, mungkin yang agak jadi PR nanti waktu baliknya. Tanjakan-tanjakan di anak tangga lumayan nampol juga lho!

Coban Baung
Terus gimana view di Coban Baung? Menurut saya sih biasa saja, nggak begitu istimewa. Mungkin kurang dapat kesan yang cukup menarik karena kondisi air yang nggak jernih. Malah berwarna coklat. Ntah memang karakter air di Coban Baung seperti ini sepanjang tahun atau hanya terjadi di musim hujan kayak sekarang? Kemudian walaupun judulnya berada di air terjun, tapi udara di sini cenderung gerah dan panas banget. Nggak seperti berada di pegunungan pada umumnya. Satu lagi, banyak fasilitas di Coban Baung yang sudah rusak dan nggak diperbaiki. Contohnya pendopo-pendopo buat neduh maupun bersantai sudah banyak yang keropos atapnya, kursinya pun pada jebol. Salah satu keunggulannya adalah Coban Baung masih amat sangat sepi. Cocok aja buat bersantai walaupun agak gerahan dikit. Hehehe... 

Edisi narsis